Minggu, 09 Januari 2011

POTENSI WISATA DI BALI (-ANDHIKA PRAMUDITA 4423067053-)

POTENSI WISATA DI BALI














ANDHIKA PRAMUDITA
4423067053
UNJ TOURISM




















2.1 Situs Eksitu
2.2 Situs Insitu

In Situ dan Eks Situ di Bali
Program pelestarian satwa-satwa liar Indonesia diawali dengan menginventarisasi dan memonitor potensi yang mencakup distribusi satwa di alam, habitat, pakan, dan ekosistem satwa-satwa itu. Harimau sumatra (Panthera tigris sumatrae), misalnya, yang tersebar di hampir seluruh Sumatra, kini populasinya diperkirakan tinggal 400 ekor karena adanya fragmentasi habitat dan perubahan tata guna lahan. Akibatnya, dewasa ini, potensi konflik antara harimau dan manusia di Pulau Sumatra semakin besar. Salah satu konflik yang pernah ditangani PHKA adalah konflik antara manusia dan harimau di Aceh. Untuk mengantisipasi jatuhnya korban di kedua belah pihak, dilakukan translokasi harimau dari hutan di Aceh ke Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Lampung.

Sebelum harimau dilepaskan, dilakukan kajian terlebih dahulu tentang wilayah distribusinya, ketersediaan pakan, habitat, dan kemungkinan terulangnya lagi konflik. “Upaya translokasi tersebut juga merupakan upaya konservasi in situ (di habitatnya),” terang Direktur Ditjen PHKA Dephut Harry Santoso.

Selain harimau, satwa yang sering berkonflik dengan manusia adalah gajah, salah satunya dari jenis gajah sumatra (Elephas maximus). Populasi gajah sumatra tersebar di beberapa blok hutan di Sumatra, seperti Aceh, Riau, Bengkulu, dan Lampung.

Menurut konsultan gajah dari lembaga swadaya masyarakat WWF, Elisabet Purastuti, konflik gajah di Sumatra ditengarai karena daerah jelalah gajah menyempit akibat adanya alih fungsi hutan menjadi perkebunan dan permukiman penduduk.

Di wilayah Lampung, misalnya, sebelumnya teridentifikasi 12 kantong (daerah jelajah gajah), kini tinggal tiga kantong saja. Akibatnya, area pencarian makanan gajah semakin menyusut. Gajah pun akhirnya memasuki wilayah penduduk, terutama perkebunan sawit dan sawah yang ditanami padi.

Elizabet mengatakan upaya penyelesaian konflik gajah–manusia pernah dilakukan melalui konservasi in situ. Upaya itu memindahkan gajah dari habitat yang telah rusak ke habitat yang lebih kondisinya lebih bagus.

Contoh kasus, pada 2007, gajah di Kecamatan Sekincau, Lampung Barat, tinggal empat ekor. Untuk mencegah kematian gajah di wilayah itu, keempat hewan itu dipindahkan ke Kecamatan Bengkunat-masih termasuk wilayah Lampung Barat-yang memiliki kondisi habitat lebih baik.

Tidak hanya konservasi secara in situ, laju kepunahan satwa liar juga dapat dilakukan dengan cara konservasi eks situ (di luar habitat asli).
Konservasi itu biasanya dilaksanakan oleh lembaga konservasi yang telah memperoleh izin dari Menteri Kehutanan, seperti Taman Safari Indonesia, beberapa kebun binatang, dan Taman Mini Indonesia Indah. Namun, upaya untuk menyelamatkan satwa harus tetap mengacu kepada pedoman IUCN (IUCN Guidelines for Placement of Confiscated Animals).

Harry menjelaskan salah satu contoh konservasi eks situ hasil pemonitoran tahun 1990-an adalah konservasi jalak bali liar yang berada di Pulau Bali.

Sebaran terluas hewan bernama Latin Leucopsar rothschildi itu antara Bubunan Buleleng sampai ke Gilimanuk. Dari wilayah penyebaran itu, hanya ditemukan lima ekor jalak bali.

Dengan jumlah populasi yang terlampau sedikit itu, tidak dimungkinkan dilakukan konservasi in situ. Oleh karena itu, pemerintah memutuskan melakukan konservasi eks situ dengan jalan penangkaran di beberapa lembaga konservasi. “Kini populasi jalak bali dapat terselamatkan, dan jumlahnya semakin bertambah,” ujar Harry.

Mengenai konservasi in situ dan eks situ, peneliti dari Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor (IPB), Ani Madiastuti, mengatakan kedua macam konservasi itu harus dilakukan bersama-sama kalau jumlah sepesiesnya masih memungkinkan. Namun, apabila jumlah spesies yang akan diselamatkan masih melimpah, alangkah baiknya dilakukan konservasi in situ.

Pasalnya, melakukan konservasi eks situ bukan perkara mudah dan membutuhkan ahli yang memahami benar kondisi serta perilaku satwa yang akan diselamatkan.

Belum lagi ketika spesies akan dilepaskan ke alam, dibutuhkan pengajian terlebih dahulu. Salah satu kajian yang dilakukan misalnya mengenai kemungkinan rusaknya genetika satwa liar akibat proses perkawinan.

Hal lain yang juga dipertimbangkan adalah spesies yang telah ditangkarkan atau direhabilitasi biasanya cenderung bersifat manja. “Oleh karena itu, banyak kasus upaya penangkaran dan rehabilitasi mengalami kegagalan saat memasuki program pelepasan di alam liar,” terang Ani.
awm/L-2





2.4 Desa Tradisional
DESA ADAT LEGIAN DITINJAU DARI POLA DESA TRADISIONAL BALI
ABSTRAK
Bali memiliki tatanan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam hal permukiman. Tidak hanya bentuk bangunannnya saja yang khas, tetapi demikian pula halnya dengan pola desanya. Hampir semua desa memiliki pola yang jelas. Namun demikian diantaranya tetap ada variasi-variasinya.
Kejelasan pola yang dapat dilihat secara fisik adalah adanya batas-batas desa yang berupa elemen alami, serta memiliki kahyangan tiga/kahyangan desa di masing-masing kesatuan permukiman (desa). Dengan berkembangnya semua aspek kehidupan, maka keberadaan desa secara fisik akan ikut berkembang. Sangat mungkin pola desa yang semula jelas, lambat laun akan kabur dengan tumbuhnya bangunan-bangunan baru. Sebelum itu terjadi ada baiknya desa-desa yang berkembang pesat ditinjau keberadaannya, khususnya tentang pola desanya.
Desa Adat Legian, Kuta, Badung, yang berkembang dengan cepat, pada awalnya memiliki pola yang jelas, sesuai dengan pola desa tradisional Bali. Desa ini berpola linear, dengan poros berupa jalan raya yang membujur Utara-Selatan di tengah-tengah desa. Memiliki kahyangan tiga/kahyangan desa yang lokasinya masing-masing tersendiri. Unit-unit rumah tinggal terletak di sepanjang pinggir dan dibelakangnya terletak tegalan (teba). Batas-batas desa sangat jelas, yaitu tegalan, sungai dan laut.
ABSTRACT
Bali in essence has an intense arrangement in a various life aspect, including in a settlement matter. Bali is well-known due to it’s unique, not only intern of its building but also on its village pattern. Most villages in Bali mainly have an obvious pattern. Yet, some of them are in fact facing a disparity pattern.
The obvious pattern, which can be seen physically, is the village borders as a natural element, and also has kahyangan tiga/kahyangan desa (three abode of the Hindu Gods) in each villages unit. Due to the development of all life aspects lead to the physically development of that village. It is strangely probable that the village pattern is previously obvious, turns out to be obscure since the enlargement of new buildings. To prevent this matter, it will require observing precisely that village particularly on its pattern.
Desa Adat Legian Kuta, which rapidly develops, has formerly the obvious pattern as Balinese traditional pattern. This village is classified as a linear pattern by a line basis as the main road that is stretching out on the North-South is in a center of the village. It has the kahyangan tiga/kahyangan desa, the house units are located at edge of the main road and the back is set a dry field (tegalan/teba). It clearly point up that the village border of Desa Adat Legian Kuta is the dry field (tegalan), river and sea.




PENDAHULUAN
Bali sudah sangat terkenal di dunia, sehingga mengundang kedatangan para wisatawan yang jumlahnya terus meningkat. Potensi yang dimiliki Bali sebagai daya tarik selain keindahan alam adalah budaya masyarakat dalam berbagai bentuk. Ada yang berbentuk non fisik (aktivitas, adat istiadat, dan lain sebagainya), maupun fisik (hasil karya berupa benda seni, maupun benda kebutuhan hidup). Salah satunya adalah wadah tempat tinggal yang umum disebut permukiman.
Permukiman di Bali dalam bentuk satu kesatuan tertentu adalah desa, lebih khusus lagi desa adat. Perwujudan desa adat di Bali merupakan kekayaan tersendiri. Bentuk-bentuk bangunan, pola desa, kekayaan jenis bangunan yang beragam, merupakan potensi yang besar untuk ditampilkan sebagai identitas yang kuat.
Selain sebagai identitas, keberadaan desa adat adalah sebuah kekayaan ilmiah yang merupakan sumber untuk terus dipelajari guna peningkatan pengetahuan. Banyak hal yang dapat dipelajari. Apalagi makin lama, perkembangan semua aspek kehidupan semakin cepat. Oleh karena itu kita perlu melestarikan kebudayaan bangsa dengan kreativitas serta mengembangkannya mengikuti kemajuan. Dengan ini kebudayaan bangsa berkembang dan berkelanjutan tanpa kehilangan akarnya (Mantra, 1996:3).
Salah satu desa adat yang perkembangannya sangat pesat adalah Desa Adat Legian, Kelurahan Legian, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung. Sebagai sebuah desa adat yang berada di kawasan wisata, desa ini semakin dipadati dengan berbagai fasilitas (bangunan) sesuai dengan aktivitas kepariwisataan. Tidak ada suatu kawasan wisata di Indonesia yang memiliki perkembangan sepesat di Kuta (Paturusi, dalam Widiastuti, 1997).
Apabila perkembangan tersebut tidak terencana dan terkendali, pada suatu saat nanti, pola Desa Adat Legian semula akan sulit dikenali. Sebaliknya, apabila pola desa aslinya sudah dikenal, dan mengandung nilai-nilai positif, tentunya dapat dijadikan landasan bagi pengembangannya, atau sebagai kontrol terhadap perkembangannya.
DESA ADAT PADA UMUMNYA
1. Pengertian
Desa dalam pengertian desa adat, mengacu kepada kelompok tradisional dengan dasar ikatan adat istiadat, dan terikat oleh adanya tiga pura utama yang disebut Kahyangan Tiga atau pura lain yang berfungsi seperti itu, yang disebut Kahyangan Desa. Desa adat merupakan suatu komunitas tradisional dengan fokus fungsi dalam bidang adat dan agama Hindu, dan merupakan satu kesatuan wilayah dimana para anggotanya secara bersama-sama melaksanakan kegiatan sosial dan keagamaan yang ditata oleh suatu sistem budaya. (MPLA, 1990: Surpha, 1993; dalam Pitana, 1994:139). Selanjutnya, dengan mengacu kepada berbagai batasan yang diberikan terhadap desa adat, disimpulkan ciri-ciri desa adat sebagai berikut (Pitana, 1994:145)
1. Mempunyai batas - batas tertentu yang jelas. Umumnya berupa batas alam seperti sungai, hutan, jurang, bukit atau pantai.
2. Mempunyai anggota (krama yang jelas), dengan persyaratan tertentu
3. Mempunyai kahyangan tiga atau kahyangan desa, atau pura lain yang mempunyai fungsi dan pernanan sama dengan kahyangan tiga.
4. Mempunyai otonomi, baik ke luar maupun ke dalam.
5. Mempunyai suatu pemerintahan adat, dengan kepengurusan (prajuru adat) sendiri.
Dari uraian diatas, terlihat bahwa ciri-ciri yang bersifat fisik (arsitektur) suatu desa adat adalah adanya batas-batas yang jelas dan adanya kahyangan tiga atau kahyangan desa.

