Minggu, 09 Januari 2011

POTENSI WISATA BUDAYA LAMPUNG


Analisa Perjalanan Awal

Bab I
POTENSI WISATA BUDAYA LAMPUNG
1. Pendahuluan

Lampung adalah salah satu kota kecil yang ada di Indonesia. Provinsi  ini berada di ujung bagian selatan pulau Sumatra. Provinsi  ini tidak jauh dengan Ibu Kota Negara Republik Indonesia yaitu Jakarta. Waktu tempuh untuk menuju Jakarta – Bandar Lampung memakan waktu 7-8 jam. Bandar Lampung merupakan Ibu Kota daerah Lampung. Rute perjalanan yang di lewati dari Jakarta – Bandar Lampung yaitu Jakarta – Pelabuhan Merak, Banten – Pelabuhan Bakauheni.
Jarak dari Pelabuhan Bakauheni ke kota Bandar Lampung memakan waktu tempuh selama 2 jam perjalanan darat. Bila menggunakan perjalanan udara atau  pesawat waktu yang di tempuh hanya 40 menit dari Bandara Soekarno Hatta. Letak Geografis kota Lampung berada pada 6º 45' - 3º 45' Lintang Selatan  dan 103º 48' - 105º 45' Bujur Timur. Provinsi ini merayakan hari jadinya pada tanggal 18 Maret 1964. Lampung berada di dekat gunung Krakatau yang berada di tengah perairan jawa. Ketika kita meyebrang dari Pelabuhan Merak, Banten ke Pelabuhan Bakauheni maka kita akan melewati anak Gunung Krakatau itu. Kata LAMPUNG sendiri berawal dari kata Anjak Lambung yang berarti berasal dari ketinggian ini karena para puyang Bangsa Lampung pertama kali bermukim menempati dataran tinggi Sekala Brak di lereng Gunung Pesagi.

Lampung memiliki suatu kota tua yang merupakan bagian dari Kerajaan Sriwijaya yaitu Kota Tulang Bawang. Kota ini menjadi saksi sejarah kekuatan Kerajaan Sriwijaya pada masa puncak kejayaannya. Kemudian di daerah lampung dialek yang di gunakan dalam bahasa lampung memiliki banyak perbedaan pada setiap daerahnya. Ini terjadi di karenakan adanya proses alkulturasi bahasa karena masuknya suku lain di daerah lampung. Ada yang unik dalam membedakan ras asli suku lampung. Suku asli lampung memiliki kulit yang putih bersih, dengan rambut lurus dan hitam serta mata yang sipit. Suku asli lampung hampir sama rasnya dengan suku Tionghoa.   
 Provinsi ini memiliki luas 35.376 km2  dengan kepadatan penduduk  7.348.623  pada tahun 2007. Pada zaman pemerintahan Hindia Belanda Lampung merupakan salah satu tujuan Transmigrasi dari pulau jawa. Hal ini dilakukan karena pada saat itu pulau jawa sangat padat dan transmigrasi dilakukan guna adanya pemerataan kehidupan masyarakatnya, berikut presentase suku yang mendiami provinsi Lampung:

 
Dengan presentase agama yang di anut penduduk, seperti dibawah ini:

Dalam kurva di atas sangat jelas bahwa penduduk lampung merupakan mayoritas suku jawa. Jadi kebudayaan yang ada di kombinasikan dari kebudayaan jawa. Untuk itu pada tugas akhir saya dalam mata kuliah Sejarah Kebudayaan dan Kesenian Indonesia saya akan menganalisis kebudayaan masyarakat lampung yang masih ada sampai saat ini beserta situs-situs sejarah yang berasal dari pola kehidupan masyarakat Lampung dari awal peradabannya sampai era saat ini yang akan saya bahas satu persatu dengan dilengkapi peta lokasi suatu situs yang di tampilkan secara jelas.

Bab II
SITUS-SITUS SEJARAH


2.a  Situs Eksitu
Ø  Museum Lampung
Lampung hanya memiliki satu museum pusat yaitu Museum Lampung. Yang di dalamnya terdapat kolesi berupa peninggalan nenek moyang masyarakat Lampung, seperti: guci-guci, piring kramik yang berasal dari cina ini menandakan bahwa peninggalan dari Kerajaan Sriwijaya masih ada sampai saat ini.
Selain berupa peralatan rumah tangga di museum ini kita juga dapat menemukan alat-alat peninggalan purbakala yang di temukan di Desa Punggung Raharjo, Lampung Barat alat-alat yang di temukan sepert kapak persegi, dan alat-alat lainnya pada zaman megalithikum. Dan yang menarik perhatian pada museum ini terdapat Bola Besi  yang di gunakan sebagai pembuka lahan yang digunkan untuk membuka lahan transmigrasi di wilayah Lampung Timur, Raman Utara dan Purbolinggo, Kabupaten Lampung Timur, Seputih Banyak dan Seputih Raman pada tahun 1953-1956.
Selain menyimpan koleksi-koleksi pada masa zaman pra sejarah dan masa sejarah museum ini juga menampilkan kebudayaan Lampung yaitu dengan diadakannya pertunjukan tari tradisional pada hari Sabtu tari yang di pertunjukan yaitu tari  sembah yang merupakan tarian selamat datang bagi para tamu yang datang ke museum ini. Lokasi museum ini berada di Jalan Tengku Umar Tanjung Karang.  



2.b  Situs Insitu
Ø  Situs Arkeologi Pugung
Lampung hanya memiliki satu situ purbakala pada Zaman Megalitikum. Dimana pada masa itu manusia sudah mengenal suatu kepercayaan terbukti bengan adanya tiang-tiang batu yang di sebut menhir di dalam Situs Arkeologi Pugung yang terdapat di Desa Pugung Raharjo, Lampung Barat.
Di dalam Situs Arkeologi  Pugung juga terdapat benteng trenched primitif, yang hampir mengelilingi lokasi nya. Benteng ini merupakan hasil dari peninggalan prasejarah serta peninggalan masa Buddha Hindu. Kemudian di tempat ini kita juga dapat melihat bangunan megah berundak yang di sebut Punden Berundak yang dipercaya pada bagian paling atasnya membuat manusia dekat dengan roh nenek moyang Punden Berundak juga merupakan peninggalan pada Zaman Megalitikum.

2.c  Kota Tua 
a.    Kota Tulang Bawang

Dalam sejarah kebudayaan dan perdagangan di Nusantara, Tulang Bawang
digambarkan merupakan salah satu kerajaan tertua di Indonesia, disamping
kerajaan Melayu, Sriwijaya, Kutai, dan Tarumanegara. Catatan Cina kuno menyebutkan pada pertengahan abad ke-4 seorang pejiarah Agama Budha yang bernama Fa-Hien, pernah singgah di sebuah kerajaan yang makmur dan berjaya, To-Lang P'o-Hwang (Tulang Bawang) di pedalaman Chrqse (pulau emas Sumatera).
Sampai saat ini belum ada yang bisa memastikan pusat kerajaan Tulang Bawang,namun ahli sejarah Dr. J. W. Naarding memperkirakan pusat kerajaan initerletak di hulu Way Tulang Bawang (antara Menggala dan Pagardewa) kurang lebih dalam radius 20 km dari pusat kota Menggala.
Seiring dengan makin berkembangnya kerajaan Che-Li-P'o Chie (Sriwijaya), nama dan kebesaran Tulang Bawang sedikit demi sedikit semakin pudar. Akhirnya sulit sekali mendapatkan catatan sejarah mengenai perkembangan kerajaanini.
Ketika Islam mulai masuk ke bumi Nusantara sekitar abad ke-15, Menggala dan alur sungai Tulang Bawang yang kembali marak dengan aneka komoditi, mulai kembali di kenal Eropa. Menggala dengan komoditi andalannya Lada Hitam, menawarkan harga yang jauh lebih murah dibandingkan dengan komoditi sejenis yang didapat VOC dari Bandar Banten. Perdagangan yang terus berkembang, menyebabkan denyut nadi
Sungai Tulang Bawang semakin kencang, dan pada masa itu kota Menggala dijadikan dermaga, tempat bersandarnya kapal-kapal dari berbagai pelosok Nusantara, termasukSingapura.
Perkembangan politik Pemerintahan Belanda yang terus berubah, membawa dampak dengan ditetapkanya Lampung berada dibawah pengawasan langsung Gubernur Jenderal Herman Wiliam Deandles mulai tanggal 22 November 1808. Hal ini berimbas pada penataan sistem pemerintahan adat yang merupakan salah satu upaya Belanda untuk mendapatkan simpati masyarakat.
Pemerintahan adat mulai ditata sedemikian rupa, sehingga terbentuk Pemerintahan Marga yang dipimpin oleh Kepala Marga (Kebuayan). Wilayah Tulang Bawang sendiri dibagi dalam 3 kebuayan, yaitu Buay Bulan, Buay Tegamoan dan Buay Umpu (tahun 1914,menyusul dibentuk Buay Aji).
Sistem Pemerintahan Marga tidak berjalan lama, dan pada tahun 1864 sesuai dengan Keputusan Kesiden Lampung No. 362/12 tanggal 31 Mei 1864, dibentuk sistem Pemerintahan Pesirah. Sejak itu pembangunan berbagai fasilitas untuk kepentingan kolonial Belanda mulai dilakukan termasukdi Kabupaten Tulang Bawang. Pada zaman pendudukan Jepang, tidak banyak perubahan yang terjadi di daerah yang dijuluki "Sai Bumi Nengah Nyappur” ini. Dan akhirnya sesudah Proklamasi kemerdekaan RI, saat Lampung ditetapkan sebagai wilayah Propinsi Sumatera Selatan, Tulang Bawang dijadikan kota tua di provinsi Lampung.

2.d    Desa Tradisional
Wisata Budaya dibeberapa Kampung Tua di Sukau, Liwa, Kembahang, Batu Brak, Kenali, Ranau dan Krui di Lampung Barat.

Bab III
SITUS-SITUS BUDAYA


3.a   Tradisi yang Masih Berlangsung
       Pada saat ini tradisi yang masih dilestarikan masayarakat Lampung yaitu Krakatau Fest. Tradisi ini sudah ada sejak Krakatau meletus dengan hebatnya pada tahun 1883 kegiatan ini sebagai untuk keselamatan masyarakat Lampung agar Krakatau tidak meletus dengan goncangan yang besar lagi.
Tradisi ini pada awalnya sudah meredup dan mulai di kembangkan kembali oleh dinas pariwisata provinsi lampung sebagi bentuk kegiatan yang di adakan setahun sekali. Tradisi ini di munculkan kembali guna untuk mempromosikan provinsi Lampung dan menarik wisatawan untuk datang ke Lampung. Festival tahunan ini diselenggarakan di Lampung.
Festival Krakatau diadakan untuk merayakan pulau vulkanik dengan nama yang sama, Krakatau. Ini gunung berapi meletus terkenal keras sejauh 1927, beberapa di antaranya telah mengakibatkan pulau-pulau kecil yang lebih baru, bernama Anak Krakatau (Anak Krakatau).Selama festival, kita bisa menikmati berbagai pertunjukan seperti Karnaval Tuping (Lampung Mask Karnaval), prosesi gajah serta berbagai macam pertunjukan tari dari Lampung dan kota-kota sekitarnya.Final acara ini adalah perjalanan ke pulau vulkanik itu sendiri.

3.b  Arsitektur Tradisional

Lampung memiliki Rumah Adat yaitu:
a.    Rumah Kampung Ulok Gading
Merupakan rumah khusus untuk pemuka adat Lampung. Di dalam rumah terdapat teras, tangga rumah karena rumah ini berbentuk panggung, kamar, dapur pada bagian belakang rumah dan rumah ini memiliki ruangan khusus untuk menyimpan benda pusaka.
b.    Rumah Kampung Kedamaian
Rumah ini adalah salah satu rumah peninggalan dari pemuka adat Lampung yang fungsinya sebagai tempat pertemuan para pemuka adat untuk mengadakan musyawarah.
c.    Rumah Sesat
Rumah ini merupakan rumah masyarakat Lampung yang bukan merupakan pemuka adat. Arsitektur rumah ini yaitu rumah panggung dengan atap yang terbuat dari anyaman ilalang dan bangunan ini terbuat dari kayu yang sangat kuat. Rumah ini berbentuk Limas. Arsitektur rumah panggung dipilih karena dapat menghindari adanya binatang buas dan rumah ini anti terhadap gempa.

3.c  Seni Pertunjukan

Dalam seni pertunjukan lampung memiliki seni pertunjukan yang lengkap, seperti: Musik, Tari Tradisional, Teater, dan Sastra.
a.    Musik
Lampung memiliki beraneka ragam musik tradisional yang masih bertahan sampai saat ini seperti Klasik Lampung. Jenis music ini biasanya di iringi oleh alat music gambus dan gitar akustik. Penggunaan alat music gambus pada music tradisional Lampung merupakan adanya pengaruh dari masuknya islam ke Lampung. Adapun lagu tradisional masyarakat Lampung yaitu Sang Bumi Ruwa Jurai dan Pang Li Pandang.
b.    Tari Tradisional
Jenis tarian tradisional masyarakat Lampung yang terkenal adalah Tari Sembah dan Tari Melinting akan tetapi nama tari sembah sudah di tidak adakan nama tarian ini berubah nama menjadi tari Singeh Pengunten. Ritual tari Singeh Pengunten biasanya di persembahnkan untuk penyambutan dan penghormatan bagi tamu yang datang. Tarian ini biasa ditampilkan pada saat pembukaan pesta pernikahan dengan adat Lampung. Ciri khas pada tarian Lampung seorang penari memakai kuku panjang yang terbuat dari emas atau tembaga dan tangan mereka menari dengan gemulainya.

c.    Teater
Seni teater yang ada di Lampung biasanya di pelajari dalam ekstrakulikuler siswa-siswi Lampung adapun teater yang di gerakan oleh seniman-seniman Lapung yaitu Teater Satu, Komunitas Berkat Yakin (Kober), Teater Kuman,dan Teater Sendiri yang masih aktif sampai saat ini. Dalam tiap tahunnya even-even teater seperti pertunjukan, lomba, workshop dan diskusi kerap digelar di Provinsi ini serta tempat tempat yang sering digunakan adalah Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Lampung, Auditorium RRI, GSG UNILA, Academic Centre STAIN Metro, Gedung PKM Unila, Aula FKIP Unila, Pasar Seni Enggal. Kemudian  even tahunan teater yang terbesar di Lampung adalah Liga Teater SLTA se-Provinsi Lampung sebagai ajang apresiasi para aktor Pelajar Lampung yang kualitasnya tidak kalah dengan pelajar di luar Lampung.

d.    Sastra
Lampung tempat yang bagus bagi pertumbuhan sastra, baik sastra dengan bahasa Indonesia maupun sastra dengan bahasa  Lampung. Lampung melahirkan  penyair- penyair, seperti:  Iwan Nurdaya-Djafar yang baru kembali ke Lampung setelah selesai kuliah di Bandung sekitar 1980-an mengaku kepenyairan di Lampung masih sepi. Dia baru menjumpai Isbedy Stiawan ZS, A.M. Zulqornain, Sugandhi Putra, Djuhardi Basri, Naim Emel Prahana dan beberapa nama lainnya.
Ketika  memasuki 1990-an kemudian Lampung mulai melahirkan  penyair-penyair baru, seperti Iswadi Pratama, Budi P. Hatees, Panji Utama, Udo Z. Karzi, Ahmad Yulden Erwin, Christian Heru Cahyo dan lain-lain. Menyusul kemudian Ari Pahala Hutabarat, Budi Elpiji, Rifian A. Chepy, Dahta Gautama. Kini ada Dina Oktaviani, Alex R. Nainggolan, Jimmy Maruli Alfian, Y. Wibowo, Inggit Putria Marga, Nersalya Renata dan Lupita Lukman. Selain itu ada cerpenis Dyah Merta dan M. Arman AZ. Leksikon Seniman Lampung pada tahun 2005 menyebutkan tidak kurang dari 36 penyair/sastrawan Lampung yang menyebarkan  lembar-lembar sastra koran, jurnal dan majalah ke seluruh Indonesia.

3.d   Kerajinan Rakyat
Lampung memiliki seni plastis dari kerajinan Kain Tapis dan Batik Lampung. Akan tetapi Kain Tapis merupakan kerajinan tradisional yang sangat terkenal yang di miliki Lampung. Tapis Lampung adalah hasil tenun benang kapas dengan motif, benang perak atau benang emas dan menjadi pakaian khas suku Lampung. Jenis tenun ini biasanya digunakan pada bagian pinggang ke bawah berbentuk sarung yang terbuat dari benang kapas dengan motif seperti motif alam, flora dan fauna yang disulam dengan benang emas dan benang perak.
Tapis Lampung termasuk kerajian tradisional karena peralatan yang digunakan dalam membuat kain dasar dan motif-motif hiasnya masih sederhana dan dikerjakan oleh pengerajin. Kerajinan ini dibuat oleh wanita, baik ibu rumah tangga maupun gadis-gadis yang pada mulanya untuk mengisi waktu senggang dengan tujuan untuk memenuhi tuntutan adat istiadat yang dianggap sakral. Kain Tapis saat ini diproduksi oleh pengrajin dengan ragam hias yang bermacam-macam sebagai barang komoditi yang memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi.
Kain Tapis merupakan sebagai penanda tingkat social masyarakat lampung. Karene benang yang di gunakan adalah asli dari emas atau perak dan harganya sangat mahal. Kain Tapis biasa digunakan dalam  acara-acara adat dan acara pernikahan. Sentra penjual kain tapis di Bandar Lampung di Pasar  Bambu Kuning, Tanjung Karang, Bandar Lampung. Kemudian Lampung juga memiliki kerajinan yang  dikenal  dengan  kerajinan batik di Lampung yaitu Sebage yang mempunyai ragam khas dan corak warna dengan berbagai variasi Motif. Bahan dasar yang di pergunakan adalah Sutera dan Katun.

3.e  Legenda atau Mitologi
Lampung memiliki cerita fable yang di contohkan oleh binatang buaya. Cerita rakyat ini diberi judul dengan Buaya Perompak.
* Febrie Hastiyanto, putra Way Kanan. Bergiat dalam diskusi pada milis etnografi_lampung

Buaya Perompak

Pada jaman dahulu, Sungai Tulang Bawang sangat terkenal akan keganasan buayanya. Sehingga orang yang berlayar disana maupun para penduduk yang tinggal disana perlu untuk sangat berhati-hati. Menurut cerita, sudah banyak manusia yang hilang begitu saja disana. 
Pada suatu hari, kejadian yang menyedihkan itu terulang kembali. Orang yang hilang itu adalah seorang gadis rupawan yang bernama Aminah. Anehnya, meskipun penduduk seluruh kampung tepi Sungai Tulang Bawang mencarinya. Tidak ada jejak yang tertinggal. Sepertinya ia sirna ditelan bumi.

Nun jauh dari kejadian itu, di dalam sebuah gua besar tergoleklah Aminah. Ia baru saja tersadar dari pingsannya. Betapa terkejutnya ia ketika menyadari bahwa gua itu dipenuhi oleh harta benda yang ternilai harganya. Ada permata, emas, intan, maupun pakaian yang indah-indah. Harta benda itu mengeluarkan sinar yang berkilauan.

Belum habis rasa takjubnya, dari sudut gua terdengarlah sebuah suara yang besar, "janganlah takut gadis rupawan! Meskipun aku berwujud buaya, sebenarnya aku adalah manusia sepertimu juga. Aku dikutuk menjadi buaya karena perbuatanku dulu yang sangat jahat. Namaku dulu adalah Somad, perampok ulung di Sungai Tulang Bawang. Dulu aku selalu merampok setiap saudagar yang berlayar disini. Semua hasil rampokanku kusimpan dalam gua ini. Kalau aku butuh makanan maka harta itu kujual sedikit di pasar desa tepi sungai. Tidak ada seorangpun yang tahu bahwa aku telah membangun terowongan di balik gua ini. Terowongan itu menghubungkan gua ini dengan desa tersebut."

Tanpa disengaja, si buaya perompak tersebut sudah membuka rahasia gua tempat kediamannya. Secara seksama Aminah menyimak dan mengingat keterangan berharga itu. Buaya itu selalu memberinya hadiah perhiasan. Harapannya adalah agar Aminah mau tetap tinggal bersamanya. Namun keinginan Aminah untuk segera kembali ke kampung halamannya makin menjadi-jadi.

Pada suatu hari, buaya perompak tersebut sedikit lengah. Ia tertidur dan meninggalkan pintu guanya terbuka. Si Aminah pun keluar sambil berjingkat-jingkat. Di balik gua itu ditemukannya sebuah terowongan yang sempit. Setelah cukup lama menelusuri terowongan itu, tiba-tiba ia melihat sinar matahari. Betapa gembiranya ia ketika keluar dari mulut terowongan itu. Disana Aminah ditolong oleh penduduk desa yang mencari rotan. Lalu Aminah memberi mereka hadiah sebagian perhiasan yang dibawanya. Aminah akhirnya bisa kembali ke desanya dengan selamat. Ia pun selanjutnya hidup tenteram disana.

(Diadaptasi secara bebas dari Abdul Hakim,"Buaya Perompak," Selusin Cerita Rakyat, Jakarta:C.V. Danau Singkarak, 1980, hal. 20-27 )

3.f  Wisata Ziarah
Lampung memiliki beberapa situs wisata ziarah, diantaranya sebagai berikut:
a.    Mesjid Al-Anwar
Mesjid tertua di Provinsi Lampung ini didirikan pada tahun 1839. Mesjid ini menjadi saksi sejarah dimana pada saat itu Krakatau meletus dengan hebatnya pada tahun 1883. Uniknya bangunan mesjid ini tidak selurunya rubuh akibat getaran pada bumi ketika Krakatau meletus. Pada tahun 1888 Masjid ini di renovasi terdapat enam pilar dalam bangunan mesjid ini yang menandakan rukun iman dan mesjid ini memiliki dua buah meriam peninggalan portugis. Mesjid ini terletak di Jalan R.E Martadinata, Teluk Betung daerah Kampung Palembang.
b.    Mesjid Al-Yaqin
Mesjid ini merupakan masjid tertua ke dua di Lampung. Masjid ini dibangun oleh pendatang dari Bengkulu pada tahun 1883. Pada masa kolinial Belanda pernah mengalami kerusakan pada bagian depan mesjid akan tetapi sudah direnovasi akan tetapi mempertahankan bentuk aslinya. Mesjid ini terletak di Jalan Radin Intan bersebrangan dengan BRI.
c.    Vihara Thay Hin Bio
Vihara ini terletak di jalan Ikan Kakap, Teluk Betung. Vihara ini digunakan untuk memohon perlindungan pada Kuan Im Pho Sat yang maha pengasih dan penyayang. Vihara yang di bangun atas keinginan masyarakat Tionghoa Lampung ini dibangun pada tahun 1896.
d.    Gereja Marturia
Gereja yang di bangun pada masa Kolonial Belanda ini terletak di Jalan Imam Bonjol dekat Pasar Bambu Kuning, Tanjung Karang. Gereja ini telah mengalami renovasi tanpa mengubah bentuk asli bangunan ini.
3.g  Local Wisdom
Masyarakat adat Way Kanan Lampung telah memiliki lembaga adat yang diatur dalam Perda No. 35 Tahun 2000 tentang Pemberdayaan, Pelestarian, dan Pengembangan Adat serta Lembaga Adat. Kedudukan lembaga ini secara kelembagaan sebenarnya cukup kuat dan dianggap merepresentasikan masyarakat adat. Dalam upaya melestarikan tradisi bualih, Tradisi bualih merupakan tradisi menangkap ikan di sungai tanpa harus merusak ekosistem sungai. lembaga adat Way Kanan dapat membuat peraturan adat menetapkan sungai dan zona larangan menangkap ikan.
Pemerintah Kabupaten Dinas Perikanan merespons dengan menyediakan bibit dan pakan ikan. Masyarakat adat bertanggung jawab menjaga zona-zona larangan. Untuk menguatkan, lembaga adat dapat membuat kodifikasi sanksi adat. Sanksi hendaknya bukan berupa hukuman kurungan badan, dikucilkan, atau denda berupa uang. Masyarakat yang melanggar aturan zona larangan dapat dikenai denda menanam sejumlah pohon di lahan kritis, atau menambah sejumlah bibit ikan untuk ditebar di zona yang dilanggarnya, atau modifikasi dari keduanya. Bila pelestarian tradisi ini telah melembaga, tahun depanbualih dalam Festival Radin Jambat tidak lagi diadakan di kolam, tetapi langsung di sungai. 
3.h  Peta Situs Sejarah dan Situs Budaya
3.i   Akses Transportasi
Akses yang dapat di tempuh menuju lokasi objek wisata sejarah dan objek wisata budaya, sebagai berikut:
v  Dari Jakarta menuju Kota Bandar Lampung:
v  Rute Darat: Jakarta-Merak-Bakauheni-Bandar Lampung
v  Waktu Tempuh: Jakarta Merak 2-3 Jam, Merak-Bakauheni 3 Jam, Bakauheni-Bandar Lampung 2 Jam jadi memakan waktu tempuh 7-8 Jam.
v  Jalur Udara: Bandara Soekarno Hatta-Bandara Radin Inten II waktu tempuh 40 Menit.
Wisata Sejarah:
Ø  Situs Arkeologi Pugung dari Bandar Lampung naik bus dari Terminal Rajabasa ke Lampung Barat.
Ø  Museum Lampung: Dari Bandar Lampung lokasi ini sangat dekat bisa di jangkau menggunakan angkot, becak, ojek motor, taksi dan kendaraan lainnya. Lokasi museum ini berada di Jalan Imam Bonjol, Tanjung Karang, Bandar Lampung.
Wisata Budaya:
Ø  Sentra Penjualan Kain Tapis: Lokasi sentra penjualan kain tapis berada di Pasar Bambu Kuning, Tanjung Karang dari kota Bandar Lampung lokasi ini mudah di jangkau dengan angkutan umum karena lokasinya yang dekat dengan Museum Lampung yaitu Jalan Imam Bonjol.
Wisata Ziarah
Lokasi wisata ziarah semuanya berada di lokasi Teluk Betung, Bandar Lampung. Ketiga situs ini saling berdekatan, seperti:
v  Masjid Al-Anwar berada di Jalan R.E Martadinata, Teluk Betung.
v  Masjid Al-Yaqin berada di Jalan Radin Inten, Teluk Betung.
v  Vihara Thay Hin Bio berada di Jalan Ikan Kakap, Teluk Betung
v  Dan untuk Gereja Marturia berada di Jalan Imam Bonjol, Tanjung Karang dekat dengan Pasar Bambu Kuning dan Museum lampung
Bab VI
Sebuah Analisis

A.   Analisis Proyeksi Potensi Pariwisata Budaya
Dalam potensi pariwisata budaya sangat memiliki prospek yang besar untuk kedepannya. Akan tetapi budaya itu sendiri pada masyarakat Lampung hampir hilang. Hanya generasi tua saja yang masih mau mempertahankannya. Untuk menarik jumlah wisatawan yang datang ke Lampung dinas pariwisata setempat beserta pemuka adat membuat suatu pagelaran besar yang menampilkan segala aspek kebudayaan masyarakat lampung sejak zaman nenek moyang masyarak Lampung.
 Pagelaran tersebut di sebut Krakatau Fest. Krakatau Fest merupakan pagelaran yang di lokasi Gunung Krakatau berada. Akan tetapi kegiatan ini hanya di lakukan setahun sekali. Kemudian pagelaran seni semacam sendratari yang menampilkan tari trasional Lampung tidak di adakan secara khusus disuatu lokasi tempat, seperti: Pagelaran sendratari Ramayana di Prambanan dan Pagelaran Tari Barong dan Tari Kris di Batu Bulan, Bali yang diadakan setiap hari. Tari tradisional hanya di tampilkan pada waktu tertentu saja.
Hal ini akan membuat turis kesusahan mencari wisata budaya yang ada di Lampung. Kemudian Lampung terkenal dengan kain tapisnya akan tetapi di lampung tidak memiliki suatu sentra pembuatan kain tapis di suatu tempat. Pembuatan kain tapis dilakukan secara tersebar akan tetapi perdagangannya berpusat di Pasar Bambu Kuning, Tanjung Karang, Bandar Lampung. Kejadian ini membuat wisatawan tidak dapat mengetahui teknik dari awal pembuatan kain tapis tersebut.
Khusus untuk wisata sejarah Lampung hanya menyediakan dua situs sejarah saja yaitu museum lampung dan situs arkeologi pugung. Kedua situs ini sudah di kembangkan pemerintah. Akan tapi mengingat Lampung pernah menjadi bagian dari Kerajaan Sriwijaya ada banyak peninggalan yang masih terkubur di dalam tanah. Ini menjadi focus pemerintah bekerjasama dengan arkeolog dan insane pariwisata untuk menggali sejarah peradaban yang pernah terjadi di kota Lampung. Solusi dari masalah yang ada di atas akan saya bahas, seperti yang berikut ini:
A.1    Need and Want
Wisata Sejarah: 
ü  Untuk wisata sejarah target wisatawan yaitu siswa-siswi Lampung maupun di luar kota dengan memadukan konsep education tourism. Disana wisatwan yang mayoritas siswa atau siswi dapat belajar secara langsung sejarah di lapangan dengan cara seperti ini tidak akan membuat siswa-siswi jenuh.
Wisata Budaya
ü  Wisata Budaya di Lampung lebih kepada pembuatan desa wisata yang di dalamnya terdapat kesenian dimana wisatawan dapat mempelajari kebudayaan Lampung secara langsung.
A.2       Must to Have
Wisata Sejarah:
v  Dengan di adakannya Education Tourism untuk siswa-siswi maka di lokasi objek wisata alam terbuka seperti situs Antropologi Pugung juga di lengkapi alat peraga di dalamnya serta memiliki audoratorium dimana siswa-siswi dapat menonton sejarah perjalanan manusia purba dan membuat suatu kebudayaan dalam hidupnya.
v  Pada Museum Lampung Museum ini harus dilengkapi alat peraga yang canggih yang dapat menjelaskan segala sesuatu yang berhubungan dengan barang-barang koleksi agar pengunjung yang mayoritas adalah siswa dapat belajar dengan senang dan mudah mencerna ilmu yang di dapat dari berkunjung ke museum.

Wisata Budaya
v  Dengan mendatangi desa wisata maka wisatawan akan di ajarkan cara pembuatan kain tapis Lampung. Dengan mengetahui prosesnya maka ada keinginan wisatawan untuk memiliki kain tapis tersebut dan membelinya. Hal ini dapat membantu dalam pengembangan ekonomi masyarakat setempat.

A.3  Nice to Have
Wisata Sejarah
·         Dengan adanya hiburan selain lokasi sejarah saja di situs arkeologi pugung dapat dibuat suatu permainan outbound. Selain belajar sejarah disitu jug adapt belajar kepemimpinan.
Wisata Budaya
·         Untuk wisata Budaya harus ada pusat lokasi kebudayaan dimana disana wisatwan dapat belajar secara langsung. Contohnya: Saung Mang Ujo, Bandung.
A.4  Shadow Need Cost
Wisata Sejarah dan Budaya:
v  Dinas pariwisata Lampung harus membuat tiket murah khusus untuk wisata sejarah dan budaya. Pemerintah harus bekerjasama dengan maskapai penerbangan dan biro atau travel agent untuk memurahkan harga perjalanan wisata sejarah dab budaya. Dengan diadakannya wisata murah maka akan membuat wisatwan berbondong-bondong datang ke Lampung karena adanya promo tersebut. Sehingga konsep dari hanya bayangan menjadi suatu biaya yang dibutuhkan.

B.   Situs-Situs Sejarah yang Potensial

Keunggulan
Kendala
Situs Arkeologi Pugung
·         Peninggalan Zaman Megalitikum.
·         Terdapat tiang-tiang batu atau Menhir.
·         Adanya bangunan Punden Berundak.
·         Akses yang jauh dari pusat kota Bandar Lampung.
·         Tidak adanya fasilitas pendukung yang berada di dekat objek.
Museum Lampung
·         Koleksi barang-barangnya mulai dari sejarah nenek moyang masyarakat lampung sampai era Kolonial Belanda.
·         Terdapat pagelaran tari tradisional yang dipertunjukan setiap hari sabtu.
·         Lokasi yang strategis
·         Kurangnya dana untuk membuat museum dengan standart internasional yang dilengkapi alat peraga seperti yang ada di museum BI Jakarta.
·         Kurangnya minat masyarakat untuk mengunjungi museum.

C.   Situs-Situs Budaya/Khasanah Budaya


Keunggulan
Kendala
Kain Tapis
·         Merupakan kerajinan asli Lampung.
·         Merupakan kain yang menandakan status social.
·         Harga yang sangat mahal.
·         Tidaknya daerah yang menjadi pusat pembuatan kain tapis yang dapat di kunjungi wisatawan.
Masjid Al-Anwar
·         Masjid tertua di Lampung di bangun pada 1839.
·         Terdapat 2 meriam peninggalan portugis.
·         Mesjid ini terlihat tua.
Masjid Al-Yakin
·         Masjid tertua kedua yang berada di Lampung.
-
Vihara Thay Hin Bio
·         Merupakan rumah Ibadah orang Tionghoa yang dibangun pada tahun 1896.
-
Gereja Marturia
·         Lokasi yang strategis berada di pusat kota.
·         Merupakan gereja peninggalan Belanda
-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar