Senin, 10 Januari 2011

POTENSI WISATA BUDAYA SUMATERA UTARA

"Sebuah Analisis Penjelajahan Awal"


1.     PENDAHULUAN
Sekarang ini saya akan menulis mengenai Provinsi Sumatera Utara dalam rangka memenuhi tugas UAS mata kuliah KKI saya, saya memilih Provinsi Sumatera Utara karena menurut saya, provinsi ini memiliki potensial pariwisata yang cukup tinggi dan banyak diminati oleh wisatawan lokal maupun asing.
     Namun sayangnya, belum semua wilayah yang berpotensi ini dikenal banyak orang, padahal potensinya cukup tinggi dan sangat menarik untuk dikunjungi dan dipelajari, apalagi kebudayaannya masih cukup kental dan banyaknya objek-objek yang bernilai sejarah dan budaya, serta suku yang bervariasi dan menarik yang berpotensi tinggi. Berikut merupakan beberapa ulasan mengenai tempat-tempat yang memiliki nilai sejarah yang dan potensi yang tinggi dan layak untuk dikunjungi. 

          PENJELASAN
 
      Provinsi Sumatera Utara terletak pada 1° - 4° Lintang Utara dan 98° - 100° Bujur Timur, Luas daratan Provinsi Sumatera Utara 71.680 km². Sumatra Utara pada dasarnya dapat dibagi atas:
  • Pesisir Timur
  • Pegunungan Bukit Barisan.
  • Pesisir Barat.
  • Kepulauan Nias.
Pesisir timur merupakan wilayah di dalam provinsi yang paling pesat perkembangannya karena persyaratan infrastruktur yang relatif lebih lengkap daripada wilayah lainnya. Wilayah pesisir timur juga merupakan wilayah yang relatif padat konsentrasi penduduknya dibandingkan wilayah lainnya.
Di daerah tengah provinsi berjajar Pegunungan Bukit Barisan. Di pegunungan ini ada beberapa dataran tinggi yang merupakan kantong-kantong konsentrasi penduduk. Tetapi jumlah hunian penduduk paling padat berada di daerah Timur provinsi ini. Daerah di sekitar Danau Toba dan Pulau Samosir juga menjadi tempat tinggal penduduk yang menggantungkan hidupnya kepada danau ini. Pesisir barat biasa dikenal sebagai daerah Tapanuli.
Terdapat 419 pulau di propisi Sumatera Utara. Pulau-pulau terluar adalah pulau Simuk (kepulauan Nias), dan pulau Berhala di selat Sumatera (Malaka).
Kepulauan Nias terdiri dari pulau Nias sebagai pulau utama dan pulau-pulau kecil lain di sekitarnya. Kepulauan Nias terletak di lepas pantai pesisir barat di Samudera Hindia. Pusat pemerintahan terletak di Gunung Sitoli. Kepulauan Batu terdiri dari 51 pulau dengan 4 pulau besar: Sibuasi, Pini, Tanahbala, Tanahmasa. Pusat pemerintahan di Pulautelo di pulau Sibuasi. Kepulauan Batu terletak di tenggara kepulauan Nias. Pulau-pulau lain di Sumatera Utara: Imanna, Pasu, Bawa, Hamutaia, Batumakalele, Lego, Masa, Bau, Simaleh, Makole, Jake, dan Sigata, Wunga.
Pusat pemerintahan Sumatera Utara terletak di kota Medan. Sumatera Utara dibagi kepada 25 kabupaten, 8 kota (dahulu kotamadya), 325 kecamatan, dan 5.456 kelurahan/desa.
Sumatera Utara merupakan provinsi multietnis dengan Batak, Nias, dan Melayu sebagai penduduk asli wilayah ini. Daerah pesisir timur Sumatera Utara, pada umumnya dihuni oleh orang-orang Melayu. Pantai barat dari Barus hingga Natal, banyak bermukim orang Minangkabau. Wilayah tengah sekitar Danau Toba, banyak dihuni oleh Suku Batak yang sebagian besarnya beragama Kristen. Suku Nias berada di kepulauan sebelah barat. Sejak dibukanya perkebunan tembakau di Sumatera Timur, pemerintah kolonial Hindia Belanda banyak mendatangkan kuli kontrak yang dipekerjakan di perkebunan. Pendatang tersebut kebanyakan berasal dari etnis Jawa dan Tionghoa. Pusat penyebaran suku-suku di Sumatra Utara, sebagai berikut :
  1. Suku Melayu Deli : Pesisir Timur, terutama di kabupaten Deli Serdang, Serdang Bedagai, dan Langkat
  2. Suku Batak Karo : Kabupaten Karo
  3. Suku Batak Toba : Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Toba Samosir
  4. Suku Batak Pesisir : Tapanuli Tengah, Kota Sibolga
  5. Suku Batak Mandailing/Angkola : Kabupaten Tapanuli Selatan, Padang Lawas, dan Mandailing Natal
  6. Suku Batak Simalungun : Kabupaten Simalungun
  7. Suku Batak Pakpak : Kabupaten Dairi dan Pakpak Barat
  8. Suku Nias : Pulau Nias
  9. Suku Minangkabau : Kota Medan, Pesisir barat
  10. Suku Aceh : Kota Medan
  11. Suku Jawa : Pesisir Timur & Barat
  12. Suku Tionghoa : Perkotaan pesisir Timur & Barat.

Suku Melayu Deli mayoritas menuturkan bahasa Indonesia karena kedekatan bahasa Melayu dengan bahasa Indonesia. Pesisir timur seperi wilayah Serdang Bedagai, Pangkalan Dodek, Batubara, Asahan, dan Tanjung Balai, memakai Bahasa Melayu Dialek "O" begitu juga di Labuhan Batu dengan sedikit perbedaan ragam. Di kabupaten Langkat masih menggunakan bahasa Melayu Dialek "E" yang sering juga disebut bahasa Maya-maya. Masih banyak keturunan Jawa Kontrak (Jadel - Jawa Deli) yang menuturkan bahasa Jawa.
Di kawasan perkotaan, suku Tionghoa lazim menuturkan bahasa Hokkian selain bahasa Indonesia. Di pegunungan, suku Batak menuturkan bahasa Batak yang terbagi atas 4 logat (Silindung-Samosir-Humbang-Toba). Bahasa Nias dituturkan di Kepulauan Nias oleh suku Nias. Sedangkan orang-orang Pesisir Pantai Barat Sumut, seperti Kota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah serta Aceh Singkil dan Natal Madina menggunakan Bahasa Pesisir.
2.     SITUS-SITUS SEJARAH
a.      Situs Eksitu
1)      Museum Adat Batak Huta Bolon Simanindo
Terletak di Desa Simanindo, Kelurahan Simanindo, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara.
Museum ini merupakan rumah adat warisan Raja Sidauruk dan sejak 1969 bangunan ini dijadikan sebagai museum terbuka. Museum ini terdiri atas sejumlah rumah adat dengan Huta Bolon Simanindo sebagai master place-nya. Koleksinya berupa peninggalan leluhur orang Batak Toba dari Samosir yang antara lain terdiri atas parhalaan, pustaha laklak, tunggal panaluan, dan solu bolon.
2)      Museum Sumatera Utara
Museum Sumatera Utara (Sumut) terletak di jalan HM Joni No. 51 Medan, Propinsi Sumatera Utara, Indonesia. Museum Sumatera Utara (Sumut) memiliki koleksi patung pengantin beserta ornamen-ornamenya dari suku-suku utama di Sumatera Utara seperti Melayu, Batak Toba, Karo, Simalungun, Angkola, Mandailing, Pak-Pak, dan Nias.
Sejak peresmianya pada tahun 1982 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Museum Sumatera Utara telah memiliki 6.799 koleksi benda bersejarah yang terbagi menjadi 10 jenis, yakni koleksi geologika, berupa koleksi jenis batuan, benda-benda bentukan alam serta aneka mineral batuan. Kemudian ada pula koleksi biologika, koleksi etnografika yang menggambarkan identitas etnis di Sumatera Utara.
Koleksi museum Sumatera Utara lainnya seperti arkeologika, benda-benda hasil peninggalan budaya masa pra sejarah sampai masuknya pengaruh budaya barat.Koleksi arkeologika yang terkenal di museum ini di antaranya, Piringsapa serta Pustaha Lak-lak peninggalan budaya Batak Toba. Selebihnya ada koleksi historika, numismatika, filologika, keramologika, seni rupa dan yang berteknologika.
Ada juga sejumlah koleksi benda-benda tradisional seperti ulos Batak Toba, peti mati yang disebut rumaruma atau parmual - mualan solu bolon beserta simbolik bentuk, ornamennya. Museum juga memiliki koleksi benda peninggalan sejarah perjuangan Sisingamaraja XII berupa Selendang Tenunan Sunting Miriam (Isteri Sisingamaraja XII) pada waktu ditawan Belanda.

b.      Situs Insitu
1)      Objek wisata sejarah di komplek makam Raja Sidabutar di Desa Tomok.
2)      Objek wisata  arsitektur berupa komplek rumah tradisional Batak Toba Samosir.
Cara Menuju Lokasi :
Untuk mencapai lokasi wisata, pengunjung dapat melalui rute Kota Medan-Parapat atau pun melalui rute Medan-Berastagi yang berjarak lebih kurang 176 km dengan waktu tempuh kurang lebih  empat jam dengan kendaraan roda dua/ empat. Di Parapat, para  pengunjung yang ingin mengunjungi Pulau Samosir dapat menumpangi angkutan feri yang setiap jamnya berangkat ke Desa Tomok, Samosir.
Candi Peninggalan Sejarah di Sumatera Utara
Salah satu situs peninggalan Hindu-Buddha berupa candi terdapat di Sumatera Utara bagian Selatan, tepatnya di Kabupaten Padang Lawas. Disana terdapat sebuah Situs Percandian yang dinamakan Situs Padang Lawas. Situs ini merupakan salah satu situs penting dari masa pengaruh Hindu-Buddha (Klasik) di Indonesia yang berada di Pulau Sumatera. Areal situs ini secara administratif terletak di wilayah tiga kecamatan, yakni Kecamatan Batang Pane, Kecamatan Lubuk Barumun, dan Kecamatan Padang Bolak, Kabupaten Padang Lawas Utara.
Kepurbakalaan yang terdapat pada situs ini tersebar di sepanjang aliran Sungai Batang Pane, Sirumambe, dan Sungai Barumun, terdiri dari setidaknya enambelas kompleks percandian atau dalam bahasa setempat lebih dikenal sebagai biaro atau biara yang merupakan adopsi dari kata dalam Bahasa Sansekerta, vihara yang berarti tempat belajar mengajar dan ibadah khususnya bagi penganut agama Buddha (Ing. monastery). Nama lain yang dikenal oleh masyarakat adalah Portibi, yang dalam bahasa setempat berarti dunia. Nama-nama biaro itu antara lain adalah: Sipamutung, Bara, Bahal (I,II, dan III), Sijoreng, Pulo, Sangkilon, Sitopayan, dan Sisoldop.
Berdasarkan sejumlah temuan yang didapatkan di situs ini, secara relatif biaro-biaro di Padang Lawas (Portibi) diperkirakan sudah eksis sejak abad ke-11 M. Data yang dijadikan acuan terutama adalah tulisan-tulisan kuno pada prasasti-prasasti yang ditemukan di situs ini. Salah satu dari beberapa prasasti itu adalah prasasti Gunung Tua, merupakan prasasti tertua yang ditemukan di situs ini, ditulis dalam aksara Jawa Kuna dan menggunakan bahasa Melayu Kuna, yang dipahatkan pada bagian belakang landasan sebuah patung yang diapit terbuat dari perunggu.
Saat ini sisa-sisa kejayaan kerajaan Panai itu masih dapat dilihat di situs Padang Lawas. Beberapa diantara biaro-biaro itu sudah dipugar seperti Biaro Bahal I dan Biaro Bahal II, Biaro Bahal III dan Biaro Sipamutung, sementara biaro-biaro lainnya karena kondisinya sudah teramat rusak mengakibatkan saat ini belum dapat dipugar.
Nama Candi yang terdapat di Padang Lawas:
1.    Candi Bahal I
2.    Candi Bahal II
3.    Candi Bahal III
4.    Candi Sitopayan
5.    Candi Bara
6.    Candi Pulo
7.    Candi Sipamutung
8.    Candi Tandihat I
9.    Candi Tandihat II
10.  Candi Sisangkilon
11.  Candi Manggis
c.      Kota Tua
Barus Kota Tertua di Sumatera Utara
Kota yang ada sejak 683 SM terdiri dari sebelas desa dan dua kelurahan merupakan kota tertua di sumut, dimana peninggalan sejarah kerajaan barus masih menjadi objek khusus para pengunjung, serta dihiasi ratusan hektar sawah dan keindahan pantai yang mengelilingi kota Barus.
Suku aslinya berasal dari minang, aceh, batak dan tionghoa. Bahasa yang digunakan juga sangat berbeda dengan daerah lainnya yaitu Bahasa Baiko (Bahasa asli orang barus) yang selintas saat mendengarnya seperti bahasa melayu.
Keberagaman agama juga terlihat jelas dari tempat ibadah yang terlihat disekeliling jalan, antara islam dan kristen protestan hampir sama jumlahnya. Tetapi hal itu tidak menimbulkan perpecahan di wilayah yang dikenal dengan kota legenda ini.
Aset-aset peninggalan sejarah menjadi alasan orang datang ke kota Barus, banyak hal yang menarik perhatian disini mulai dari kampung putih yang menjadi istana tempat tinggal kerajaan, makam yang ada didua titik yaitu makam mahligai dan papan tinggi sampai keindahan pantainya.
Selain itu ada Kerajaan andam dewi di desa kecamatan andam dewi, tempat pelelangan ikan yang berada di pantai dimana terjadi proses jual beli antara pedagang dengan pembeli dengan partai besar.
d.      Desa Tradisional
Anda ingin bertemu dan tahu, serta kehidupan orang batak asli?? Bila iya, Anda dapat datang ke sebuah desa yang sebagian besar wilayahnya belum tersentuh oleh dunia modern. Terletak di lereng bukit yang indah, pengunjung yang datang ke desa Jangga bisa bertemu dengan orang  Batak asli dan melihat bagaimana budaya mereka yang unik terus berkembang hingga saat ini.
Desa Jangga terletak di tepi Gunung Simanuk-Manuk, Lumban Julu, kabupeten Toba Samosir, Sumatra Utara, sekitar 24 km dari Danau Toba. 
Desa ini adalah salah satu dari sejumlah desa Batak asli di wilayah Lumban Nabolon, Tonga-Tonga Sirait Uruk, Janji Matogu, hubak Sihubak, Siregar, Sigaol, Silalahi Toruan Muara dan Tomok Sihotang.
Jangga terkenal dengan kain ulos yang indah yang ditenun oleh kaum wanitanya. Ulos memainkan peranan penting dalam masyarakat tradisional Batak dan digunakan tidak hanya sebagai pakaian tetapi juga digunakan pada acara-acara adat seperti kelahiran, kematian dan pernikahan.
Di desa Jangga Anda akan menemukan deretan rumah-rumah tradisional, atraksi budaya dan sejarah, seperti sisa-sisa peninggalan raja-raja Batak berabad-abad yang lalu termasuk Raja Tambun dan monumen raja Manurung.
Disini Anda juga bisa menyaksikan wanita Jangga yang sedang menenun kain tradisional ulos yang rumit, mengagumi struktur rumah adat Batak yang berbentuk panggung dan memiliki atap besar yang khas hingga menjelajahi warisan budaya daerah yang menarik dengan berkunjungan ke monumen megah Raja Tambun dan Manurung.
3.     SITUS-SITUS BUDAYA/KHASANAH BUDAYA
a.      Tradisi yang Masih Berlangsung
Tradisi megalitik adalah salah satu produk budaya dari masa prasejarah di Pulau Nias, Sumatera Utara, masih berlanjut dan hingga kini terus dipertahankan oleh masyarakat pendukungnya. Kenyataan itu, antara lain, terlihat dalam sistem kepercayaan tentang asal- usul serta pemujaan terhadap arwah para leluhur. Patung-patung yang merupakan simbol nenek moyang itu masih dipuja. Begitu pun pola hadap bangunan rumah dan kepercayaan pada folklor tentang asal-usul nenek moyang.
Hombo (lompat batu) merupakan tradisi yang sangat populer pada masyarakat Nias di Kabupaten Nias Selatan. Tradisi ini dilaksanakan oleh masyarakat di Desa Bawo Mataluo (Bukit Matahari). Desa Bawo Mataluo adalah desa yang kaya dengan situs megalitik (batu besar) berukir dan di dalamnya terdapat perumahan tradisional khas Nias (omo hada).
·         Perkawinan
Pada tradisi suku Batak seseorang hanya bisa menikah dengan orang Batak yang berbeda klan sehingga jika ada yang menikah dia harus mencari pasangan hidup dari marga lain selain marganya. Apabila yang menikah adalah seseorang yang bukan dari suku Batak maka dia harus diadopsi oleh salah satu marga Batak (berbeda klan). Acara tersebut dilanjutkan dengan prosesi perkawinan yang dilakukan di gereja karena mayoritas penduduk Batak beragama Kristen.
Untuk mahar perkawinan-saudara mempelai wanita yang sudah menikah.

b.      Arsitektur Tradisional
Ø      “Bolon” Rumah Adat Batak Toba
Rumah adat Batak Toba yang disebut Rumah Bolon, berbentuk empat persegi panjang dan kadang-kadang dihuni oleh 5 sampai 6 keluarga batih. Untuk memasuki rumah harus menaiki tangga yang terletak di tengah-tengah rumah, dengan jumlah anak tangga yang ganjil. Bila orang hendak masuk rumah Batak Toba harus menundukkan kepala agar tidak terbentur pada balok yang melintang, hal ini diartikan tamu harus menghormati si pemilik rumah. Lantai rumah kadang-kadang sampai 1,75 meter di atas tanah, dan bagian bawah dipergunakan untuk kandang babi, ayam, dan sebagainya. Dahulu pintu masuk mempunyai 2 macam daun pintu, yaitu daun pintu yang horizontal dan vertikal, tapi sekarang daun pintu yang horizontal tak dipakai lagi.
Ruangan dalam rumah adat merupakan ruangan terbuka tanpa kamar-kamar, walaupun berdiam disitu lebih dari satu keluarga, tapi bukan berarti tidak ada pembagian ruangan, karena dalam rumah adat ini pembagian ruangan dibatasi oleh adat mereka yang kuat. Ruangan di belakang sudut sebelah kanan disebut jabu bong, yang ditempati oleh kepala rumah atau por jabu bong, dengan isteri dan anak-anak yang masih kecil. Di sudut kiri berhadapan dengan Jabu bong disebut Jabu Soding diperuntukkan bagi anak perempuan yang telah menikah tapi belum mempunyai rumah sendiri. Di sudut kiri depan disebut Jabu Suhat, untuk anak laki-laki tertua yang sudah kawin dan di seberangnya disebut Tampar Piring diperuntukkan bagi tamu.
Bila keluarga besar maka diadakan tempat di antara 2 ruang atau jabu yang berdempetan, sehingga ruangan bertambah 2 lagi dan ruangan ini disebut Jabu Tonga-ronga ni jabu rona. Tiap keluarga mempunyai dapur sendiri yang terletak di belakang rumah, berupa bangunan tambahan. Di antara 2 deretan ruangan yakni di tengah-tengah rumah merupakan daerah netral yang disebut telaga dan berfungsi sebagai tempat bermusyawarah. Bangunan lain yang mirip dengan rumah adalah sapo yakni seperti rumah yang berasal dari lumbung tempat menyimpan, kemudian didiami. Perbedaannya dengan rumah adalah : Dopo berlantai dua, hanya mempunyai satu baris tiang-tiang depan dan ruangan bawah terbuka tanpa dinding berfungsi untuk musyawarah, menerima orang asing dan tempat bermain musik. Pada bagian depan rumah adat terdapat hiasan-hiasan dengan motif garis geografis dan spiral serta hiasan berupa susu wanita yang disebut adep-adep. Hiasan ini melambangkan sumber kesuburan kehidupan dan lambang kesatuan.
Rumah yang paling banyak hiasan-hiasannya disebut Gorga. Hiasan lainnya bermotif pakis disebut nipahu, dan rotan berduri disebut mardusi yang terletak di dinding atas pintu masuk.
Pada sudut-sudut rumah terdapat hiasan Gajah dompak, bermotif muka binatang, mempunyai maksud sebagai penolak bala. Begitu pula hiasan bermotif binatang cicak, kepala singa yang dimaksudkan untuk menolak bahaya seperti guna-guna dari luar. Hiasan ini ada yang berupa ukiran kemudian diberi warna, ada pula yang berupa gambaran saja. Warna yang digunakan selalu hitam, putih dan merah.
Ø       “Siwaluh Jabu” Rumah Adat Batak Karo
Rumah adat Karo ini berbeda dengan rumah adat suku lainnya dan kekhasan itulah yang mencirikan rumah adat Karo. Bentuknya sangat megah diberi tanduk. Proses pendirian sampai kehidupan dalam rumah adat itu diatur oleh adat Karo. Berdasarkan bentuk atap, rumah adat karo dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu :

a.      Rumah sianjung-anjung
Rumah sianjung-anjung adalah rumah bermuka empat atau lebih, yang dapat juga terdiri atas satu atau dua tersek dan diberi bertanduk.
b.      Rumah Mecu
Rumah mecu adalah rumah yang bentuknya sederhana, bermuka dua mempunyai sepasang tanduk.

Sementara menurut binangun, rumah adat Karo pun dapat dibagi atas dua yaitu:
a.      Rumah Sangka Manuk
Rumah sangka manuk yaitu rumah yang binangunnya dibuat dari balok tindih-menindih.
b.      Rumah Sendi
Rumah sendi adalah rumah yang tiang rumahnya dibuat berdiri dan satu sama lain dihubungkan dengan balok-balok sehingga bangunan menjadi sendi dan kokoh.
Rumah adat Karo didirikan berdasarkan arah kenjahe (hilir) dan kenjulu (hulu) sesuai aliran air pada suatu kampung.
Jabu dalam Rumah Adat
Rumah adat biasanya dihuni oleh empat atau delapan keluarga. Penempatan keluarga-keluarga itu dalam bagian rumah adat (jabu) dilakukan berdasarkan ketentuan adat Karo. Rumah adat secara garis besar dapat dibagi atas jabu jahe (hilir) dan jabu julu (hulu). Jabu jahe terbagi atas jabu bena kayu dan jabu lepar benana kayu. Demikian juga jabu kenjulu dibagi atas dua, yaitu jabu ujung kayu dan jabu rumah sendipar ujung kayu.
Ada kalanya suatu rumah adat terdiri dari delapan ruang dan dihuni oleh delapan keluarga. Adapun susunan jabu dan yang menempatinya adalah sebagai berikut:
1.      Jabu Benana Kayu
Terletak di jabu jahe. Kalau kita kerumah dari ture jahe, letaknya sebelah kiri. Jabu ini dihuni oleh para keturunen simantek kuta (golongan pendiri kampung) atau sembuyak-nya. Fungsinya adalah sebagai pemimpin rumah adat.
2.      Jabu ujung Kayu (anak beru)
jabu ini arahnya di arah kenjulu rumah adat. Kalau kita masuk kerumah adat dari pintu kenjulu, letaknya disebelah kiri atau diagonal dengan letak jabu benana kayu. Jabu ini ditempati oleh anak beru kuta atau anak beru dari jabu benana Kayu. Fungsinya adalah sebagai juru bicara jabu bena kayu.
3.      Jabu Lepar Benana Kayu
Jabu ini di arah kenjahe (hilir). Kalau kita kerumah dari pintu kenjahe letaknya disebelah kanan, Penghuni jabu ini adalah sembuyak dari jabu benana kayu. Fungsinya untuk mendengarkan berita-berita yang terjadi diluar rumah dan menyampaikan hal itu kepada jabu benana kayu. Oleh karena itu, jabu ini disebut jabu sungkun berita (sumber informasi).
4.      Jabu lepar ujung kayu (mangan-minem)
Letaknya dibagian kenjulu (hulu) rumah adat. Kalau kita masuk dari pintu kenjulu ke rumah adat, letaknya di sebelah kanan. Jabu ini ditempati oleh kalimbubu jabu benana kayu. Oleh karena itu, jabu ini disebut jabu si mangan-minem.
Keempat jabu inilah yang disebut dengan jabu adat, karena penempatannya harus sesuai dengan adat, demikian juga yang menempatinya ditentukan menurut adat.

5.      Jabu sedapuren benana kayu (peninggel-ninggel)
Jabu ini ditempati oleh anak beru menteri dari rumah si mantek kuta (jabu benana kayu), dan sering pula disebut jabu peninggel-ninggel. Dia ini adalah anak beru dari ujung kayu.
6.      jabu sidapuren ujung kayu (rintenteng)
Ditempati oleh sembuyak dari ujung kayu, yang sering juga disebut jabu arinteneng. Tugasnya adalah untuk engkapuri belo, menyerahkan belo kinapur (persentabin) kepada tamu jabu benana kayu tersebut. Oleh karena itu, jabu ini disebut juga jabu arinteneng.
7.      Jabu sedapuren lepar ujung kayu (bicara guru)
Dihuni oleh guru (dukun) atau tabib yang mengetahui berbagai pengobatan. Tugasnya mengobati anggota rumah yang sakit.
8.      Jabu sedapuren lepar benana kayu
Dihuni oleh puang kalimbubu dari jabu benana kayu disebut juga jabu pendungi ranan. Karena biasanya dalam runggun adat Karo persetujuan terakhir diberikan oleh puang kalimbubu.
c.      Seni Pertunjukan 

             Musik
Musik yang biasa dimainkan,cenderung tergantung dengan upacara-upacara adat yang diadakan, tetapi lebih dominan dengan genderangnya. Seperti pada Etnis Pesisir terdapat serangkaian alat musik yang dinamakan Sikambang 

      Tarian
Ada yang bersifat magis, berupa tarian sakral, dan ada yang bersifat hiburan saja yang berupa tari profan. Di samping tari adat yang merupakan bagian dari upacara adat, tari sakral biasanya ditarikan oleh dayu-datu. Termasuk jenis tari ini adalah tari guru dan tari tungkat. Datu menarikannya sambil mengayunkan tongkat sakti yang disebut Tunggal Panaluan.
Tari profan biasanya ialah tari pergaulan muda-mudi yang ditarikan pada pesta gembira. Tortor ada yang ditarikan saat acara perkawinan. Biasanya ditarikan oleh para hadirin termasuk pengantin dan juga para muda-mudi. Tari muda-mudi ini, misalnya morah-morah, parakut, sipajok, patam-patam sering dan kebangkiung. Tari magis misalnya tari tortor nasiaran, tortor tunggal panaluan. Tarian magis ini biasanya dilakukan dengan penuh kekhusukan. Selain tarian Batak terdapat pula tarian Melayu seperti Serampang XII.

d.      Seni Plastis
Dalam bidang seni rupa yang menonjol adalah arsitektur rumah adat yang merupakan perpaduan dari hasil seni pahat dan seni ukir serta hasil seni kerajinan. Arsitektur rumah adat terdapat dalam berbagai bentuk ornamen.Pada umumnya bentuk bangunan rumah adat pada kelompok adat batak melambangkan "kerbau berdiri tegak". Hal ini lebih jelas lagi dengan menghias pucuk atap dengan kepala kerbau.

e.      Kerajinan Rakyat
Kain Ulos khas Danau Toba merupakan salah satu kerajinan tradisional Batak yang sangat terkenal. Kain yang didominasi warna merah, hitam, dan putih ini biasanya ditenun dengan benang berwarna emas dan perak. Dahulu, kain ini hanya digunakan sebagai selendang dan sarung untuk pasangan kebaya, namun pada saat ini telah mengalami modifikasi sehingga lebih menarik dan bernilai ekonomis, misalnya dijadikan sebagai produk suvenir, sarung bantal, ikat pinggang, tas, pakaian, alas meja, dasi, dompet, dan kain gorden.
Kain yang diproduksi secara home industry di desa Perbaba, Kabupaten Samosir, Provinsi Sumatra Utara, Indonesia ini cara pembuatan dan alatnya sama seperti pembuatan kain songket khas Palembang. Para pengrajin, sambil duduk dengan penuh kesabaran, menenun untaian benang berwarna emas dan perak untuk menghasilkan sebuah kain ulos yang indah dan artistik. Harga Kain Ulos cukup bervariasi mulai dari puluhan ribu hingga jutaan rupiah, tergantung kepada jenis ulosnya.
Bagi orang Batak, Kain Ulos tidak saja digunakan untuk pakaian sehari-hari, tetapi juga untuk upacara adat. Pemakaian kain ini secara garis besar ada tiga cara, yaitu dengan siabithononton (dipakai), sihadanghononton (dililit di kepala atau bisa juga ditenteng), sitalitalihononton (dililit di pinggang). Namun demikian, tidak semua jenis Kain Ulos dapat dipakai dalam aktivitas sehari-hari. Dalam keseharian, laki-laki Batak menggunakan sarung tenun bermotif kotak-kotak, tali-tali dan baju berbentuk kemeja kurung berwarna hitam, tanpa alas kaki.
Bagi orang Batak, Kain Ulos tidak sekedar kain yang berfungsi melindungi tubuh dari hawa dingin, tetapi juga berfungsi simbolik, khususnya yang berkaitan dengan adat istiadat orang Batak. Kain Ulos dari jenis tertentu dipercaya mengandung kekuatan mistis dan dianggap keramat serta memiliki daya magis untuk memberikan perlindungan kepada pemakainya.
Kain Ulos juga menjadi bagian penting dalam upacara adat masyarakat Batak. Bilamana dalam suatu upacara adat Kain Ulos tidak digunakan atau diganti dengan kain yang lain, seperti dalam upacara kelahiran, kematian, pernikahan, memasuki rumah, atau upacara-upacara adat lainnya, maka pelaksanaan upacara adat menjadi tidak sah.
Kain ulos mempunyai beraneka macam jenis, di antaranya: bintang maratur, ragiidup, sibolang, ragihotang, mangiring, dan sadum. Aneka macam jenis Ulos tersebut mempuyai tingkat kerumitan, nilai, dan fungsi yang berbeda-beda. Semakin rumit pembuatan sebuah Ulos, maka nilainya semakin tinggi dan harganya juga semakin mahal.
Pada suku Pakpak ada tenunan yang dikenal dengan nama oles. Bisanya warna dasar oles adalah hitam kecokelatan atau putih.
Pada suku Karo ada tenunan yang dikenal dengan nama uis. Bisanya warna dasar uis adalah biru tua dan kemerahan.
Pada suku Pesisir ada tenunan yang dikenal dengan nama Songket Barus. Biasanya warna dasar kerajinan ini adalah Merah Tua atau Kuning Emas.

f.        Legenda

     Legenda Tuak
Tumbuhan enau atau aren dapat menghasilkan banyak hal, yang menjadikannya populer sebagai tanaman serba-guna, setelah tumbuhan kelapa. Salah satunya adalah tuak(nira).
Dalam tradisi orang Batak, tuak juga digunakan pada upacara-upacara tertentu, seperti upacara manuan ompu-ompu dan manulangi. Pada upacara manuan ompu-ompu, tuak digunakan untuk menyiram beberapa jenis tanaman yang ditanam di atas tambak orang-orang yang sudah bercucu meninggal dunia. Sementara dalam upacara manulangi, tuak merupakan salah satu jenis bahan sesaji yang mutlak dipersembahkan kepada arwah seseorang yang telah meninggal dunia oleh anak-cucunya.
Menurut cerita, pohon enau merupakan jelmaan dari seorang gadis bernama Beru Sibou. Peristiwa penjelmaan gadis itu diceritakan dalam sebuah cerita rakyat yang sangat terkenal di kalangan masyarakat Tanah Karo, Sumatera Utara. Cerita itu mengisahkan tentang kesetiaan si Beru kepada abangnya, Tare Iluh. Ia tidak tega melihat penderitaan abangnya yang sedang dipasung oleh penduduk suatu negeri.
Alkisah, pada zaman dahulu kala di sebuah desa yang terletak di Tanah Karo, Sumatera Utara, hiduplah sepasang suami-istri bersama dua orang anaknya yang masih kecil. Yang pertama seorang laki-laki bernama Tare Iluh, sedangkan yang kedua seorang perempuan bernama Beru Sibou. Keluarga kecil itu tampak hidup rukun dan bahagia.
Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama, karena sang suami sebagai kepala rumah tangga meninggal dunia, setelah menderita sakit beberapa lama. Sepeninggal suaminya, sang istri-lah yang harus bekerja keras, membanting tulang setiap hari untuk menghidupi kedua anaknya yang masih kecil. Oleh karena setiap hari bekerja keras, wanita itu pun jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia. Si Tare dan adik perempuannya yang masih kecil itu, kini menjadi anak yatim piatu.
Waktu terus berjalan. Si Tare Iluh tumbuh menjadi pemuda yang gagah, sedangkan adiknya, Beru Sibou, tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik. Sebagai seorang pemuda, tentunya Si Tare Iluh sudah mulai berpikiran dewasa. Oleh karena itu, ia memutuskan pergi merantau untuk mencari uang dari hasil keringatnya sendiri, karena ia tidak ingin terus-menerus menjadi beban bagi orang tua asuhnya.
Beru Sibou menunggu kepulangan Tare Lluh. Namun bertahun-tahun tak ada kabar dari Tare Lluh. Sampai akhirnya datang kabar bahwa abangnya dipasung di negeri orang karena kalah bermain judi dan hutangnya yang menumpuk. Beru pun sedih, ia nekat mencari abangnya dengan berjalan kaki. Ditengah perjalanan ia bertemu seorang kakek, dan meanyakan keberadaan abangnya, tetapi kakek itu malah menyarankannya untuk memanjat sebuah pohon yang tinggi dan bernyanyilah di puncak sambil memanggil nama abangmu.
Tanpa berpikir panjang lagi, ia segera mencari pohon yang tinggi kemudian memanjatnya hingga ke puncak. Sesampainya di puncak, si Beru Sibou segera bernyanyi dan memanggil-manggil abangnya sambil menangis. Ia juga memohon kepada penduduk negeri yang memasung abangnya agar sudi melepaskannya. Ia terus bernyanyi dan berteriak berjam-jam hingga kehabisan tenaga. Akhirnya, ia pun segera mengangkat kedua tangannya dan berdoa kepada Tuhan Yang Mahakuasa. “Ya, Tuhan! Tolonglah hambamu ini. Aku bersedia melunasi semua hutang abangku dan merelakan air mata, rambut dan seluruh anggota tubuhku dimanfaatkan untuk kepentingan penduduk negeri yang memasung abangku.”
Baru saja kalimat permohonan itu lepas dari mulut si Beru Sibou, tiba-tiba angin bertiup kencang, langit menjadi mendung, hujan deras pun turun dengan lebatnya diikuti suara guntur yang menggelegar. Sesaat kemudian, tubuh si Beru Sibou tiba-tiba menjelma menjadi pohon enau. Air matanya menjelma menjadi tuak atau nira yang berguna sebagai minuman. Rambutnya menjelma menjadi ijuk yang dapat dimanfaatkan untuk atap rumah. Tubuhnya menjelma menjadi pohon enau yang dapat menghasilkan buah kolang-kaling untuk dimanfaatkan sebagai bahan makanan atau minuman.
Demikianlah cerita “Kisah Pohon Enau” dari daerah Sumatera Utara. Hingga kini, masyarakat Tanah Karo meyakini bahwa pohon enau adalah penjelmaan si Beru Sibou. Untuk mengenang peristiwa tersebut, penduduk Tanah Karo pada jaman dahulu setiap ingin menyadap nira, mereka menyanyikan lagu enau.
Ø      Asal Usul Orang Nias
Menurut Legenda yang sangat dipercayai oleh sebagian masyarakat Nias terutama yang tinggal di pedesaan, bahwa asal usul orang Nias adalah diturunkan dari langit (NIDADA MOROI BA LANGI). Hal ini dilatarbelangi oleh keterbatasan pemahaman / pengetahuan mereka mengenai ilmu pengetahuan, sehingga beranggapan bahwa didunia ini hanya ada satu daratan yaitu hanya daratan Pulau Nias atau TANÖ NIHA, itulah sebabnya orang Nias menyebut dirinya sebagai ONO NIHA.
Ø      Legenda Batu Gantung (Legenda Kota Parapat)
Alkisah, di sebuah desa terpencil di pinggiran Danau Toba Sumatera Utara, hiduplah sepasang suami-istri dengan seorang anak perempuannya yang cantik jelita bernama Seruni. Selain rupawan, Seruni juga sangat rajin membantu orang tuanya bekerja di ladang. Setiap hari keluarga kecil itu mengerjakan ladang mereka yang berada di tepi Danau Toba, dan hasilnya digunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Pada suatu hari, Seruni pergi ke ladang seorang diri, karena kedua orang tuanya ada keperluan di desa tetangga. Seruni hanya ditemani oleh seekor anjing kesayangannya bernama si Toki. Sesampainya di ladang, gadis itu tidak bekerja, tetapi ia hanya duduk merenung sambil memandangi indahnya alam Danau Toba. Sepertinya ia sedang menghadapi masalah yang sulit dipecahkannya. Sementara anjingnya, si Toki, ikut duduk di sebelahnya sambil menatap wajah Seruni seakan mengetahui apa yang dipikirkan majikannya itu.
Beberapa hari terakhir wajah Seruni selalu tampak murung. Ia sangat sedih, karena akan dinikahkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pemuda yang masih saudara sepupunya. Padahal ia telah menjalin asmara dengan seorang pemuda pilihannya dan telah berjanji akan membina rumah tangga yang bahagia.
Beberapa saat kemudian, Seruni beranjak dari tempat duduknya. Dengan berderai air mata, ia berjalan perlahan ke arah Danau Toba, tanpa memerhatikan jalan yang dilaluinya. Tanpa diduga, tiba-tiba ia terperosok ke dalam lubang batu yang besar hingga masuk jauh ke dasar lubang. Batu cadas yang hitam itu membuat suasana di dalam lubang itu semakin gelap. Gadis cantik itu sangat ketakutan. Di dasar lubang yang gelap, ia merasakan dinding-dinding batu cadas itu bergerak merapat hendak menghimpitnya. Dinding-dinding batu cadas itu bergerak semakin merapat. “Parapat[2]… ! Parapat batu… Parapat!” seru Seruni menyuruh batu itu menghimpit tubuhnya.
Sesaat kemudian, tiba-tiba terdengar suara gemuruh. Bumi bergoyang dengan dahsyatnya seakan hendak kiamat. Lubang batu itu tiba-tiba menutup sendiri. Tebing-tebing di pinggir Danau Toba pun berguguran. Ayah dan ibu Seruni beserta seluruh warga berlari ke sana ke mari untuk menyelamatkan diri. Mereka meninggalkan mulut lubang batu, sehingga Seruni yang malang itu tidak dapat diselamatkan dari himpitan batu cadas.
Beberapa saat setelah gempa itu berhenti, tiba-tiba muncul sebuah batu besar yang menyerupai tubuh seorang gadis dan seolah-olah menggantung pada dinding tebing di tepi Danau Toba. Masyarakat setempat mempercayai bahwa batu itu merupakan penjelmaan Seruni yang terhimpit batucadas di dalam lubang. Oleh mereka batu itu kemudian diberi nama “Batu Gantung”.
Oleh karena kata “parapat” sering diucapkan orang dan banyak yang menceritakannya, maka Pekan yang berada di tepi Danau Toba itu kemudian diberi nama “Parapat”. Parapat kini menjadi sebuah kota kecil salah satu tujuan wisata yang sangat menarik di Provinsi Sumatera Utara, Indonesia.
g.      Wisata Ziarah

       Taman Wisata Iman Dairi di Kabupaten Dairi, Sumatra Utara
Disini anda dapat melakukan DOA KHUSUS di Rumah doa yang sudah disediakan, Menyaksikan Miniature SALIB YESUS, Mengikuti Jalan Salib, anda dapat berdoa sesuai dengan keyakinan masing-masing, karena ditempat ini ada 5 (lima) Agama yang dianut di Indonesia.

      Makam Sisingamangaraja XII
Makam Sisingamangaraja XII di Pagarbatu, Kecamatan Balige Toba Samosir, Sumatra Utara. Raja Sisingamangaraja merupakanpahlawan nasional Indonesia yang bergelar Ompu Pulo Batu merupakan seorang penguasa daerah Tapanuli, pada akhir abad ke-19. Beliau wafat pada 17 Juni 1907 saat membela diri dari serangan pasukan Belanda.
Gelar Singamangaraja merupakan gelar kelompok turun temurun yang memiliki keistimewaan "sahala" (wibawa). "Karena keistimewaan dan kearifan yang dimiliki secara turun temurun, mereka sangat dihormati oleh sebagian besar orang Batak.Makam berjarak sekitar dua kilometer dari kota Balige.
 
      Makam Raja Sidabutar
Makam Raja Sidabutar, berada di Tomok, makam yang terbuat dari batu utuh tanpa persambungan yang dipahat untuk tempat peristirahatan Raja Sidabutar penguasa kawasan Tomok pada masa itu. Sidabutar merupakan orang pertama yang menginjakan kakinya di Pulau Samosir. Kuburan yang sudah berumur 200 tahun itu, merupakan kubur batu. Pada batu itu, selain dipahatkan wajah sang raja, juga dipahatkan wajah seorang gadis yang konon sangat cantik. Kepadanyalah raja sangat mencintai, namun sayang bertepuk sebelah tangan. Di komplek itu pula terdapat patung orang Aceh yang bijak dan menjadi penasihat raja. Sekaligus menjadi penglima perang yang sangat dipercaya.


h.      Wisdom
Masuk di lingkungan baru tentusaja berjumpa dengan penguasa, atau yang dituakan dikawasan itu. Rasa hormat dan penghormatan tentu ditunjukkan oleh seorang Batak. Apabila ada suatu instruksi atau kewajiban yang wajar maka seorang Batak akan patuh tanpa pamrih demi kebersamaan disuatu lingkungan. Hal ini terlihat dari pepatah yang selalu diajarkan kepada seorang Batak seperti “Baris-baris ni gaja dirura Pangaloan, molo marsuru raja dae do so oloan” yang artinya kira-kira, “Gajah berbaris-baris di lembah Pangaloan, kalau raja yang menyuruh tak mungkinlah dilawan.” Disini terlihat bahwa seorang Batak selalu bersikap tanpa pamrih apabila memang sewajarnya sesuai hierarkinya, karena dalam budaya Bangsa Batakpun berlaku yang disebut Dalihan Natolu dan Tarombo yang menyiratkan bahwa ada posisi kedudukan yang saling bergantian dalam tatanan kemasyarakatan.  Bahkan seorang yang dituakan atau disebut raja harus diagungkan dengan sesungguhnya dan bukan hanya manis dibibir. Hal ini terlihat dalam petuah berikut, “Dijolo raja sipareahan, di pudi sipaimaon” yang diartikan “Bila raja di depan harus diagungkan, dan bila dibelakangpun harus dinantikan.” Sikap ini memang benar-benar dipraktekkan oleh seorang Batak, karena mereka akan merasa malu bila dikatakan seperti petuah berikut, “Unang songon ulubalang so mida musu” yang artinya bahwa seorang Batak tidak boleh seperti hulubalang yang tidak melihat musuh, beraninya hanya dibelakang layar.

4.     SEBUAH ANALISIS
a)     Situs-situs Sejarah yang Potensial

     Keunggulannya :

Situs-situs sejarah yang ada di Sumatera Utara semuanya mempunyai daya tarik yang tinggi dan berpotensi untuk dijadikan objek wisata. Karena bangunan-bangunannya serta barang-barang yang ada dan kondisinya masih sama seperti dahulu, sehingga sangat cocok bagi pengunjung yang menyukai dan mempelajari wisata-wisata sejarah ataupun hanya sekedar melihat dan berkunjung saja, mengagumi kekayaan yang ada.  
 
     Kendala dan Penyelesaian :

Tak semua situs yang menarik ini layak dikunjungi, karena ada beberapa yang mengalami kendala dan memerlukan perbaikan, meskipun sebenarnya tempat ini sangat menarik untuk dikunjungi. Namun ada beberapa kendala yang dihadapi, seperti bangunan yang usang , sehingga bisa runtuh sewaktu-waktu dan membahayakan pengunjung, selain itu akses dan transportasi yang lumayan sulit dan agak jauh, sehingga pengunjung membutuhkan waktu dan usaha yang cukup lama untuk menuju lokasi. Sarana dan prasarana yang disediakan juga masih buruk dan barang-barang peninggalan yang kurang terawat dengan baik, karena masih kurangnya perhatian dan kurangnya kerjasama yang baik dari pemerintah maupun masyarakat sekitar, serta pengunjung. Sebagai contoh : banyaknya sampah yang berserakan di sekitar objek, barang-barang di museum yang tampak usang dan kotor, cat-cat tembok yang mengelupas, objek-objek yang aksesnya sulit dan tidak tersedia transportasi, serta sarana dan prasarana yang buruk. Selain itu, masih kurangnya promosi untuk objek-objek yang menarik ini.
Sebaiknya kendala-kendala yang ada segera diperbaiki dan diselesaikan masalahnya. Agar para pengunjung bisa nyaman dan lebih banyak lagi yang berkunjung. Karena kepuasan pengunjung adalah kepuasan kita juga. Kita harus mampu untuk memenuhi kebutuhan para pengunjung, karena banyak yang akan semakin banyak yang tertarik akan situs-situs sejarah yang ada disini, apabila tempatnya layak untuk dikunjungi dan memenuhi kebutuhannya. Untuk mengatasinya sebaiknya melakukan:
·         Perbaikan bangunan-bangunan yang hampir runtuh dan mengecat tembok-tembok yang usang, tanpa merubah bentuk aslinya.
·         Menyediakan sarana dan prasarana yang baik di semua objek situs sejarah.
·         Mengganti dan memperbaiki barang-barang museum yang sudah tak layak, misal: dengan membersihkan secara rutin, dan membuat replikanya.
·         Menyediakan akses yang mudah, misal: dengan membuat jalur alternatif dengan jalan yang bagus dan transportasi yang memadai.
·         Melakukan promosi lebih banyal lagi, misal : lewat internet,majalah, koran, elektronik, atau menyebar pamflet dan memasang banner.
·         Menyediakan dan memberikan info-info yang menarik dan jelas bagi pengunjung.
·         Melakukan perawatan secara rutin untuk semua objek bersejarah dan tetap mempertahankan nilai sejarah yang ada.

b)    Situs Budaya / Khasanah Budaya

     Keunggulannya :

Situs Budaya/Khasanah Budaya yang dimiliki Sumatera Utara sangat beragam dan unik, masing-masing memiliki ciri khas yang berbeda di setiap daerah. Budayanya masih sangat kental, selain itu kesenian dan tradisinya juga masih rutin dilakukan oleh beberapa masyarakatnya, terutama masyarakat pedalaman. Budayanya beragam dan unik, sangat menarik dijadikan objek wisata. Apalagi ada perkampungan yang khusus membuat kain ulos khas Sumatera Utara, kita bisa juga belajar dan merasakan kehidupan mereka. Benar-benar sesuatu yang berbeda dan menarik untuk dikunjungi. Bangunan-bangunan arsitekturnya juga sangat unik dan masih kental dengan hukum adat yang ada, begitu juga dengan keseniannya.
  
          Kendala dan Penyelesaian :

Ada yang menjadi kendala dalam pelaksanaan tradisi ataupun warisan-warisan budaya yang ada, karena masih banyak orang yang belum mengetahui tentang budaya dan seni, serta objek-objek wisata ziarah. Transportasi menuju lokasi sangat jarang, bahkan nyaris tidak ada, selain itu, akses menuju lokasi juga jauh dan jalan yang kurang memadai. Warisan budaya, kesenian, makam, serta objek lainnya ini bisa saja menjadi punah, apabila tidak dilakukan secara turun temurun, bisa hilang dimakan zaman modern seperti sekarang ini. Dibutuhkan usaha yang keras untuk tetap dapat mempertahankan warisan /khasanah budaya yang ada.
Berdasarkan hal tersebut diharapkan masyarakat setempat turut berpartisipasi dalam mempertahankan dan memaksimalkan potensi situs-situs budaya di Provinsi Sumatera Utara. Promosi hendaknya dilakukan secara terus-menerus agar situs-situs budaya Provinsi Sumatera Utara makin dikenal oleh khalayak ramai dan mendunia.
 
       PENUTUP

Sumatera Utara mempunyai warisan sejarah dan budaya yang tidak kalah menarik dengan kawasan lain di Indonesia, tetapi kurang dimanfaatkan secara efektif. Beberapa situs sejarah seperti Barus, Portibi, Benteng Putri Hijau, Kota Cina, maupun makam Raja Sidabutar, batu persidangan Siallagan, ataupun tradisi megalitik Nias masih saja terlantar dan lama kelamaan menjadi hilang dari wujud nyatanya dan lama kelamaan hanya ada dalam ingatan sebagian masyarakat saja. Selain itu, beberapa bangunan bersejarah seperti yang ada di Medan dan beberapa kota di Sumatra Utara juga masih ada yang luput dari perhatian penyelamatan sehingga lambat laun juga bisa menjadi hilang. Akibatnya situs maupun bangunan bersejarah sebagai warisan kebanggaan masyarakat Sumatera Utara itu tidak pernah menjadi objek atau destinasi wisata yang menarik yang mampu menyerap wisatawan secara bermanfaat dan ekonomis.
Peninggalan sejarah yang cukup banyak ini ternyata belum mampu menyerap wisatawan banyak, ini terjadi karena belum maksimalnya pemanfaatan yang dilakukan pada objek-objek dan peninggalan yang ada. Karena kebanyakan para investor maupun pemerintah hanya fokus terhadap objek wisata alam dan penginapannya saja untuk menunjang kepuasan pengunjung. Padahal banyak situs-situs sejarah budaya yang sangat berpotensi tinggi dan beragam, serta memiliki keunikan, yang seharusnya diseimbangkan dengan pembangunan ataupun perbaikan bagi objek wisata alam. Bila tidak dilakukan perbaikan dan pertahanan secara segera, maka bisa-bisa warisan sejarah dan budaya ini, hilang dimakan zaman modern seperti ini.
Hal ini sangat berbeda dengan kondisi di luar negeri seperti Inggris contohnya, yang tetap merawat dan menjadikan wisata sejarah dan budayanya menjadi wisata unggulan dibandingkan dengan wisata alamnya, sehingga seimbang antara wisata alam dan sejarah budayanya dan dapat menyerap pengunjung. Mereka melakukan perawatan secara rutin dan ada badan yang dibentuk khusus untuk mengelola situs sejarah dan budaya, maupun benda-benda cagar budaya.
Inilah yang harusnya dicontoh dan diterapkan di Indonesia, agar situs-situs sejarah dan budaya yang ada tetap ada, dan tak akan hilang dan tak terlupakan begitu saja. Serta menjadikannya sebagai objek wisata unggulan, karena keunikannya, keragamannya, serta nilai sejarah yang tinggi.. J
Demikian tulisan akhir saya, terima kasih.. J

POTENSI WISATA BUDAYA NANGROE ACEH DARUSSALAM

Sebuah Analisis Penjelajahan Awal

1. PENDAHULUAN
Aceh yang sebelumnya pernah disebut dengan nama Daerah Istimewa Aceh (1959-2001) dan Nanggroe Aceh Darussalam (2001-2009) adalah sebuah provinsi di Indonesia dan merupakan provinsi paling barat di Indonesia. Aceh memiliki otonomi yang diatur tersendiri, berbeda dengan kebanyakan provinsi lain di Indonesia, karena alasan sejarah. Daerah ini berbatasan dengan Teluk Benggala di sebelah utara, Samudra Hindia di sebelah barat, Selat Malaka di sebelah timur, dan Sumatera Utara di sebelah tenggara dan selatan.
Ibu kota Aceh ialah Banda Aceh. Pelabuhannya adalah Malahayati-Krueng Raya, Ulee Lheue, Sabang, Lhokseumawe dan Langsa. Aceh merupakan kawasan yang paling buruk dilanda gempa dan tsunami 26 Desember 2004. Beberapa tempat di pesisir pantai musnah sama sekali. Yang terberat adalah Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Jaya, Aceh Barat, Singkil dan Simeulue.
Aceh mempunyai kekayaan sumber alam seperti minyak bumi dan gas alam. Sumber alam itu terletak di Aceh Utara dan Aceh Timur. Aceh juga terkenal dengan sumber hutannya, yang terletak di sepanjang jajaran Bukit Barisan, dari Kutacane, Aceh Tenggara, Seulawah, Aceh Besar, sampai Ulu Masen di Aceh Jaya. Sebuah taman nasional, yaitu Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) juga terdapat di Aceh Tenggara.
Dalam tugas Uas kali ini, saya mencoba menjelaskan Aceh secara lengkap menurut kategori pembahasannya.



2. SITUS-SITUS SEJARAH
2.a Situs Eksitu
• Museum tsunami Aceh
Museum Tsunami Aceh adalah sebuah Museum untuk mengenang kembali pristiwa tsunami yang maha daysat yang menimpa Nanggroe Aceh Darussalam pada tanggal 26 Desember 2008 yang menelan korban lebih kurang 240,000 0rang.
Gedung Museum Tsunami Aceh dibangun atas prakarsa beberapa lembaga yang sekaligus merangkap panitia. Di antaranya Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) NAD-Nias sebagai penyandang anggaran bangunan, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (DESDM) sebagai penyandang anggaran perencanaan, studi isi dan penyediaan koleksi museum dan pedoman pengelolaan museum), Pemerintah Nanggroe Aceh Darussalam (NAD)sebagai penyedia lahan dan pengelola museum, Pemerintah Kotamadya Banda Aceh sebagai penyedia sarana dan prasarana lingkungan museum dan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI)cabang NAD yang membantu penyelenggaraan sayembara prarencana museum

Menurut Eddy Purwanto sebagaiPenggagas Museum Tsunami Aceh dari BRR Aceh, Museum ini dibangun dengan 3 alasan:
1. untuk mengenang korban bencana Tsunami
2. Sebagai pusat pendidikan bagi generasi muda tentang keselamatan
3. Sebagai pusat evakuasi jika bencana tsunami datang lagi.”

Perencanaan detail Museum ,situs dan monumen tsunami akan mulai pada bulan Agustus 2006 dan pembangunan akan dibangun diatas lahan lebih kurang 10,000 persegi yang terletak di Ibukota provinsi Nanggroes Aceh Darussalam yaitu Kotamadaya Banda Aceh dengan anggaran dana sekitar Rp 140 milyar dengan rincian Rp 70 milyar dari Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) untuk bangunan dan setengahnya lagi dari Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk isinya juga berisi berbagai benda peninggalan sisa tsunami.
• Museum Aceh
Museum Aceh terletak di jalan Sultan Alaidin Mahmud Syah, itu adalah tempat terbaik untuk tahu banyak tentang sejarah Aceh budaya. Di dalam museum pameran antik hal-hal sebagai keramik, senjata, dan peralatan banyak budaya seperti pakaian adat, perhiasan, khaligraphy (ornamen Islam), memperlengkapi dapur, dll koleksi paling menarik adalah sebuah lonceng besar bernama "Lonceng Cakra Donya", hadiah dari Cina Grand-Duke (Ming Kaisar, pada abad ke-15) untuk Sultan Aceh yang disampaikan oleh seorang Muslim Cina, Laksamana Cheng Ho pada 1414, kita bisa membaca sebuah prasasti di bel: "Sing Fang Niat Toeng Juut Kat". Dalam kompleks ini ada juga 'Rumoh Aceh' Rumah yang dibangun oleh Gubernur Belanda Van Swart pada tahun 1941 dalam arsitektur rumah khas Aceh. Di Museum barat atau utara Aceh House of Custom ada halaman kompleks makam Sultan Aceh.

• Cut Nya Dien House
Cut Nya Dien adalah perempuan revolusioner seorang Indonesia dari Aceh - Rumah merupakan replika dari pahlawan Cut Nyak Dhien House, dari Perang Aceh. Pasukan kolonial membakar rumah tetapi replika dibangun kemudian. Ini rumah di Lam Pisang, sekitar 6 kilometer dari Banda Aceh, sekarang adalah museum. Rumah ini terletak di Desa Lampisang, Kecamatan Lhok Nga, kabupaten Aceh Besar. Walaupun Lhok Nga adalah daerah yang paling parah oleh tsunami, Tjut Nyak Dhien House selamat. Anak perempuan dari kepala suku, Tjut Nyak Dhien ikut berperang melawan penjajah Belanda pada tahun 1875. Suami pertamanya jatuh dalam pertempuran, dan dia menikah lagi. Ketika suaminya yang kedua juga meninggal pertempuran, ia melanjutkan perjuangan dengan anak-anaknya. Setelah enam tahun di hutan, ia ditangkap oleh Belanda dan diasingkan ke Jawa Barat di mana ia meninggal dunia pada tahun 1906. Tjut Nyak Dhien diakui sebagai salah satu pahlawan Nasional Indonesia.

2.b Situs Insitu

• Masjid Raya Baiturrahman

Tak lain, bangunan itu adalah Masjid Baiturrahman Banda Aceh. Merunut catatan sejarah, terdapat perbedaan, kapan masjid ini didirikan. Ada yang menyebut dibangun sekitar 1292 oleh Sultan Alauddin Johan Mahmud Syah. Ada pula yang menyatakan didirikan pada masa kejayaan pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Pendapat lain adalah kompromi dari keduanya. Masjid dibangun oleh Johan Mahmud Syah, lalu dipugar oleh Sultan Iskandar Muda.
Sejak awal dibangun, selain untuk beribadah, masjid itu dijadikan pusat pengkajian dan pengembangan Islam. Semasa kepemimpinan Iskandar Muda, syiar Islam berkembang dengan pesat. Tak hanya di Aceh, tapi meluas ke berbagai daerah di sekitarnya. Seiring dengan itu, keberadaan Masjid Baiturrahman kian moncer. Sebab, perlahan tapi pasti, masjid itu berkembang menjadi pusat kajian Islam yang disegani. Bahkan, ia menjelma menjadi perguruan tinggi terbesar di Asia Tenggara.
Di sana, terdapat sekitar 15 jurusan pendidikan, baik agama maupun umum. Di bidang agama meliputi tafsir, perbandingan madzhab, hukum, bahasa dan sebagainya. Di bidang umum, mencakup kedokteran, kimia, matematika, pertambangan dan pertanian. Ada juga ilmu politik, pemerintahan, sejarah dan filsafat. Pada masa itu, diajarkannya berbagai bidang yang begitu luas, bahkan terkesan modern, tidaklah banyak. Tak aneh kalau banyak warga dan pecinta ilmu di luar Aceh berbondong-bondong belajar ke sana.
Tak hanya itu. Dalam sejarahnya kemudian, masjid itu juga berfungsi sebagai benteng pertahanan pasukan Aceh. Itu bermula dari musyawarah penting pada 22 Maret 1873 yang diprakarsai oleh Sultan Alauddin Mahmud Syah. Inti musyawarah itu adalah menggalang kebulatan tekad dan menyampaikan pernyatan tegas bahwa Aceh menolak kehadiran bangsa Belanda di bumi Serambi Mekkah. Akibatnya, kaum kolonial Belanda naik pitam.
Seminggu setelah pernyataan sikap tersebut, penguasa Belanda di Batavia mengumumkan perang terhadap Aceh. Aceh pun diserang. Tak kalah, masyarakat Aceh merancang berbagai strategi dan taktik perang di Masjid Baiturrahman. Sebab itulah, pasukan Belanda di bawah pimpinan Mayor Jenderal Kohler segera mengepung Masjid Raya Baiturrahman. Sebab, dari masjid itulah perlawanan digerakkan. Bahkan, Belanda sempat membakar masjid tersebut hingga dua kali.

Pembakaran pertama terjadi pada 10 April 1873, setelah penyerangan besar-besaran yang dilakukan Belanda terhadap para pejuang Aceh. Tetapi para pejuang Aceh bahu-membahu memadamkan api yang berkobar, sehingga masjid berhasil diselamatkan. Pembakaran dilakukan karena Belanda tak mampu menaklukkan Aceh. Dalam pertempuran itu, pihak Belanda mengalami kerugian yang amat besar. Mayor Jenderal Kohier tewas berikut perwira lainnya. Tercatat 397 orang prajurit dan 405 orang luka-luka.
Tewasnya sang Jenderal menyebabkan serdadu Belanda ditarik kembali ke Batavia. Setahun kemudian, tepatnya pada 6 Januari 1874, Belanda kembali menyerang Aceh dan berhasil merebut Masjid Baiturrahman. Pasukan Belanda yang tengah kalap, segera membakar Masjid Baiturrahman. Masyarakat Aceh amat berkabung dan benar-benar kecewa atas perangai dan kelakuan bangsa penjajah itu. Belanda pun menyadari kekeliruannya.
Untuk menarik hati rakyat Aceh, pada tanggal 9 Oktober 1879, pemerintah Belanda membangun kembali Masjid Baiturrahman. Masjid yang dibakar itu direhabilitasi oleh Gubernur Militer Aceh, Jenderal K. Van Der Heijden. Peletakan batu pertamanya dilakukan oleh Teungku Kadhi Malikul Adil. Rehabilitasi dengan menambah satu kubah, selesai dikerjakan pada 1881.
Pada 1935, karena kebutuhan yang mendesak, masjid diperluas. Setahun kemudian, oleh Residen Y. Jongejans, kubah masjid itu ditambah dua lagi, di bagian kanan dan kiri, sehingga menjadi tiga kubah. Biaya perluasan itu mencapai 35.000 gulden. Arsiteknya adalah Ir. Mohammad Thaher (seorang putra Aceh) dan dikerjakan oleh Jawatan Pekerjaan Umum (BOW).
Pemugaran kembali dilakukan pada 1967 oleh Pemerintah daerah NAD. Dua kubah baru dibuat di bagian belakang. Dibangun juga dua menara dengan jumlah tiangnya yang mencapai 280 buah. Tahun 1992-1995 masjid kembali dipugar dan diperluas sehingga memiliki tujuh buah kubah dan lima menara. Setelah dipugar, masjid itu mampu menampung 10.000-13000 jema’ah.
Tepat di depan masjid, terdapat Menara Tugu Modal. Menara itu merupakan monumen pengingat bahwa Aceh pernah dinyatakan sebagai Daerah Modal di dalam perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia. Menara itu berlantai enam, dapat dicapai melalui lift maupun tangga biasa. Dari sini, dapat dilihat pemandangan kota Banda Aceh dan sekitarnya, yang dikelilingi oleh Pegunungan Bukit Barisan, dengan salah satu puncaknya, Gunung Seulawah Agam. Selain itu, tampak juga Selat Malaka.

Ketika badai tsunami menghantam Aceh pada Desember 2004, masjid itu kembali menampakkan “kelebihan”-nya. Di saat bangunan-bangunan lain porak-peranda, ia masih kuat berdiri. Bayangkan saja, hanya berjarak 160 kilometer dari pusat gempa berkekuatan 9 skala Richter, masjid itu masih tegak kokoh. Padahal, menurut para ahli geografi, mestinya bangunan itu hancur. Hanya bagian taman di halaman masjid dan sebagian tempat wudlu yang mengalami kerusakan. Juga menara Tugu Modal. Sebab itulah, ribuan orang segera mengungsi ke masjid untuk menyelamatkan diri.
Pasca tsunami, masjid itu kembali difungsikan sebagai tempat ibadah dan kajian Islam. Tepatnya, pada 7 januari 2005, setelah dibersihkan, solat Jum’at diselenggarakan di masjid tersebut. Meski tak sekokoh dulu, masjid tersebut tetap menjadi daya magnetik dan kiblat pengkajian Islam bagi warga Aceh.
Memang, 15 jurusan pendidikan yang dulu berpusat di masjid itu sudah tak ada lagi. Sebab, fungsi itu sudah diambilalih oleh berbagai universitas yang berdiri di Aceh. Namun, masjid itu tetap melakukan fungsi pendidikan. Di situ terdapat Taman Pendidikan Al-Quran dan Madrasah Darussyariah. Ada 12 ruang belajar dan perpustakaan sebagai penunjang pelaksanaan pendidikan.
Merenungkan sejarah masjid tersebut, tak salah kalau masjid Baiturrahman bisa disebut sebagai jangkar penyangga Aceh. Tanpa masjid itu, susah diperkirakan, apa yang terjadi dengan bumi Serambi Mekkah.



• Pantai Lampuuk
Pantai Lampuuk terletak di pantai barat Aceh. Dari Banda Aceh kurang lebih 17 km dan dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor dalam waktu kurang dari 30 menit. Namun sayangnya pantai yang cukup terkenal dan menjadi tempat wisata favorit penduduk Aceh tersebut musnah tersapu Tsunami.
Pantai ini cukup indah dan dapat digunakan sebagai tempat berenang, berjemur di pasir putih, memancing, berlayar, menyelam dan kegiatan rekreasi lainnya.
Disore hari pantai ini terasa lebih indah, dimana kita dapat menyaksikan matahari terbenam yang penuh pesona
Disekitar pantai Lampuuk juga berdiri megah sebuah pabrik semen Andalas, namun saat itu pabrik tersebut hanya tinggal kenangan setelah mengalami kerusakan parah akibat gempa dan Tsunami 26 Desember 2004 yang lalu.


Dikawasan Pantai Lampuuk, anda dapat bermain golf dengan latar belakang panorama laut di Padang Golf Seulawah. Sayangnya semua keindahannya kini tinggal kenangan dan tinggal menungguk pemerintah memperbaiki wisata yang cukup digemari turis asing tersebut.

• Taman Wisata Alam Laut Pulau Weh
Taman Wisata Alam (TWA) Laut Pulau Weh ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 928/Kpts/Um/12/1982 tanggal 27 Desember 1982 seluas 2.600 Ha.
Secara geografis TWA Laut Pulau Weh terletak pada 0552’ Lintang Utara dan 9552’ Bujur Timur. Sedangkan secara administrasi pemerintahan termasuk Kecamatan Sukakarya, Kotamadya Sabang, Propinsi D.I. Aceh dan dari segi pengelolaan hutannya termasuk Resort Konservasi Sumber Daya Alam Iboih dan masuk pada Sub Balai Konservasi Sumberdaya Alam Propinsi NAD.
Di TWA Laut Pulau Weh, Sabang terdapat terumbu karang, baik karang yang keras maupun karang yang lunak dengan berbagai jenis, bentuk dan warna, yang kesemuanya membentuk gugusan karang yang menarik untuk dinikmati, antara lain karang dengan nama daerahnya karang lupas, karang rusa, karang kerupuk.
Selain terumbu karang, TWA Laut Pulau Weh, Sabang dapat ditemui jenis-jenis ikan karang seperti Angel fish, Tropet fish, Dunsel fish, Sergeon fish, Grope fish, Parrot fish dan lain-lain. Ikan-ikan ini berada di sekitar TWA Laut Pulau Weh dan sebagian merupakan endemik di daerah ini. Selain itu juga banyak ditemukan jenis-jenis ikan ekonomis seperti Tuna, Kakap, Kerapu, Bayan, Pisang-pisangan dan lain-lain.
Kegiatan wisata alam yang dapat dilakukan di TWA Laut Pulau Weh adalah kegiatan wisata tirta seperti berselancar, naik sampan, berenang, memancing, serta menyelam untuk menikmati alam bawah air dengan keanekaragaman terumbu karang serta ikan-ikan karangnya yang indah.
Beberapa fasilitas yang dapat mendukung kegiatan wisata antara lain : pondok-pondok penginapan di sekitar Iboih yang dibangun oleh masyarakat, shelter, MCK, masjid, kios cendera mata dan hotel yang terdapat di Gapang. Selain itu terdapat berbagai fasilitas yang berada di Pulau Rubiah yang dibangun oleh Dinas Pariwisata Dati I D.I. Aceh antara lain : pusat kegiatan menyelam yang dilengkapi dengan fasilitasnya (perahu motor, peralatan selam), mushola, shelter, MCK, rumah jaga, menara pengintai, jalan setapak, taman dan instalasi listrik.

• Krueng Raya
Krueng Raya berjarak 35 Km dari Banda Aceh merupakan sebuah nama wilayah. Di daerah tersebut terdapat pelabuhan yang bernama "Pelabuhan Malahayati" yang sering dipergunakan masyarakat Banda Aceh untuk menyebrang ke pulau Weh (Sabang). Pelabuhan tersebut akhirnya dinon aktifkan setelah pelabuhan Ulee Lhe yang lebih megah dibangun (namun sama saja hancur karena Tsunami). Krueng Raya yang termasuk daerah dengan kerusakan terparah akibat Tsunami dapat ditempuh dalam waktu 30 menit dari Banda Aceh.
Di daerah ini juga sangat terkenal dengan pantainya yang bernama Ujong Batee, disana selain pantainya yang indah juga terdapat sebuah restoran yang cukup megah yang menyajikan makanan khas Aceh yang terkenal yaitu Kepiting Besar, Udang Windu, Tiram, Telur Penyu, dan berbagai hasil laut dan pertanian lainnya. Pantai Ujong Batee sendiri terletak sekitar 17 km arah timur Banda Aceh. Pantainya yang ditumbuhi pohon cemara yang lebat merupakan pelindung para pengunjung bila hari panas sehingga cukup nyaman untuk bersantai. Ujong Batee dalam bahasa Aceh berarti Ujung Batu, mungkin nama ini diberikan karena dari pantai inilah kita dapat langsung melihat pulau seberang Sabang
Selain Ujong Batee, di Krueng Raya juga terdapat daerah wisata bernama Lamreh, daerah ini merupakan daerah bukit yang dulunya tandus, namun kini telah ditanami berbagai pohon. Dari sini kita dapat menyaksikan panorama laut yang indah seperti terlihat pada gambar dihalaman ini.

• Danau Laut Tawar
Danau Laut Tawar adalah sebuah danau dan kawasan wisata yang terletak di Dataran Tinggi Gayo, Kabupaten Aceh Tengah, Nanggröe Aceh Darussalam. Suku Gayo menyebutnya dengan Danau Lut Tawar. Luasnya kira-kira 5.472 hektar dengan panjang 17 km dan lebar 3,219 km. Volume airnya kira-kira 2.537.483.884 m³ (2,5 triliun liter).
Ada 25 aliran krueng yang bermuara ke Danau Laut Tawar dengan total debit air kira-kira 10.043 liter per detik.
Rerata kedalaman danau:
35 meter dari pinggir danau: 8,9 meter.
100 meter dari pinggir danau: 19,27 meter.
620 meter dari pinggir danau: 51,13 meter.
Rerata suhu air danau diukur berdasarkan kedalaman:
1 meter: 21,55 °C
5 meter: 21,37 °C
10 meter: 21,15 °C
20 meter: 20,70 °C
50 meter: 19,35 °C
Kecerahan tertinggi 2,92 meter (di tengah danau), sedangkan yang terendah 1,29 meter (Kp. Kuala II). Semakin tinggi kecerahan, maka semakin jernih air.

• Masjid Agung Meulaboh
Masjid Agung Meulaboh Arsitektur bangunan Masjid Agung Meulaboh sangat indah dengan kubahnya yang berwarna dominan terang menjadikan masjid ini sangat indah dipandang mata.
Masjid Agung ini merupakan masjid kebanggaan dari Kabupaten Aceh Barat, tepatnya Jl.Imam Bonjol, Kota Meulaboh.
Karena letaknya dipusat kota Meulaboh, dengan mudah dapat dijangkau dengan kendaraan umum ataupun kendaraan roda dua.
Banyak wisatawan lokal maupun asing yang berkunjung ke mesjid indah ini datang untuk beribadah maupun hanya untuk menikmati keindahan arsitektur mesjid ini



• Makam Pahlawan Teuku Umar
Teuku Umar adalah salah satu pahlawan yang gigih berjuang untuk kemerdekaan Bangsa Indonesia, Makam Pahlawan Teuku Umar terletak di Desa Meugo Rayeuk, Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh. Jarak tempuh sekitar 35 km dari Kota Meulaboh, untuk menuju Makam Pahlawan Teuku Umar anda bisa menggunakan mobil, sepeda motor, ataupun angkutan umum. Selain objek wisata Makam Pahlawan Teuku Umar Desa Meugo Rayeuk merupakan kawasan hutan lindung. Makam Teuku Umar ini ramai dikunjungi oleh wisata domestik dan wisatawan asing sebagai tempat bersejarah. Di dalam lokasi makam Teuku Umar ini terdapat pohon besar yang mengeluarkan air tiada hentinya. Air itu bisa diminum oleh siapapun. Daerahnya sangat aman, nyaman dan sejuk dengan udara yang segar dan masih sangat alami.

• Genang-Gedong
Merupakan salah satu tempat wisata alam yang berada di Gampong Putim Kecamatan Kaway XVI Kabupaten Aceh Barat. Bentuk dari Genang-Gedong ini adalah danau yang dikelilingi oleh pepohonan. Jarak tempuh ke lokasi Genang-Gedong ini ± 20 Km dari arah kota Meulaboh menuju Banda Aceh Via Geumpang. Luas genangan air ini meliputi 3 desa atau ± 7ha. Rimbunnya pepohonan akan membuat siapa saja yang datang merasa segar santai dengan tiupan lembut angin Genang-Gedong. Bila anda ingin santai di tempat yang asri, datanglah ke Genang-Gedong, atau bila anda hobi mancing, Genang-Gedong adalah tempat mancing sambil santai bareng keluarga tercinta dengan menikmati softdrink dan lantunan musik Jazz or R&B. Disekitar lokasi Genang-Gedong telah berdiri beberapa buah café yang dikelola oleh masyarakat Gampong Putim. Di sekitar lokasi ini juga terdapat arena balap MotorCross GrassTrack. Betapapun indahnya Genang-Gedong ini belum banyak orang yang tahu, belum banyak orang yang mau datang ke sana

• Pantai Lanaga
Berada di Kabupaten Aceh Barat, dan berlokasi di desa Peunaga, Provinsi Aceh. Jarak tempuh sekitar 5 km dari kota Meulaboh (ibukota kabupaten Aceh Barat). Di kawasan wisata Pantai Lanaga tersedia sarana olah raga air seperti Jet sky dan juga di pantai ini sering diadakan acara perlombaan perahu dengan desain yang unik dan menarik.

• Pantai Lhok Bubon
Pantai Lhok Bubon berada di Kabupaten Aceh Barat yang berlokasi di desa Bubon,Provinsi Aceh. Jarak tempuh ke Pantai Lhok Bubon sekitar 8 km dari kota Meulaboh. Pantai Lhok Bubon ini terkenal sebagai daerah penghasil makanan laut, dan selalu ramai dikunjungi oleh masyarakat sekitarnya yang datang untuk menikmati segarnya makanan laut sekaligus menikmati alam pantainya. Selain merupakan tempat tujuan pariwisata, tempat ini menjadi lahan penambahan ekonomi bagi masyarakat sekitarnya


• Pantai Batee Puteh
Yang indah ini terletak di kabupaten Aceh Barat. Lokasi Pantai Batee Puteh kira-kira 3 km dari kota Meulaboh. Pantai Batee Puteh ini sangat ramai dikunjungi oleh masyarakat pada saat liburan untuk berenang atau hanya sekedar menikmati keindahan pemandangannya. Merupakan tempat liburan yang cocok bagi keluarga, selain itu pantainya yang putih dan bersih menambah daya tarik kawasan wisata ini.
• Cagar Alam Jantho
Flora :
Pinus, Mampre, Jambu air, Gleum, Bremen, Sampang, Ara, Damar, Medang, Kayu hitam, Beringin, Meranti, Kandis, Rambutan hutan, Tampu, Ketapang, Medang ara, Lukup, Tampang, Lawang, Semiran, Anang, Jenarai, Kerakau, Rengen, Merbau.

Fauna :
Siamang, Owa, Macan dahan, Kucing Hutan, Rusa, Kijang, Kancil, Napu, Gajah, Kambing Hutan, Beruang, Trenggiling, Kukang, Kuao.

Perjalananan:
Dari Banda Aceh (Ibukota Propinsi - Janthoi (Kabupaten) berjarak 50 Km dari Janthoi ke Kawasan Cagar Alam 9 Km dengan kendaraan darat. Waktu kunjungan terbaik pada bulan Januari s/d Juni (Musim Kemarau) untuk menikmati pemandangan/panorama yang indah.
• Cagar Alam Serbajadi
Flora
Semantok, Medang Kuning, Meranti Bunga), Merbau, Meranti Sabut, Keruing Minyak, Damar Laut, Kompas, Tualang, Durian Hutan, Bintangur, Bayur, Jelutung, Kedondong Hutan, Kapur, Rotan Manau, Rotan Sega, Kantung Kera, Cengal, Meranti Putuh, Meranti Merah, Puspa, Kenari, Jelatang, Keladi Hutan, Bunga Bangkai.

Fauna
Kijang, Siamang, Mawas, Owa, Kedi, Rusa, Kancil, Burung Kaou, Kambing hutan, Landak, Beruang Madu, Kucing Hutan, Kukang, Tringgiling, Rangkong.
Aksesibilitas
Dari Banda Aceh-Langsa 436 Km, Langsa-Kuala Simpang 34 Km, Kuala Simpang-Pulau Tiga 140 Km, Pulau Tiga-Peunaron ± 3 jam (menyusuri sungai). Waktu kunjungan terbaik pada bulan Mei s/d September (musim kemarau) untuk menikmati pemandangan/panorama alam indah.
• Suaka Margasatwa Rawa Singkil
Kawasan ini termasuk ke dalam pengelolaan ekosistem Leuser, dan sedang diupayakan disambungkan oleh koridor di desa Naca dan Ie Jereuneh.
Suaka Margasatwa Rawa Singkil merupakan ekosistem hutan rawa dan hutan Tropis dataran rendah. Vegetasi didominasi oleh famili Dipterocarpaceae antara lain meranti Kapur dan vegetasi rawa lainnya.

Jenis fauna antara lain Gajah Sumatera, Harimau Sumatera, Mawas, Ular Phyton, Biawak, Rangkong, Kuau, Gagak Hitam, Kuntul, Ayam Hutan.
Potensi lain dari kawasan ini adalah kandungan gambut yang cukup dalam ada yang mencapai 6 meter.
Cara pencapaian menuju lokasi dapat ditempuh melalui dua cara, yaitu :
Melalui Medan Sumatera Utara - Sidikalang Singkil dan lokasi yang dapat ditempuh dengan jalan darat kurang lebih dalam waktu 6 jam Melalui Banda Aceh - Tapak Tuan - Kota Fajar dan lokasi yang ditempuh dengan menggunakan jalan darat kurang lebih 10 jam.
• Taman Buru Linge Isac
Kawasan ini terletak di Kecamatan Takengon dan Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah Nanggroe Aceh Darussalam. Secara geografis terletak antara 51°4 ’ - 4 06° ’ LU dan 25°69’ -97 51° ’ BT
Keadaan Lapangan
- Ketinggian : 450 - 2.830 m.dpl
- Topografi : Bergelombang, berbukit dan bergunung.
- Iklim : Tipe B
- Tanah : Podsolik merah kuning, reuzina, podsolik merah, laterik
F l o r a
Meranti Merah, Merawan, Bacan, Melur, Bayur, Durian Hutan, Jambu, Tusam .
F a u n a
Sambar, Babi Hutan, Kijang, Kancil, Harimau Sumatera, Gajah, Badak, Kambing Hutan, Owa, Orang Utan, Kera ekor panjang, Lutung, Siamang, Napu dan Macan dahan.
Tipe Ekosistem - Hutan Primer
- Hutan Hujan Tropika Basah
- Hutan Alam Pinus sp.
• Taman Hutan Raya Pocut Merah Intan
Kawasan ini terletak di Kecamatan Seulimum, Kabupaten II Aceh Besar dan Kecamatan Padang Tiji, Kabupaten Pidie dengan luas kawasan 6.220 ha. Secara geografis terletak antara 05º25'15" LU dan 95º45'25" BT.
Flora
Vegetasi penyusunannya antara lain Pinus, Kayu Hitam, Meranti, Temulia, Kemeyan, Tampu, Merawan, Kayu Bunga, Ulin, Kenanga dan Ara.
Fauna
Jenis satwa terdiri dari Rusa Sambar, Gajah, Harimau Sumatera, Kijang, Kera Ekor panjang, Siamang dan Trenggiling.

2.c Kota Tua & d. Desa
Pemerintah Aceh sendiri sedang giat-giatnya “mendandani” kota Banda Aceh untuk dijadikan kota tua. Karena usianya yang telah memasuki tahun ke 804 tahun. Dan optimis bahwa masyarakat Aceh mampu bangkit dari keterpurukan dan menstabilkan lagi kegiatan ekonomi dan social. Pemerintah member semangat untuk warga Aceh agar tidak bergantung pada pihak manapun. Pihak pemerintah juga optimis bahwa program Visit Banda Aceh Year akan berjalan lancar.
Dan pemerintah juga sedang menyiapkan kampung-kampung tradisional di aceh untuk menjadi kampong / desa wisata. Kampung-kampung itu adalah Gampong Punge Blangcut, Kacamatan Jaya Baru yang memiliki lokasi terdamparnya kapal PLTD apung saat tsunami 26 Desember 2004 menghantam Provinsi Aceh. Sementara Ulee Lheue di Kecamatan Meuraxa terkenal dengan kawasan pantainya. Kampung Pande, Kecamatan Kutaraja, dikenal sebagai pemukiman pertama di Kota Banda Aceh.
Dan Lampulo, Kecamatan Kuta Alam memiliki objek wisata tsunami, di mana sebuah kapal kayu nelayan terdampar di atap sebuah rumah warga ketika tsunami melanda Aceh.
Khusus untuk Gampong Lambung, Kecamatan Meuraxa akan dijadikan gampong wisata tsunami. Nantinya wisatawan bisa melihat kehidupan masyarakat secara langsung setelah kawasan ini rata dengan tanah akibat diterjang tsunami enam tahun lalu.
2.e Peta

2.f Transportasi
Aceh memiliki beberapa system transportasi seperti Bandar udara Sultan Iskandar Muda, lalu pelabuhan Ulee Lheue, Becak Motor yang mudah ditemui di kota Banda Aceh, Taksi, dan Bus, ataupun yang ingin menyewa mobil, disini terdapat beberapa tempat yang menyediakan jasa rental mobil. Jadi untuk mencapai tempat-tempat wisata sejarah ini, anda akan terbantu.

3. Situ-Situs Budaya
3.a Tradisi Yang Masih Berlangsung
• Peusijuek
Upacara Tepung Tawar sebagaimana dikenal masyarakat Indonesia dan Malaysia diadopsi dari ritual agama Hindu yang sudah lebih dulu dianut masyarakatnya. Ketika para pedagang dari Gujarat dan Hadramaut membawa ajaran Islam ke kawasan ini sejak abad ke-7 Masehi, mereka berhadapan dengan kebiasaan animisme (kepercayaan pada kehidupan roh) dan dinamisme (kepercayaan pada kekuatan gaib benda-benda) –- yang direstui agama Hindu –- yang sangat kuat di setiap lapisan masyarakat. Salah satunya adalah upacara Tepung Tawar (disebut juga Tepuk Tepung Tawar). Upacara ini menyertai berbagai peristiwa penting dalam masyarakat, seperti kelahiran, perkawinan, pindah rumah, pembukaan lahan baru, jemput semangat bagi orang yang baru luput dari mara bahaya, dan sebagainya. Dalam perkawinan, misalnya, Tepung Tawar adalah simbol pemberian doa dan restu bagi kesejahteraan kedua pengantin, di samping sebagai penolakan terhadap bala dan gangguan.
Dalam upacara ini, penepung tawar menggunakan seikat dedaunan tertentu untuk memercikkan air terhadap orang yang ditepungtawari. Air tersebut terlebih dahulu diberikan wewangian seperti jeruk purut, dicelupkan emas ke dalamnya, dan sebagainya. Selanjutnya, mereka menaburkan beras dan padi yang sudah dicampuri garam dan kunyit ke atas orang yang ditepungtawari. Akhirnya, mereka menyuapkan santapan pulut (atau lainnya) ke mulutnya. Ada anggapan bahwa setiap jenis daun dan benda-benda yang digunakan mempunyai atau merepresentasi kekuatan gaib tertentu yang berfungsi menyelamatkan, menyejukkan, menjaga, dan sebagainya. Terdapat beberapa varian upacara ini untuk daerah yang berbeda (seperti Aceh, Melayu, Sambas dan lain-lain), tetapi sumber dan tujuannya sama.
• Meuseukee Eungkot
Sebuah tradisi masyarakat di Aceh Barat
3.b Arsitektur Tradisional

1.Asal-Usul
Kepercayaan individu atau masyarakat dan kondisi alam di mana individu atau masyarakat hidup mempunyai pengaruh signifikan terhadap bentuk arsitektur bangunan, rumah, yang dibuat. Hal ini dapat dilihat pada arsitektur Rumoh Aceh, Provinsi Daerah Istimewa Aceh, Indonesia. Rumoh Aceh merupakan rumah panggung dengan tinggi tiang antara 2,50-3 meter, terdiri dari tiga atau lima ruang, dengan satu ruang utama yang dinamakan rambat. Rumoh dengan tiga ruang memiliki 16 tiang, sedangkan Rumoh dengan lima ruang memiliki 24 tiang. Modifikasi dari tiga ke lima ruang atau sebaliknya bisa dilakukan dengan mudah, tinggal menambah atau menghilangkan bagian yang ada di sisi kiri atau kanan rumah. Bagian ini biasa disebut sramoe likot atau serambi belakang dan sramoe reunyeun atau serambi bertangga, yaitu tempat masuk ke Rumoh yang selalu berada di sebelah timur.
Pintu utama Rumoh Aceh tingginya selalu lebih rendah dari ketinggian orang dewasa. Biasanya ketinggian pintu ini hanya berukuran 120-150 cm sehingga setiap orang yang masuk ke Rumoh Aceh harus menunduk. Namun, begitu masuk, kita akan merasakan ruang yang sangat lapang karena di dalam rumah tak ada perabot berupa kursi atau meja. Semua orang duduk bersila di atas tikar ngom (dari bahan sejenis ilalang yang tumbuh di rawa) yang dilapisi tikar pandan.
Rumoh Aceh bukan sekadar tempat hunian, tetapi merupakan ekspresi keyakinan terhadap Tuhan dan adaptasi terhadap alam. Oleh karena itu, melalui Rumoh Aceh kita dapat melihat budaya, pola hidup, dan nilai-nilai yang diyakini oleh masyarakat Aceh. Adaptasi masyarakat Aceh terhadap lingkungannya dapat dilihat dari bentuk Rumoh Aceh yang berbentuk panggung, tiang penyangganya ang terbuat dari kayu pilihan, dindingnya dari papan, dan atapnya dari rumbia. Pemanfaatan alam juga dapat dilihat ketika mereka hendak menggabungkan bagian-bagian rumah, mereka tidak menggunakan paku tetapi menggunakan pasak atau tali pengikat dari rotan. Walaupun hanya terbuat dari kayu, beratap daun rumbia, dan tidak menggunakan paku, Rumoh Aceh bisa bertahan hingga 200 tahun.
Pengaruh keyakinan masyarakat Aceh terhadap arsitektur bangunan rumahnya dapat dilihat pada orientasi rumah yang selalu berbentuk memanjang dari timur ke barat, yaitu bagian depan menghadap ke timur dan sisi dalam atau belakang yang sakral berada di barat. Arah Barat mencerminkan upaya masyarakat Aceh untuk membangun garis imajiner dengan Ka‘bah yang berada di Mekkah. Selain itu, pengaruh keyakinan dapat juga dilihat pada penggunaan tiang-tiang penyangganya yang selalu berjumlah genap, jumlah ruangannya yang selalu ganjil, dan anak tangganya yang berjumlah ganjil.
Selain sebagai manifestasi dari keyakinan masyarakat dan adaptasi terhadap lingkungannya, keberadaan Rumoh Aceh juga untuk menunjukan status sosial penghuninya. Semakin banyak hiasan pada Rumoh Aceh, maka pastilah penghuninya semakin kaya. Bagi keluarga yang tidak mempunyai kekayaan berlebih, maka cukup dengan hiasan yang relatif sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali.
Seiring perkembangan zaman yang menuntut semua hal dikerjakan secara efektif dan efisien, dan semakin mahalnya biaya pembuatan dan perawatan Rumoh Aceh, maka lambat laun semakin sedikit orang Aceh yang membangun rumah tradisional ini. Akibatnya, jumlah Rumoh Aceh semakin hari semakin sedikit. Masyarakat lebih memilih untuk membangun rumah modern berbahan beton yang pembuatan dan pengadaan bahannya lebih mudah daripada Rumoh Aceh yang pembuatannya lebih rumit, pengadaan bahannya lebih sulit, dan biaya perawatannya lebih mahal. Namun, ada juga orang-orang yang karena kecintaannya terhadap arsitektur warisan nenek moyang mereka ini membuat Rumoh Aceh yang ditempelkan pada rumah beton mereka.
Keberadaan Rumoh Aceh merupakan pengejawantahan dari nilai-nilai yang hidup dan dijalankan oleh masyarakat Aceh. Oleh karena itu, melestarikan Rumoh Aceh berarti juga melestarikan eksistensi masyarakat Aceh itu sendiri. Ide pelestarian Rumoh Aceh akan semakin menemukan momentum pasca tsunami yang menimpa Aceh pada taggal 26 Desember 2004. Pasca tragedi bencana alam tersebut, beragam orang dari berbagai bangsa datang tidak hanya membawa bantuan tetapi juga membawa tradisi yang belum tentu cocok dengan nilai-nilai yang berkembang di Aceh.
2. Bagian-Bagian Rumoh Aceh
a. Bagian bawah
Bagian bawah Rumoh Aceh atau yup moh merupakan ruang antara tanah dengan lantai rumah. Bagian ini berfungsi untuk tempat bermain anak-anak, kandang ayam, kambing, dan itik. Tempat ini juga sering digunakan kaum perempuan untuk berjualan dan membuat kain songket Aceh.
Tempat ini juga digunakan untuk menyimpan jeungki atau penumbuk padi dan krongs atau tempat menyimpan padi berbentuk bulat dengan diameter dan ketinggian sekitar dua meter.
b. Bagian tengah
Bagian tengah Rumoh Aceh merupakan tempat segala aktivitas masyarakat Aceh baik yang bersifat privat ataupun bersifat public. Pada bagian ini, secara umum terdapat tiga ruangan, yaitu: ruang depan, ruang tengah, dan ruang belakang.
* Ruang depan (seuramo reungeun). Ruangan ini disebut juga Seuramou-keu (serambi depan). Disebut ruang atau serambi depan karena di sini terdapat bungeun atau tangga untuk masuk ke rumah. Ruangan ini tidak berkamar-kamar dan pintu masuk biasanya terdapat di ujung lantai di sebelah kanan. Tapi ada pula yang membuat pintu menghadap ke halaman, dan tangganya di pinggir lantai. Dalam kehidupan sehari-hari ruangan ini berfungsi untuk menerima tamu, tempat tidur-tiduran anak laki-laki, dan tempat anak-anak belajar mengaji. Pada saat-saat tertentu misalnya pada waktu ada upacara perkawinan atau upacara kenduri, maka ruangan ini dipergunakan untuk makan bersama.
* Ruangan tengah. Ruangan ini merupakan inti dari Rumoh Aceh, oleh karenanya disebut Rumoh Inong (rumah induk). Lantai pada bagian ini lebih tinggi dari ruangan lainnya, dianggap suci, dan sifatnya sangat pribadi. Di ruangan ini terdapat dua buah bilik atau kamar tidur yang terletak di kanan-kiri dan biasanya menghadap utara atau selatan dengan pintu menghadap ke belakang. Di antara kedua bilik tersebut terdapat gang (rambat) yang menghubungkan ruang depan dan ruang belakang.
Fungsi Rumoh Inong adalah untuk tidur kepala keluarga, dan Anjong untuk tempat tidur anak gadis. Bila anak perempuannya kawin, maka dia akan menempati Rumah Inong sedang orang tuanya pindah ke Anjong. Bila anak perempuannya yang kawin dua orang, orang tua akan pindah ke serambi atau seuramo likot, selama belum dapat membuat rumah baru atau menambah/memperlebar rumahnya. Di saat ada acara perkawinan, mempelai dipersandingkan di Rumoh Inong, begitu pula bila ada kematian Rumoh Inong dipergunakan sebagai tempat untuk memandikan mayat.
* Ruang belakang disebut seuramo likot. Lantai seuramo likot tingginya sama dengan seuramo rengeun (serambi depan), dan ruangan ini pun tak berbilik. Fungsi ruangan ini sebagian dipergunakan untuk dapur dan tempat makan,dan biasanya terletak di bagian timur ruangan. Selain itu juga dipergunakan untuk tempat berbincang-bincang bagi para wanita serta melakukan kegiatan sehari-hari seperti menenun dan menyulam.
Namun, adakalanya dapur dipisah dan berada di bagian belakang serambi belakang. Ruangan ini disebut Rumoh dapu (dapur). Lantai dapur sedikit lebih rendah dibanding lantai serambi belakang.
c. Bagian atas
Bagian ini terletak di bagian atas serambi tengah. Adakalanya, pada bagian ini diberi para (loteng) yang berfungsi untuk menyimpan barang-barang keluarga. Atap Rumoh Aceh biasanya terbuat dari daun rumbia yang diikat dengan rotan yang telah dibelah kecil-kecil.

5. Ragam Hias
Dalam Rumoh Aceh, ada beberapa motif hiasan yang dipakai, yaitu: (1) motif keagamaan. Hiasan Rumoh Aceh yang bercorak keagamaan merupakan ukiran-ukiran yang diambil dari ayat-ayat al-Quran; (2) motif flora. Motif flora yang digunakan adalah stelirisasi tumbuh-tumbuhan baik berbentuk daun, akar, batang, ataupun bunga-bungaan. Ukiran berbentuk stilirisasi tumbuh-tumbuhan ini tidak diberi warna, jikapun ada, warna yang digunakan adalah Merah dan Hitam. Ragam hias ini biasanya terdapat pada rinyeuen (tangga), dinding, tulak angen, kindang, balok pada bagian kap, dan jendela rumah; (3) motif fauna. Motif binatang yang biasanya digunakan adalah binatang-binatang yang sering dilihat dan disukai; (4) motif alam. Motif alam yang digunakan oleh masyarakat Aceh di antaranya adalah: langit dan awannya, langit dan bulan, dan bintang dan laut; dan (5) motif lainnya, seperti rantee, lidah, dan lain sebagainya.
6. Nilai-Nilai
Wujud dari arsitektur Rumoh Aceh merupakan pengejawantahan dari kearifan dalam menyikapi alam dan keyakinan (religiusitas) masyarakat Aceh. Arsitektur rumah berbentuk panggung dengan menggunakan kayu sebagai bahan dasarnya merupakan bentuk adaptasi masyarakat Aceh terhadap kondisi lingkungannya. Secara kolektif pula, struktur rumah tradisi yang berbentuk panggung memberikan kenyamanan tersendiri kepada penghuninya. Selain itu, struktur rumah seperti itu memberikan nilai positif terhadap sistem kawalan sosial untuk menjamin keamanan, ketertiban, dan keselamatan warga gampong (kampung). Sebagai contoh, struktur rumah berbentuk panggung membuat pandangan tidak terhalang dan memudahkan sesama warga saling menjaga rumah serta ketertiban gampong.
Kecerdasan masyarakat dalam menyikapi kondisi alam juga dapat dilihat dari bentuk Rumoh Aceh yang menghadap ke utara dan selatan sehingga rumah membujur dari timur ke barat. Walaupun dalam perkembangannya dianggap sebagai upaya masyarakat Aceh membuat garis imajiner antara rumah dan Ka‘bah (motif keagamaan), tetapi sebelum Islam masuk ke Aceh, arah rumah tradisional Aceh memang sudah demikian. Kecenderungan ini nampaknya merupakan bentuk penyikapan masyarakat Aceh terhadap arah angin yang bertiup di daerah Aceh, yaitu dari arah timur ke barat atau sebaliknya. Jika arah Rumoh Aceh menghadap ke arah angin, maka bangunan rumah tersebut akan mudah rubuh. Di samping itu, arah rumah menghadap ke utara-selatan juga dimaksudkan agar sinar matahari lebih mudah masuk ke kamar-kamar, baik yang berada di sisi timur ataupun di sisi barat. Setelah Islam masuk ke Aceh, arah Rumoh Aceh mendapatkan justifikasi keagamaan. Nilai religiusitas juga dapat dilihat pada jumlah ruang yang selalu ganjil, jumlah anak tangga yang selalu ganjil, dan keberadaan gentong air untuk membasuh kaki setiap kali hendak masuk Rumoh Aceh.
Musyawarah dengan keluarga, meminta saran kepada Teungku, dan bergotong royong dalam proses pembangunannya merupakan upaya untuk menumbuhkan rasa kekeluargaan, menanamkan rasa solidaritas antar sesama, dan penghormatan kepada adat yang berlaku. Dengan bekerjasama, permasalahan dapat diatasi dan harmoni sosial dapat terus dijaga. Dengan mendapatkan petuah dari Teungku, maka rumah yang dibangun diharapkan dapat memberikan keamanan secara jasmani dan ketentraman secara rohani.

Tata ruang rumah dengan beragam jenis fungsinya merupakan simbol agar semua orang taat pada aturan. Adanya bagian ruang yang berfungsi sebagai ruang-ruang privat, seperti Rumoh Inong, ruang publik, seperti serambi depan, dan ruang khusus perempuan, seperti serambi belakang merupakan usaha untuk menanamkan dan menjaga nilai kesopanan dan etika bermasyarakat. Keberadaan tangga untuk memasuki Rumoh Aceh bukan hanya berfungsi sebagai alat untuk naik ke bangunan rumah, tetapi juga berfungsi sebagai titik batas yang hanya boleh didatangi oleh tamu yang bukan anggota keluarga atau saudara dekat. Apabila di rumah tidak ada anggota keluarga yang laki-laki, maka ”pantang dan tabu” bagi tamu yang bukan keluarga dekat (baca: muhrim) untuk naik ke rumah. Dengan demikian, reunyeun juga memiliki fungsi sebagai alat kontrol sosial dalam melakukan interaksi sehari-hari antar masyarakat.
Pintu utama rumah yang tingginya selalu lebih rendah dari ketinggian orang dewasa, sekitar 120-150 cm, sehingga setiap orang yang masuk ke Rumoh Aceh harus menunduk, mengandung pesan bahwa setiap orang yang masuk ke Rumoh Aceh, tidak peduli betapa tinggi derajat atau kedudukannya, harus menunduk sebagai tanda hormat kepada yang punya rumah. Namun, begitu masuk, kita akan merasakan ruang yang sangat lapang karena di dalam rumah tak ada perabot berupa kursi atau meja. Semua orang duduk bersila di atas lantai. Ada juga yang menganggap bahwa pintu Rumoh Aceh diibaratkan hati orang Aceh. Memang sulit untuk memasukinya, tetapi begitu kita masuk akan diterima dengan lapang dada dan hangat.
Pelaksanaan upacara baik ketika hendak mendirikan rumah, sedang mendirikan, dan setelah mendirikan rumah bukan untuk memamerkan kekayaan tetapi merupakan ungkapan saling menghormati sesama makhluk Tuhan, dan juga sebagai bentuk ungkapan syukur atas rizqi yang telah diberikan oleh Tuhan.
Dengan mengetahui nilai-nilai yang terkandung dalam Rumoh Aceh, maka kita akan mampu memahami dan menghargai beragam khazanah yang terkandung di dalamnya. Bisa saja, karena perubahan zaman, arsitektur Rumoh Aceh berubah, tetapi dengan memahami dan memberikan pemaknaan baru terhadap simbol-simbol yang digunakan, maka nilai-nilai yang hendak disampaikan oleh para pendahulu dapat terjaga dan tetap sesuai dengan zamannya.

3.c Seni Pertunjukan
• Didong
Sebuah kesenian rakyat Gayo yang dikenal dengan nama Didong, yaitu suatu kesenian yang memadukan unsur tari, vokal, dan sastra. Didong dimulai sejak zaman Reje Linge XIII. Kesenian ini diperkenalkan pertama kali oleh Abdul Kadir To`et. Kesenian didong lebih digemari oleh masyarakat Takengon dan Bener Meriah
 Tarian Suku Aceh
• Tari Laweut
• Tari Likok Pulo
• Tari Pho
• Tari Ranup Lampuan
• Tari Rapai Geleng
• Tari Rateb Meuseukat
• Tari Ratoh Duek
• Tari Seudati
• Tari Tarek Pukat

 Tarian Suku Gayo
• Tari Saman
• Tari Bines
• Tari Didong
• Tari Guel
• Tari Munalu
• Tari Turun Ku Aih Aunen
 Tarian Suku Lainnya
• Tari Ula-ula Lembing
• Tari Mesekat
3.d Seni Plastis
• Kande
Kande lampu Minyak yang berasal dari Aceh terbuat dari tembaga, dicetak dengan tekstur unik. Berhias motif khas, dengan empat elemen utama. (1) tempat minyak, bulat pipih, (2) sumbu melingkar disekeliling berbentuk runcing, ada yang lima sumbu, tujuh atau sembilan sumbu, (3) tangkai berbentuk seperti gerbang yang berdiri di atas lingkar tempat minyak,(4) Tempat menggantungkan, berbentuk lingkaran bulat di puncak tangkai, sekeliling dihiasi dengan ornamen timbul yang indah.
3.g Legenda atau Mitologi
• Legenda Amat Rhah manyang
• Legenda Putroe Neng
• Legenda Magasang dan Magaseueng

3.h Wisata Ziarah
• Kerkoff Peucut
Kerkoff Peucut adalah kuburan prajurit Belanda yang tewas dalam Perang Aceh. Kompleks kuburan ini banyak tersebar di wilayah Indonesia. Salah satunya terletak di kota Banda Aceh, dan sekarang menjadi objek wisata menarik, khususnya bagi wisatawan mancanegara (terutama wisatawan asal Belanda).
Sebagaimana diketahui bahwa Kerajaan Aceh dan rakyatnya sangat gigih melawan Belanda yang memerangi Aceh. Rakyat Aceh mempertahankan Negerinya dengan harta dan nyawa. Perlawanan yang cukup lama mengakibatkan banyak korban dikedua belah pihak.
Bukti sejarah ini dapat ditemukan di pekuburan Belanda Kerkhoff ini. Disini dikuburkan kurang lebih 2000 orang serdadu Belanda, dan termasuk di antaranya serdadu Jawa, Batak, Ambon dan beberapa serdadu suku lainnya yang tergabung dalam Angkatan Bersenjata Hindia-Belanda. yang kuburannya masih dirawat dengan baik. Hingga saat ini Pemerintah Kerajaan Belanda sangat haru dan menghormati warga Banda Aceh yang merawat dengan rapi kuburan tersebut.
Kuburan Kerkhoff Banda Aceh adalah kuburan militer Belanda yang terletak di luar negeri Balanda yang terluas di dunia. Dalam sejarah Belanda, Perang Aceh merupakan perang paling pahit yang melebihi pahitnya pengalaman mereka pada saat Perang Napoleon.
Sebaliknya tidak terhitung banyaknya rakyat Aceh yang tewas dalam mempertahankan setiap jengkal tanah airnya yang tidak diketahui dimana kuburnya.
Di area ini, juga terdapat makam putra Sultan Iskandar Muda, yaitu Amat Popok yang berzina dan dijatuhi hukuman rajam.
• Makam Massal Korban Tsunami
Di lokasi ini dikuburkan secara masal ribuan korban tsunami Aceh tahun 2004. Kuburan masal ini dilengkapi dengan monumen berbentuk ombak serta prasasti tanda kebangkitan kembali semangat rakyat Aceh.

3.j Peta



5. Analis Proyeksi Potensi Pariwisata Budaya
C.1 Situs-Situs Sejarah Yang Potensial
• Benteng Indra Patra
Sebagai situs bersejarah, keberadaan Benteng Indra Patra tentu perlu dijaga. Dari segi fisik, secara alami bangunan akan mengalami kerusakan digerus alam. Hujan, panas, pengambilan material oleh masyarakat akan membuat bagian-bagian benteng runtuh perlahan-lahan. Dinding mengelupas, batu pondasi berjatuhan satu persatu. Lama kelamaan bentuk aslinya tidak kelihatan lagi.

Dari segi sejarah, kisah-kisah seputar keberadaan benteng perlahan-lahan akan dilupakan orang. Bahkan orang-orang yang tinggal sekitar benteng pun belum tentu tahu asal muasal dinding besar di hadapan rumah mereka.
Memang jika kita perhatikan, sebagai contoh papan informasi penunjuk sejarah tidak ada di tempelkan. Ada juga hal lain yang menyedihkan terkait dengan keberadaan benteng. Banyak masyarakat sekitar mengambil batu-batuan benteng untuk keperluan membuat rumah bahkan ada yang mendirikan pondasi di atas reruntuhan benteng.

Survei Benteng Indra Patra bukan saja mencatat fisik bangunan tetapi juga mengumpulkan kisah-kisah sejarah seputar benteng. Tim melakukan studi pustaka dan wawancara dengan masyarakat sekitar untuk menggali cerita-cerita seputar Benteng Indra Patra. "Yang paling menarik dari bangunan sejarah adalah cerita seputar situs tersebut, ini yang paling menarik minat pengunjung" katanya.

Benteng Indra Patra dibangun oleh Kerajaan Lamuri, kerajaan Hindu pertama di Aceh (Indra Patra) pada masa sebelum kedatangan Islam di Aceh, yaitu pada abad ke tujuh Masehi. Benteng ini dibangun dalam posisi yang cukup strategis karena berhadapan langsung dengan Selat Malaka, sehingga berfungsi sebagai benteng pertahanan dari serangan armada Portugis. Pada masa Sultan Iskandar Muda, dengan armada lautnya yang kuat dibawah pimpinan Laksamana Malahayati, sebagai laksamana wanita pertama di dunia, benteng ini digunakan sebagai pertahanan kerajaan Aceh Darussalam.

Sebagai masyarakat yang menghargai sejarah sudah selayak benteng Indra Patra di rawat dan dilestarikan. Jangan sampai nanti orang-orang hanya bisa berkata sambil menunjuk ke arah reruntuhan "Itu batu-batuan bekas apa ya?"
• Pantai Lampuuk
Pantai Lampuuk terletak di pantai barat Aceh. Dari Banda Aceh kurang lebih 17 km dan dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor dalam waktu kurang dari 30 menit. Namun sayangnya pantai yang cukup terkenal dan menjadi tempat wisata favorit penduduk Aceh tersebut musnah tersapu Tsunami.
Pantai ini cukup indah dan dapat digunakan sebagai tempat berenang, berjemur di pasir putih, memancing, berlayar, menyelam dan kegiatan rekreasi lainnya.
Disore hari pantai ini terasa lebih indah, dimana kita dapat menyaksikan matahari terbenam yang penuh pesona
Disekitar pantai Lampuuk juga berdiri megah sebuah pabrik semen Andalas, namun saat itu pabrik tersebut hanya tinggal kenangan setelah mengalami kerusakan parah akibat gempa dan Tsunami 26 Desember 2004 yang lalu.

Refrensi yang digunakan
http://ruslihasbi.wordpress.com/tanya-jawab/akidah/ch/
http://id.wikipedia.org/wiki/Aceh
http://sjuned.blogspot.com/2008/09/estetika-seni-rupa-aceh-tak-kering.html
http://www.acehforum.or.id/showthread.php?22704-Merawat-Benteng-Indra-Patra-Mengekalkan-Sejarah-Aceh
www.wisatamelayu.com