2. Pola Desa dalam Arsitektur Tradisional Bali
Beberapa sumber yang menjelaskan tentang pola desa di Bali (desa adat), memberikan uraian yang bervariasi. Namun secara keseluruhan dapat diambil semacan persamaan daripadanya, yang menyatakan

60 DESA ADAT LEGIAN DITINJAU DARI POLA DESA TRADISIONAL BALI (NENGAH KEDDY SETIADA)
bahwa pada umumnya pola desa adat di Bali, ada yang berpola umum, dan ada yang berpola khusus. Sedangkan yang sama-sama menjadi ciri keberadaan sebuah desa adat adalah adanya pura kahyangan tiga (Pura Desa, Pura Puseh, Pura Dalem) atau kahyangan desa.
Pola perkembangan desa di Bali umumnya dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor tata nilai ritual yang menempatkan zona sakral di bagian kangin (Timur) arah terbitnya matahari sebagai arah yang diutamakan. Faktor kondisi dan potensi alam, nilai utama pada arah gunung. Ke arah laut dinilai lebih rendah. Faktor ekonomi yang berpengaruh pada pola perkampungan adalah desa nelayan menghadap ke laut, desa petani menghadap ke arah sawah atau perkebunan (Gelebet, 1985:12).
Selanjutnya disebutkan juga bahawa di Bali, pola-pola perkempungan (desa) umumnya berpola pempatan agung, dan beberapa desa ada yang berpola khusus (Desa Tenganan, Desa Julah, Desa Bugbug, dan lain sebagainya). Dari sumber lain diperoleh penjelasan bahwa pola-pola lingkungan di Bali secara umum dapat dibedakan menjadi dua: yaitu pola lingkungan pusat kota dan pola lingkungan desa (Putra, 1992). Pola lingkungan pusat kota, dengan titik sentralnya di Puri (sebagai pusat pemerintahan) dapat dengan jelas menerapkan pola pempatan agung (catus patha). Sedangkan pola lingkungan desa menerapkan pola-pola khusus (Julah, Pengotan, Timrah, Bugbug, Tenganan, dan lain sebagainya). Tidak dirinci tentang kekhususan yang terdapat pada desa-desa tersebut. Alit (1997) mengungkapkan bahwa secara fisik, pola desa terdiri dari parahyangan, pawongan, dan palemahan. Parahyangan sebagai areal yang diperuntukkan bangunan suci (pura) seperti pura kahyangan tiga (Puseh, Desa, Dalem), pawongan adalah adanya warga desa dengan huniannya, dan palemahan berupa areal desa sebagai tempat bertani, berkebun dengan batas-batas geografis tertentu. Letak pura puseh di bagian hulu desa, pura desa di tengah-tengah, pura dalem dan kuburan terdapat di bagian teben desa. Kadang-kadang pura puseh dan pura desa ditempatkan pada satu lokasi secara bersama.
Sementara itu pola desa (baca: lingkungan, kota) ada beberapa variasi. Untuk pusat kota, pola yang umum adalah pempatan agung. Pola ini terbentuk oleh persilangan dua buah jalan utma yang berpotongan tegak lurus. Perpotongan sedemikian menyebabkan adanya empat sudut/empat zona, yaitu kaja-kangin (Timur Laut), kelod-kangin (Tenggara), kelod kauh (Barat Daya), dan kaja kauh (Barat Laut). Sebagai contoh kondisi serupa ini dapat dilihat di Puri Gianyar, Puri Ubud, Puri Denpasar (Bangli), Puri Payangan (Gianyar) dan lain sebagainya. Di salah satu sudut tadi, pada umumnya di sudut lapangan, terdapat pohon beringin (Budihardjo, 1995:55). Selain pola pempatan agung, ada pula pola aling-aling yang terlihat seperti bentuk swastika (Budihardjo, 1995:56). Pola ini masih merupakan pertemuan empat buah jalan, yang menciptakan titik pusat. Di pusat itu terletak pura desa dan pura puseh. Di sekelilingnya terletak permukiman penduduk. Pada daerah-daerah, di luar pusat lingkungan/kota, pola yang umum terlihat adalah pola linear. Untuk pola garis lurus ini, suatu desa terbagi atas tiga zona, yaitu parahyangan di luan, rumah-rumah ditengah; dan kuburan di teben. Untuk daerah yang membujur kaja-kelod, maka kaja sebagai luan dan kelod sebagai teben. Untuk desa yang membujur arah kangin-kauh; maka luan adalah kangin; dan kauh adalah teben.
DESA ADAT LEGIAN
1. Gambaran Umum
Desa Adat Legian dan Kelurahan Legian pada saat ini meliputi wilayah (geografis) yang sama, terdiri dari 3 banjar. Dalam “wewengkon” desa adat, ketiga banjar itu adalah Banjar Suka-Duka Legian Kaja, Legian Tengah (Pekandelan) dan Legian Kelod. Dengan keadaan seperti itu maka data fisik tentang Desa Adat Legian dalam tulisan ini adalah sama dengan data fisik tentang Kelurahan Legian. Desa Adat Legian pada mulanya sama dengan kebanyakan desa di Bali yaitu sebagai desa agraris. Secara geografis Desa Adat Legian terdiri dari sawah, tegalan, dan laut (pantai); selain hunian yang berkelompok di tengah, membujur ke arah Utara-Selatan.
Dengan adanya aktivitas pariwisata, yang mulai tampak pada awal 70-an, yang ditandai dengan berdirinya hotel dan

61 JURNAL PERMUKIMAN NATAH VOL. 1 NO. 2 JUNI 2003 : 52 - 108
penginapan-penginapan kecil, maka sampai dengan tahun awal 80-an terlihat perkembangan yang beragam, khususnya di bidang jenis pekerjaan masyarakat. Muncullah warung-warung yang diberi nama artshop atau shop, yang tumbuh di daerah-daerah pinggir jalan. Kemudian berkembang restaurant, bar, persewaan kendaraan, industri garment, dan lain sebagainya. Fasilitas-fasilitas ini makin memangsa lahan yang tadinya berupa tegalan, atau bagian dari pekarangan rumah. Makin lama, fasilitas kepariwisataan makin menjadi-jadi, dan volumenya sudah melebihi dari kawasan permukiman semula. Antara tahun 1980-1990 terjadi pertumbuhan fasilitas yang sangat pesat yang ikut mewarnai pola desa.
2. Pola Desa Adat Legian
Mengacu kepada uraian yang tersebut pada berbagai variasi tentang pola desa di Bali, pola Desa Adat Legian tergolong linear. Desa ini membujur arah Utara-Selatan, dengan batas di sebelah Utara adalah Desa Adat Seminyak, dan di sebelah Selatan adalah Desa Adat Kuta. Di sebelah Timur adalah sungai (Tukad Mati) dan persawahan, sedangkan di sebelah Barat adalah laut (Samudera Indonesia).
Gambar 1. Peta Desa Adat Legian
Dari gambar 1, dapat dikemukakan beberapa hal sebagai berikut :
a. Parahyangan (Kahyangan Tiga Kahyangan Desa)
Apabila dibandingkan dengan variasi-variasi tentang keberadaaan kahyangan tiga (kahyangan desa) seperti uraian sebelumnya, di Legian keadaannya sedikit berbeda. Kahyangan tiga (Pura Desa, Pura Puseh, dan Pura Dalem) masing-masing berada di lokasi tersendiri (tidak ada yang bergabung di suatu tempat). Dilihat dari tata nilai luan-teben (Utara-Selatan) terlihat bahwa Pura Desa terletak paling Utara di antara ketiga pura tersebut. Pura Puseh di tengah, dan Pura Dalem serta setra di teben (Selatan). Jadi, baik Pura Puseh maupun Pura Desa, tidak benar-benar terletak di luan wewidangan desa, melainkan di tengah-tengah. Sedangkan Pura Dalem terletak benar-benar di teben (di ujung Selatan wewidangan desa). Selain dari pada kahyangan tiga tersebut, masih ada beberapa pura yang termasuk kahyangan desa, yaitu Pura Agung dan Pura Penataran. Pura Agung terletak juga di tengah-tengah desa, di sebelah Utara Pura Desa. Dengan demikian Pura Agung menempati daerah paling luan dibandingkan dengan pura-pura kahyangan desa lainnya. Sedangkan Pura Penataran terletak di antara Pura Puseh dan Pura Dalem.
b. Pawongan
Fasilitas tempat tinggal penduduk Desa Adat Legian terletak di sepanjang desa yang membujur arah Utara Selatan. Adanya jalan utama yang terletak di tengah-tengah desa, merupakan poros yang kuat, menegaskan gambaran pola desa linear. Rumah-rumah penduduk merapat di pinggir jalan sepanjang desa. Rumah yang berada langsung di pinggir jalan semuanya manghadap ke jalan. Artinya memiliki akses langsung ke jalan dengan pemesuan berupa angkul-angkul atau kori. Sedangkan rumah-rumah di bagian belakang, menghadap ke rurung (gang). Gang tersebut berada di sebelah Selatan dari rumah tinggal dimaksud. Jadi semua pemesuan di gang berada di sisi Selatan dari masing-masing unit permukiman. Perlu diberi catatan di sini bahwa mungkin tidak tepat menyatakan bahwa rumah

62 DESA ADAT LEGIAN DITINJAU DARI POLA DESA TRADISIONAL BALI (NENGAH KEDDY SETIADA)
tinggal menghadap ke jalan, ke gang, dan lain sebagainya. Hal itu disebabkan karena rumah tinggal tradisional Bali berorientasi ke dalam (natah). Lagi pula bangunan tempat tinggal itu dikelilingi tembok penyengker yang mengelilingi pekarangan di keempat sisi. Jadi yang dimaksud menghadp ke suatu arah adalah mengenai penempatan pemesuan).
c. Palemahan
Yang diutarakan disini hanyalah palemahan desa, dan bukannya palemahan masing-masing rumah tinggal misalnya. Dari gambar, jelas terlihat bahwa palemahan Desa Adat Legian umumnya berupa tegalan yang terletak di belakang tempat tinggal penduduk. Baik yang di sebelah Barat jalan, maupun yang di sebelah Timur, tegalan merupakan palemahan yang keberadaannya terlihat dengan jelas. Sedangkan kuburan/setra terletak di daerah paling Selatan (teben) desa.
Gambar 2. Pola Desa Adat Legian
SIMPULAN
1. Permukiman di Bali sebagaimana yang terlihat pada satuan permukiman dalam satu desa adat, memiliki pola yang jelas. Pola-pola desa (dan permukiman) tersebut bervarias bentuknya.
2. Ciri-ciri fisik fisik yang mudah terlihat pada suatu desa adat, adalah adanya batas wilayah dan adanya parahyangan yang disebut kahyangan tiga atau kahyangan desa, yaitu Pura Puseh, Pura Desa dan Pura Dalem.
3. Batas-batas desa biasanya berupa elemen alami seperti sungai, jurang, laut, persawahan, perkebunan (tegalan) dan sebagainya.
4. Kahyangan tiga (kahyangan desa) bisa berada pada satu lokasi secara bersamaan. Banyak juga terdapat Pura Puseh dan Pura Desa bersatu di suatu lokasi. Sedangkan Pura Dalem berlokasi sendiri. Yang lainnya memiliki pura puseh, desa dan dalem yang lokasinya terpisah sendiri-sendiri.
5. Desa Adat Legian, dilihat dari pola desa, merupakan permukiman dengan pola desa linier, dengan sumbu utama berupa jalan raya (utama) yang membelah desa.
6. Batas-batas fisik Desa Adat Legian berupa sawah, tegalan, dan laut (elemen alami).
7. Desa Adat Legian memiliki kahyangan desa berupa 5 pura yaitu Pura Puseh, Pura Desa, Pura Dalem, Pura Agung, dan Pura Penataran. Semua pura tersebut berlokasi di tempat yang berbeda.
8. Keadaan yang dihadapi sekarang adalah bertambahnya bangunan fisik, sehingga pola desa yang asli makin sulit dikenali.
Pitana, I Gede (editor). 1994. Dinamika Masyarakat dan Kebudayaan Bali. Denpasar: Bali Post.
Putra, I.G.M. 1992. Pengetahuan Arsitektur Tradisional Bali. Denpasar: Diklat Kuliah Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Udayana.


3. SITUS-SITUS BUDAYA
3.1 Warisan Budaya
ada sebuah desa yang sangat unik dan menarik, kurang lebih 17 kilometer dari kawasan wisata Candidasa, Kabupaten Karangasem, Bali. Tenganan, demikian nama desa itu, atau biasa disebut Bali Aga (Bali asli). Menurut sejarah, masyarakat yang tinggal di Desa Tenganan ini adalah suku asli Bali yang tetap mempertahankan pola hidup tradisional sampai saat ini. Ketaatan masyarakat pada aturan tradisional desa yang diwariskan nenek moyang mereka secara turun temurun menjadi sebuah benteng kokoh dari pengaruh luar.
Dari kawasan yang damai dan bersahaja ini tersimpan sebuah talenta masyarakat yang luar biasa dalam membuat kain tenun. Kain tenun Gringsing, warisan budaya Bali Aga adalah karya kerajinan yang langka karena dibuat sangat rumit. Selain memerlukan waktu yang cukup lama dengan warna-warna yang alami dari tumbuhan, cara menenunnya pun berbeda dengan cara menenun kain pada umumnya.
Oleh masyarakat setempat dan orang umum, hasil tenunan dari Tenganan ini dinamakan kain tenun dobel ikat, dan merupakan satu-satunya di Indonesia serta salah satu dari tiga lokasi di dunia selain di Jepang dan India. Menenun kain geringsing dalam proses pembuatannya sangat rumit, karena dengan teknik double ikat yang memakan waktu cukup lama serta dengan bahan-bahan dasar dan bahan pewarnaannya berasal dan alamiah. Kain geringsing juga banyak diperlukan orang lain, karena dapat digunakan untuk keperluan. Upacara adat dan agama, mode show dan sebagainya.
Bahan Pewarna Benang Tenun Geringsing
Ada cerita yang menggambarkan bahwa warna merah dari tenun Geringsing bahannya adalah darah manusia. Ternyata cerita tersebut hanya merupakan cerita bohong belaka karena warna merah yang misterius itu tidak dibuat dari darah manusia.
Cerita itu sengaja dimunculkan mungkin merupakan usaha proteksi masyarakat Tenganan Pegeringsingan agar kain tenun Geringsing yang merupakan kebanggaan masyarakat Tenganan Pegeringsingan sukar ditiru atau tidak ditiru.
Adapun bahan-bahan warna alami dan tenun Geringsing itu adalah sebagai berikut:
1) Warna merah dibuat dari “babakan” (kelopak pohon) Kepundung putih dicampur dengan akar pohon Sunti.
2) Warna kuning dibuat dari minyak buah kemiri yang sudah berumur lama, kira-kira 1 tahun dicampur dengan air serbuk/abu kayu kemiri.
3) Warna hitam dibuat dari pohon Taum.
Ragam Jenis Tenun Gringsing
Konon dahulu, ragam jenis Tenun Geringsing ada 20 jenis. Namun kini yang masih dikerjakan hanya 14 jenis yaitu:
1) Geringsing Lubeng,
Motifnya bernama Lubeng. Kekhasannya adalah berisi kalajengking. Lubeng Luhur ukurannya paling panjang dengan 3 bunga berbentuk kalajengking yang masih utuh bentuknya. Sedangkan pada Lubeng Petang Dasa bunga kalajengkingnya utuh hanya satu di tengah sedang yang di pinggir hanya setengah-setengah. Sedang Lubeng Pat Likur adalah yang ukurannya terkecil. Fungsinya sebagai busana adat dan upacara agama.
2) Geringsing Sanan Empeg
Geringsing Sanan Empeg fungsinya hanya sebagai sarana upacara keagamaan dan adat, yaitu sebagai pelengkap sesajian bagi masyarakat Tenganan Pegeringsingan. Sedangkan bagi masyarakat Bali di luar desa Tenganan hanya dipergunakan sebagai penutup bantal/alas kepala orang melaksanakan upacara manusa yadnya potong gigi. Ciri khas dan motif Sanan Empeg adalah adanya tiga bentuk kotak-kotak/poleng berwarna merah dan hitam.
3) Geringsing Cecempakan
Geringsing Cecempakan bermotif bunga cempaka. jenisnya: Gringsing Cecempakan Petang Dasa (ukuran empat puluh). Geringsing Cecempakan Putri, Geringsing Cecempakan Pat Likur (ukuran 24 benang).
Fungsinya adalah sebagai busana adat dan upacara agama.
4) Geringsing Cemplong.
Motif Geringsing Cemplong adalah karena ada bunga-bunga besar diantara bunga-bunga kecil seolah-olah ada kekosongan/lobang-lobang diantara bunga itu menjadi kelihatan cemplong. Jenisnya : ukuran Pat Likur (24 benang), senteng/anteng (busana di pinggang wanita), sedangkan yang ukuran Petang Dasa (40 benang) sudah hampir punah. Fungsinya adalah sebagai busana adat dan upacara agama.
5) Geringsing Isi.
Pada Geringsing Isi ini sesuai namanya pada motifnya semua berisi atau penuh, tidak ada bagian kain yang kosong, ukuran yang ada hanya ukuran Pat Likur (24 benang) dan berfungsi hanya untuk sarana upacara, bukan untuk busana.
6) Geringsing Wayang.
Motifnya ada dua yaitu Geringsing Wayang Kebo dan Geringsing Wayang Putri.
Fungsi dan ukuran kedua kain ini sama yaitu untuk selendang, yang berbeda adalah motifnya. Pada Geringsing Wayang Kebo teledunya (Kalajengkingnya) bergandengan sedangkan pada Gringsing Wayang Putri lepas . Pada tenun Geringsing Wayang Kebo berisi motif wayang laki dan wanita. Sedangkan pada tenun Geringsing Wayang Putri hanya berisi motif Wayang Wanita.
7) Geringsing Batun Tuung.
Batun Tuung artinya biji terong. Dengan demikian pada Geringsing Batun Tuung motifnya penuh dengan biji-biji terong. Ukurannya tidak besar, untuk senteng (selendang) pada wanita dan untuk sabuk (ikat pinggang) tubumuhan bagi pria. Jenis Geringsing ini sudah hampir punah.






3.2 Rumah Adat
Rumah Adat
Rumah Bali yang sesuai dengan aturan Asta Kosala Kosali (bagian Weda yang mengatur tata letak ruangan dan bangunan, layaknya Feng Shui dalam Budaya China)
Menurut filosofi masyarakat Bali, kedinamisan dalam hidup akan tercapai apabila terwujudnya hubungan yang harmonis antara aspek pawongan, palemahan dan parahyangan. Untuk itu pembangunan sebuah rumah harus meliputi aspek-aspek tersebut atau yang biasa disebut Tri Hita Karana. Pawongan merupakan para penghuni rumah. Palemahan berarti harus ada hubungan yang baik antara penghuni rumah dan lingkungannya.
Pada umumnya bangunan atau arsitektur tradisional daerah Bali selalu dipenuhi hiasan, berupa ukiran, peralatan serta pemberian warna. Ragam hias tersebut mengandung arti tertentu sebagai ungkapan keindahan simbol-simbol dan penyampaian komunikasi. Bentuk-bentuk ragam hias dari jenis fauna juga berfungsi sebagai simbol-simbol ritual yang ditampilkan dalam patung.
3.3 Seni Pertunjukan
Tari
Seni tari Bali pada umumnya dapat dikatagorikan menjadi tiga kelompok, yaitu wali atau seni tari pertunjukan sakral, bebali atau seni tari pertunjukan untuk upacara dan juga untuk pengunjung dan balih-balihan atau seni tari untuk hiburan pengunjung.[7]
Pakar seni tari Bali I Made Bandem[8] pada awal tahun 1980-an pernah menggolongkan tari-tarian Bali tersebut; antara lain yang tergolong ke dalam wali misalnya Berutuk, Sang Hyang Dedari, Rejang dan Baris Gede, bebali antara lain ialah Gambuh, Topeng Pajegan dan Wayang Wong, sedangkan balih-balihan antara lain ialah Legong, Parwa, Arja, Prembon dan Joged serta berbagai koreografi tari modern lainnya.
Salah satu tarian yang sangat populer bagi para wisatawan ialah Tari Kecak. Sekitar tahun 1930-an, Wayan Limbak bekerja sama dengan pelukis Jerman Walter Spies menciptakan tari ini berdasarkan tradisi Sanghyang dan bagian-bagian kisah Ramayana. Wayan Limbak mempopulerkan tari ini saat berkeliling dunia bersama rombongan penari Bali-nya.


Penari belia sedang menarikan Tari Belibis, koreografi kontemporer karya Ni Luh Suasthi Bandem.


Pertunjukan Tari Kecak.
[sunting] Tarian wali
• Sang Hyang Dedari
• Sang Hyang Jaran
• Tari Rejang
• Tari Baris
• Tari Janger
[sunting] Tarian bebali
• Tari Topeng
• Gambuh
[sunting] Tarian balih-balihan
• Tari Legong
• Arja
• Joged Bumbung
• Drama Gong
• Barong
• Tari Pendet
• Tari Kecak
• Calon Arang
[sunting] Pakaian daerah
Pakaian daerah Bali sesungguhnya sangat bervariasi, meskipun secara selintas kelihatannya sama. Masing-masing daerah di Bali mempunyai ciri khas simbolik dan ornamen, berdasarkan kegiatan/upacara, jenis kelamin dan umur penggunanya. Status sosial dan ekonomi seseorang dapat diketahui berdasarkan corak busana dan ornamen perhiasan yang dipakainya.

Pria


Anak-anak Ubud mengenakan udeng, kemeja putih dan kain.
Busana tradisional pria umumnya terdiri dari:
• Udeng (ikat kepala)
• Kain kampuh
• Umpal (selendang pengikat)
• Kain wastra (kemben)
• Sabuk
• Keris
• Beragam ornamen perhiasan
Sering pula dikenakan baju kemeja, jas dan alas kaki sebagai pelengkap.
[sunting] Wanita


Para penari cilik mengenakan gelung, songket dan kain prada.
Busana tradisional wanita umumnya terdiri dari:
• Gelung (sanggul)
• Sesenteng (kemben songket)
• Kain wastra
• Sabuk prada (stagen), membelit pinggul dan dada
• Selendang songket bahu ke bawah
• Kain tapih atau sinjang, di sebelah dalam
• Beragam ornamen perhiasan
Sering pula dikenakan kebaya, kain penutup dada, dan alas kaki sebagai pelengkap.

3.4 Seni Plastis
Abstrak penelitian
Pada mulanya seni patung Bali berfungsi sebagai sarana ritual pemujaan dalam bentuk simbol perwujudan roh leluhur, dewa, Tuhan, dengan segala manifestasinya yang bersifat sakral. Jenis-jenis patung perwujudan tersebut di Bali sering disebut pratima ,arca, petapakan dan pralingga. Pembaharuan yang sangat gemilang dalam seni patung Bali terjadi setelah adanya kontak langsung seniman lokan dengan sniman asing (Barat), sehingga melahirkan bentuk-bentuk baru yang cendrung realis, naturalis dan surealis yang menggunakan meterial kayu kemudian berkembang pesat di Desa Mas, Kemenuh dan Desa Peliatan, dengan tokoh=tokoh pematungnya antara lain Ida bagus Nyana, Ida Bagus Tilem, I Ketut Tulak, I Wayan Ayun, Pande Wayan Neka, I Nyoman Togog dan I Wayan Winten.
Seni patung dengan meterial baton yang berkembang dewasa ini di Desa Peliatan keberadaannya tidak terlepas dari seni patung kayu yang sudah ada sebelumnya, karean para pematung yang menekuni seni patung beton tersebut rata-rata sudah berpengalaman dalam bidang seni patung kayu, seperti halnya I Wayan Winten. Sebagai pematung yang hidup dalam lingkungan masyarakat dengan nilai-nilai budaya serta potensi seni yang menonjol, dan didukung oleh latar belakang pendidikan seni secara akademis yakni SMSR Denpasar dan PPGK Yogyakarta, menjadikannya sebagai seniman yang kreatif dan memiliki wawasan yang luas tentang kesenian khususnya seni patung. Hal ini sangant menarik dikaji dengan menerapkan berbagai metode pendekatan antara lain : metode obsevasi, yaitu melalui pengamatan langsung ke lapangan untuk mengetahui perkembangan seni patung beton di Desa Peliatan baik dilihat dari segi kuantitas pematung, bentuk karya, fungsi maupun maknanya bagi masyarakat. Selain itu juga dilakukan pengamatan mengenai p[roses penciptaan seni patung beton mulai dari membuat maket (miniatur) sampai terwujudnya karya seni patung itu sendiri. Metode wawancara dilakukan mulai dari I Wayan Winten sebagai informasi kunci, dan pelopor pematung beton yang ada di Desa
Peliatan, kemudian baru para pematung beton lainnya yang dianggap bisa memberikan informasi yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. Metode kepustakaan, dilakukan dengan menelaah sejumlah pustaka yang ada kaitannya dengan keberadaan seni patung Bali, yang terkait dengan perkembangan seni patung beton di Desa Peliatan. Sementara itu, metode doklumentasi, yaitu pengumpulan data melalui bukti-bukti tertulis yakni berupa bku monografi Desa Peliatan, katalog pameran dan foto-foto karya seni patung.
Berdasarkan data yang telah diperoleh sesuai dengan kebutuhan penelitian ini maka dapatlah dijelaskan bahwa proses penciptaan seni patung beton yang ada di Dsa Peliatan melalui tahapan-tahapan sebagai berikut :
(1) pembutan gambar sketsa,
(2) pembuatan maket (miniatur), )
3) pembentukan konstruksi rangka patung,
(4) pengecoran rangka patung,
(5) tahap pembentukan,
(6) penyelesaian bentuk dan desain hiasan.
Perkembangan seni patung beton yang ada di Dsa Peliatan tidak terlepas dari pengaruh sosok I Wayan Winten yang sudah menekuni seni patung dengan material beton dimulai sejak tahun 1992 yakni membuat patung penari, yang menghiasi pertigaa Br. Teges Desa Peliatan. Tahun 1994 mambuat patung Satria Gatot Kaca yang ada di Kuta. Tahun 1995 membuat patung Dewa Wisnu, Garuda, Kalarau dan Dewai Ratih yang menhiasi Taman Ciung Wanara Kota Gainyar. Tahun 1995 membuat patung Dewa Indra di pertigaan Tegal Tugu Gianyar. Tahun 1995 membuat patung Dewi Natha yang menghiasi pertigaan Semabaung Gianyar. Tahun 1996 membuat patung Kapten Mudita di Kota Bangli. Tahun 1996 membuat patung Dewa Ruci di Simpang Siur Kuta. Tahun 2002 membuat patung Betara Tiga di pertigaan Manguntur Batubulan. Tahun 2003 membuat patung Sutasoma di pertigaan Ubud, dan sejumlah karya patung beton lainnya tidak hanya di Bali, akan tetapi juga di luar Bali. Ketenaran sosok pematung I Wayan Winten membuat generasi muda banyak yang tertarik untuk belajar seni patung dengannya, baik lewat pendidikan non formal maupun formal, karena Wayan Winten disamping sebagai seniman, juga sebagai seorang guru di SMSR, yang kini adalah SMKN I Sukawati. Mantan murid-muridnya yang sampai kini menekuni seni patung beton antara lain : Komang Labda, asal
Karangasem yang saat ini menmpati studionya di Jalan Dewi Candra Batubulan. I Ketut Suardana asal Banjar Tengah Peliatan, membuka studio patung di rumahnya sendiri, di Jalan Raya Peliatan, I Wayan Sedan Suputra, asal banjar Kalah Peliatan, kini membuka studio di Jalan Raya Kengetan Ubud. I Wayan Winarta, asal Desa Batuan, membuat studio patung di Jalan raya Batuan, I Nyoman Purna, asal Banjar Tengah Peliatan saat ini membuat studio patung di Jalan Raya Pengosekan Ubud. Sedangkan Kadek Artika, asal Banjar Tengah Peliatan kini membuka studio patung di jalan Kengetan Singakerta Ubud. Perkembangan seni patung beton di Desa Peliatan tidak hanya bisa dilihat dari kuantitas pematungnya, akan tetapi juga perkembangan bentuk karya, fungsi maupun maknanya bagi masyarakat. Dilihat dari segi bentuk yang merupakan hasil aktivitas baik individu maupun kelompok, dan entitas yang dihasilkan bersifat kongkret, terwujud lewat karya-karya patung beton yang bergaya realis, naturalis dan abstrak.
Sementara itu, tema yang diangkat tidak hanya-hanya tema-tema pewayangan seperti Ramayana, Mahabrata, mitologi Hindu dan tantri, akan tetapi juga kehidupan sehari-hari (kehidupan sosial), sehingga hadir karya patung beton yang sangat variatif. Dilihat darisegi fungsi, kehadiran seni patung beton di Desa Peliatan tidak hnay untuk kepentingan ritual pemujaan yang terwujud dalam bentuk simbol-simbol keagamaan, melainkan juga berkembang ke fungsi estetis dekoratif yakni sebagai elemen penghias taman kota, tempat rekreasi, kantor pemerintahan, hotel museum, rumah hunian dan sebagainya. Sdangkan kalau dilihat darisegi makna telah mengalami perkembangan tidak hanya makna keindhan akan tetapi juga makna pembaharuan dan kesejahteraan. Oleh karena karya yang terwujud memilik nilai keindaha, nilai inovasi (pembaharuan), yakni memiliki perbedaan dengan karya-karya patung yang ada sebelumnya, dan kehadiran karya tersebut mampu meningkatkan taraf kesejahteraan senimannya dan juga masyarakat pendukungnya.




3.5 Seni Lukis
Seni Lukis Bali Dari Perspektif Modernisasi
I Dewa Putu Merta

Abstract: One of the strategic attitudes toward development, in order to increase its
improvement by arrangement of comprehensive planning, by considering potency as multi
sector development concept is the development of art that is taken for consideration. The
development of art in Bali nowadays is closely related to the historic movement of Indonesian
art, pioneering era Raden Saleh (1807-1880), Hindia Jelita era (1908-1937), and Pita Maha era
(1930s). In the Pita Maha era, there occurred a combinatioan between the modern west
esthetic and classical Bali esthetic that based on Hindu religion. The modern esthetic was
brought to Bali by western artist R. Bonnet and W. Spiese, merging with the classical esthetic
which bearing aperiod of art in Bali that is known as Seni Lukis Bali Modern (Bali Modern Art
Painting) The period is also the beginning of Modern Art in Bali. Academic movement in the
field of art exist in 1950 is an attitude toward renewal expansion within expression. During the
orde baru government in 1966, various styles of modern art come into elaboration, moreover
by the graduations of many academic artists.
Keywords: Seni lukis Bali and modernisasi
Salah satu kebijakan strategis untuk mempercepat pembangunan dengan menyusun suatu
perencanaan yang terpadu dan konprehensif dengan melibatkan seluruh unsur pelaku
pembangunan dan mempertimbangkan potensi yang ada sehingga terwujud pembangunan yang
multi sektor. Salah satunya pembangunan di bidang seni budaya, termasuk didalamnya adalah
seni rupa.
Seni Rupa yang berkembang ditengah masyarakat Bali masa ini, tidak terlepas dari
perjalanan seni rupa Indonesia. Seni rupa modern hadir dalam masyarakat Indonesia sekarang,
sesungguhnya telah dimulai sejak masa perintisan Raden Saleh (1807-1880) yang melukiskan
sesuatu dengan wujud kehadirannya bercorak realistis. R. Saleh sebagai pelopor seni rupa
Indonesia yang pernah belajar seni lukis di Eropa pertama kali mengembangkan teknik melukis
modern di Indonesia (Kusnadi, 1990-199:156).
Perkembangan selanjutnya berselang setengah abad setelah R. Saleh meninggal baru
disusul masa Hindia Jelita (Hindie Molek) tahun 1908-1937. Para seniman memandang gejala
yang ada disekelilingnya dari sudut yang indah, molek, cantik dan permai, seperti gunung, laut,
sawah, ladang, kampung, sungai, fauna dan flora, dan manusia terutama gadis-gadis yang cantik
(Ibid. p. 60). Pelukis yang ada masa itu terbagi dua: yaitu kelompok pelukis peribumi dan
kelompok pelukis asing yang digandeng oleh penjajah kolonial Belanda. Antara pelukis peribumi
dengan pelukis asing sama-sama melukis tentang keindahan alam Indonesia.
Pada masa itu juga Rudolf Bonnet dan Walter Spies datang ke Bali. R. Bonnet dan W.
Spies adalah seniman asing yang menaruh perhatian sangat besar terhadap kesenirupaan di Bali.
Mereka membentuk perkumpulan yang melibatkan seniman, masyarakat, pemuka desa, dan
budayawan melalui pendekatan dan musyawarah dengan berbagai kalangan terutama pihak
penguasa Puri Ubud, akhirnya perkumpulan terbentuk pada tahun 1930-an dengan nama “ Pita
Maha” (Ibid. p. 255). “Pita” artinya luhur dan “Maha” artinya agung, jadi Pita Maha berarti
ikatan seniman yang “luhur dan agung. Maksud dan tujuannya adalah untuk memajukan dan
mengembangkan nilai-nilai luhur hasil karya seni dan mengangkat kesejahtraan para senimannya.
Pita Maha menjadi wadah para seniman Bali untuk mengembangkan kreativitasnya. Perpaduan
estetika modern Barat dengan estetika klasik Bali yang berlandaskan ajaran agama Hindu.
Estetika modern dibawa oleh seniman Barat R. Bonnet dan W. Speis bercampur dengan estetika
klasik yang dibawa para seniman Bali. Perpaduan dua estetika ini melahirkan mazab baru dalam
kesenirupaan di Bali yang disebut Seni Lukis Bali Modern (Murdana, 2001:4).Gaya ini
memperhatikan anatomi realistis untuk mengungkapkan kehidupan sehari-hari masyarakat tanpa
meninggalkan ciri seni lukis tradisional Bali. Masa ini merupakan tonggak awal pertumbuhan
seni rupa modern di Bali ditandai dengan perubahan tema, corak, kebebasan ekspresi, dan bersifat
sekuler.
Seputar tahun 1950-an muncul gerakan akademis dalam seni rupa. Hal ini muncul dari
aspirasi dan pemikiran para angkatan muda yang ingin penyegaran dalam bentuk karya seni.
Pemikiran dan aspirasi tersebut melahir gagasan untuk mendirikan sekolah-sekolah seni. Tahun
1950 lahirkan beberapa sekolah tinggi seni di Indonesia seperti seni rupa di ITB, ASRI
Yogyakarta, dan selanjutnya disusul oleh seni rupa di Denpasar, IKJ yang ikut memberikan andil
dalam pertumbuhan seni rupa modern di Bali. Konsepsi kesenirupaan mulai dengan jelas
dirumuskan secara verbal dalam bentuk buku-buku yang tertulis pada katalog.
Perjalanan seni rupa tidak berjalan mulus walaupun negara Indonesia sudah merdeka. Pada
tahun 1965 saat pemerintahan orda lama kegiatan kreativitas seniman sempat terpecah dan
mandeg. Seniman tidak masih konsentrasi pada kreativitas seni untuk kepribadian, tapi perhatian
seniman terbagi untuk kepentingan politik yang sedang bergolak.
Pemerintahan orde baru tahun 1966, dengan kebijakan program pembangunan dalam
berbagai sektor, maka seniman Indonesia mulai mendapatkan kebebasan untuk kreativitas.
Termasuk pertumbuhan seni rupa Bali juga bangkit lebih-lebih didukung oleh kebijakan program
pemerintah, daerah Bali dicanangkan sebagai daerah pariwisata di kawasan Indonesia bagian
timur. Sejalan dengan program tersebut pemilik modal mulai menanamkan modalnya di Bali
untuk mendukung pembangunan sektor pariwisata. Para pemilik modal juga menanamkan
modalnya dalam bidang seni, sehingga muncul art shop dan gallery untuk menampung hasil
kreativitas para perupa. Berbagai aliran dalam seni rupa modern berkembang, lebih-lebih dengan
banyaknya lahir para perupa-perupa jebolan akademis menambah semaraknya modernisasi seni
rupa. Melihat dari paparan diatas, dalam pembahasannya akan menekankan pada: kapan terjadi
modernisasi seni lukis Bali dan bagaimana bentuk-bentuk karya seni lukis Bali setelah terjadi
modernisasi tersebut.
MODERNISASI SENI LUKIS PITA MAHA
Pada tahun 1930-an merupakan awal modernisasi seni rupa di Bali. Yang mana sebelumnya
berkembang seni lukis klasik yang berpusat di daerah Kamasan Klungkung. Seni lukis ini
berbentuk wayang dengan mengambil tema secara umum dari cerita Mahabrata dan Ramayana.
Fungsinya untuk menghias tempat suci atau pura dan juga sebagai sarana upacara seperti ulon
(hiasan dinding), bendera (kober), umbul-umbul dan lain-lain.
Kemudian pada masa itu Rudolf Bonnet dan Walter Spies datang ke Bali. Rudolf Bonnet
dan Walter Spies adalah seniman asing yang menaruh perhatian sangat besar terhadap bentuk
perkembangan kesenirupaan di Bali. Salah satu cara mereka dengan membentuk perkumpulan
yang melibatkan seniman, masyarakat, pemuka desa, dan budayawan. Setelah mengadakan
pendekatan dan musyawarah dengan berbagai kalangan terutama pihak penguasa Puri Ubud,
akhirnya perkumpulan bisa terbentuk pada tahun 1930-an yang kemudian diberi nama “Pita
Maha”. Maksud dan tujuannya adalah untuk memajukan dan mengembangkan nilai-nilai luhur
hasil karya seni dan mengangkat kesejahtraan para senimannya. Pita Maha menjadi wadah para
seniman Bali untuk mengembangkan kreativitasnya. Wadah ini sebagai tempat berinteraksi antara
perupa Bali dengan perupa asing sehingga terjadilah percampuran dua unsur budaya yang
berbeda.
Koentjaraningrat menjelaskan, terjadinya percampuran dua unsur kebudayan tertentu
dihadapkan dengan unsur-unsur kebudayaan asing, sehingga lambat laun diterima dan diolah
kedalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu sendiri
(Koentjaraningrat, 1990:248).
Perpaduan antara estetika modern arah Barat dengan estetika klasik Bali yang berlandaskan
ajaran agama Hindu. Estetika modern dibawa oleh seniman Barat R. Bonnet dan W. Speise
bercampur dengan estetika klasik yang dibawa oleh para seniman Bali. Perpaduan dua estetika ini
melahirkan mazab baru dalam keseni-rupaan di Bali yang disebut Seni Lukis Bali Modern.
Gaya seni lukis ini memperhatikan anatomi realistis untuk mengungkapkan kehidupan
sehari-hari masyarakat Bali dalam bentuk gaya baru dalam melukis tanpa meninggalkan ciri seni
lukis tradisional Bali. Gaya seni lukis ini merupakan tonggak awal per-tumbuhan seni lukis
modern di Bali. Modernisasi seni lukis Bali ditandai dengan perubahan tema, corak, kebebasan
ekspresi, dan bersifat sekuler. Seni lukis Bali modern dalam proses perwujudan-nya tetap
mempertimbangkan kekuatan lokal sebagai landasan berpijak. Meminjam teori pembangunan,
bahwa konsep yang dilaksanakan semesti disesuaikan dengan struktur sosial dan kebudayaan
lokal, apa yang dilaksanakan merupakan kebutuhan dari masyarakat tersebut. I Ketut Nehen
menjelaskan, bahwa sektor modern akan dapat berkembang dengan baik bila sektor tersebut
diadaptasikan dengan struktur sosial dan kebudayaan lokal, termasuk pola pelaksanaan kegiatan
religius masyarakat (Nehen, 1994:20). Melihat kenyataan dilapangan, apa yang dilaksanakan
oleh R. Bonnet dan W. Speise sangat memperhatikan faktor kekuatan lokal yang dimiliki oleh
Bali saat itu. Kekuatan lokal yang terletak pada kekuatan bentuk seni lukis wayang tidak
diabaikan, dan dipadukan dengan unsur-unsur seni lukis dan estetika Barat. Hal ini terlihat pada
karya seni lukisnya I Gst Ketut Kobot yang tetap melukis dengan tema wayang, namun unsurunsur
realis mulai dipertimbangkan pada masing-masing tokoh yang diwujudkan. Bentuk-bentuk
plastisitas anatomi pada tokoh wayang sangat tampak. Perspektif yang diterapkan merupakan
perpaduan antara perspektif heirarki dengan perspektif seni lukis modern. I Gusti Ketut Kobot
dalam penempatan tokoh pada karyanya tetap mempertimbangkan secara hirarki. Salah satunya
tokoh penakawan selalu ditempatkan paling bawah dan tokoh dewa paling atas. Modernisasi seni
lukis ini juga telah terjadi pada seni lukis gaya Batuan. Dalam seni lukis gaya Batuan nampak
sangat berbeda cara ungkapnya dengan seni lukis gaya ubud, walaupun sama-sama berangkat dari
seni lukis wayang. Seni lukis gaya Batuan tampak lebih rumit dan dalam sebuah karya dilukiskan
berbagai bentuk kegiatan kehidupan sosial masyarakat yang mencerminkan kekinian. Seperti
yang terdapat pada karya seni lukis I Rajin, disana diungkapkan seorang touris asing sedang
menonton upacara ngaben sambil membidikkan kameranya pada bade (pengusungan mayat).
Selain itu I Rajin pula mempertimbangkan perspektif dalam berkarya dengan membedakan
bentuk obyek yang jauh dan dekat. Perspektif yang paling kentara terlihat pada latar belakang
karyanya. Warna yang jauh diungkapkan dengan lebih ringan dan yang dekat lebih gelap. Obyek
yang dekat diungkapkan lebih besar sedangkan yang jauh dibuat lebih kecil dan agak kabur.
Terkait dengan perspektif, pada karyanya almarhum A.A Gde Sobrat yang berjudul “Pasar
Tradisional Bali”, beliau menampilkan dua tokoh laki perempuan diungkapkan bentuknya paling
besar didepan dan ditonjolkan sebagai pokus dalam karya tersebut, sedangkan bentuk-bentuk
manusia dalam pasar yang lain sebagai latar belakang dibuat lebih kecil dan agak kabur. Pada
seni lukis Sobrat terlihat terjadi perpaduan antara estetika klasik dengan modern Barat yang
dibawa oleh R. Bonnet dan W. Spiece. Penerapan plastisitas anatomi pada karyanya tanpa
meninggalkan bentuk-bentuk tradisi yang dimiliki sebelumnya. Gaya seni lukis ini tetap
berkembang di wilayahnya masing-masing sampai saat ini, walaupun di luar itu telah bermunculan
seni lukis modern.
Modernisasi Seni lukis Modern Figuratif
Seputar tahun 1950-an gerakan akademis dalam seni rupa muncul. Gerakan akademis ini
bukan berarti seniman-seniman jebolan akademis saja, namun juga para seniman yang memiliki
pemikiran sistimatis dalam proses berkarya. Modernisasi dalam bidang kesenian merupakan
cerminan dalam usaha untuk pembaharuan, mencari kemungkinan-kemungkinan baru dalam
penjelajahan melalui ekspresi. Hal ini muncul dari aspirasi dan pemikiran para angkatan muda
yang ingin penyegaran dalam bentuk karya seni. Dalam teori modernisasi dijelaskan, bahwa cara
pandang (visi) yang menjadi modus utama analisisnya kepada faktor manusia dalam masyarakat.
Modernisasi menjadi semacam komoditi dikalangan masyarakat yang menempatkan faktor
mentalitas perubahan. Maka modernisasi tidak lepas dari keberadaan ilmu pengetahuan dan
teknologi (Salim, 2002:67).
Terkait dengan teori modernisasi tersebut, pemikiran dan aspirasi lahir dengan gagasan
untuk mendirikan sekolah-sekolah seni. Dengan munculnya gagasan penyegaran tersebut lahir
beberapa sekolah tinggi seni di Indonesia. Seperti seni rupa di Bandung lahir Balai Pendidikan
Guru Gambar, masuk Fakultas Teknik Universitas Indonesia, yang kemudian tahun 1950 menjadi
salah satu bagian (jurusan) pada Institut Teknologi Bandung. Di Yogyakarta lahir “Akademi Seni
Rupa Indonesia” (ASRI), yang sebelumnya merupakan kursus Guru Menggambar. Kemudian sewaktu
ASRI diresmikan pada tahun 1950 lebur menjadi Jurusan Guru Gambar ASRI Yogyakarta
(Kartika, 2004:157-158).
Selanjutnya disusul oleh Jurusan Seni Rupa Fakultas Teknik Universitas Udayana
Denpasar yang ikut memberikan andil dalam pertumbuhan seni rupa modern di Bali. Kesadaran
ilmiah tercermin dalam proses penciptaan karya seninya. Konsepsi kesenirupaan mulai dengan
jelas dirumuskan secara verbal dalam bentuk buku-buku yang tertulis pada katalog. Dari sini pula
memperkuat lahirnya pemikiran-pemikiran ilmiah dibidang seni lukis. Konsep-konsep seni lukis
modern makin semarak dikembangkan yang awali dengan lahirnya seni lukis modern figuratif
yang masih tetap berkembang dan dilanjutkan oleh para pelukis-pelukis muda saat ini.
Pelukis Dewa Nyoman Batuan yang memiliki latar belakang seni lukis tradisi
mengekspresikannya dalam gaya modern dekoratif yang tetap menampilkan figur sebagai wujud
ekspresi pada karyanya yang berjudul “Buta ya-Dewa ya”, adalah kekuatan atau energi dan
kesucian yang selalu ada, tidak bisa terpisahkan bagaikan pisau bermata dua. “Buta ya–Dewa ya”
diwujudkan dengan mengkomposisikan satu buah lingkaran ditengah sebagai pusat dan
dikelilingi oleh delapan lingkaran opal di penjuru mata angin. Warna lingkaran di sesuai dengan
warna pengider Bhuana lengkap dengan simbol sastra dan senjatanya. Warna-warna pengider
Bhuana yang dituangkan dalam karyanya merupakan abstraksi dari simbol kekuatan
keseimbangan dunia (kosmos). Seni lukis modern figuratif ini berjalan sampai sekarang seiring
dengan munculnya konsep seni lukis abstrak murni yang benar-benar meninggalkan bentuk atau
bebas tanpa terikat lagi oleh bentuk.
Modernisasi Seni lukis Abstrak
Setalah pemerintahan orde baru tahun 1966, Seiring dengan kebijakan pencanangan
program pembangunan pemerintah Indonesia dalam berbagai sektor, masa ini para seniman mulai
mendapatkan kebebasan untuk berkreativitas. Termasuk pertumbuhan seni rupa Bali juga bangkit
lebih-lebih didukung oleh kebijakan program pemerintah, daerah Bali yang mencanangkan
sebagai daerah pariwisata di kawasan Indonesia bagian timur. Sejalan dengan program
pembangunan Bali sebagai daerah pariwisata, maka para pemilik modal mulai menanamkan
modalnya di daerah Bali untuk mendukung pembangunan sektor pariwisata.
Para pemilik modal juga menanamkan modalnya dalam bidang seni, sehingga muncul
bisnis dibidang seni rupa seperti art shop dan gallery di Bali yang menampung hasil kreativitas
para perupa. Art shop dan gallery berkembang dan bermunculan bagaikan jamur di musim hujan.
Modernisasi dan pembangunan pertumbuhan ekonomi dibangun diatas landasan kapitalisme.
Weber menjelaskan, semangat untuk bergerak dalam kapitalisme modern harus memiliki
dorongan ekonomi yang lebih kuat. Dalam perwujudannya harus memiliki gagasan-gagasan
mengenai kehidupan ekonomi yang rasionalistis. Rasionalisme digunakan untuk menggambarkan
suatu sistem ekonomi yang tidak didasarkan pada kebiasaan dan tradisi namun dengan
penyesuaian sarana-sarana ekonomi yang sistimatis dan cermat menuju pencapaian dari tujuan
dalam rangka memperoleh profit (Weber, 2001:7-8).
Terkait dengan hal itu, untuk mencapai pertumbuhan ekonomi melalui modernisasi
dibidang seni rupa, hal-hal yang bersifat tradisi tidak mesti ditinggalkan, apalagi kekuatan seni
rupa di Bali pada tradisi. Nilai-nilai tradisi ini justru perlu dikembangkan sebagai pondasi seni
lukis modern di Bali. Potensi ini dikembangkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi kita.
Seperti yang dijelaskan oleh Weber diatas memang ada benarnya. Apabila ingin mencapai
kemajuan kehidupan ekonomi, semangat pergerakan modern mesti memiliki dorongan ekonomi
yang lebih kuat, memiliki gagasan-gagasan kehidupan ekonomi yang rasionalistis, untuk menggambarkan
sistem ekonomi dengan penyesuaian sarana-sarana ekonomi yang sistimatis dan
cermat. Namun faktor-faktor yang bersifat tradisi tidak perlu dilupakan atau jangan dipandang
sebagai penghambat. Karena tidak semua hal-hal yang bersifat tradisi di suatu negara atau
wilayah belum tentu sebagai faktor penghambat ekonomi. Bahkan hal tersebut bisa dimanfaatkan
sebagai kekuatan pendorong. Dan tidak semua negara akan dapat mengikuti pergerakan kapitalis
modern yang menginginkan perubahan cepat. A. Comte menggambarkan, masyarakat akan
berkembang dari masyarakat sederhana (primitif) menuju masyarakat modern (complex) dan
memerlukan proses waktu jangka panjang (Fakih, 2000:48)
Hal-hal yang bersifat tradisi dalam seni rupa Bali justru menjadi kekuatan lokal dalam
pengembangan seni lukis di Bali, walaupun akan dikembangkan ke dalam seni lukis abstrak. Di
dalam ajaran agama Hindu di Bali ada yang dikenal dengan konsep “rwa bhineda” artinya dua
hal yang berbeda, seperti hitam-putih, naik-turun, laki-perempuan, ibu-bapak atau lingga-yoni,
kaja-kelod (utara-selatan). Apabila dikaitkan dengan konsep minimalis seni lukis abstrak di Barat,
rwa bhineda ini merupakan konsep minimalis lokal yang bersifat universal. Wayan Karja
menjelaskan dalam penelitiannya, posisi dualisme, falsafah rwabinedha sebagai falsafah lokal
Bali disimbolkan dengan hitam-putih, garis vertical-horizontal, gelap-terang, warna panas-warna
dingin (Karja, 2003:76). Spirit falsafah rwabinedha dituangkan dalam seni lukis abstrak,
diantaranya dapat dilihat pada karyanya I Wayan Sika dengan judul “ Poleng”, nilai-nilai
rwabinedha tersebut diwujudkan dengan kombinasi warna hitam dan putih.
Dengan kemajuan pendidikan dan intelektual akan dapat mendorong lahirnya perupaperupa
muda akademis menambah semaraknya modernisasi seni lukis, dapat mendorong berkembangnya
berbagai aliran dalam seni lukis modern di tanah air. Di balik semaraknya
pertumbuhan dan modernisasi seni lukis di Bali, para perupa tidak berdaya untuk menghadapi
kekuatan dan jeratan para pemilik modal (art shop, dan gallery) yang malakukan bisnisnya
dibidang seni rupa. Dominasi para pemilik modal terhadap seniman atau pelaku seni sangat
menonjol. Hal ini banyak terjadi dilapangan, namun masih samar-samar kelihatan dari
permukaan bahkan seperti tidak ada. Para pemilik modal lebih banyak menekankan pada
keuntungan yang besar terhadap per-usahaannya. Ketimpangan ekonomi terjadi antara seniman
dengan pemilik modal. Nilai kreativitas seniman dengan nilai ekonomi yang diterima tidak
seimbang. Kesenjangan terjadi bukan saja pada tataran ekonomi, kesenjangan yang muncul pada
tingkat perubahan sosial di masyarakat. Konsep pembangunan selalu bergandengan secara serasi
dengan konsep modernisasi. Pimikiran modernisasi memang penekanannya adalah pada
kemajuan ekonomi yang orientasinya metrialis.
Dalam sistem kapitalis yang menjadi ideologinya adalah keuntungan yang besar. Menurut
Marx, implikasi dari konsep Historical Matrialism adalah melihat economic structure sebagai
awal dari kegiatan manusia. Economic Structure adalah penggerak perubahan yang akan
memimpin perubahan termasuk perubahan sosial (Salim, op. cit. p. 30).
Implikasi pergerakan perubahan dialami oleh para seniman yang mulai terjerat oleh
cengkraman art shop dan gallery sebagai pemegang struktur ekonomi, yang pada ujung-ujungnya
akan bisa menurunkan kualitas karya dan semangat kreativitas. Kadang-kadang para seniman
hanya berfungsi sebagai pekerja, karena kadang-kadang disain karya yang akan dibuat sudah
disediakan oleh pemiliki modal. Selain itu harga karya telah ditentukan sendiri oleh pemiliki
modal dengan tidak memberikan kesempatan pada seniman untuk menawarkan harga sesuai
dengan kualitas karyanya. Hal ini pula membawa perubahan status sosial yang terjadi dikalangan
masyarakat, khususnya masyarakat seniman dengan pemodal. Hubungan yang terjadi disini
adalah hubungan dominasi, hubungan kekuasaan antara pemilik modal dengan perupa. Pemodal
berperan sebagai pemegang dominasi, pemegang kekuasaan atau menghegomoni, sedangkan
perupa selalu dipihak dikuasai dan terdominasi atau terhegomoni.
SIMPULAN
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa, modernisasi seni rupa di Bali telah dimulai
sejak tahun 1930-an melalui perpaduan antara estetika Barat dengan estetika klasik Bali yang
melahirkan mazab baru disebut dengan seni lukis Bali modern. Mulai saat itu sebagai titik awal
pertumbuhan seni rupa modern di Bali, dan kemudian didukung oleh perkambangan ilmu
pengetahuan seni rupa dengan banyaknya berdiri sekolah-sekolah tinggi seni yang melahirkan
pemikiran ilmiah dan konsepsi seni rupa modern membawa penyegaran dalam kreativitas dengan
berbagai gaya dalam seni lukis dari modern figuratif sampai abstrak murni. Disamping itu
didukung pula oleh program pembangunan yang mencanangkan Bali sebagai daerah pariwisata
Indonesia bangian timur, sehingga banyak menarik minat penanam modal yang dapat
memudahkan dalam pemasaran hasil karya seni para seniman.
DAFTAR RUJUKAN
Fakih, Manssour. 2000. Menolak Pembangunanisme. Pustaka Pelajar
Karja, I Wayan. 2003. Seni Lukis Abstrak Sebuah Transformasi Konsep Kosmologi. Hasil
penelitian, Denpasar: STSI Denpasar.
Kartika, Dhasono Sony. 2004. Seni Rupa Modern. Bandung: Rekayasa Sains.
Koentjaraningrat. 1990. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.
Kusnadi. 1990-1991. Seni Rupa Indonesia Di Masa Perintisan. Tim KIAS, dalam Perjalanan
Seni Rupa Indonesia Dari Zaman Prasejarah Hingga Masa Kini. Panitia Pameran KIAS.
Nehen, I Ketut, Pitana. 1994. Transformasi Ekonomi Bali: Loncatan Dari Masyarakat Primer ke
Masyarakat Tersier. I Gde (ED.), dalam Dinamika Masyarakat Dan Kebudayaan Bali.
Denpasar: BP.
Salim, Agus. 2002. Perubahan Sosial Sketsa Teori Refleksi Metodologi Kasus Indonesia.
Yogyakarta: Tiara Wecana Yogya.
Simon, Roger. 2000. Gagasan-Gagasan Politik Gramsci. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Weber, Max. 2001. Etika Protestan Dan Semangat Kapitalisme. Jakarta: Pustaka Promethea.
Murdana, I Ketut. 2001. Nilai-Nilai Estetik Seni Lukis Bali Modern, Program Seni Rupa Murni
Program Pascasarjana Institut Teknologi Bandung.

Kompas, 8 November 2010, Setiap kali menyebut nama Belitung tidak sedikit orang selalu bertanya, mana yang benar Belitung atau Belitong? Reaksi yang sama juga ketika disebut Belitong, Sikap ini wajar sebab selama ini kedua nama itu yang selalu terucapkan orang baik yang selalu terucapkan orang, baik yang tinggal di pulau itu maupun yang hidup di pulau lainnya sehingga membingungkan banyak pihak.

Ada sejumlah versi penjelasan tentang pulau seluas 480.010 hektar atau 4.800 kilometer persegi itu. Namun, menurut Bupati Belitung Darmansyah Husein, Belitung hanya dipakai untuk menyebutkan nama wilayah
administratif. Misalnya, Kecamatan Belitung, Kabupaten Belitung, atau Kabupaten Belitung Timur, atau Provinsi Bangka Belitung.

Sebaliknya, Belitong khusus nama pulau atau kawasan, "Kalau menyebut Belitong berarti untuk seluruh wilayah pulau ini. Artinya, Belitung adalah bagian dari Belitong," kata Darmansyah.

Belitong juga dianonimkan dengan dengan Bali terpotong. Konon pada ribuan tahun silam daratan itu terletak di semenanjung Pulau Bali. Namun wilayah tersebut kemudian terpotong dan hanyut terbawa arus gelombang arus gelombang besar menuju arah utara, membentuk pulau di wilayah timur Sumatera, "itu sebabnya dahulu orang menyebutkan dengan Belitong atau Bali yang terpotong," kata Bupati Belitung Timur Basuri Purnama.

Legenda itu menyebutkan bahwa pada ribuan tahun silam hidup seorang raja yang adil dan bijaksana di Pulau Bali. Dia sangat disegani, dihormati, dikagumi, dan disenangi rakyatnya. Raja yang karismatis ini hanya memiliki seorang putri nan cantik jelita.

Cantik
Kecantikan sang putri itu membuat para putra mahkota dari kerajaan tetangga tergila-gila, dan satu demi satu satu datang melamarnya. Akan tetapi semua, semua lamaran itu tersebut selalu ditolaknya. Dia bergeming terhadap secuil pun kekayaan, kemewahan, ketampanan dan pesona yang dimiliki para putra mahkota itu.

Sikap sang putri tersebut membuat kedua orang tua terheran-heran. Raja dan Permaisuri ini terus bertanya: mengapa putri mereka tidak sedikit pun lamaran dari para putra mahkota tersebut? apa yang kurang dari para pangeran muda itu sehingga putri tunggal mereka tidak mau membukakan pintu hatinya sedikit pun?

Hari-hari selanjutnya rasa penasaran sang raja terus menggumpal. Dia kemudian mencoba menanyakan kepada permaisuri, tapi tidak diperoleh jawaban. Namun, permaisuri meyakini ada sesuatu hal yang disembunyikan putri kesayangan mereka. Rajapun menugaskan istrinya untuk mencoba mencari tahu penyebabnya.

Setelah dilakukan pembicaraan dari hati ke hati, sang putri akhirnya mengabarkan kepada ibunya bahwa dirinya sebetulnya sedang menderita penyakit kelamin. Itu sebabnya dia memilih untuk menolak semua lamaran dari para pangeran.

Mendengar kabar itu, raja bagai tersambar petir. Dia kemudian meminta bantuan kalangan ahli pengobatan. Bagi siapa yang mampu menyembuhkan penyakit putri tunggalnya, yang bersangkutan diizinkan mempersunting gadis jelita tersebut. Namun, sayembara itu gagal karena tak satu pun ahli pengobatan yang sanggup.

Demi mencegah penyebaran virus penyakit tersebut, raja dan permaisuri memilih mengasingkan putri mereka ke sebuah hutan di semenanjung yang terletak di utara Pulau Bali. Para hulubalang langsung dikerahkan untuk membangun pondok khusus untuk tempat tinggal sang putri di lokasi pengasingan.

Setelah semua persiapan tuntas, sang putri pun diantar ke semenanjung Bali. Di sana, dia tinggal seorang diri dan hanya di temani seekor anjing kesayangannya bernama Tumung. Sang putri menerima pilihan ini demi keselamatan warga di kerajaan itu.


Kutukan raja
Konon saking dekatnya dengan Tumung, sang putri pun membiarkan anjing kesayangannya tersebut menjilati sumber penyakitnya . Bahkan, semakin sering dijilat, penyakit yang diderita juga akhirnya sembuh. Fakta tersebut membuat hubungan antara sang putri dan Tumung pun bertambah dekat. Bahkan keduanya pun sering melakukan kontak fisik dan akhirnya hamil. Konon, putri raja itu akhirnya melahirkan seorang anak laki-laki yang berekor.

Berita itu disampaikan para hulubalang kepada raja. Mula-mula raja sangat senang karena putri kesayangannya sudah terbebas dari penyakit. Namun, amarah dia meledak ketika mengetahui putrinya hamil dari hasil hubungannya dengan Tumung. Perbuatan itu di nilai melecehkan martabat raja dan kerajaan. Raja pun langsung bersumpah dan mengutuk perbuatan putrinya. Beberapa hari berikutnya terjadi angin kencang, gelombang pasang, dan tanah di semenanjung itu pun bergetar. Tidak lama kemudian, daratan semenanjung tersebut terpotong atau terputus dari Pulau Bali, bahkan langsung dibawa arus besar menuju ke arah utara.

Saat itu, di sebelah timur Sumatera, ada dua nelayan sedang melaut menggunakan perahu tradisional. Tiba-tiba terlihat sebuah gundukan tanah yang sangat besar disertai pohon-pohon yang besar terhanyut dan melintas di depan mereka. Kedua nelayan itu pun akhirnya mendekati gundukan tersebut, dan melemparkan jangkar pada salah satu bagiannya.





















3.6 Kerajinan Rakyat
kerajinan patung adalah salah satu karya publik seni dari Bali, dengan berbagai macam kerajinan patung di Pulau Bali, patung-patung kerajinan dapat ditemukan dari daerah Gianyar Batubulan, Singapadu, Tegalalang, dan Ubud. Gianyar district is an area of art that exist on the island of Bali, since the majority of Gianyar is an artist community. Kabupaten Gianyar merupakan daerah seni yang ada di pulau Bali, karena mayoritas Gianyar adalah sebuah komunitas seniman. bali statues are quite unique, ranging theme of puppets, the social life of society and various forms of animal sculptures. patung bali yang cukup unik, mulai tema wayang, kehidupan sosial masyarakat dan berbagai bentuk patung hewan. public sculpture bali handicrafts much has been exported abroad. kerajinan patung publik bali banyak yang telah diekspor ke luar negeri. These statues are made of wood and stone. Patung-patung terbuat dari kayu dan batu. and materials are of good quality. dan bahan yang berkualitas baik. This statue was produced ranging in size from small to large sizes. Patung ini dibuat mulai dari ukuran kecil sampai ukuran besar. This sculpture is perfect used as an ornament to be displayed inside the house. patung ini sangat cocok digunakan sebagai hiasan untuk ditampilkan di dalam rumah. people are familiar handicraft bali sculpture and painting, started since time immemorial, which is inherited from ancestors. orang bali kerajinan patung akrab dan lukisan, dimulai sejak jaman dahulu, yang merupakan warisan dari nenek moyang. because the culture of Bali is very closely connected with the arts. karena budaya Bali yang sangat erat hubungannya dengan seni.
3.7 legenda
Di Jawa ada banyak mitos dan legenda. The Sudanese in particular have some fascinating legends and none more fascinating that of Dewi Sri . Sudan secara khusus memiliki beberapa legenda menarik dan tidak ada yang lebih menarik bahwa Dewi Sri.
We have all seen the shrines dedicated to Dewi Sri in the padi fields on Bali as we have travelled through the island. Kita semua melihat kuil didedikasikan untuk Dewi Sri di ladang padi di Bali seperti yang telah kita melakukan perjalanan melalui pulau itu. If one wonders about the beginning of padi and how the earth was first organized then the Sundanese have all the stories. Jika orang bertanya-tanya tentang awal padi dan bagaimana bumi pertama kali diselenggarakan maka Sunda memiliki semua cerita. One of the myths that is very well known by the Sundanese is Nyi Pohaci Sanghiang Sri . Salah satu mitos yang sangat dikenal oleh orang Sunda adalah Nyi Pohaci Sanghiang Sri. This story about Dewi Sri is written in Wawacan Sulanjana : Ini cerita tentang Dewi Sri ditulis dalam Wawacan Sulanjana:
Once upon a time in the heavens the Batara Guru commanded all the gods and goddesses to contribute their power in order to build a new palace. Sekali waktu di langit Batara Guru memerintahkan semua dewa dan dewi untuk berkontribusi kekuasaan mereka dalam rangka membangun sebuah istana baru. Anybody who disobeyed this commandment would lose his or her head. Siapa saja yang mendurhakai perintah ini akan kehilangan kepala nya.
Upon hearing the Batara Guru''s commandment, one of the gods, Anta , was very anxious. Setelah mendengar Batara's Guru' perintah, salah satu dewa, Anta, sangat cemas. He didn't have arms or legs and he wasn't sure how he could possibly do the job. Anta was shaped as a snake and he couldn't work. Dia tidak punya lengan atau kaki dan ia tidak yakin bagaimana ia bisa melakukan pekerjaan. Anta adalah berbentuk sebagai ular dan ia tidak bisa bekerja. He sought advice from one of his friends but unfortunately his friend was also confused by Anta's bad luck. Anta became very upset and cried. Ia mencari nasihat dari salah seorang teman, tapi sayangnya temannya juga bingung dengan nasib buruk yang Anta menjadi. Anta sangat sedih dan menangis.
As he was crying three teardrops fell to the ground. Saat ia menangis tiga air mata jatuh ke tanah.
Amazingly, after touching the ground those teardrops became three eggs. Hebatnya, setelah menyentuh tanah air mata mereka menjadi tiga telur. His friend advised him to offer those eggs to the Batara Guru hoping that he would give a fair judgement. Temannya menasihatinya untuk menawarkan mereka telur ke Batara Guru berharap bahwa ia akan memberikan penilaian yang adil.
With the three eggs in his mouth Anta went to the Batara Guru 's palace. Dengan tiga telur dalam mulutnya Anta pergi ke Guru s 'istana Batara tersebut. On the way there he was approached by a black bird who asked him a question. Pada perjalanan ke sana dia didekati oleh seekor burung hitam yang memintanya pertanyaan. He couldn't answer because of the eggs in his mouth but the bird thought that Anta was being arrogant. Dia tidak bisa menjawab karena telur di mulut tapi burung itu berpikir bahwa Anta sedang sombong. It became furious and began to attack Anta and as a result one egg was shattered. Anta quickly tried to hide in the bushes but the bird was waiting for him. Ini menjadi marah dan mulai menyerang Anta dan sebagai hasil satu telur hancur dengan cepat. Anta mencoba bersembunyi di semak-semak, namun burung itu menunggunya.
The second attack left Anta with only one egg to offer to the Batara Guru . Serangan kedua kiri Anta dengan hanya satu telur untuk menawarkan kepada Batara Guru.
Finally he arrived at the palace and offered his teardrop (in the shape of an egg) to the Batara Guru . Akhirnya ia tiba di istana dan menawarkan titisan air mata (dalam bentuk telur) ke Batara Guru. The offer was accepted and the Batara Guru asked him to nest the egg until it hatched. Tawaran diterima dan Batara Guru memintanya untuk sarang telur sampai menetas. Miraculously the egg hatched into a very beautiful girl. Ajaibnya telur menetas menjadi gadis yang sangat cantik. He gave the baby girl to the Batara Guru and his wife. Dia memberikan bayi perempuan ke Batara Guru dan istrinya.
Nyi Pohi Sanghian Sri was her name and she grew up into a beautiful princess becoming more and more beautiful as the days passed by. Nyi Pohi Sanghian Sri namanya dan ia tumbuh menjadi seorang putri cantik menjadi lebih dan lebih cantik sebagai hari-hari berlalu. As her beauty grew every man who saw her became attracted to her. Seperti kecantikannya tumbuh setiap orang yang melihatnya menjadi tertarik padanya. Even her stepfather the Batara Guru started to feel an attraction toward her. Bahkan ayah tirinya Batara Guru mulai merasa daya tarik ke arahnya.
Seeing the Batara Guru 's new attitude toward Nyi Pohaci , all the gods became so worried about the situation that they conspired to separate Nyi Pohaci and the Batara Guru . Melihat Batara Guru 'sikap baru terhadap Nyi Pohaci, semua dewa menjadi sangat khawatir tentang situasi yang mereka bersekongkol untuk memisahkan Nyi Pohaci dan Batara Guru.
To keep the peace in the heavens and to maintain Nyi Pohaci 's good name, all the gods planned for her death. Untuk menjaga perdamaian di langit dan menjaga Nyi Pohaci 's nama baik, semua dewa direncanakan untuk kematiannya. She was poisoned and her body buried on earth in a hidden place. Dia diracuni dan tubuhnya dikuburkan di bumi di tempat tersembunyi. But the graveyard was to hold a strange sign, for at the time of her burial, up grew a very useful plant that would forever benefit all human beings. Tapi kuburan itu untuk mengadakan tanda aneh, karena pada saat penguburan nya, sampai tumbuh tanaman yang sangat berguna yang selamanya akan menguntungkan semua manusia.
3.8 wisata ziarah
Makam Jayaprana,
Makam Jayaprana yang terletak di Teluk Terima, tepat di seberang jalan. Menurut legenda Bali, Jayaprana adalah seorang yatim piatu yang dibesarkan oleh penguasa desa Kalianget. Ia menikahi Nyoman Layonsari yang berasal dari desa tetangga, Banjar. Namun sang penguasa jatuh cinta pada istri Javaprana dan bersekongkol membunuh Jayaprana untuk mendapatkan Layonsari. Kemudian ia membuat rencana untuk mengirim Jayaprana beserta para tentara untuk melawan pasukan bajak laut yang katanya telah tiba di Bali barat laut. Setibanya di Teluk Terima Patih Sunggaling membunuh Jayaprana. Ketika penguasa meminta Layonsari untuk menikah dengannya, ia memilih untuk tetap setia pada suami dan memilih bunuh diri. Cerita ini menjadi suatu legenda cinta yang tragis di Bali.
Makam Jayaprana memiliki pemandangan laut yang sangat indah dan banyak masyarakat setempat mengunjunginya. Untuk mencapai Pura lokasi dari makam Jayaprana memerlukan sebuah pendakian panjang dan curam tapi pemandangan di sekitarnya membuat semua usaha berharga tidak sia-sia. Pura yang berisi kotak kaca menampilkan patung Jayaprana dan Layonsari. Suasana yang tenang dan pemandangan indah di sekitar makam, Pulau Menjangan dan bahkan beberapa gunung di Pulau Jawa dapat dilihat dari makam.
Makam ini terletak sekitar 45 kilometer dari Pura Pulaki, yang berlokasi di Taman Nasional Bali Barat dan memerlukan waktu 4 jam mengemudi melalui Kabupaten Jembrana dari Kota Denpasar.
Serangkaian hari kemardekaan yang ke 65, republik Indonesia, siswa SMA dan SMP kabupaten Klungkung melaksanakan ziarah wisata di taman makam pahlawan pancaka tirta Tabanan, Kamis 12 agustus 2010,agar para siswa mengenal nilai sejarah kepahlawanan, keperintisan, kejuangan dan kesetiakawanan sosial, dalam membentuk persatuan dan kesatuan bangsa. Berbagai upaya dilakukan untuk membentuk persatuan,kesatuan dan kesetiakawanan sosial, para generasi muda. Seperti dilakukan ratusan siswa dan siswi, SMP dan SMA se kabupaten Klungkung dengan melakukan ziarah wisata, di taman makam pahlawan pancaka tirta Tabanan, Kamis 12 agustus 2010. Ziarah wisata para siswa, yang didampingi kabid pemberdayaan sosial dinas sosial Rpovinsi Bali ini, cukup memberikan arti penting, dikarenakan selain untuk menambahrasa kstiakawanan juga untuk pengenalan nilai sejarah kepahlawanan, keperintisan dan kejuangan yang tetap harus dilestarikan dengan kondisi yang aktual. Salah seorang siswa, kegiatan ziarah wisata, mengaku sangt senang dengan kegiatan ini karena sangat bermanfaat, khususnya untuk memahami nilai -niali kepahlawanan. – Ziarah wisata ke taman makam pahlawan oleh para siswa yang digagas dinas sosial provinsi Bali ini, diharapkan menjadi agenda rutin, karena dapat mempertebal nilai partriotisme, serta kesetiakawanan sosial, khususnya di kalangan pelajar. Suar Eka Buana, dewata tv

Kunjungan wisatawan domestik (wisdom) ke Bali, khususnya pada libur panjang akhir pekan (long weekend) ini masih lesu. Kedatangan wisdom yang umumnya didominasi pelajar ini, masih terlihat minim di sejumlah objek wisata.
Pada libur sekolah sebelumnya kunjungan wisdom bisa mencapai 5.000 orang per hari. Sementara saat ini rata-rata baru mencapai 500 wisatawan per hari. Pasca-Nyepi, kedatangan wisdom dari berbagai daerah seperti Jawa Tengah, Yogyakarta, Semarang dan beberapa daerah lainnya relatif sepi dibandingkan hari sebelumnya.
Minimnya tingkat kunjungan wisdom, lantaran dipengaruhi oleh pelaksanaan ujian nasional yang diselengarakan serempak di seluruh kabupaten/kota di Indonesia.
Minimnya tingkat kunjungan wisdom juga diakui pengelola wisata kera Monkey Forest , Ubud. Tingkat kedatangan pengunjung domestik ke Monkey Forest masih berada di level normal. Sementara untuk wisman ada sedikit peningkatan jumlah kunjungan dari rata-rata 300 orang per hari naik menjadi 450 orang per hari.
Secara keseluruhan, kunjungan ke objek wisata Monkey Forest masih mengandalkan kunjungan wisatawan mancanegara seperti Eropa, Asia, Australia dan Amerika Serikat. Meski masih minim, tapi diyakini gerak-gerik kera yang unik dan lucu masih menjadi salah satu daya tarik bagi wisdom ketimbang hanya mengandalkan keindahan pemandangan alam saja.
Minimnya wisdom di Bali juga terlihat di kawasan Pantai Kuta. Pantai berpasir putih yang umumnya menjadi tempat favorit wisdom ini, kini lebih didominasi turis asing yang melakukan aktivitas berenang, main papan selancar maupun hanya sekadar bersantai tetap ramai.
3.9 Wisdom
Pentingnya Pariwisata Domestik
Indonesian Tourism Main Revenue Source Continues to be Domestic Tourists. Pariwisata Sumber Pendapatan Utama Indonesia Terus akan Wisatawan Domestik.

(5/16/2005) Domestic travelers continue to be the mainstay of the national tourism industry, according to figures released by the Indonesian Hotel and Restaurant Association (PHRI) and the Department of Culture and Tourism. (2005/5/16) wisatawan domestik terus menjadi andalan industri pariwisata nasional, berdasarkan angka yang diterbitkan oleh Hotel Indonesia dan Restaurant Association (PHRI) dan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.

According to the Marketing Deputy of the Ministry of Culture and Tourism, Udin Saifuddin, quoted in the Indonesian-language Bisnis Indonesia , the 6 million foreign tourist targeted for Indonesia in 2005 will generate around US$5.5 billion in foreign exchange while the estimated 102 million domestic tourists will spend around US$10.2 billion in the local economy. Menurut Deputi Pemasaran Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Udin Saifuddin, dikutip dalam bahasa Bisnis Indonesia-Bahasa Indonesia, satu juta asing wisata 6 ditargetkan untuk Indonesia pada tahun 2005 akan menghasilkan sekitar US $ 5,5 miliar dalam valuta asing sedangkan 102 juta orang domestik wisatawan akan menghabiskan sekitar US $ 10,2 miliar pada ekonomi lokal.

Over the coming 5 years the Ministry of Culture and Tourism is projecting spending by international tourist to increase at an annual average rate of 13.5% while domestic tourism spending is expected to increase at an annual average of 10% during the same period. Selama 5 tahun mendatang Departemen Kebudayaan dan Pariwisata memproyeksikan belanja oleh wisatawan internasional untuk meningkat pada tingkat rata-rata tahunan sebesar 13,5% sementara belanja wisata domestik diperkirakan akan meningkat pada rata-rata tahunan sebesar 10% pada periode yang sama.

In order to further stimulate domestic tourism spending, the Government is supporting a number of local travel expositions aimed at encouraging Indonesian to take more holidays domestically. Dalam rangka untuk lebih mendorong pengeluaran pariwisata domestik, pemerintah mendukung sejumlah pameran perjalanan lokal yang bertujuan mendorong Indonesia untuk mengambil liburan lebih dalam negeri. In addition, the Ministry for Research and Technology, is funding a series of technology exhibitions across the country in 2005 to help create regional tourism events through educational outreach programs to the Country's more remote locales. Selain itu, Kementerian Riset dan Teknologi, mendanai serangkaian pameran teknologi di seluruh negeri pada tahun 2005 untuk membantu membuat acara wisata daerah melalui program-program penjangkauan pendidikan untuk locales Negara lebih jauh.
3.10 Peta








3.11 Akses Transportasi
Untuk akses transportasi menuju ke bali dapat melewati transportasi darat, laut dan udara. Jark tempuh untuk menuju bali untuk transportasi darat anda dapat melewati Surabaya. Naik apa Anda ke Bali? Pertanyaan ini akan sangat penting bagi yang belum sama sekali ke Bali, atau yang yang tidak ingin mengulangi lagi pengalaman buruk akibat salah memilih transportasi.
Ada tiga jalur yang bisa di tempuh untuk ke Bali, yaitu jalur udara laut, dan jalur darat, pemilihan jenis angkutan sesuaikan dengan jarak, efektifitas, waktu tempuh, keamanan dan uang saku Anda.

Jika Anda dari luar negeri otomotis pilihan pertama, yaitu jalur udara yang akan Anda pilih. Tapi bagi yang dari dalam negeri, maka masih ada tiga pilihan terutama bagi Anda yang berasal dari daerah yang tidak terlalu jauh dan memungkinkan untuk menggunakan jasa angkutan udara, darat dan laut.

Selain jasa angkutan udara. Anda yang dari Jakarta, Yogya, Madiun, Malang, Mojokerto, Surabaya, Jember dan Mataram masih sangat memungkinkan menggunakan jasa angkutan darat.

Ada beberapa Jasa angkutan Bus Malam jurusan PP untuk: Jakarta – Denpasar, Yogya – Denpasar, Malang – Denpasar, Madiun – Denpasar, Mojokerto – Denpasar, Surabaya – Denpasar, Jember – Denpasar, Mataram – Denpasar.

Jika Anda menggunakan jalur udara maka pertama kali Anda akan tiba Bandara Ngurah Rai. Bandara ini terletak di wilayah Kabupaten Badung. Memerlukan sekitar 15 menit naik taxi menuju Nusa Dua, 20 menit ke Denpasar. Tiket Pesawat Jakarta – Denpasar, seharga sekitar 300-800rb (biasanya harga tiket lebih mahal pada saat peak season/libur/hari raya).

Jika melalui jalan darat maka Anda dari pelabuhan Ketapang di Banyuwangi harus menyebrang melalui kapal very ke pelabuhan Gilimanuk yang masuk wilayah kabupatan Jembrana. Gilimanuk ke Denpasar masih cukup jauh sekitar 2,5 jam perjalanan dengan jarak 80 km.

Bus jurusan Jakarta - Yogya – Denpasar ada beberapa seperti Kramat Jati dan Safari Dharma Raya. Bus “Kramat Jati”, harga tiket Rp. 300 ribu (executive AC), turun di terminal Ubung Denpasar dengan memakan waktu sekitar 21 jam perjalanan. Bus malam Baruna dan Setiawan jurusan Madiun/Jombang/ Mojokerto ke Denpasar harta tiket antara Rp. 125 ribu – 145 ribu.
Kereta, Dari Jakarta bisa naik kereta ke Surabaya terlebih dahulu sekitar Rp. 35 ribu – Rp. 185 ribu, dari stasiun kereta Surabaya biasanya menyediakan paket perjalanan ke Bali (dengan kereta sampai banyuwangi, dilanjutkan dengan perjalanan penyebrangan dan darat dari Gilimanuk ke Denpasar). Harga tiket terusan menuju Bali sekitar Rp. 90 ribu – Rp. 110 ribu.

Terminal Ubung adalah terminal yang akan anda kunjungi setelah kendaraan Anda sampai di Denpasar. Terminal ini adalah terminal antar propinsi dan yang menghubungkan Anda untuk perjalanan ke kota-kota di wilayah Bali. Untuk ke daerah kota Denpasar atau ke Kabupaten lain di bali Anda bisa memakai jasa angkutan umum, bus atau bemo (mikrolet).

Jika Anda dari Mataram (NTB) menyebarang melalui pelabuhan Lembar ke pelabuhan Padangbai Kusambah Bali dengan lama sekitar 4 – 6 jam perjalan di kapal, dan perjalan ke Denpasar dari kusambah sekitar 1 (satu) jam perjalanan, tiket kapal sekitar 35 ribu per orang. Harga tiket untuk Bus langsung Mataram – Denpasar sekitar Rp. 150 ribu.


Sewa Kendaraan Di Bali
Di Bali banyak menyediakan public transport, tapi jika ingin berlibur baiknya Anda menyewa kendaraan, baik Sepeda Motor atau Mobil.Tarif sewa sepeda motor per hari atau 24 jam sekitar 30 ribu sampai 50 ribu belum termasuk BBM. Sedang untuk mobil bervariasi sesuai dengan jenisnya dan rata-rata 175 ribu per hari belum termasuk sopir dan BBM atau guide jika perlu.
4. SEBUAH ANALISIS
4.1 Situs-Situs Sejarah yang potensial
Tiga situs bersejarah di Bali telah terdaftar dalam Warisan Budaya Dunia.
As it is exposed by some medias either local or international that the United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) has added three sites, which have been being the most tourism object since tens even hundreds years ago. Seperti yang terpapar oleh beberapa media baik lokal maupun internasional yang PBB Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB (UNESCO) telah menambahkan tiga lokasi, yang telah menjadi objek wisata yang paling sejak puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu. Those historical sites include Pakerisan Valley, Jatiluwih Rice Terraces and Taman Ayun Temple are then included into the seven sites in Indonesia into the World Cultural Heritage Sites. Situs-situs sejarah termasuk Pakerisan Valley, Jatiluwih Rice Terraces dan Pura Taman Ayun kemudian dimasukkan ke dalam tujuh lokasi di Indonesia ke dalam Budaya Situs Warisan Dunia.
Based on the criteria of originality, supported from the local culture and the antiquity of the site, the following three Bali locations are now on the UNESCO list, include : Berdasarkan kriteria orisinalitas, didukung dari budaya lokal dan kuno dari situs, berikut Bali tiga lokasi sekarang di daftar UNESCO, meliputi:
The first historical site is Pakerisan Valley . Situs bersejarah pertama adalah Pakerisan Valley. It is actually the river valley, which is situated in Gianyar Regency. Hal ini sebenarnya lembah sungai, yang terletak di Kabupaten Gianyar. The valley containing the prehistoric and pre-Majaphahit archaeological sites providing evidence of Bali's early Hindus and Buddhist settlement. Lembah berisi situs arkeologi prasejarah dan pra-Majaphahit memberikan bukti awal Hindu Bali dan penyelesaian Buddha.

The second one is Jatiluwih Rice Terraces . Yang kedua adalah Jatiluwih Rice Terraces. This picturesque and mystifying terraces found only in Bali. Ini teras indah dan menakjubkan hanya ditemukan di Bali. It is situated in the region of Tabanan and this site is among the most striking examples of terraced agriculture in the world. Hal ini terletak di wilayah Tabanan dan situs ini adalah salah satu contoh yang paling mencolok dari pertanian bertingkat di dunia. Arguably Bali's oldest and most complex example of the Subak rice terrace system of agriculture. Contoh arguably Bali tertua dan paling kompleks dari sistem beras teras Subak pertanian.
While the third site is Taman Ayun Temple , an eighteenth century temple complex at Mengwi surrounded by a pool. Sedangkan situs ketiga adalah Pura Taman Ayun, sebuah kompleks candi abad kedelapan belas di Mengwi dikelilingi oleh kolam. The place looks like a tiny island, which is surrounded by the ocean. Tempat ini tampak seperti pulau kecil, yang dikelilingi oleh lautan.
Prior to the latest additions, Indonesia was home to just seven UNESCO World Heritage Sites - the Borobudur Temple Complex; Ujung Kulon National Park; Komodo National Park; Prambanan Temple Compound; the Sangiran Early Man Site; and the Lorentz National Park; and the Tropical Heritage Rainforest of Sumatra. Sebelum penambahan terbaru, Indonesia adalah rumah untuk hanya tujuh Situs Warisan Dunia UNESCO - Kompleks Candi Borobudur, Taman Nasional Ujung Kulon, Taman Nasional Komodo, Candi Prambanan Compound, Sangiran Early Man Site, dan Taman Nasional Lorentz, dan Tropical Rainforest Heritage of Sumatra.
4.2 Situs Budaya
Bali mempertahankan budaya sendiri yang unik, yang mungkin mirip dengan pulau-pulau lainnya di archipeligo sebelum konversi muslim. Curiously, the Balinese language has no word for 'art' or 'artist.' Anehnya, bahasa Bali tidak memiliki kata untuk 'seni' atau 'seniman. " Art was something everyone did as part of everyday life. Seni adalah sesuatu yang setiap orang lakukan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Now of course, Bali is something of an 'artists colony' and every other shop in the major tourist areas are galleries. Sekarang tentu saja, Bali adalah sesuatu dari 'koloni seniman' dan setiap toko lain di kawasan wisata utama galeri.
The traditional crafts of stone sculpture, woodcarving and silversmithing are still very much alive and well represented in the many galleries around the island. Kerajinan tradisional patung batu, ukiran kayu dan silversmithing masih sangat hidup dan baik diwakili di galeri di seluruh pulau. But is the dramatic dances that are often at the center of Balinese culture. Tetapi adalah tarian dramatis yang sering di pusat budaya Bali. Balinese classical dancing is comparable to ballet, in that the performances tell a story through music, dance and sometimes song. tarian klasik Bali adalah sebanding dengan balet, dalam pertunjukan bercerita melalui musik, tari dan kadang-kadang lagu. Story lines are often taken from the Hindu biblical epics of the Mahabharata and Ramayana. garis Story sering diambil dari epik Hindu Alkitab tentang Mahabharata dan Ramayana.
Balinese Dances Bali Dances
Kecak Kecak

The choir for the Kecak dance make their entrance. Paduan suara untuk tari Kecak membuat mereka masuk.
On Bali, dancing is still a regular part of Balinese life. Di Bali, tarian masih bagian rutin dari kehidupan Bali. Most Balinese dancing is closely related to the classical dancing of other Southeast Asian cultures. Bali menari Sebagian besar berkaitan erat dengan menari klasik lain budaya Asia Tenggara. There are many similarities between the classical khon dances of Thailand and the Balinese Barong and Legong dances. Ada banyak kesamaan antara Khon tarian klasik Thailand dan Barong Bali dan tarian Legong. These are all similar to western ballet, in that they tell a story. Ini semua adalah sama dengan balet barat, di mana mereka menceritakan sebuah kisah.
But an absolute "must see" for visitors to Bali is the Kecak dance performance. Tapi mutlak "harus melihat" untuk pengunjung ke Bali adalah pertunjukan tari Kecak. This is the most unique form of Balinese dance, so be sure to reserve an evening for it. Ini adalah bentuk paling unik tarian Bali, jadi pastikan untuk cadangan malam untuk itu. You've probably seen pictures of this dance. Anda mungkin pernah melihat gambar tarian ini. Rather than the Gamelan orchestra that is typical of other Balinese dances, as well as most Southeast Asian classical dancing, in the Kecak the only music is provided by a large chorus of bare-chested men and boys sitting in a circle just in front of the audience. Daripada orkestra Gamelan yang khas tarian Bali lainnya, serta paling menari klasik Asia Tenggara, dalam Kecak musik hanya disediakan oleh paduan suara besar pria bertelanjang dada dan anak laki-laki duduk dalam lingkaran hanya di depan penonton. This choir provides a constant accompaniment to the story, and even become actors towards the end. paduan suara ini memberikan iringan konstan untuk cerita, dan bahkan menjadi aktor menjelang akhir.
Read more about the Kecak dance here at AsiaForVisitors. Baca lebih lanjut tentang tari Kecak di sini, di AsiaForVisitors.
Hindu Temples on Bali Candi Hindu di Bali
Besakih Temple Complex Kompleks Pura Besakih
The most important temple on Bali is the Besakih Complex , often called the "mother temple" of Bali. Yang penting candi yang paling di Bali adalah Besakih Complex , sering disebut "ibu kuil" dari Bali. Located up on the side of the Mount Agung volcano, the complex consists of more than 20 temples. Terletak di sisi gunung berapi Gunung Agung, kompleks terdiri dari lebih dari 20 kuil.
Goa Lawah Bat Cave Goa Lawah Bat Cave
On Bali's east coast is the Goa Lawah Bat Cave temple. Pada pantai timur's Bali adalah Goa Lawah Bat Gua candi. This temple is important for matters related to the afterlife, and thus is often the site of funerals. Candi ini penting untuk hal-hal yang berkaitan dengan akhirat, sehingga sering menjadi tempat pemakaman.
Tanah Lot Tanah Lot
Among the most photographed temple on Bali is the seaside islet of Tanah Lot . Di antara foto candi yang paling di Bali adalah pulau tepi laut Tanah Lot . It is popular as a scenic spot at sunset, but get there earlier if you want to avoid the crowds. Hal ini populer sebagai tempat pemandangan saat matahari terbenam, tapi sampai ke sana lebih awal jika Anda ingin menghindari orang banyak.
Traditional Villages Desa Tradisional
The "original Balinese" are known as the Bali Aga . "Asli Bali" yang dikenal sebagai Bali Aga. They have their own distinct culture and village organization. Mereka memiliki budaya yang berbeda mereka sendiri dan organisasi desa. The village of Tenganan is among the best preserved of the Bali Aga villages. Desa Tenganan merupakan salah satu yang terbaik diawetkan desa Bali Aga.



BAB 5
PENUTUP

Dengan menyebutkan syukur ke rahmat Allah SWT akhinya salah satu tugas UAS ini telah selesai tepat pada waktunya. Semoga isi dari uas ini dapat bermanfaat bagi referensi kita sebagai anak pariwisata. Akhir kata saya ucapkan alhamdulillah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar