Tampilkan postingan dengan label erwin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label erwin. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Januari 2011

POTENSI WISATA BUDAYA NUSA TENGGARA TIMUR

POTENSI WISATA BUDAYA NUSA TENGGARA TIMUR
Sebuah Analisis Penjelajahan Awal


PENDAHULUAN

Indonesia merupakan suatu Negara yang memiliki banyak keanekaragaman. Diantaranya yaitu keanekaraganan Suku, Agama, ras dan Budaya. Untuk dapat lebih mengenal keanekaragaman tersebut kali ini saya akan membahas tentang potensi budaya yang terdapat di Nusa Tenggara Timur.

Nusa Tenggara Timur adalah sebuah provinsi Indonesia yang terletak di tenggara Indonesia. Provinsi ini terdiri dari beberapa pulau, antara lain Flores, Sumba, Timor, Alor, Lembata, Rote, Sabu, Adonara, Solor, Komodo dan Palue. Ibukotanya terletak di Kupang, Timor Barat.

Provinsi ini terdiri dari kurang lebih 550 pulau, tiga pulau utama di Nusa Tenggara Timur adalah Flores, Sumba dan Timor Barat. Provinsi ini menempati bagian barat pulau Timor. Sementara bagian timur pulau tersebut adalah bekas provinsi Indonesia yang ke-27, yaitu Timor Timur yang merdeka menjadi negara Timor Leste pada tahun 2002. Di Nusa Tenggara Timur juga terdapat 21 Kabupaten/Kota.

Dengan Jumlah penduduk di provinsi ini adalah 4.448.873 jiwa dimana penduduk laki-laki sebanyak 2.213.608 jiwa dan penduduk perempuan sebanyak 2.235.265 jiwa (2007). [2] Sebagian besar penduduk beragama Kristen dengan persentase ± 89% (mayoritas Katolik), ± 9% Muslim, ± 0,2% Hindu atau Buddha dan ± 3% untuk lainnya. Nusa Tenggara Timur menjadi tempat perlindungan untuk kalangan Kristen di Indonesia yang menjauhkan diri dari konflik agama di Maluku dan Irian Jaya.



Nusa Tenggara Timur juga memiliki beberapa bahasa dan Jumlah bahasa yang dimiliki cukup banyak dan tersebar pada pulau-pulau yang ada yaitu: Pengguna Bahasa di Nusa Tenggara Timur

Timor, Rote, Sabu, dan pulau-pulau kecil disekitarnya: Bahasanya menggunakan bahasa Kupang, Melayu Kupang, Dawan Amarasi, Helong Rote, Sabu, Tetun, Bural:

Alor dan pulau-pulau disekitarnya: Bahasanya menggunakan Tewo kedebang, Blagar, Lamuan Abui, Adeng, Katola, Taangla, Pui, Kolana, Kui, Pura Kang Samila, Kule, Aluru, Kayu Kaileso

Flores dan pulau-pulau disekitarnya: Bahasanya menggunakan melayu, Laratuka, Lamaholot, Kedang, Krawe, Palue, Sikka, lio, Lio Ende, Naga Keo, Ngada, Ramba, Ruteng, Manggarai, bajo, Komodo
Sumba dan pualu-ulau kecil disekitarnya: Bahasanya menggunakan Kambera, Wewewa, Anakalang, Lamboya, Mamboro, Wanokaka, Loli, Kodi
Penduduk asli NTT terdiri dari berbagai suku yang mendiami daerah-daerah yang tersebar Diseluruh wilayah NTT, sebagai berikut:
1. Helong: Sebagian wilayah Kabupaten Kupang (Kec.Kupang Tengah dan Kupang Barat serta Semau)
2. Dawan: Sebagian wilayah Kupang (Kec. Amarasi, Amfoang, Kupang Timur, Kupang Tengah, Kab timor Tengah selatan, Timor Tengah Utara, Belu ( bagian perbatasan dengan TTU)
3. Tetun: Sebagian besar Kab. Belu dan wilayah Negara Timor Leste
4. Kemak: Sebagian kecil Kab. Belu dan wilayah Negara Timor Leste
5. Marae: Sebagian kecil Kab. Belu bagian utara dekat dengan perbatasan dengan Negara Timor Leste
6. Rote: Sebagian besar pulau rote dan sepanjang pantai utara Kab Kupang dan pulau Semau
7. Sabu / Rae Havu: Pulau Sabu dan Raijua serta beberapa daerah di Sumba
8. Sumba: Pulau Sumba
9. Manggarai Riung: Pulau Flores bagian barat terutama Kan Manggarai dan Manggarai Barat
10. Ngada: Sebagian besar Kab Ngada
11. Ende Lio: Kabupaten Ende
12. Sikka-Krowe Muhang: Kabupaten Sikka
13. Lamaholor: Kabupaten Flores Timur meliputi Pulau Adonara, Pulau Solor dan sebagian Pulau Lomblen
14. Kedang: Ujung Timur Pulau Lomblen
15. Labala: Ujung selatan Pulau Lomblen
16. Pulau Alor: Pulau Alor dan pulau Pantar.
Nusa Tenggara Timur juga kaya akan keanekaragaman Budaya yaitu: Budaya Flotim, Sikka, Ende, Ngada dan Manggarai.
Untuk lebih mengenal Potensi Wisata di Nusa Tenggara Timur di sini kami akan membahas sedikitnya tentang sejarah maupun budaya yang ada di Nusa Tenggara Timur. Saya akui mungkin laporan yang saya buat ini masih jauh dari sempurna akan tetapi saya berharap tulisan ini mampu memberikan gambaran kepada pembaca serta sedikit pengetahuan untuk bahan pembelajaran. Dan yang lebih utama semoga tulisan yang saya buat ini dapat berguna bagi mereka yang membutuhkan.




A. SITUS-SITUS SEJARAH
a. Situs Insitu

Banyak terdapat situs-situs bersejarah yang dapat kita temui di Nusa Tenggara Timur diantaranya yaitu Komodo Komodo merupakan salah satu binatang purba yang masih mampu bertahan hidup sampai sekarang dan hanya dapat ditemui di indonesia. Binatang purba ini hidup di pulau komodo, pulau Gili Motang dan pulau Rinca dan di pantai – pantai utara pulau Flores.
Pulau Komodo adalah sebuah pulau yang terletak di Kepulauan Nusa Tenggara. Pulau Komodo dikenal sebagai habitat asli hewan komodo. Pulau ini juga merupakan kawasan Taman Nasional Komodo yang dikelola oleh Pemerintah Pusat. Pulau Komodo berada di sebelah timur Pulau Sumbawa, yang dipisahkan oleh Selat Sape.
Secara administratif, pulau ini termasuk wilayah Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Pulau Komodo merupakan ujung paling barat Provinsi Nusa Tenggara Timur, berbatasan dengan Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Di Pulau Komodo, hewan komodo hidup dan berkembang biak dengan baik. Hingga Agustus 2009, di pulau ini terdapat sekitar 1300 ekor komodo. Ditambah dengan pulau lain, seperti Pulau Rinca dan dan Gili Motang, jumlah mereka keseluruhan mencapai sekitar 2500 ekor. Ada pula sekitar 100 ekor komodo di Cagar Alam Wae Wuul di daratan Pulau Flores tapi tidak termasuk wilayah Taman Nasional Komodo.
Selain komodo, pulau ini juga menyimpan eksotisme flora yang beragam kayu sepang yang oleh warga sekitar digunakan sebagi obat dan bahan pewarna pakaian, pohon nitak ini atau sterculia oblongata di yakini berguna sebagai obat dan bijinya gurih dan enak seperti kacang polong.
b. Situs Eksitu
SEBANYAK 80-90 persen dari 355 item yang dipajang dalam museum ini merupakan hasil koleksi seorang warga keturunan Cina di Kalabahi, Toby Retika. Ketika dia memutuskan untuk meninggalkan Kalabahi, seluruh hasil koleksinya itu diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten Alor pada September 2003.
Misalnya, ada perahu naga, benda yang sangat penting dan sakral, yang menjadi representasi nenek moyang yang datang menggunakan perahu dan sekaligus tempat pelaksanaan upacara adat. Ada senjata busur dan panah, tenunan daerah, serta koleksi unggulannya, yakni moko.
Inilah museum, barangkali tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di dunia, yang satu-satunya berambisi mengoleksi moko dalam jumlah banyak. Sudah ada satu moko paling besar dan 23 moko kecil. Berharap pada potensi budaya suku-suku di Alor, museum ini berambisi mengoleksi moko hingga 1.000 atau lebih. Orang Alor menyebut moko sebenarnya tidak lain untuk menamai nekara perunggu pada umumnya.
Di museum ini satu-satunya moko yang paling besar tadi malah disebut moko nekara, sedangkan moko-moko kecil lainnya diberi nama berdasarkan ornamen atau hiasannya. Moko nekara merupakan salah satu hasil kebudayaan perundagian (zaman perunggu) yang digunakan masyarakat sebagai alat upacara. Nekara bertipe Heger I ini ditemukan oleh Simon J Oil Balol di dalam tanah di Desa Kokar, Alor Barat Laut, berdasarkan petunjuk mimpi. Jeskiel Nanggi, Kepala Museum Seribu Moko, mengatakan, berdasarkan petunjuk mimpi itu, saat bangun keesokan harinya, tepatnya 20 Agustus 1972, Simon menggali di tempat yang telah dibayangkan dalam mimpi. "Ternyata mereka menemukan moko nekara ini, lalu diangkat dengan sebuah upacara adat," katanya.
Berat nekara itu belum pernah ditimbang. Dari fisiknya, moko ini didesain menyerupai gendang atau tambur menurut sebutan masyarakat Alor. Bagian atasnya datar atau rata, di tengah-tengahnya gambar bintang, dan di tepi diberi pemanis berupa empat patung kodok (tetapi satu di antaranya telah hilang). Di bagian badan terdapat empat telinga, yakni dua di bagian kanan dan dua di kiri. Jeskiel tidak bisa menjelaskan makna moko dalam desain seperti itu. Moko nekara ini digunakan untuk pesta-pesta adat dan dijadikan semacam rebana atau induk gendang. Setelah penemuan di Kokar tadi, sekitar tahun 1976, nekara dibawa ke Kupang untuk dipajang di Museum Negeri Kupang. Akan tetapi, ketika Pemerintah Kabupaten Alor berniat membangun museum khusus menempatkan moko sebagai item unggulannya, nekara dibawa pulang ke Kalabahi per Februari 2004.
Selain moko nekara yang ditempatkan di tengah-tengah museum, di sekitarnya dipajang pula secara berderet 23 moko ukuran kecil, setinggi tiga atau empat jengkal orang dewasa. Misalnya, ada moko "pung lima anak panah" yang biasanya digunakan sebagai mas kawin dalam budaya Pantar.
Ada moko jawa telinga utuh cap bintang dan cap satu bunga, ada moko belektaha cap bengkarung, ada moko malayfana palili dari Alor Timur, moko makassar bunga kemiri tangan panjang, moko aimala kumis besar. Sisanya, antara lain, moko cap naga, bulan, paria, dan cap rupa-rupa simbol lainnya.
Hampir pasti tidak ada masyarakat adat di negeri ini yang mengoleksi moko dalam jumlah banyak seperti suku-suku di Alor. Dalam sejarah peradaban suku-suku di sini, moko digunakan sebagai belis, atau mahar, atau mas kawin. Hingga kini, adat menjadikan moko sebagai mahar masih terus berlangsung.
Dalam masyarakat adat Pantar Barat, misalnya, kata Jeskiel, kalau yang meminang adalah anak raja atau keturunan raja, darah biru, tokoh terhormat di masyarakat, dan gadis yang dipinang pun demikian, mas kawinnya berupa belasan moko. "Moko adalah simbol kehormatan dan kesetiaan cinta," tutur Jeskiel.
Sampai saat ini masih banyak suku yang menyimpang moko itu untuk kepentingan adat perkawinan. Namun, karena sudah banyak juga yang dibawa ke luar dari Alor oleh para pemburu barang antik, terutama ke Denpasar dan luar negeri, diperkirakan hanya suku-suku tertentu yang memiliki.

Lima wilayah potensial yang menyimpan moko ialah Alor Timur, Alor Selatan, Alor Barat Daya, Alor Barat Laut, dan Pantar. Klan atau suku yang masih menetapkan mas kawin dengan moko misalnya Suku Darang (Raja), Tawaka, Kalondama, Kawali, dan Balomasali. Tinggi rendahnya status sosial dinilai oleh banyaknya moko yang disanggupi saat membayar mas kawin. Seorang anak keturunan raja ketika ditetapkan membayar, misalnya, 10 moko, tetapi kenyataannya menyanggupi lima buah dan selebihnya disubstitusikan dengan uang akan berbeda penilaiannya.
Kata Jeskiel, moko memang diwajibkan sebagai mas kawin. Namun, kini sudah ada keputusan para tetua adat di Alor, paling tinggi hanya dua moko yang diwajibkan untuk dipenuhi seorang pria sebagai mas kawin. Tidak boleh kurang, boleh lebih, tetapi tidak diwajibkan untuk lebih dari dua moko. Sebenarnya, keputusan itu dapat menguntungkan Museum Seribu Moko jika gesit memburunya ke berbagai wilayah. Hal itu agar warga yang menyimpan lebih dari dua atau tiga moko dapat menyerahkan kelebihannya itu kepada museum moko karena dikhawatirkan akan diselundupkan ke luar daerah. Moko penting karena merefleksikan jalinan asmara, ikatan cinta antara seorang pemuda dan gadis dari berbagai suku di Alor. Jika ingin mendalami adat perkawinan Alor, saksikan moko di museum.

d. Desa Tradisional
Di Nusa Tenggara Timur ada sebuah kampung adat yang bernama Bena. Kampung tradisional yang terletak di arah selatan kota Bajawa, tepatnya di Desa Tiworiwu, Kecamatan Aimere, Kabupaten Ngada, Flores. Untuk mencapai desa ini, membutuhkan waktu kurang lebih 30 menit dari Kota Bajawa. Dan melewati jalanan yang naik turun dan menikung.

Desa ini cukup unik, karena satu - satunya desa di pulau Flores yang masih menjaga tradisi secara turun temurun. Terlihat dari bangunan megalitik yang berupa susunan batu - batuan ceper. Layaknya batu menhir yang dibuat oleh Obelix di cerita komik Asterix. Penduduk desa pun masih mendiami rumah - rumah yang terbuat dari kayu, bambu dan beratapkan alang - alang. Kampung Bena ini dihuni oleh sembilan suku yang mendiami kurang lebih sekitar 40 rumah tradisional.

Di beberapa atap rumah terlihat hiasan seperti boneka yang memegang anak panah. Dalam hal ini menyimbolkan bahwa rumah tersebut adalah milik dari keluarga garis laki - laki penduduk asli kampung ini, yaitu Suku Ngada. Untuk rumah yang dihiasi rumah - rumahan kecil diatas atapnya, ini menyimbolkan rumah tersebut milik dari keluarga garis perempuan suku asli. Diantara rumah penduduk yang saling berhadapan dengan mengikuti kontur tanah, dan terbagi menjadi beberapa tingkat. Terdapat 2 bangunan rumah adat kecil pada tingkatan itu. Bangunan rumah adat yang pertama berbentuk seperti payung beratapkan alang - alang, dan ditengahnya terdapat kayu sebagai pilar penyangga. Bangunan ini disebut sebagai lopo. Dan bangunan kecil dihadapannya yang berbentuk seperti miniatur rumah kecil disebut sebagai bhaga. Kedua bangunan itu adalah simbol pemersatu keluarga di kampung ini.

Kesederhanaan dari kampung Bena bisa dilihat dari keramah - tamahan penduduknya. Mereka akan selalu melempar senyum dan menyapa kepada setiap orang yang datang mengunjungi kampung Bena. Untuk berkunjung ke tempat ini tidak dikenakan tiket masuk, tapi kita harus memberikan donasi dan mengisi buku tamu sebelum anda memasuki perkampungan. Donasi yang terkumpul akan digunakan untuk pemeliharaan kampung agar senantiasa terjaga keaslian tradisinya.

B. SITUS BUDAYA
a. Tradisi
Banyak Tradisi yang biasa dilakukan oleh masyarakat Nusa Tenggara Timur diantaranya adalah:
PESTA REBA
Pesta Adat dari Kabupaten Ngada.Bertempat di Kampung Bena 12 Km dari Kota Bajawa. Reba adalah Pesta Tradisional menyambut tahun baru ditandai dengan makan ubi bersama ditemani tari-tarian tradisional dengan iringan musik tradisional. Diramaikan pertandingan tinju tradisional. Pesta ini dirayakan setiap tahun pada Bulan Januari atau akhir Desember.
BIJALUNGU HIUPAANA
Upacara Adat dari Anakalang, Kabupaten Sumba Barat. Ritual ini merupakan upacara sakral Merapu sebagai ungkapan syukur kepada sang pencipta sekaligus sebagai awal persiapan alat-alat pertanian dan persiapan jenis-jenis benih pada lahan yang akan ditanam.
PASOLA
Dari Kabupaten Sumba Barat. Upacara perang tradisional acara pelipur lara dengan berkuda dan saling melempar lembing dari atas punggung kuda yang sedang berlari cepat antara dua kelompok yang berlawanan. Acara ini dilaksnakan setelah upacara Ritual Nyale yaitu mencari cacing laut saat dini hari yang diawali dari Kodi, Lamboya, Wanokaka dan Gaura. Acara seperti ini juga ada di Kabupaten Sumba Timur namanya Hole yang diselenggarakan pada Bulan Maret di Pantai Kalala.
PAHORU
Dari Pulau Sabu, Kabupaten Kupang. Upacara pengucapan syukur kepada penguasa alam yang diikuti dengan kegiatan atau atraksi perang-perangan antar pemuda, pawaikuda dan pada waktu malam hari ada tarian muda-mudi yang dinamakan Padoa. Acara ini diselenggarakan di tepi Pantai Kampung Bhodo, jaraknya 2 Km dari Kota Seba.
PATE BALOI
Upacara tradisional dari Kabupaten Alor. Upacara pembukaan musim tanam pada minggu II bulan Maret yang ditandai dengan pemancangan tiang bambu kemudian membelah pinang serta dilanjutkan dengan makan bersama yang diiringi dengan tarian tradisional LEGO-LEGO. Acara ini tepatnya berlangsung di Kampung Takpala Desa Lembor Barat dimana juga terdapat Taman Wisata Alam Laut Selatan Pulau Pantar, kampung tradisional Mombang dan Bampola.
PROSESI JUMAT AGUNG
Dari Kabupaten Flores Timur. Prosesi ini diawali pada akhir Maret hingga awal April.
Devosi terhadap Bunda Maria yang dilakukan oleh seluruh umat Katolik di Kota Larantuka, juga ada yang berasal dari luar daerah yang dilakukan secara turun temurun sejak abad XV yang lalu. Dan masih ada atraksi penunjang yaitu melihat dan berkunjung ke Kampung tradisional Muda Keputu, Kawaliwu Riang Kemie dan Wurek Adonara Barat dan Kongo.
RITUAL BOLE BUNDO
Dari Kabupaten Flores Timur. Upacara ritual syukuran atas keberhasilan dalam perang atau panendi desa Lewatolo dan desa Sinar Hadding Kecamatan Tanjung Bunga. Upacara ini dilaksanakan setiap saat tergantung pada keperluan. Disekitar lokasi upacara ini masih ada kampung tradisional Riang Sungai, Danau Asmara dan Air Panas Oka
PERBURUAN IKAN PAUS
LAMALERA, Kabupaten Lembata. Upacara tradisional dan keagamaan Penangkapan Ikan Paus atau Ikan Klaru dari Kecamatan Wulan Desa Lamalera, Kabupaten Lembata. Upacara berburu Ikan Paus oleh masyarakat dilaksanakan pada Bulan April atau Mei. Objek dan daya tarik wisata lain disekitarnya, yakni Pantai Pasir Putih Desa Bean, Desa Pasir Putih dan Musium tradisional Ikan Paus di Desa Benhading Kecamatan Wai Riang.
b. Arsitektur/ Rumah adat
Memiliki rumah adat yaitu musalaki yang pada atap nya bercirikan menggunakan jerami dan senjata khas NTT yaitu sundu yang mirip seperti golok tetap berbeda pada sarung dan bentuknya. Pola pemukiman masyarakat baik di Ende maupun Lio umumnya pada mula dari keluarga batih/inti baba (bapak), ine (mama) dan ana (anak-anak) kemudian diperluas sesudah menikah maka anak laki-laki tetap bermukim di rumah induk ataupun sekitar rumah induk. Rumah sendiri umumnya secara tradisional terbuat dari bambu beratap daun rumbia maupun alang-alang.
c. Seni Pertunjukan

Tari Hopong Asal tarian : Helong

Hopong adalah sebuah upacara tradisional masyarakat Helong yang mengijinkan para petani untuk menuai atau panen di ladang pertanian. Upacara Hopong adalah suatu aktivitas yang dilakukan oleh para petani dalam bentuk doa bersama sebagai ungkapan rasa syukur dan terima kasih kepada Tuhan dan nenek moyang.
Upacara Hopong dilakukan pada masa panen disuatu rumah yang ditentukan bersama dan dihadiri oleh tua-tua adat serta lapisan masyarakat. Tarian ini juga menggambarkan kehidupan bersama nilai religius, gotong royong. Musik pengiring gendang, tambur, gong

TARI MANEKAT (TEMPAT SIRI) Asal tarian : Kabupaten TTS

Menurut masyarakat Dawan dalam kehidupan adat istiadatnya sapaan selalu ditandai dengan siri pinang. Siri pinang merupakan lambang penghormatan untuk memberikan harkat dan martabat seseorang.

TARI PEMINANGAN Asal tarian : Kabupaten TTU

Tarian ini menggambarkan bentuk peminangan ala orang dawan di Kabupaten Timor Tengah Utara. Peminangan dapat juga diartikan sebagai suatu ungkapan perasaan cinta yang tulus.ungkapan kepolosan hati antara sepasang kekasih yang hendak mengikat kasih.Suatu ungkapan bahwa kehadiran dari seseorang diterima dengan sepenuh hati, dengan tangan terbuka. Tarian ini juga melambangkan penyambutan, penghormatan atas kehadiran seorang tamu istimewa yang mendatangi tempat mereka.

TARI LIKURAI Asal tarian : Kabupaten Belu

Dalam masyarakat Belu tari Likurai merupakan tari yang dibawakan oleh gadis-gadis / ibu-ibu untuk menyambut tamu-tamu terhormat atau pahlawan yang pulang dari medan perang.

TARI DODAKADO Asal tarian : Kabupaten Alor

Tarian yang berasal dari permainan rakyat ini Alor ini menggambarkan keceriaan muda-mudi pada saat acara-acara pesta adat. Yang menarik dari tarian ini adalah ketangkasan muda-mudi dalam berlompat-lompat diatas permainan bambu.

TARI TEOTONA Asal tarian : Kabupaten Rote Ndao

Tarian ini berasal dari kerajaan Oenale di Rote. Tarian ini termasuk tarian sacral dalam menyambut kaum pria yang kembali dari medan perang. Pria dan wanita bersama-sama menunjukan kegembiraannya dengan menari secara ekspresif.

TARI LEDO HAWU Asal tarian : Kabupaten Kupang/ Sabu

Tarian ini biasa dibawakan pada saat upacara kematian kepala adat, dengan maksud mengusir setan ditengah jalan, agar perjalanan arwah kehadapan pencipta tidak dihalangi. Istilah lain dari tari ini dapat dikatakn sebagai penyapu ranjau.

TARI LEKE Asal tarian : Kabupaten Sikka

Tari ini mengambarkan pesta para masyarakat etnis Sikka Krowe sebagai ungkapan syukur atas keberhasilan. Biasanya ditarikan pada waktu malam hari yang diiringi musik gong waning dengan lantunan syair-syair adat.

TARI POTO WOLO Asal tarian : Kabupaten Ende

Fungsi tari ini biasa digunakan untuk menjemput para tamu agung, atau seorang kepala suku yang diangkat secara adat. Poto artinya mengangkat atau menjunjung kebesarannya; Wolo artinya gunung atau bukit.

WASA WOJORANA Asal tarian : Kabupaten Manggarai

Tarian ini biasanya dilaksanakan pada upacara adat menjelang padi lading menguning.
Wasa Wojarana menggambarkan luapan rasa gembira , dengan meilhat bulir-bulir padi lading yang menjanjikan dan sebagi ungkapan terimakasih kepada pencipta dan sekaligus memohon agar panen tidak gagal akibat bencana alam dan ancaman hama.
Tarian ini ditampilkan ditampilkan dengan irama pelan dan cepat .

TARI TOGADU Asal tarian : Kabupaten Ngada

Todagu menggambarkan keperkasaan pemuda Nage Keo dalam berperang dan membangkitkan senmangat patriotisme.Tarian ini diiringi oleh bambu dan tambur.

KANDINGANGU Asal tarian : Kabupaten Sumba Timur

Pada zaman dahulu Kandingangu ditarikan pada upacara adata tradisional untuk memohon kehadiran pencipta alam semesta (dewa-dewi). Namun masa kini tari ini biasa dipentaskan saat menyambut tamu agung atau dalam acara ramah tamah.

TARI YAPPA IYA Asal tarian : Kabupaten Sumba Barat

Tari ini menggambarkan kegiatan masyarakat Mbarambanja dalam kegiaatanya menangkap ikan.

TARI HEDUNG BUHU LELU Asal tarian : Kabupaten Lembat

Suatu kegiatan kekerabatan penghalusan kapas yang telah dipisahkan dari bijinya. Pekerjaan ini biasanya dilakukan oleh perempuan, baik itu ibu-ibu maupun gadis-gadis dan aktivitas ini merupakan suatu kerajinan rumah tangga.


d. Kerajinan Rakyat

Kain Tenun
Salah satu kerajinan yang terdapat di Nusa Tenggara Timur adalah kain tenun. Tenunan yang dikembangkan oleh setiap suku/ etnis di Nusa Tenggara Timur merupakan seni kerajinan tangan turun-temurun yang diajarkan kepada anak cucu demi kelestarian seni tenun tersebut. Motif tenunan yang dipakai seseorang akan dikenal atau sebagai ciri khas dari suku atau pulau mana orang itu berasal, setiap orang akan senang dan bangga mengenakan tenunan asal sukunya.
Pada suku atau daerah tertentu, corak/motif binatang atau orang-orang lebih banyak ditonjolkan seperti Sumba Timur dengan corak motif kuda, rusa, udang, naga, singa, orang-orangan, pohon tengkorak dan lain-lain, sedangkan Timor Tengah Selatan banyak menonjolkan corak motif burung, cecak, buaya dan motif kaif. Bagi daerah-daerah lain corak motif bunga-bunga atau daun-daun lebih ditonjolkan sedangkan corak motif binatang hanya sebagai pemanisnya saja.
Kain tenun atau tekstil tradisional dari Nusa Tenggara Timur secara adat dan budaya memiliki banyak fungsi seperti :
1. Sebagai busana sehari-hari untuk melindungi dan menutupi tubuh.
2. Sebagai busana yang dipakai dalam tari-tarian pada pesta/upacara adat.
3. Sebagai alat penghargaan dan pemberian perkawinan (mas kawin)
4. Sebagai alat penghargaan dan pemberian dalam acara kematian.
5. Fungsi hukum adat sbg denda adat utk mengembalikan keseimbangan sosial yang terganggu.
6. Dari segi ekonomi sebagai alat tukar.
7. Sebagai prestise dalam strata sosial masyarakat.
8. Sebagai mitos, lambang suku yang diagungkan karena menurut corak/ desain tertentu akan melindungi mereka dari gangguan alam, bencana, roh jahat dan lain-lain.
9. Sebagai alat penghargaan kepada tamu yang datang (natoni)
Dalam masyarakat tradisional Nusa Tenggara Timur tenunan sebagai harta milik keluarga yang bernilai tinggi karena kerajinan tangan ini sulit dibuat oleh karena dalam proses pembuatannya/ penuangan motif tenunan hanya berdasarkan imajinasi penenun sehingga dari segi ekonomi memiliki harga yang cukup mahal. Tenunan sangat bernilai dipandang dari nilai simbolis yang terkandung didalamnya, termasuk arti dari ragam hias yang ada karena ragam hias tertentu yang terdapat pada tenunan memiliki nilai spiritual dan mistik menurut adat.
Pada mulanya tenunan dibuat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sebagai busana penutup dan pelindung tubuh, kemudian berkembang untuk kebutuhan adat (pesta, upacara, tarian, perkawinan, kematian dll), hingga sekarang merupakan bahan busana resmi dan modern yang didesain sesuai perkembangan mode, juga untuk memenuhi permintaan/ kebutuhan konsumen.
Dalam perkembangannya, kerajinan tenun merupakan salah satu sumber pendapatan (UP2K) masyarakat Nusa Tenggara Timur terutama masyarakat di pedesaan. Pada umumnya wanita di pedesaan menggunakan waktu luangnya untuk menenun dalam upaya meningkatkan pendapatan keluarganya dan kebutuhan busananya.
Jika dilihat dari proses produksi atau cara mengerjakannya maka tenunan yang ada di Nusa Tenggara Timur dapat dibagi menjadi tiga jenis, yakni :

1. Tenun Ikat ; disebut tenun ikat karena pembentukan motifnya melalui proses pengikatan benang. Berbeda dengan daerah lain di Indonesia, untuk menghasilkan motif pada kain maka benang pakannya yang diikat, sedangkan tenun ikat di Nusa Tenggara Timur, untuk menghasilkan motif maka benang yang diikat adalah benang Lungsi.
2. Tenun Buna ; istilah daerah setempat (Timor Tengah Utara) "tenunan buna" yang maksudnya menenun untuk membuat corak atau ragam hias/motif pada kain mempergunakan benang yang terlebih dahulu telah diwarnai.
3. Tenun Lotis/ Sotis atau Songket ; Disebut juga tenun Sotis atau tenun Songket, dimana proses pembuatannya mirip dengan pembuatan tenun Buna yaitu mempergunakan benang-benang yang telah diwarnai.

Dilihat dari kegunaannya, produk tenunan di Nusa Tenggara Timur terdiri dari 3 (tiga) jenis yaitu : sarung, selimut dan selendang dengan warna dasar tenunan pada umumnya warna-warna dasar gelap, seperti warna hitam, coklat, merah hati dan biru tua. Hal ini disebabkan karena masyarakat/ pengrajin dahulu selalu memakai zat warna nabati seperti tauk, mengkudu, kunyit dan tanaman lainnya dalam proses pewarnaan benang, dan warna-warna motif dominan warna putih, kuning langsat, merah mereon.
Untuk pencelupan/ pewarnaan benang, pengrajin tenun di Nusa Tenggara Timur telah menggunakan zat warna kimia yang mempunyai keunggulan sepeti : proses pengerjaannya cepat, tahan luntur, tahan sinar, dan tahan gosok, serta mempunyai warna yang banyak variasinya. Zat warna yang dipakai tersebut antara lain : naphtol, direck, belerang dan zat warna reaktif.
Namun demikian sebagian kecil pengrajin masih tetap mempergunakan zat warna nabati dalam proses pewarnaan benang sebagai konsumsi adat dan untuk ketahanan kolektif, minyak dengan zat lilin dan lain-lain untuk mendapatkan kwalitas pewarnaan dan penghematan obat zat pewarna.
Dari ketiga jenis tenunan tersebut diatas maka penyebarannya dapat dilihat sebagai berikut :
1. Tenun Ikat ; penyebarannya hampir merata disemua Kabupaten di Nusa Tenggara Timur kecuali Kabupaten Manggarai dan sebagian Kabupaten Ngada.
2. Tenun Buna ; Penyebarannya di Kabupaten Kupang, Timor Tengah Selatan, Belu dan yang paling banyak adalah di Kabupaten Timor Tengah Utara.
3. Tenun Lotis/ Sotis atau Songket ; terdapat di Kabupaten/ Kota Kupang, Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara, Belu, Alor, Flores Timur, Lembata, Sikka, Ngada, Manggarai, Sumba Timur dan Sumba Barat.


e. Legenda/ Cerita Rakyat
Legenda Batu Goloq
Pada jaman dahulu di daerah Padamara dekat Sungai Sawing di Nusa Tenggara Barat hiduplah sebuah keluarga miskin. Sang istri bernama Inaq Lembain dan sang suami bernama Amaq Lembain
Mata pencaharian mereka adalah buruh tani. Setiap hari mereka berjalan kedesa desa menawarkan tenaganya untuk menumbuk padi.
Kalau Inaq Lembain menumbuk padi maka kedua anaknya menyertai pula. Pada suatu hari, ia sedang asyik menumbuk padi. Kedua anaknya ditaruhnya diatas sebuah batu ceper didekat tempat ia bekerja.
Anehnya, ketika Inaq mulai menumbuk, batu tempat mereka duduk makin lama makin menaik. Merasa seperti diangkat, maka anaknya yang sulung mulai memanggil ibunya: “Ibu batu ini makin tinggi.” Namun sayangnya Inaq Lembain sedang sibuk bekerja. Dijawabnya, “Anakku tunggulah sebentar, Ibu baru saja menumbuk.”
Begitulah yang terjadi secara berulang-ulang. Batu ceper itu makin lama makin meninggi hingga melebihi pohon kelapa. Kedua anak itu kemudian berteriak sejadi-jadinya. Namun, Inaq Lembain tetap sibuk menumbuk dan menampi beras. Suara anak-anak itu makin lama makin sayup. Akhirnya suara itu sudah tidak terdengar lagi.
Batu Goloq itu makin lama makin tinggi. Hingga membawa kedua anak itu mencapai awan. Mereka menangis sejadi-jadinya. Baru saat itu Inaq Lembain tersadar, bahwa kedua anaknya sudah tidak ada. Mereka dibawa naik oleh Batu Goloq.
Inaq Lembain menangis tersedu-sedu. Ia kemudian berdoa agar dapat mengambil anaknya. Syahdan doa itu terjawab. Ia diberi kekuatan gaib. dengan sabuknya ia akan dapat memenggal Batu Goloq itu. Ajaib, dengan menebaskan sabuknya batu itu terpenggal menjadi tiga bagian. Bagian pertama jatuh di suatu tempat yang kemudian diberi nama Desa Gembong olrh karena menyebabkan tanah di sana bergetar. Bagian ke dua jatuh di tempat yang diberi nama Dasan Batu oleh karena ada orang yang menyaksikan jatuhnya penggalan batu ini. Dan potongan terakhir jatuh di suatu tempat yang menimbulkan suara gemuruh. Sehingga tempat itu diberi nama Montong Teker.
Sedangkan kedua anak itu tidak jatuh ke bumi. Mereka telah berubah menjadi dua ekor burung. Anak sulung berubah menjadi burung Kekuwo dan adiknya berubah menjadi burung Kelik. Oleh karena keduanya berasal dari manusia maka kedua burung itu tidak mampu mengerami telurnya.
f. Wisata Ziarah
Wisata Rohani Kota Reinha, Flores Timur: “Samana Santa” & “Sesta Vera”
Larantuka, sebuah kota yang juga dikenal dengan nama ‘Kota Reinha’ atau ‘Tana Nagi’ merupakan salah satu kota pusat pengembangan agama Katolik di wilayah timur Nusantara, tepatnya di wilayah Kabupaten Flores Timur-NTT. Selama empat abad lebih telah mewarisi tradisi keagamaan melalui peranan kaum awam (non klerus) pada masa silam. Pengembangan agama tersebut tidak lepas dari peranan para Raja Larantuka, para misionaris, peranan perkumpulan persaudaraan rasul awam (confreria), dan peranan semua Suku Semana serta perananan para Kakang (Kakang Lewo Pulo) dan para Pou (Suku Lema).
Contoh ritual yang terus dilakukan tiap tahun hingga saat ini adalah penghayatan agama popular seputar “Semana Santa” dan Prosesi Jumad Agung atau “Sesta Vera”. Kedua ritual ini dikenal sebagai “anak sejarah nagi” juga sebagai ‘gembala tradisi’ di tana nagi-Larantuka. Ritual tersebut merupakan suatu masa persiapan hati seluruh umat Katolik secara tapa, silih dan tobat atas semua salah dan dosa, serta suatu devosi rasa syukur atas berkat dan kemurahan Tuhan yang diterima umat dari masa ke masa dalam setiap kehidupannya. Doa yang didaraskan, pun lagu yang dinyanyikan selama masa ini menggunakan bahasa Portugis / Latin.
Sebenarnya Semana Santa dan Sesra Vera merupakan tolok ukur pendewasaan iman Kristiani (liturgi ekaristi), yang sepatutnya diakui bahwa penyelenggaraannya selama ini telah berlangsung dengan baik dan benar. Namun sayangnya penilaian terhadap seluruh rangkaian kegiatan devosi ini kadang-kadang sangat keliru dan negatif, karena dipengaruhi oleh aspek ‘sosial budaya luar’ pada era globalisasi ini, dan hampir tidak menyentuh inti eksistensi adat dan budaya keagamaan, juga tempat beserta seluruh penduduknya.
Semana Santa adalah istilah orang nagi Larantuka mengenai masa puasa 40 hari menjelang hari raya Paskah yang diwarnai dengan kegiatan doa bersama (mengaji) pada kapela-kapela (tori) dan dilaksanakan selama pekan-pekan suci. Doa bersama Semana Santa diawali pada hari Rabu Abu (permulaan masa puasa) sampai dengan hari Rabu Trewa. Orang nagi Larantuka memaknai masa Semana Santa sebagai masa permenungan, tapa, sili dosa dan tobat.

C. ANALISIS PROYEKSI POTENSI PARIWISATA BUDAYA

c.a Situs-situs Sejarah yang Potensial
Salah satu situs sejarah yang potensial adalah komodo karena Komodo merupakan salah satu binatang purba yang masih mampu bertahan hidup sampai sekarang dan hanya dapat ditemui di indonesia. Oleh karena itu komodo merupakan salah satu daya tarik bagi wisatawan lokal maupun asing yang ingin melihat secara langsung binatang langka ini.
Populasi Komodo (Varanus comodoensis) di Taman Nasional Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, belakangan terus menyusut akibat berkurangnya ketersediaan mangsanya. Sejak tahun 2000 terus menurun signifikan, bahkan pada salah satu pulau, yakni Pulau Padar, di kawasan TNK itu, tak ditemukan lagi satwa yang dilindungi tersebut. populasi komodo terus berkurang, terutama akibat berkurangnya makanan bagi satwa itu. Di Pulau Rinca yang populasinya sempat mencapai angka tertinggi, sekitar 1.400 ekor, kini diperkirakan maksimal 1.100 ekor. Terus menurunnya populasi komodo juga akibat cuaca yang kurang mendukung pada masa penetasan telur
2. Pelestarian Hewan Komodo
Bangsa Indonesia di anugerahi oleh Tuhan Yang Maha Esa sumber daya alam yang berlimpah. Sumber daya alam tersebut harus di lestarikan untuk kesejahteraan manusia.
Pelestarian alam berarti pengaturan terhadap alam dan lingkungan untuk melindungi hewan yang terancam punah. Keberadaan hewan dan tumbuhan sangat penting bagi manusia untuk mempelajari dan menambah pengetahuan berharga tentang kehidupan. Adapun cara yang dilakukan untuk melestarikan hewan komodo umumnya dengan menyediakan segala kebutuhannya. Diantaranya dengan menyediakan makanan, air dan tempat tinggal yang memedai. Permasalahan yang menyebabkan komodo punah yaitu : perburuan liar, perubahan lingkungan dan perdagangan legal.

c.b Situs Budaya/ Khasanah Budaya
keunggulannya yaitu banyak keanekaragaman yang dapat kita temui di Nusa Tenggara Timur yaitu dari keanekaragaman bahasa, suku maupun adat yang dapat kita jumpai di Nusa Tenggara Timur.
KESIMPULAN
Nusa Tenggara Timur banyak memiliki keunngulan salah satunya adalah objek wisata pulau komodo yang merupakan hewan purba yang sampai saat ini masih ada dan hanya terdapat di nusa tenggara timur selain itu Nusa Tenggara timur juga banyak memiliki pesona budaya, beberapa potensi wisata seperti cagar alam, taman nasional , museum dan juga beberapa produk unggulan yaitu peternakan sapi, kayu cendana, jagung dan program koperasi.







Senin, 15 November 2010

Mengungkap Wujud Budaya Generasi Orang tua

Mengungkap Wujud Budaya Generasi Orang tua

Kali ini saya akan membahas tujuh unsur kebudayaan melalui berbagai sistem yaitu:
Sistem Ilmu pengetahuan, teknologi, religi, bahasa, ekonomi, kesenian dan kehidupan sosial. Ketujuh sistem ini akan saya bahas berdasarkan kehidupan masa lalu orang tua saya.yaitu kira-kira pada masa 50 tahun yang lalu. Kedua orang tua saya berasal dari jawa tengah meskipun begitu Ayah saya besar di jakarta. Karena hal tersebut darah jawa yang ada pada dirinya tidak terlihat meskipun begitu ayah saya cukup bisa berbahasa jawa walaupun sedikit, sedangkan ibu saya sejak kecil memang tinggal di kampung dan pindah ke jakarta setelah menikah dengan Ayah saya. Beberapa tahun setelahnya kira-kira waktu saya berumur 4 tahun saya dan keluarga pindah ke daerah Cimanggis Depok dulunya masih kawasan Bogor.
Kebudayaan jawa yang dimiliki orang tua saya tidak pernah diturunkan ke anak-anaknya sehingga saya pun kurang mengenal kebudayaan tersebut mungkin karena sudah bercampur dengan era modernisasi sehingga orang tua saya tidak terpikirkan untuk menurunkannya ke saya.

Sistem Pengetahuan

Pendidikan yang didapat oleh kedua Orang tua saya pada umumnya tidak berbeda dengan saya .yaitu tingkat SD, SMP, SMA sampai Kuliah. Yang berbeda mungkin hanya mata pelajarannya saja. Menurut kedua orang tuaku fasilitas yang didapatkan untuk bersekolah sekarang ini sudah sangat bagus dibandingkan dulu contohnya yaitu pada era orang tua saya dulu. Yaitu pada masa SD dan SMP, hanya pada kalangan orang-orang tertentu saja yang memakai seragam sedangkan untuk kalangan orang-orang yang kurang mampu mereka bersekolah hanya dengan menggunakan baju biasa. Mereka pada umumnya bersekolah tidak memakai sepatu tapi memakai sandal dan banyak pula yang hanya bertelanjang kaki, begitupun alat tulis yang mereka gunakan sangat sederhana. umumnya mereka tidak mempunyai buku untuk menulis, mereka hanya mempunyai selembar kertas yang mereka gunakan berulang ulang sampai kertas tersebut sudah tidak layak pakai. Jika tulisan yang berada dikertas sudah tidak cukup penting bagi mereka maka mereka akan menghapusnya dan menggunakan kertas tersebut kembali. Penghapusnya pun cukup unik hanya menggunakan karet gelang sehingga kertas yang digunakan terlihat nampak kotor, alat tulis yang digunakan umumnya pensil atau arang.

Kedua orang tua saya tidak berhasil menyelesaikan sekolahnya. Ibu saya hanya bersekolah hanya sampai SMP alasannya cukup jelas yaitu dipengaruhi faktor ekonomi. Sedangkan Ayah saya sempat bersekolah sampai ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi yaitu tingkat kuliah meskipun begitu ayah saya tidak menyelesaikan kuliahnya dan sempat bepindah-pindah kampus. .

Sistem Teknologi
Sistem teknologi yang digunakan pada masa itu masih sangat sederhana contohnya saja Alat Komunikasi seperti televisi. televisi pada masa itu masih berwarna hitam putih. Dan hanya kalangan orang-orang tertentu saja yang memilikinya. Menurut cerita ibuku di dalam satu kampung hanya kepala desa saja yang memilikinya, jadi apabila ada yang ingin menonton televisi masyarakat desa umumnya berkumpul di depan halaman rumah kepala desa dan menonton secara beramai-ramai, bahkan karena sangat ramai penonton yang berada paling belakang bisa dibilang hampir sama sekali tidak bisa melihat layar televisi jadi yang mereka nikmati hanya suaranya saja. Selain itu alat komunikasi lain yag digunakan adalah pager yang fungsinya adalah mengirim pesan dengan kosa kata yang terbatas dan sedikit. Pager sangat terkenal sebelum telepon genggam muncul. Hanya orang-orang kaya saja yang memilikinya dan sangat popular terutama di perkotaan sedangkan di desa jarang sekali yang menggunakannya bahkan hamper sama sekali tidak ada.
Teknologi yang lainnya yaitu teknologi transportasi yang biasa digunakan yaitu kereta api, sepeda motor, mobil dan sepeda ontel atau orang kampung biasa menyebutnya sepeda kumbang. Dan tidak semua orang memiliki kendaraan pribadi. Selain itu kendaraan yang dipakai juga masih sangat sederhana.



Sistem Religi
Keluarga kami menganut agama Islam. Terutama dari keluarga ibuku, nuansa islamnya sangat terasa karena ayah dari ibuku adalah seorang Kiayi terpandang dikampungnya orang-orang kampung maupun para santri biasanya setiap hari pergi untuk mengaji di rumah kakekku begitu pula Apabila ada acara keagamaan orang-orang kampung biasanya mengadakannya di rumah kakekku. Berbeda dengan keluarga dari Ayahku mereka beragama islam kejawen yaitu beragama islam tetapi masih terdapat unsur-unsur dari agama hindu contohnya saja kebanyakan dari mereka sangat percaya kepada hal atau benda-benda gaib. Contoh lainnya yaitu setiap ada acara yasinan atau acara pengajia mereka tidak lupa menyajikan berbagai macam sesajen kepada orang yang meninggal dan mereka percaya arwah seseorang yang meninggal akan memakan sesajen yang mereka berikan dan apabila mereka lupa memberikan sesajen tersebut maka mereka percaya bahwa arwah tersebut dapat mendatangkan mala petaka. Tetapi islam kejawen ini hanya diikuti oleh beberapa saudara dari ayahku saja sedangkan Ayahku tidak menganut islam kejawen.

Sistem Bahasa
Walaupun Kedua orang tuaku orang jawa tetapi dalam keseharian mereka hampir tidak pernah menggunakan bahasa jawa mungkin dikarenakan faktor lingkungan yang memaksanya untuk tidak menggunakan bahasa jawa hal ini dikarenakan para tetangga kami umumnya orang jakarta. Mereka hanya menggunakan bahasa jawa apabila mereka hanya berbicara kepada kerabat dekat ,saudara ataupun tetangga yang sama-sama orang jawa. Bahasa jawa yang digunakan pun bahasa jawa standar yaitu bahasa jawa yang umum dipakai. Di samping itu terdapat sejumlah dialek Bahasa Jawa; namun secara umum terdiri dari dua, yakni kulonan dan timuran. Kulonan dituturkan di bagian barat Jawa Tengah, terdiri atas Dialek Banyumasan dan Dialek Tegal; dialek ini memiliki pengucapan yang cukup berbeda dengan Bahasa Jawa Standar. Sedang Timuran dituturkan di bagian timur Jawa Tengah, diantaranya terdiri atas Dialek Solo, Dialek Semarang. Diantara perbatasan kedua dialek tersebut, dituturkan Bahasa Jawa dengan campuran kedua dialek; daerah tersebut diantaranya adalah Pekalongan dan Kedu.
Sistem Ekonomi

Sistem Perekonomian pada masa orang tuaku dulu bisa dibilang sangat lumayan. kebanyakan orang-orang yang bekerja dikampung orang tuaku dulu hidup sebagai petani walaupun begitu kebutuhan hidup mereka rata-rata terpenuhi. mereka dapat bertahan hidup dari hasil lading mereka. Orang-orang yang hidup dikampung ibuku mereka rata-rata memiliki halaman rumah yang luas selain itu kebanyakan dari mereka juga mempunyai berhektar-hektar sawah. Sedangkan perekonomian ayahku sewaktu kecil juga lumayan bagus, seperti orang betawi kebanyakan orang tua ayahku yang sudah lama tinggal di jakarta memiliki beberapa rumah kontrakan. selain itu mereka juga membuka warung untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Sistem Kesenian

Aku terlahir dari keluarga yang bukan seniman. orang tua dari ibuku adalah seorang Kiyai sedangkan orangtua dari ayahku adalah seorang pedagang. Jadi sedikitpun tidak ada darah seni yang mengalir pada diriku. Akupun tidak terlalu mengenal kesenian jawa yang aku tahu hanya kesenian Wayang, musik keroncong , tari jaipong

Sistem Kehidupan Sosial

Dalam masyarakat Jawa juga terkenal akan pembagian golongan-golongan sosialnya. Ada beberapa tingkatan dalam masyarakat Jawa yang terbagi menjadi tiga kelompok yaitu : kaum santri, kaum abangan dan kaum priyayi. kaum santri adalah penganut agama Islam yang taat yaitu orang yang menganut agama islam sesuai dengan ajaran agama islam , kaum abangan adalah penganut Islam secara nominal atau penganut Kejawen yaitu menganut agama islam tanpa meninggalkan ajaran agama yang diwariskan oleh leluruhnya dalam arti agama islam yang bercampur dengan agama hindu, sedangkan kaum Priyayi adalah kaum bangsawan.

Senin, 18 Oktober 2010

Indonesia Bagian Terkecil Dalam Hidup Saya: Tanah Lot Wisata Dengan Sejuta Pesona


Indonesia Bagian Terkecil Dalam Hidup Saya:
Tanah Lot Wisata Dengan Sejuta Pesona


Apabila anda berkunjung ke Bali tidak lengkap rasanya apabila anda tidak mengunjungi objek wisata Tanah Lot yang letaknya di Desa Beraban Kecamatan Kediri Kabupaten Tabanan, dengan jarak sekitar 13 km sebelah barat Tabanan.dan juga berjarak sekitar 30 km di sebelah barat kota Denpasar. Tanah lot memiliki Luas kurang lebih 11 Hektar. Kata Tanah Lot terdiri dari kata “Tanah” yang diartikan sebagai batu karang, “Lot” atau “Lod” berarti laut. Jadi Tanah Lot dimaksudkan yaitu tanah yang ada di tengah pantai.
Di Tempat ini anda dapat melihat pemandangan pantai dan juga anda dapat melihat pura yang letaknya di atas bongkahan batu Sehingga sangat unik untuk dilihat. Di sepanjang jalan menuju ke area pura anda dapat melihat berbagai macam pedagang yang menjual berbagai macam souvenir dan juga makanan khas bali. Selain itu kita juga dapat menikmati pemandangan matahari tenggelam yang sangat indah, Apalagi kalau menyaksikannya lewat tebing tinggi yang juga ditempati restoran-restoran kecil disana. Saat terbaik untuk berkunjung ditempat ini adalah antara pukul 17.00 - 18.30 WITA.
Di Tanah Lot terdapat dua buah pura yaitu Pura Tanah Lot terletak di atas bongkahan batu, sementara di sebelah utara terdapat sebuah pura yang terletak di atas tebing yang menjorok ke laut. Tebing ini menghubungkan pura dengan daratan dan berbentuk seperti jembatan (melengkung).
Pura Tanah Lot merupakan salah satu pura suci terbesar di pulau Bali. Disini juga sering diadakan upacara-upacara besar umat Hindu Bali. Menurut cerita Pura Tanah Lot ini merupakan bagian dari pura Dang Kahyangan. Pura Tanah Lot merupakan pura laut tempat pemujaan dewa-dewa penjaga laut.
Menurut legenda, pura ini dibangun oleh seorang brahmana yang mengembara dari Jawa. Ia adalah Danghyang Nirartha yang berhasil menguatkan kepercayaan penduduk Bali tentang ajaran Hindu dan membangun Sad Kahyangan tersebut pada abad ke-16. Pada saat itu penguasa Tanah Lot, Bendesa Beraben, merasa iri terhadap beliau karena para pengikutnya mulai meninggalkannya dan mengikuti Danghyang Nirartha. Bendesa Beraben lalu menyuruh Danghyang Nirartha untuk meninggalkan Tanah Lot. Ia menyanggupi dan sebelum meninggalkan Tanah Lot beliau dengan kekuatannya memindahkan Bongkahan Batu ke tengah pantai (bukan ke tengah laut) dan membangun pura disana. Ia juga mengubah selendangnya menjadi ular penjaga pura. Ular ini masih ada sampai sekarang dan secara ilmiah ular ini termasuk jenis ular laut yang mempunyai ciri-ciri berekor pipih seperti ikan, warna hitam berbelang kuning dan mempunyai racun 3 kali lebih kuat dari ular cobra. Akhir cerita dari legenda tersebut menyebutkan bahwa Bendesa Beraben 'akhirnya' menjadi pengikut Danghyang Nirartha.
Ular laut tersebut berada di dalam gua bawah tebing, terdapat ular yang dikeramatkan. ular tersebut berbentuk pipih dan beracun dengan warna hitam kuning. ular ini dipercaya sebagai selendang Dang Hyang Nirartha yang terlepas saat sedang bertapa dan hingga kini menjadi penjaga pura. di tempat ini pula terdapat sumber air tawar bernama Tirta Pabersihan (biasa digunakan sebagai sarana memohon kesucian).
Konon menurut cerita orang yang menjaga tempat ular tersebut, bila ular itu di sentuh, maka kita akan mendapat pahala dan yang pasti keselamatan juga. Keunikan ular tersebut yaitu tidak pernah pindah dari tempat yang mereka tempati semula, dan menurut kepercayaan orang hindu Bali, ular yg di sebut ular suci bisa juga di sebut "Ular Duwe", Ular duwe itu sama dengan ular yang bersemayam, atau ular yg tinggal dengan waktu lama yg sering di sebut sebagai ular penunggu, yang termasuk di pura Tanah Lot
Tidak semua orang diperbolehkan masuk ke dalam pura tersebut. para wisatawan hanya diperbolehkan melihat dari bawah pura saja. Dan hanya orang-orang tertentu saja yang hendak bersembahyang atau melakukan kegiatan keagamaan yang diperbolehkan untuk masuk ke dalam pura. Karena ada kaitannya dengan konsep triangga yaitu (penggambaran tubuh manusia dari kepala, badan hingga kaki), pura ini ada kaitannya dengan 2 tempat suci lainnya di Tabanan, yaitu Pura Luhur Batukaru (hulu) dan Pura Puser Tasik (madya) serta Pura Tanah Lot sebagai hilirnya. Pura hulu dan hilir ini pun digambarkan sebagai simbolisasi lingga dan yoni, Pura Luhur Batukaru sebagai lingga (purusa)dan Pura Tanah Lot sebagai yoni (segara). perpaduannya menjadi sumber kehidupan yang mensejahterakan manusia disekitarnya
Untuk masuk ke tempat wisata ini wisatawan Domestik dikenakan biaya sebesar 20.000 per orang sedangkan turis asing bisa mencapai dua kali lipatnya
 Beberapa keunggulan Wisata Tanah Lot Bali yaitu selain dapat menikmati suasana pantai anda juga dapat berbelanja souvenir dan menikmati wisata kuliner Bali yang banyak terdapat di sekitar lingkungan objek wisata.
Apabila beruntung anda juga dapat menyaksikan upacara adat yang rutin diadakan yaitu Odalan atau hari raya di Pura ini setiap 210 hari sekali, sama seperti di pura-pura yang lain. Jatuhnya dekat dengan perayaan Galungan dan Kuningan, tepatnya pada Hari Suci Budha Cemeng Langkir. Pada saat itu, orang akan ramai bersembahyang di Pura ini.
Untuk dapat mencapai kelokasi ini anda dapat menggunakan motor ataupun mobil,selain itu juga terdapat Fasilitas Dari tempat parkir menuju ke area pura banyak dijumpai art shop dan warung makan atau sekedar kedai minuman. Juga tersedia toilet bersih yang harga sewanya cukup murah untuk kantong wisatawan domestik sekalipun.

Jarak yang dapat ditempuh Total Jarak Tempuh Jakarta-Bali(Denpasar) :
Jakarta-Ungaran : ± 450 km
Ungaran-Ketapang : ± 500 km
Ketapang-Bali : ± 150 km
Total ± 1.100 km

Total Jarak Waktu Jakarta-Bali :
Jakarta-Ungaran : ± 10 Jam
Ungaran-Ketapang : ± 16 Jam
Ketapang-Bali : ± 4 Jam
Total : ± 30 Jam
Sedangkan dari Tanah Lot berjarak sekitar 20 km dari Denpasar atau bisa ditempuh selama sekitar 45 menit.
Beberapa penginapan yang berlokasi di Tanah Lot
Hotel bintang 5 dengan 2 lantai ini memiliki 48 kamar yang dirancang dengan baik dengan jarak 0,07 km dari lokasi wisata.
Berjarak 0.71 km dari lokasi wisata di hotel ini Para tamu akan mendapatkan semua amenity terbaik di setiap kamar 10 di hotel bintang-3 yang populer ini.
Hotel Bintang 5 dengan jumlah kamar 278 yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan para tamu hotel ini berjarak 3,73 km dari tempat wisata.
  • Taman Ahimsa
Setiap kamar 7 di hotel bintang-5 mewah ini menampilkan amenity terbaik. Berjarak 6.02 dari lokasi wisata




Sabtu, 09 Oktober 2010

TUGAS 1 # AUTOBIOGRAFI


Darah Jawa

Namaku erwin begitu teman-temanku biasa memanggilku dan nama lengkapku adalah Erwin Huseini. Aku adalah anak ke-3 dari 4 besaudara. Aku dilahirkan di Jakarta begitu pula kedua kakakku yang lahir disana kecuali adiku yang lahir didepok. Aku dan kakakku atau lebih tepatnya saudara kembarku lahir pada bulan juni tahun 1988. meskipun dibilang kembar kami sangatlah berbeda baik secara fisik, sifat maupun karakter, teman-teman dan saudaraku pun berkata hal yang sama dan akupun menyadarinya. Sedangkan kakak pertamaku umurnya hanya berbeda 2 tahun diatasku.

Kedua orangtuaku adalah keturunan jawa, ibuku bernama Ainul Macmudah dan ayahku bernama Suratman keduanya berasal dari jawa tengah, meski begitu ayahku besar dijakarta. Ayah dan ibuku menikah pada tahun 1985. dan ayahku memutuskan untuk tinggal di Jakarta dan membawa ibuku untuk tinggal disana.

Hanya berselang waktu satu tahun ayah dan ibuku melahirkan anak pertamanya. Lalu dua tahun kemudian lahirlah aku dan saudara kembarku. Waktu itu aku masih tinggal bersama kakek dan nenekku di Jakarta.

Pada waktu itu saat aku berumur 4 tahun ketika itu beliau memutuskan untuk pindah rumah. kami pindah ke depok disana aku banyak memiliki teman baru. Rumah baru dan lingkungan baru, dan aku lebih menikmati tinggal di depok dari pada dirumahku yang lama, alasannya di depok lebih terasa nyaman dibandingkan dengan rumah lamaku yang padat dan kumuh. Pada tahun 1993 aku kakakku telah memulai bersekolah yaitu hari pertama dimana kami masuk TK. Meskipun bisa dibilang kembar  hubungan aku dan kakakku tidak terlalu dekat dan terkadang aku benci sekali dengan sifatnya yang jahil itu. Terlebih lagi banyak temanku bilang kalau kakakku lebih ganteng ketimbang aku. Walaupun memang kenyataannya seperti itu dan akupun menyadarinya.
Tahun 1994 aku dan kakakku memulai bersekolah yaitu hari yang sangat penting hari pertama masuk SD. Aku sangat senang karena selain hari pertama bersekolah juga karena kakak pertamaku yang bersekolah disekolah yang sama sehingga kami sering bertemu. Tahun 1997 ibuku melahirkan anak ke-4 adik bungsuku dan semuanya laki-laki. Waktu itu sepulang dari sekolah ketika aku masih SMP aku tidak melihat ibu dirumah dan tetanggaku bilang ibuku telah melahirkan, dengan berlari aku pergi menuju bidan tempat ibuku melahirkan kebetulan jaraknya tidak terlalu jauh dan masih di dalam perumahan. Ibuku yang berharap mempunyai anak perempuan ternyata diberi oleh tuhan anak laki-laki jadilah kami berempat kakak dan adik yang semuanya laki-laki aku sedikit kasihan bila teringat ibuku yang menginginkan anak perempuan.

Pada tahun 2000 aku memulai masa SMP tidak seperti waktu SD aku dan kembaranku bersama-sama satu sekolah. Kali ini kami bersekolah disekolah yang berbeda hingga SMA dan Kuliah sampai saat ini.
pada waktu aku memulai kuliah aku memutuskan untuk kuliah di Jakarta sedangkan Kedua kakakku kuliah di depok. Di Jakarta aku tinggal bersama paman dan bibiku.
Sedangkan kedua kakakku tinggal bersama kedua orang tuaku di depok.

Meskipun kedua orang tuaku berasal dari jawa dan keturunan jawa aku jarang sekali mendengar mereka berbicara dengan bahasa jawa kecuali dengan kerabat atau keluarga dekat maupun jauh, aku sering tertawa kalau mendengar mereka berbicara dengan bahasa jawa terlebih lagi jika marah terdengar sangat lucu. Bukan karena apa-apa, karena aku tidak mengerti sama sekali yang mereka bicarakan. Bahkan ketika nenekku menasihatiku aku hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala karena tidak mengerti apa yang diucapkan. Ayahku adalah pribadi yang baik, lembut, sabar dan juga ikhlas begitu juga ibuku walaupun agak sedikit cerewet tapi aku mengerti bahwa mereka sangat sayang pada anak-anaknya mereka juga memberiku dasar agama dan tak henti-hentinya mengingatkan aku agar rajin beribadah. Sampai saat inipun aku merasa sangat beruntung telah memiliki mereka.

Saat liburan tiba aku juga terkadang pulang kekampung halaman bersama keluargaku, biasanya pada waktu lebaran saja walaupun tidak setiap lebaran pulang kampung. kampung ibuku berada di Jawa Tengah tepatnya di daerah Mirit. Pertama kali mendengarnya saja sudah terasa aneh ditelingaku, di kampung ibuku jarak antara rumah yang satu dengan yang lainnya cukup berjauhan selain itu disana juga masih banyak terdapat pohon-pohon besar, pekarangan yang luas dan juga pemandangan berhektar-hektar sawah. Setiap pulang ke kampung salah satu tujuanku yaitu bisa pergi kepantai karena lokasi antara rumah nenekku dan pantainya tidak terlalu jauh cukup dengan bersepeda saja. Pantainya juga sepi dan masih sangat bersih karena pantai selatan bisa dibilang berbahaya. Jadi aku hanya diperbolehkan main ditepian pantai saja dan memang ada larangan untuk berenang. Setiap kali aku pergi kepantai aku tidak diperbolehkan pergi sendirian kesana. Karena pantai tersebut cukup angker kata nenekku banyak terjadi korban setiap tahunnya dan korbannya itu kebanyakan para pendatang. Nenekku bilang itu sebagai tumbal dari ratu Nyi Roro Kidul ratu pantai selatan. dan memang ternyata ombaknya sangat besar dan mengerikan. pantas saja siapapun yang terseret ombak  kemungkinan besar bisa terseret ombak sampai ketengah laut.

Selain itu aku juga sering pergi ke kampung ayahku nama kampungnya adalah Susuk terletak di jawa tengah juga.. Masyarakat disana sebagian besar menganut islam kejawen. Seperti acara 7, 40 atau 100 hari orang meninggal dunia biasanya mereka mengadakan yasinan dan mengundang warga sekitar. Dan pihak keluarga yang ditinggalkan biasanya memberikan sesaji berupa makanan, minuman juga rokok sesuai kesukaannya yang diperuntukan untuk arwah orang yang meninggal tersebut kata mereka jika tidak diberi sesaji arwah tersebut bisa marah dan mendatangkan bahaya.

Mereka juga percaya kepada sesuatu yang aneh baik benda hidup ataupun mati contohnya pohon besar yang diberi sesaji, atau benda-benda sebagai jimat.  Mungkin yang dimaksud islam kejawen adalah agama islam yang bercampur dengan agama lain seperti hindu dan budha antara islam dan kejawen seolah tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. Kejawen bisa jadi merupakan suatu sampul atau kulit luar dari beberapa ajaran yang berkembang di Tanah Jawa, semasa zaman Hinduisme dan Budhisme. Dalam perkembangannya, penyebaran islam di Jawa juga dibungkus oleh ajaran-ajaran terdahulu, bahkan terkadang melibatkan aspek kejawen sebagai jalur penyeranta yang baik bagi penyebarannya. Walisongo memiliki andil besar dalam penyebaran islam di Tanah Jawa. Unsur-unsur dalam islam berusaha ditanamkan dalam budaya-budaya jawa semacam pertunjukan wayang kulit, dendangan lagu-lagu jawa , ular-ular ( putuah yang berupa filsafat), cerita-cerita kuno, hingga upacara-upacara tradisi yang dikembangkan,khususnya di Kerjaan Mataram.
Tidak banyak hal yang kutahu tentang kebudayaan jawa mungkin karena aku lama tinggal di Jakarta tapi aku sedikit lebih mengenal darah jawaku.