Minggu, 09 Januari 2011

papua negri yang eksotis

POTENSI WISATA BUDAYA PROVINSI PAPUA


1. PENDAHULUAN

1.a. KENALILAH NEGERI PAPUA 
       Provinsi Papua beribukota Jayapura. Berdiri 10 september 1969. Dengan luas 226.680 km². agama ( mayoritas ) kristen dan islam. Provinsi papua menempati daratan pulau papua yang sangat luas. Sebelum dimekarkan, wilayah provinsi ini jauh lebih luas, mencakup semua bagian barat pulau papua. Bagian timur dimiliki oleh papua nugini. Bagian barat merupakan wilayah Indonesia. Sejak tahun 2003, wilayah Indonesia ini dimekarkan menjadi dua provinsi. Provinsi papua menempati wilayah timur, sedangkan Irian Jaya Barat menempati wilayah barat. Provinsi papua memiliki garis pantai yang panjang. Wilayah bagian utara berbatasan dengan samudra pasifik. Bagian barat-laut menghadap ke teluk Cendrawasih. Wilayah selatan menghadap ke Laut Arafuru. Perbatasan darat terdapat di dua sisi. Garis perbatasan darat yang sangat panjang berada berada di bagian timur. Ini adalah garis perbatasan antara Indonesia dan Papua Nugini. Garis perbatasan darat yang pendek terdapat di bagian barat, yaitu di perbatasan dengan provinsi Irian Jaya Barat. Selain daratan utama, wilayah provinsi papua juga mencakup sejumlah pulau kecil yang terletak di lepas pantainnya. Beberapa pulau besar di lepas pantai barat-laut adalah pulau Numfor, Supiori, Biak, Miosnum, dan Yapen. Di lepas pantai selatan, terdapat pulau Komoro dan pulau Dolak. Tiga pulau kecil di papua, yaitu pulau Fani, Fanildo, dan Bras termasuk kelompok pulau kecil terluar Indonesia.
         Bentang alam daratan Provinsi Papua sangat ekstrem sekaligus menakjubkan. Bagian selatan hingga ke pesisir pantai merupakan daratan rendah rawa-rawa, hutan bakau, dan aliran sungai. Dari barat ke timur di bagian tengah, terbentang rangkaian pegunungan tinggi penggununggan Sudirman dan pegununggan Jayawijaya dengan lereng-lereng yang curam di beberapa bagian. Puncak-puncak tertinggi di kawasan ini merupakan titik-titik tertinggi di Indonesia, yaitu puncak Mandala ( 4.780m ), Puncak Yamin ( 4.596 m ), Puncak Trikora (4.750 m ) dan Puncak Jaya ( 5.030 m ). Puncak-puncak tertinggi ,seperti puncak Jaya, ditutupi oleh salju abadi. Rangkaian pegunungan yang lebih pendek terbentang di sebelah selatan searah dengan pegununggan tinggi dan di potong oleh lembah sungai Memberano di bagian tengah. Lahan di antara daerah pegununggan ini berupa lembah-lembah yang dalam. Daerah Lembah Dalam ini di aliri oleh sungai Tariku dan Taritatu yang kemudiaan bertemu dalam aliran sungai Memberano. Pesisir pantai utara merupakan daratan rendah sempit serta daerah perbukitan. Sebagian pesisir Teluk Cendrawasih juga merupakan darah rawa-rawa. Bagian tengah Pulau Biak dan sejumlah pulau kecil lain berupa perbukitan atau pegununggan.
         Provinsi Papua menempati wilayah yang sangat kaya dengan sumber daya alam. Rangkaian dataran tinggi di tengah memiliki banyak cadangan tembaga dan emas. Hutan rimba yang menyebar dimana-mana merupakan salah satu dari sedikit hutan surgawi yang masih tersisa di dunia. Hutan ini menyimpan kekayaan spesies satwa dan tumbuhan yang luar biasa banyaknya. Penduduk asli yang mendiami wilayah papua terdiri dari atas banyak suku. Masing-masing suku memiliki bahasa sendiri yang berbeda dari suku lainnya. Dua suku yang terkenal adalah suku Dani di Lembah Baliem dan suku Asmat yang banyak menghuni daerah dataran rendah di selatan.

1.b. Peta ProVinsi Papua 



2. SITUS – SITUS SEJARAH
2.a. Situs Eksitu 
• Museum Papua
       Untuk mengenal lebih dekat budaya Papua, silahkan datang ke museum Papua di Distrik Waena, Jayapura, atau yang lebih dikenal sebagai daerah Expo Waena. Letaknya persisnya adalah sekitar 12km sebelah barat Jayapura arah Sentani. Museum yang mulai dibuka pada tahun 1982 dan dikelola oleh Pemprov Papua ini memiliki 3.619 koleksi yang terdiri atas benda-benda prasejarah, arkeologi, etnografi, seni rupa, numismatika, sejarah, biologi, geologi, dan relief.
       Museum Papua terdiri dari beberapa bangunan, dua diantaranya berfungsi sebagai ruang pamer. Bangunan pertama sebagai ruang pameran sementara untuk memamerkan benda-benda yang setiap 6 bulan sekali diganti.
        Bangunan kedua menyajikan benda-benda koleksi yang secara reguler dipamerkan. Di ruang pamer ini kita dapat menyaksikan miniatur aneka rumah tradisional khas Papua,dari masyarakat pantai hingga pegunungan. Hewan-hewan endemik dari Papua juga disajikan dalam bentuk asli yang telah diawetkan. Di sini juga terdapat replika mumi dari suku Dani.
        Yang cukup menarik adalah lukisan ditempel di dinding, berisi ilustrasi wajah-wajah beberapa suku asli Papua. Koleksi lainnya adalah benda-benda senjata dan peralatan rumah tangga, ukiran kayu, patung-patung, busana tradisional, kapal-kapal beraneka bentuk dari berbagai suku di Papua, dan benda-benda seni lainnya.

Museum Loka Budaya Uncen
       Museum Loka Budaya dimiliki dan dikelola oleh Universitas Cendrawasih. Terletak di kompleks kampus Uncen jl.Sentani, Abepura-Jayapura, Sekitar 8 kilimoter dari kota Jayapura. Museum yang diresmikan pada 1973 ini memiliki 1.885 koleksi benda etnografi dari berbagai etnis Papua. Benda-benda yang dipamerkan, antara lain peralatan dapur, peralatan perang, alat bayar, benda-benda sakral, alat transportasi, hasil karya seni seperti lukisan kulit kayu dan ukiran, dan peralatan yang berhubungan dengan mata pencaharian, seperti peralatan bercocok tanam, berburu, dan menagkap ikan. Museum Loka Budaya Uncen buka setiap jam kerja, yaitu senin-jum’at pukul 08.00-15.00 WIT.


2.b. Situs Insitu 

Tugu MacArthur


        Objek wisata ini berada di suatu bukit tempat pasukan sekutu di bawah pimpinan Jenderal MacArthur pernah mendirikan markas tentara sekutu ketika perang dunia kedua. Untuk mengenang peristiwa setengah abad silam itu, di bangun sebuah taman dengan tugu kecil di tengahnya. Situs yang berada di ifar Gunung ini teerletak di dalam kompleks RINDAM ( Resimen Induk Daerah Militer ) XVII Cendrawasih.
        Untuk mengunjungi situs Tugu MacArthur, masuklah dari pertigaan jalan raya sentani, sekitar 1,3 km sebelah timur bandara sentani. Setelah menemukan papan pentunjuk “RINDAM XVII CENDERAWASIH” dipertigaan itu, beloklah ke utara menuju komplek RINDAM XVII. Setelah melalui jalan sepanjang 4 kilometer, anda akan menemukan pintu gerbang kompleks RINDAM XVII .
       Tugu MacArthur berada di tengah sebuah taman, dibuat dari semen berbentuk segi lima dan dicat kuning-hitam. Di tengah tugu terdapat semacam prasasti yang berisi keterangan mengenai sejarah keberadaan markas pasukan sekutu di lokasi itu pada musim panas 1944. Di lokasi ini terdapat pula museum foto-foto sejarah pendaratan pasukan MacArthur di Jayapura. Di museum ini juga dipamerkan emblem logam berbentuk burung elang yang dulu menghiasi topi sang jenderal. Emblem ini ditemukan secara tidak sengaja di tengah hutan ifar gunung. Selain menjadi objek wisata sejarah, tugu ini juga menjadi bukit pengamatan Danau Sentani.
       

• Perbatasan RI –PNG 


     Selain wisata alam yang memukau, Jayapura memiliki objek wisata lain yang unik, yaitu perbatasan RI-PNG ( Papua New Guinea ). Perbatasan ini berjarak sekitar 65 km timur kota Jayapura, atau 1,5 jam perjalanan dengan kendaraan. Apabila setelah anda mendapatkan izin, petugas kepolisaan akan membukakan portal dan mempersilahkan anda menuju batas RI-PNG. Setelah 300 meter,anda akan sampai diperbatasan yang ditandai pagar kuning di kedua wilayah dan gapura berbentuk totem di PNG serta papan yang bertuliskan “welcome to Papua New Guinea” dan tugu berbentuk tifa berukuran besar di wilayah RI. Perbatasan RI-PNG terletak di dua desa. Tapal batas RI berada di Desa Skouw, Distrik Muara Tami, Jayapura, sedangkan tapal batas PNG berada di desa Wutung, Provinsi Sandaun berasal dari bahasa inggris,Sundown, artinya daerah tempat matahari tenggelam.


  • Peta

 




3. SITUS – SITUS BUDAYA 
3.a. Tradisi yang masih berlangsung ( warisan budaya )
Upacara – upacara Adat di Papua 
 
• Upacara Daur hidup
          Upacara daur hidup merupakan upacara yang dilaksanakan untuk memperingati saat-saat penting dalam daur hidup manusia, yaitu :
1. Kelahiran
2. Menjelang Dewasa
3. Perkawinan
4. Kematiaan 

Upacara Adat
  •  Mbis
           Merupakan upacara yang dilakukan untuk membuat patung nenek moyang yang dipakai dalam upacara kematian. Upacara ini dipimpin oleh seorang dukun yang disebut dewen.Ketika upacara mbis dilakukan, seluruh penduduk kampung menyiapkan makanan untuk beberapa hari. Mereka membuat makanan banyak karena untuk beberapa hari ke depan tidak pergi dulu ke hutan, sebab upacara mbis ini berlangsung selama berhari-hari bahkan bermingu-mingu. Seluruh penduduk menari di depan rumah bujang, baik tua-muda, anak-anak, oran dewasa. Dari siang hingga sore hari para wanita menari,sementara yang menbuh tifa adalah kaum pria. Pada saat upacara berlangsung,biasanya dilakukan papis di antara dua orang sahabat. Papis merupakan pertukaran istri yang dilakukan dua orang sahabat. Hal ini dilakukan untuk mempererat tali persahabatan yang sangat diperlukan ketika diadakan peperangan.

  •  Emaketsjem
           Merupakan upacara yang diadakan untuk memperingati kematian seseorang maupun ada upacara inisiasi.

  • Joai
            Merupakan upacara yang dilakukan saat mendirikan sebuah bangunan.

  •  Mambri Babo
          Upacara untuk menobatkan pemimpin perang baru. Pemimpin perang baru dipilih berdasarkan pada seleksi yang cukup ketat sehingga dihasilkan pemimpin yang benar-benar bisa diandalkan.

  •  Bakar Batu 

         Upacara adat bakar batu merupakan salah satu upacara yang ada di suku Walesi di Wamena, kabupaten Jayawijaya, Papua. Upacara ini dilakuakan jika ada salah satu warganya meninggal dunia,menikah, berdamai, dan menyambut tamu agung. Upacara bakar batu ini tujuannya hampir sama dengan selamatan atau kenduri di pulau jawa. Tujuan utamanya adalah untuk mempersembahkan korban sesajen pada roh atau dewa. Namun, sekarang disertai doa. Namun, ada juga yang tetap dengan mengucapkan mantra gaib purba.
          Upacara bakar batu dimulai dengan membunuh babi dengan cara di panah. Setelah membunuh babi, mereka menggali lubang dan yang lainnya memasukan alang-alang. Caranya dengan menghamparkan memanjang pada lubang dan bagian ujungnya berada di luar lubang, bentuknya seperti keranjang. Di dalam lubang yang telah ditutup alang-alang tadi dimasukan batu dan dilapisi alang-alang. Di atas alang-alang dimasukan potongan daging babi yang telah dibunuh tadi tanpa dikuliti terlebih dulu.
         Di atas potongan babi ditutupi rumput. Diatas rumput ditutupi dengan batu membara, dan dilapisi lagi dengan rumput tebal, setelah itu ubi jalar. Diatas nya diberi rumput dan alang-alang. Diatasnya lagi diberi batu membara, kemudiaan sayuran iprika dan daun singkong, daun pepaya, dan jagung. Sayuran diberi potongan buah merah. Selanjutnya lubang ditimbun dengan rumput dan batu membara yang diikat.itulah tahapan –tahapan bakar batu, tinggal warga menunggu matang semua makanan yang dibakar.



3.b. Arsitektur tradisional
  • Arsitektur Tradisional Suku Dani

Honei - Rumah Adat Papua

       Honei adalah rumah khas Papua yang dihuni oleh Suku Dani. Rumah Honei terbuat dari kayu dengan atap berbentuk kerucut yang terbuat dari jerami atau ilalang. Honai mempunyai pintu yang kecil dan tidak memiliki jendela. Sebenarnya, struktur Honei dibangun sempit atau kecil dan tidak berjendela bertujuan untuk menahan hawa dingin pegunungan Papua.

       Honei terdiri dari 2 lantai yaitu lantai pertama sebagai tempat tidur dan lantai kedua untuk tempat bersantai, makan, dan mengerjakan kerajinan tangan. Karena dibangun 2 lantai, Honei memiliki tinggi kurang lebih 2,5 meter. Pada bagian tengah rumah disiapkan tempat untuk membuat api unggun untuk menghangatkan diri. Rumah Honei terbagi dalam tiga tipe, yaitu untuk kaum laki-laki (disebut Honei), wanita (disebut Ebei), dan kandang babi (disebut Wamai).
       Honei adalah sendiri berasal dari kata hun, yang berarti laki-laki dewasa dan ai yang berarti rumah. Jadi honei adalah sebutan umum untuk rumah yang mengacu pada laki-laki dewasa atau kepala keluarga. Di dalam honei (pilamo ) disimpan benda-benda berharga seperti jimat, kalung bahkan babi sekalipun.
       Ebe-ebe berasal dari kata ebe yang berarti tubuh, dalam arti hadir,tetapi juga bermakna utama atau pusat dan sentral. Ada beberapa mitos mengenai bentuk kasih sayang, sebagai proses kehadiran atau kelahiran, yaitu tidak boleh melakukan hubungan suami istri ketika istri sedang mengandung, menyusui, dan mengasuh anak yang berusia di bawah tiga tahun. Karena itu,apabila istrinya sedang berhalangan tiga hal tersebut, mereka mengizinkan suaminya untuk menikah lagi.
        Bentuk Honei dan ebe-ae adalah bulat. Sementara bentuk dapur wanita dan kandang babi ( wamdabula ) adalah persegi panjang. Letak keduanya saling berdekatan dan didalamnya terdapat beberapa tungku.kandang babi terletak di pilamo,supaya mereka tetap bisa mengawasi babi-babinya. Karena babi adalah harta berharga dan digunakan sebagai mas kawin.

  • Arsitektur Tradisional Suku Asmat

Rumah bujang

          Suku Asmat mengenal dua jenis rumah, yaitu rumah keluarga dan rumah bujang. Konstruksi kedua bangunan ini hampir sama, yaitu berbentuk persegi empat dengan sebuah ruangan besar di tengahnya dan termasuk rumah pangung. Jika rumah bujang dihuni oleh para pria , maka rumah keluarga dihuni oleh para wanita dan keluarga inti.
          Rumah bujang ( jo atau jew ) dibangun menghadap sungai dan dibangun sedemikian rupa sehingga mudah mengamati musuh. Panjang rumah bujang bisa mencapai puluhan meter dan berdiri diatas tiang penyangga utama berupa batang sagu dengan tinggi sekitar 1,5 m. masing-masing tiang dihubungkan dengan menggunakan tali rotan. Bagian dinding terbuat dari batang sagu yang dianyam sejajar secara vertikal dan diikat dengan rotan. Sementara atapnya terbuat dari anyaman daun sagu. Lantainya ditutupi tikar yang terbuat dari daun sagu juga dan setiap lima tahun sekali bahan bangunannya di ganti. Jumlah pintunya harus sama dengan jumlah patung mbis dan tungku api .hal ini mencerminkan jumlah suku-suku yang tinggal di sekitar rumah bujang.
          Ada pula rumah keluarga yang dihuni oleh 2-4 keluaraga. Setiap keluarga inti terdiri dari seorang ayah, seorang atau beberapa istri dan anak-anak mereka. Didalamnya terdapat bilik-bilik yang jumlahnya sesuai dengan jumlah keluarga yang menghuni rumah tersebut. Sementara itu, setiap istri memiliki dapur,pintu,dan tangga sendiri.
  • Arsitektur Tradisional Suku Tobati

          Suku Tobati mendiami pesisir Teluk Yotefa yang luasnya 1.675 ha dan termasuk wilayah kecamatan Jayapura Selatan Kotamadya Jayapura. Mereka membangun pemukiman diatas laut dan berbentuk linier, dimana rumah-rumah dibangun sejajar dalam formasi dua deret yang saling berhadapan. Jembatan dibangun di antara dua deret ini dan menjadi penghubung antara rumah yang satu dengan rumah yang lain. Di tengah jembatan dibuat panggung luas ( para-para adap ) yang digunakan untuk bermusyawarah.
Masyarakat Tobati mulai mengenal funsi masing-masing bangunan , yaitu:
1) Rumah Tinggal ( rumah sway )
    Rumah tinggal atau yang biasa disebut dengan rumah Sway merupakan pengembangan dari bentuk bangunan awal, dengan agdanya pembagian ruang (ruang tamu, ruamg makan, ruang tidur). Atapnya pun mengakami perubahan menjadi limas an atau bentuk perisai. Sedangkan bangunan untuk pemujaan berbeda dengan rumah tinggal. Peruangan dalam bangunan ini hanya sart dengan fungsi untuk tempat inisiasi. Atapnya pun berbentik limasan yang disusun tiga. Sedangkan bahan yang digunakan tetap mempertahankan bahan yang ada di sekitarnya.
     Tata letak bangunan Rumah Sway adalah di pinggir/di tepi-tepi jalan utama pada pemukiman masyarakat Tobati, dengan orientasi bangunan kea rah jalan utama, sehingga rumah saling berhadap-hadapan.
1. Tata letak ruang dalam bangunan Rumah Sway terdiri dari :
2. Bilik/kamar tidur
3. Ruang tamu (teras penerima tamu)
4. Dapur (ruang kerja para wanita)
5. Teras belakang
Ada pembagian ruangan menurut pembedaan gender pada pada rumah tinggal di Tobati yaitu :
o Sebelah laut : selalu tempat kaum laki-laki
o Sebelah darat : tempat kaum wanita
   Tiap rumah memiliki pembagian kamar-kamar besar dan kamar-kamar kecil selain serambi muka atau teras yang menghadap ke jalan. Serambi depan untuk menerima tamu, dan juga sebagai tempat bekerja kaum laki-laki. Selanjutnya rumah itu terdapat dapur yang merupakan tempat kaum perempuan. Selain itu juga terdapat ruangan yang dipergunakan sebagai kamar mandi fan jamban.

2) Rumah Adat ( rumah mau )
   Berbentuk segi empat atau segi delapan. Bagian utama ini terdiri dari tiga bagian yaitu kaki,badan,dan kepala. Semuanya berarti menggambarkan hubungan yang harmonis antara alam raya sebagai makrokosmos dengan pencipta, juga alam raya dengan manusia. Funsinya sebagai tempat upacara-upacara adat, tempat pendewasaan anak laki-laki dan penyimpanan benda-benda pusaka.


3) Kandang Ikan Terapung ( keramba )
    Keramba ini dibuat dari bambu, jaring dan tali. Kemudiaan keramba diletakan di bawah rumah dengan jaring-jaring mengelilingi tiang-tiang rumah.

3.c. Seni pertunjukan ( music, teater, tari, sendratari, sastra )
Tarian di Papua
  • Tari Selamat Datang
  • Tari Musyoh
  • Tari Afaitaneng
          Terdapat di daerah Ambai, di pulau Yapen, Serui bagian selatan, kabupaten Yapen Waropen, provinsi Papua. Tari ini termasuk jenis tari tradisional yang berhubungan dengan kepahlawanan. Afaitaneng mempunyai arti panah milik kami. Kata afaitaneng berasal dari afai ( panah ) dan taneng ( milik ).Tari ini dipertunjukan selama semalam suntuk pada sore atau malam hari sesudah berperang. Tari ini menggambarkan kehebatan, kekuatan, dan kemenangan rombongan perang melawan musuh dengan bersenjata panah.
          Tarian ini ditarikan oleh sekelompok penari wanita dan pria, dengan membentuk lingkaran atau barisan. Penari biasa mengenakan pakaian kuwai ( cawat ), manik-manik, dan perhiasan gelang tangan. Dalam menari para penari membawa perlengkapan berupa afai ( panah ), dan umbee (parang). Disertai iringan lagu Nimasae dengan menggunakan alat musik fikainotu atau tifa dan tabura atau triton.

  • Tari Awaijale Rilejale
          Terdapat di daerah Sentani, kabupaten jayapura, provinsi papua yang didiami Suku Sentani. Tari ini mengambarkan keindahan alam danau sentani pada waktu senja, yaitu ketika para warga pulang dari bekerja dengan menaiki perahu. Para penari terdiri dari sekelompok pria dan wanita. Mereka mengenakan pakaian yang disebut pea malo, yang terbuat dari serat pohon genemo, kulit kayu, dan daun sagu, serta dilengkapi perhiasan hamboni atau kalung manik-manik.

  • Tari Falabea
          Terdapat di kalangan suku Sentani, Jayapura, Provinsi Papua. Falabea mempunyai arti perang, sehingga tari falabea ini menggambarkan sifat kepahlawanan. Pertunjukan tari ini dilakukan di tanah lapang pada petang atau malam hari.



  • Tari Aya Nende
           Terdapat di daerah mimika bagian timur yang berbatasan dengan daerah Asmat, kabupaten Merauke Provinsi Papua. Di daerah ini didiami oleh suku mimika. Tari ini ada sebelum kemerdekaan Republik Indonesia. Tari Aya Nende ini memiliki 4 bagian urutan tari, sebagai berikut :
  • Bagian 1 : kepala adat memasuki pentas, kemudiaan memanggil istri-istri para pemburu dalam bahasa daerah “Ajadendei dendera suma waee”.
  • Bagian 2 : sekelompok wanita sebagai istri para pemburu menyambut kedatangan para pemburu ( suami ) mereka.
  • Bagian 3 : para pemburu menyerahkan hasil buruan mereka kepada istri.
  • Bagian 4 : inti upacara : ucapan terima kasih kepada nenek moyang.

          Tari Aya Nende diiringgi alat musik eme atau tifa dan tumuu atau bambu. Dengan lagu penggiring yang berjudul Ayadendei. Pertunjukan tari ini ditarikan oleh sekelompok wanita dan pria, yang dilakuakan pada sore dan malam hari selama semalam suntuk. Penari mengenakan pakaian yang terdiri dari : Tauri
  • Tauri ini seperti rok yang bahannya terbuat daun kelapa atau pucuk daun sagu.
  •  Tumii Adalah gelang kaki dan gelang tangan yang terdiri dari pucuk daun kelapa dan pucuk daun sagu.

  • Tari Det Pok Mbui
          Tari ini terdapat di tiga kecamatan yaitu Agats, Sauwa Ema, dan Pirimapun yang berada di kabupaten Merauke, Provinsi Papua. Tari ini ada sebelum kemerdekaan Republik Indonesia. Adapun asal kata Det Pok Mbui adalah Det artinya topeng yang mirip setan, dan Pok Mbui artinya pesta atau upacara. Jadi, Det Pok Mbui adalah pesta topeng setan.
          Tarian ini ditarikan oleh sekelompok pria dan wanita yang dilakukan pada siang atau sore hari, setelah panen mencari sagu dengan lama pertunjukan 2 sampai 3 jam. Tempat pertunjukan adalah di tepi sungai, karena ada adegan menaiki perahu, ada beberapa perahu topeng yang dibawakan oleh beberapa orang penari.
          Para penari wanita mengenakan pakaian Awer yaitu berupa rok rumput, sedangkan penari pria aslinya polos atau menenakan rok dari bulu burung kasuari. Perhiasan yang dipakai berupa gelang-gelang kaki, gelang tangan dan gelang lengan. Pada bagian leher menggenakan kalung yang terbuat dari gigi anjing, babi,atau manik-manik. Untuk bagian wajah dan badan penari diberi warna hitam dari arang, putih dari kapur, dan merah dari tanah atau buah. Dalam mempertunjukan tari ini di iringgi dengan alat musik fu atau terompet bambu dan tifa atau gendang. Sedangkan lagu penggiringnya adalah Jipai So yang berarti setan atau roh halus.

  • Tari Dow Mamun
         Terdapat di Biak, kabupaten Teluk Cenderawasih, provinsi Papua. Tari sudah ada sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, yang menggambarkan tentang peperangan dan kemenangan. Tari ini dibawakan oleh sekelompok pria dan wanita yang dilakukan pada sore dan malam hari. Para penari pria mengenakan pakaian cawat atau mar yang terbuat dari kulit kayu, dilengkapi dengan perhiasan berupa sisir bambu yang di ukir dan membawa parang atau sumber, panah atau mariam dan tombak atau bom.

  • Tari Entol
          Terdapat disebelah Madrid,pesisir pantai Merauke, Provinsi Papua, yang didiami suku Marind. Tari ini sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, yang mengambarkan kemenangan setelah melakukan perang antarsuku. Tari ini diperagakan oleh sekelompok penari pria saja.Mereka mengenakan pakaian yang bernama Mul, yang terbuat dari daun sagu, yang panjangnya dari pusar sampai lutut. Sedangkan untuk perhiasan, mereka memakai Himbu, yaitu berupa topi yang terbuat dari anyaman bulu burung kasuari. Untuk rias wajah, para penari menggunakan warna putih dari tanah, warna merah atau mbon untuk bagian dada dan kaki. Pementasan tari ini dilakukan pada waktu malam hari sampai pagi hari. Tari ini tidak diiringi oleh alat musik apapun.

  • Tari Fayaryar Kar Baryam
          Menceritakan tentang seseorang yang sedang menebang sagu. Tari ini merupakan tari tradisional yang sudah ditata menjadi tarian baru oleh M.Mandosir.


  • Tari Fela Mandu
          Merupakan tari perang yang berasal dari Puyoh Besar, Puyoh kecil, dan Abar di daerah Sentani Tengah Papua. Tari ini di tarikan oleh penari pria dan wanita dengan diiringi oleh alat musik tifa dan wakhu. Mereka menganggap bahwa tarian Fela Mandu adalah ciptaan leluhur mereka. Dahulu para leluhur orang-orang Putali, Amatali, dan Abar pergi berperang dan mereka mendapat kemenangan sewaktu melawan suku Sekori, Sewiron, dan Sebeya di daerah Abar Sentani Tengah. Sampai sekarang, tari Fela Mandu menjadi tari pergaulan yang bersifat hiburan.

  • Tari Yospan
           Merupakan salah satu tarian pergaulan yang berasal dari dua daerah, yaitu Biak dan Yapen-Waropen. Pada awalnya, tarian ini terdiri dari pergaulan Yosim dan Pancar yang merupakan dua tarian berbeda namun akhirnya dipadukan menjadi satu. Tari ini diiringgi dengan nyanyian dan perangkat alat musik yang terdiri dari cuku lele dan gitar yang merupakan alat musik yang berasal dari luar Papua. Juga ada alat musik yang fungsinya sebagai bass dengan tiga tali. Tali bass ini terbuat dari lintinggan serat sejenis daun pandan yang bisa ditemukan di hutan-hutan daerah pesisir Papua.
           Selain alat musik tersebut, masih ada alat musik pengiring lainnya, yaitu kalabasa. Kalabasa merupakan alat musik yang dibuat dari labu yang sudah dikeringkan dan di bagian dalamnya diisi dengan manik-manik atau batu-batu kecil. Cara memainkannya adalah dengan digoyang- goyangkan.

  • Tari Perang
          Masyarakat Papua sering mengadakan perang antarsuku yang disebut dengan perang adat. Perang itu sendiri dinilai sebagai simbol kesuburan dan kesejahteraan. Namun lambat laun suku-suku menyadari bahwa setiap kali berperang pasti menelan korban jiwa. Akhirnya mereka memilih mambri untuk melakukan perdamaian.
          Untuk mengenang perang antarsuku tersebut,masyarakat Papua kemudian mengadakan sebuah festival budaya Lembah Baliem yang mengangkat tari perang antarsuku. Tari tersebut kini diperagakan tanpa melepas panah ke tubuh lawan.
          Tari perang dimulai dengan turunnya pria-pria Wamena ke medan perang dengan wajah beringas, tampak tidak terurus, penuh dengan coreng moreng warna putih di wajah dan sekujur tubuh, lengkap dengan panah, parang, dan tombak di tangan. Pakaian yang mereka kenakan adalah koteka dan daun-daun yang terlilit di bagian lengan,kaki, dan kepala sebagai periasan turun-tumurun yang dikenakan saat berperang.
           Para lelaki tersebut kemudian terbagi menjadi dua bagian dan mereka membuat ancang- ancang buat berperang. Namun, tidak ada panah yang lepas dari busur mereka. Yang ada hanya bunyi siput yang di tiup oleh kepala suku masing-masing untuk mulai berperang. Selama berperang salah satu pihak tidak boleh melalui garis demarkasi. Mereka hanya mengacung-acungkan ke pihak lawan sambil bertiak khas papua,”hu..hu..hu..” itu berarti perang bisa dimulai. Setelah selesai berperang mereka berangkulan dan mengunyah sirih pinang bersama.


3.d. Seni plastis ( seni rupa, patung , ukir, relief )

Seni patung di papua

a) Gaya seni Mimika
             Wilayah Mimika terletak di antara Teluk Etna sampai Sungai Otokwa yang memiliki enam dialek bahasa. Dalam pembuatan patung kayu ada unsur penonjolan pusar manusia. Hal ini disebabkan pada kepercayaan mereka yang menganggap wanita hamil bukan karena sperma masuk kedalam rahim, tetapi adanya roh yang masuk ke dalam rahim ibu melalui pusarnya. Adapun ragam hiasnya menggunakan unsur geometris dan antropomorfis. Teknik pahatannya berbentuk krawangan ( a jour ) dan en relief. Sementara wujud pahatannya berupa patung nenek moyang.

b) Gaya seni Asmat 

           Seperti kita ketahui bersama, seni pahat patung dan ukiran yang paling terkenal di papua berasal dari suku Asmat. Para pematung dan pengukir di Asmat dengan sebutan wowipits (pemahat patung). Patung yang berukuran besar disebut mbis sedangkan patung yang berukuran kecil disebut kawenak.
          Ukiran-ukiran dan pahatan-pahatan yang ada pada benda-benda tersebut umumnya memiliki makna ritual pemujaan terhadap arwah nenek moyang mereka. Masyarakat Asmat mempercayai bahwa mengukir dan memahat patung bernilai sakral dan bisa melancarkan jalan para arwah menuju safar. Patung-patung yang mereka buat langsung pada kayu tanpa memerlukan pola terlebih dahulu.
          Motif pahatannya geometris dengan pilihan bentuk huruf M dan W yang dibuat dengan teknik cukil. Kemudiaan bentuk pahatannya berubah ke bentuk yang lebih sempurna, yaitu tiga dimensi, yang mengunakan motif pahatan antromorfis pada bentuk haluan perahu.
          Dahulu kala ( sebelum tahun 1970 ), patung-patung dibuat dalam bentuk kasar, karena masih menggunakan alat-alat dari batu dan tulang. Patung-patung tersebut biasanya di gunakan dalam upacara adat. Selain mengukir patung, orang Asmat juga mengukir topeng-topeng yang dibuat untuk diletakkan pada acara-acara pesta khusus.


c) Gaya seni Awyu dan Citak

          Adalah dua dimensi, misalnya saja perisai. Motif yang digunakan adalah geogmetris dengan unsur mata, huruf V yang ikal, serta pilin ganda. Sementara pola hiasnya ada dua kelompok sebagai berikut :

  • Memutuskan pada motif mata yang diukir dalam bentuk pilin berdampingan. Bidang sisinya diisi dengan garis kurvilinier berbentuk V yang saling bersambungan atau berupa menader.
  • Memusatkan pada motif huruf V yang diikat untuk dijadikan motif dasar lalu bidang lainnya diisi cukilan geogmetris pada pola pertama maupun pola kedua. Meskipun bentuknya abstrak semuanya masih menampakkan pola antropomorfis.

          Selain wilayah seni barat daya, yang meliputi Mimika, Asmat, serta Awyu dan Citak, seni patung yang tidak kalah terkenal adalah patung-patung kuburan yang disebut korwar, yang berasal dari daerah Waigeo dan Biak. Korwar merupakan kotak penyimpanan tengkorak nenek moyang yang berbentuk orang sedang berjongkok dihiasi oleh hiasan gelung yang diukir.


3.e. Seni rupa dua dimensi ( lukis )

SENI RUPA LUDAH PINANG PAPUA:
“LUDAH KAMI, HAK KAMI”

            Ludah pinang dapat digunakan sebagai media berekspresi dalam seni rupa perlawanan terhadap pelanggaran HAM di Papua. Menggunakan ludah limbah tradisi mengunyah pinang dapat diparalelkan dengan mengkritisi dengan kreatif tentang penanganan mengkonsumsi pinang bukan tradisinya yang harus dilarang seperti tanda larangan yang tertempel di tempat-tempat strategis bandara Sentani, Jayapura, namun sebaliknya membudayakan tradisi ini dengan aturan yang benar misalnya penganjuran dalam menjaga kebersihannya. Lebih jauh, pemerintah harus menyediakan tempat ludah yang mudah diakses di ruang-ruang publik, misalnya.

Tradisi Mengkonsumsi Pinang
            Tradisi mengunyah dan meludah pinang (andrographis paniculata) dengan kulit kerang bakar sebagai kapur campurannya sudah merupakan kebiasaan di berbagai kebudayaan termasuk pada masyarakat Papua. Kearifan lokal ini tidak hanya memiliki aspek kesehatan seperti pembersih dan penguat gigi, namun juga menjadi tradisi hidangan penyambutan dan penghormatan bagi tamu di masyarakat Papua. Karenanya terbentuk nilai di masyarakat tersebut, orang yang berkebiasaan mengunyah pinang dianggap sebagai orang yang ramah dan mudah bergaul. Dengan demikian maka mengunyah pinang dapat dikatakan merupakan identitas budaya papua.

Teknik Media Lukis
           Hal ini dapat dijadikan analogi dalam menegakkan hak setiap masyarakat untuk mendapatkan kesejahteraan dan rasa aman. Dan menggunakan ludah pinang untuk mengekspresikan hak-hak mendasar melalui karya seni dapatlah dijadikan perayaan perjuangan untuk mendapatkan hak-hak mendasar setiap manusia dan setiap komunitas. Warna merah tanah ludah yang merupakan senyawa antara pinang, kapur dan ludah si pekarya memiliki kekhasan karena berbeda dengan warna-warna saturated yang dihasilkan oleh bahan-bahan kimia pewarna pada cat minyak maupun tinta warna. Hal ini akan merepresentasikan identitas seni kontemporer yang berakar pada tradisi lokal ketimbang seni menggunakan media pabrikan. Hal ini diperkuat dengan bukti bahwa karya juga membawa DNA yang ada pada ludah pelukis sebagai track record siapa dan dalam situasi kesadaran seperti apa sipekarya membuat karya.
           Aspek teknik pembuatan lukisannya dengan campuran antara diludahkan/dimuntahkan (dengan dibantu penggunaan alat bantu seperti kuas dan mungkin palet) akan menghasilkan subjek gambar yang lebih lugas dan wajar dalam mengekspresikan hentakan emosi si pekarya. Sekali waktu nanti, apabila ditemukan teknik ataupun metode dalam mengukur ekspresifitas dalam hubungan emosional dalam mengunyah dan meludahkan ludah, maka akan terlihat perbedaan ekspresi antara perupa pesanan penindas, seniman abstrak liar dan pekerja seni yang mengusung isu penegakkan HAM. Sehingga lukisan tidaklah dapat dikelompokkan pada genre lukisan abstrak seperti karya-karya Jackson Pollock dan pelukis abstrak Amerika lainnya yang memiliki kemiripan teknik dalam berkarya.

3.f. Kerajinan rakyat 

                  Tas Papua

 
 Tas batok kelapa 


Ukiran patung Papua

3.g. Legenda/ mitologi
  • Batu keramat
              Di daerah Wawuti Revui, Yapen Timur, Papua terdapat sebuah gunung bernama Kamboi Rama. Gunung tersebut merupakan tempat bagi penduduk setempat untuk berkumpul atau mengadakan pesta. Gunung Kamboi Rama juga merupakan tempat tinggal dari seorang Raja Tanah bernama Iriwonawai. Ia memiliki sebuah gendang atau tifa keramat yang diberi nama Sokirei atau Soworoi.Jika raja tanah menginginkan penduduk kumpul, gendang itu akan di bunyikan. Segera setelah gendang itu berbunyi,penduduk akan berbondong- bondong menuju Gunung Kamboi Rama. Saat berkumpul merupakan saat yang tidak pernah dilewatkan oleh satu orang pun penduduk. Namun, Gendang sokirei hanya dapat dilihat oleh orang-orang yang memiliki kekuatan gaib.
             Dewa Iriwonawani mempunyai sebuah dusun yang banyak ditumbuhi tanaman sagu, yaitu dusun Aroempi. Sagu merupakan makanan pokok penduduk daerah Wawuti Revui. Akan tetapi, sagu itu lama-kelamaan berkurang. Dewa marah. Kemudian, tanaman sagu itu dipindah. Penduduk dusun Kamboi Rama ketakutan, mereka pindah ke daerah pantai. Di sana mereka mendirikan daerah baru yang diberi nama Randuayaivi. Setelah itu, di Kamboi Rama hanya tinggali Iriwonawai dan sepasang suami istri bernama Irimiami dan Isoray. Pada suatu pagi, Isoray duduk di atas batu untuk berjemur diri. Beberapa saat kemudian, batu yang didudukinya itu mengeluarkan gumpalan awan panas sehingga dia tidak tahan duduk di batu itu.
             Kemudian, Irimiami menduduki batu itu. Ternyata apa yang dirasakan Irimiami sama dengan yang dirasakan Isoray. Setelah itu, Irimiami mengambil daging rusa dan diletakkan di atas batu itu. Tidak lama kemudian, daging rusa itu diangkat dan dimakan. Ternyata daging rusa itu terasa lebih enak. Sejak itu, Irimiami dan Isoray selalu meletakkan makanan di atas batu itu.Pada suatu hari, Irimiami dan Isoray menggosok buluh bambu di batu itu. Tidak lama kemudian buluh bambu putus dan gosokan buluh bambu mengeluarkan percikan api. Irimiami dan Isoray heran. Kemudian, mereka mulai mengadakan percobaan di atas batu itu. Keesokan harinya, mereka mengumpulkan rumput dan daun kering. Rumput dan daun kering itu diletakkan di atas batu itu.Tidak lama kemudian, rumput dan daun itu mengeluarkan gumpalan awan seperti pernah mereka lihat. Irimiami dan Isoray pun menamakan batu itu batu keramat. Mereka mulai memuja batu itu.
              Pada siang hari, ketika matahari memancarkan sinarnya, Irimiami dan Isoray mencoba meletakkan rumput, daun dan ranting bambu di atas batu keramat. Mereka menunggu apa yang akan terjadi. Ternyata keluarlah awan merah yang sangat panas. Mereka ketakutan dan memohon kepada Dewa Iriwonawai agar memadamkan awan merah itu. Permohonan mereka terkabul dan awan merah padam.Hari berikutnya mereka mengumpulkan rumput, daun dan kayu lebih banyak. Benda-benda itu mereka letakkan di atas batu keramat.
Asap tebal mengepul di puncak Gunung Kamboi Rama selama enam hari. Gendang pun berbunyi. Masyarakat berkumpul ingin menyaksikan gendang soworoi. Irimiami dan Isoray sangat ketakutan. Tidak henti-hentinya mereka memohon agar kepulan asap tebal itu menghilang. Dewa Iriwonawai mengabulkan permintaan Irimiami dan Isoray. Setelah awan menipis, penduduk kampung Randuayaivi ingin melihat lebih dekat. Ternyata perbuatan itu tidak dilakukan Dewa Iriwonawai, tetapi di lakukan Irimiami dan Isoray. Irimiami dan Isoray menyambut baik kedatangan penduduk kampung Randuayaivi. Mereka pun menceritakan peristiwa itu dan asal mula ditemukan batu keramat. Penduduk tercengang mendengar cerita mereka. Apalagi setelah mereka mencicipi makanan yang dipanaskan diatas batu keramat.
            Oleh karena itu, Irimiami dan Isoray ingin supaya diadakan pesta adapt. Keesokan harinya, pesta adat dimulai. Penduduk kampung Randuayaivi berkumpul membawa perbekalan seperti sagu, keladi, daging dan makanan lainnya. Mereka berkumpul mengelilingi batu keramat sambil meletakkan rumput diatas batu itu. Tidak lama kemudian, keadaan sekitar Gunung Kamboi Rama menjadi sangat cerah dengan sinar api yang keluar dari batu keramat.Pesta adat berlangsung selama tiga hari tiga malam. Dalam pesta itu, Irimiami dan Isoray memperlihatkan peristiwa-peristiwa yang pernah mereka alami.
            Kemudian Irimiami dan Isoray memerintahkan masyarakat yang hadir di pesta itu untuk mengelilingi batu keramat sambil menari dan memuja batu itu.Inilah legenda masyarakat Irian Jaya yang sampai sekarang mengeramatkan batu api penemuan Irimiami dan Isoray. Mereka juga percaya bahwa Irimiami dan Isoray adalah orang pertama yang menemukan api. Setahun sekali dilakukan upacara pemujaan terhadap batu keramat itu.


3.h. Wisdom 
  • Budaya Potong Jari

         Bagi umumnya masyarakat pengunungan tengah dan khususnya masyarakat Wamena ungkapan kesedihan akibat kehilangan salah satu anggota keluarga tidak hanya dengan menangis saja. Biasanya mereka akan melumuri dirinya dengan lumpur untuk jangka waktu tertentu. Namun yang membuat budaya mereka berbeda dengan budaya kebanyakan suku di daerah lain adalah memotong jari mereka. Hampir sama dengan apa yang dilakukan oleh para Yakuza (kelompok orangasasi garis keras terkenal di Jepang) jika mereka telah melanggar aturan yang telah ditetapkan oleh organisasi atau gagal dalam menjalankan misi mereka. Sebagai ungkapan penyesalannya, mereka wajib memotong salah satu jarimereka. Bagi masyarakat pengunungan tengah, pemotongan jari dilakukan apabila anggota keluarga terdekat seperti suami, istri, ayah, ibu, anak, kakak, atau adik meninggal dunia.
           Pemotongan jari ini melambangkan kepedihan dan sakitnya bila kehilangan anggota keluarga yang dicintai. Ungkapan yang begitu mendalam, bahkan harus kehilangan anggota tubuh. Bagi masyarakat pegunungan tengah, keluarga memiliki peranan yang sangat penting. Bagi masyarakat Balim Jayawijaya kebersamaan dalam sebuah keluarga memiliki nilai-nilai tersendiri. pemotongan jari itu umumnya dilakukan oleh kaum ibu. Namun tidak menutup kemungkinan pemotongan jari dilakukan oleh anggota keluarga dari pihak orang tua laki-laki atau pun perempuan.
          Pemotongan jari tersebut dapat pula diartikan sebagai upaya untuk mencegah ‘terulang kembali’ malapetaka yang telah merenggut nyawa seseorang di dalam keluarga yang berduka. Seperti kisah seorang ibu asal Moni (sebuah suku di daerah Paniai), dia bercerita bahwa jari kelingkingnya digigit oleh ibunya ketika ia baru dilahirkan. Hal itu terpaksa dilakukan oleh sang ibu karena beberapa orang anak yang dilahirkan sebelumnya selalu meninggal dunia. Dengan memutuskan jari kelingking kanan anak baru saja ia lahirkan, sang ibu berharap agar kejadian yang menimpa anak-anak sebelumnya tidak terjadi pada sang bayi.
           Hal ini terdengar sangat eksrim, namun kenyataannya memang demikian, wanita asalMoni ini telah memberikan banyak cucu dan cicit kepada sang ibu. Pemotongan jari dilakukan dengan berbagai cara. Ada yang memotong jari dengan menggunakan alat tajam seperti pisau, parang, atau kapak. Cara lainnya adalah dengan mengikat jari dengan seutas tali beberapa waktu lamanya sehingga jaringan yang terikat menjadi mati kemudian dipotong.Namun kini budaya ‘potong jari’ sudah ditinggalkan. sekarang jarang ditemui orang yang melakukannya beberapa dekade belakangan ini. Yang masih dapat kita jumpai saat iniadalah mereka yang pernah melakukannya tempo dulu. Hal ini disebabkan oleh karena pengaruh agama yang telah masuk hingga ke pelosok daerah di Papua.

3.i. Alat musik tradisional papua

  • Tifa
          Alat musik tradisional Tifa ini, banyak digunakan oleh penduduk Papua dan Maluku. Bila diperhatikan sekilas Tifa mirip dengan gendang. Dan dimainkan dengan cara dipukul pula. Tifa dibuat dari batang kayu yang dihilangkan isinya. Salah satu ujungnya lalu ditutupi menggunakan kulit binatang seperti kulit rusa. Kulit rusa ini telah mengalami proses pengeringan terlebih dahulu, agar bisa menghasilkan bunyi yang indah. Tifa dimiliki setiap suku di Papua, memiliki spesifikasi masing-masing. Antara lain lewat ukiran yang menghiasi alat musik tersebut. Tifa biasanya dimainkan saat ada acara, seperti acara penyambutan tamu penting, upacara adat dan sebagainya. Alat musik ini juga digunakan untuk mengiringi aneka tarian tradisional Papua. Antara lain Tarian Perang, Tari Gatsi, dan tari tradisional lainnya. 

  • Triton
          Berbeda dengan Tifa yang dipukul seperti gendang, Triton adalah alat musik tradisional Papua yang berupa alat tiup. Triton terdapat dihampir seluruh wilayah pantai seperti Kepulauan Raja Ampat, Biak, Teluk Wondama, Yapen Waropen, dan Nabire. Semula Triton digunakan sebagai alat panggil atau pemberi tanda sebagai sarana berkomunikasi. Tapi kemudian Triton mengalami perkembangan menjadi alat musik yang digunakan untuk hiburan.
  • Pikon
          Pikon berasal dari kata pikonane. Dalam bahasa Baliem, Pikonane berarti alat musik bunyi. Alat ini terbuat dari sejenis bambu yang beruas-ruas dan berongga bernama Hite. Pikon yang ditiup sambil menarik talinya ini hanya akan mengeluarkan nada-nada dasar, berupa do, mi dan sol. Walau kelihatan sederhana namun ternyata tak semua orang bisa menggunakan alat musik tradisional Papua ini. Sehingga lomba tiup Pikon yang bisa memunculkan suara-suara mirip suara binatang ini, digelar setiap tahun di Festival Lembah Baliem.


3.j. Peta 



4. SEBUAH ANALISIS
4.a. Situs-Situs Sejarah Yang Potensial

        Pengetahuan yang minim terhadap pengetahuan kebudayaan sejarah nusantara memaksa kita untuk mempelajarinya dan mengenalnya. Alternatifnya kita dapat mempelajari budaya nusantara khususnya keberaneka ragaman budaya Papua kita bisa melakukan traveling selain kita bisa mempelajari kebudayaan masyarakatnya kita bisa menikmati pemandangan alam sekitarnya.Misalnya kita akan pergi ke Papua usahakan kita datang ke museum Papua karena di Museum ini memiliki 3.619 koleksi yang terdiri atas benda-benda prasejarah, arkeologi, etnografi, seni rupa, numismatika, sejarah, biologi, geologi, dan relief.
          Tidak hanya itu Yang cukup menarik adalah lukisan ditempel di dinding, berisi ilustrasi wajah-wajah beberapa suku asli Papua. Koleksi lainnya adalah benda-benda senjata dan peralatan rumah tangga, ukiran kayu, patung-patung, busana tradisional, kapal-kapal beraneka bentuk dari berbagai suku di Papua, dan benda-benda seni lainnya.
          Selain keunggulan yang ditonjolkan oleh Museum ini sebenarnya ada kendala yang dihadapi oleh Museum ini selain jarangnya pengunjung yang datang ke museum ini ,banyak pula orang tidak mengtahui bahwa di Papua memiliki tempat penyimpanan barang –barang yang kita sebut museum. Faktor utamanya karena kurangnya perhatiaan pemerintah dalam memperkenalkan museum ini dan seharusnya museum tidak hanya memperkenalkan budayanya saja tetapi ada trobosan baru seperti pemutaran film 3 Dimensi mengenai sejarah atau budaya sekitar dimana pengunjung dapat merasakannya langsung.



4.b. Situs Budaya/Khasanah Budaya

       Banyaknya suku yang menyebar di kota papua menyabkan keberaneka ragaman budaya yang lahir di dalamnya seperti upacara adat, rumah adat, seni plastis, legenda, wisdom semua pasti berbeda. Karenanya semuanya memiliki khasnya masing-masing sebagai tanda perbedaan. Suku yang tinggal di tanah papua yakni Suku Asmat, Suku Tobati dan Suku Dani. Budaya yang lahir di papua sangatlah kental namun hanya saja budaya memotong jari sudah tidak dilakukan lagi karena itu dapat merugikan diri mereka yang masih hidup dan sebagai menggalihkannya mereka masih melakukan penghormatan pada leluhurnya dengan melakukan rirual dan menuangkannya dalam sebuah tariaan. Banyaknya budaya yang masuk ke papua dapat menyebabkan lunturnya budaya itu sendiri.



5. PENUTUP

Kesimpulan

          Papua memiliki beraneka ragam budaya serta tradisi yang sangat kental karena mereka sangat menghormati nenek moyang mereka dan sangat menghargai alam sebagai pemberiaan tuhan mereka. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar