Minggu, 09 Januari 2011

SULAWESI SELATAN MEMILIKI PARIWISATA YANG EKSOTIS

POTENSI WISATA BUDAYA SULAWESI SELATAN
Sebuah Analisis Penjelajahan Awal
  BAB 1
PENDAHULUAN
Sulawesi Selatan adalah sebuah Provinsi di Indonesia yang terletak di bagian selatan Sulawesi selatan. Ibu kotanya adalah Makassar, dahulu disebut Ujungpandang.
Sulawesi yang dulu dikenal dengan nama Celebes adalah sebuah pulau yang indah, luas wilayahnya berkisar 227.000 Km2, kurang lebih sebesar Inggris & Skotlandia. Dengan semenanjung yang panjang dan sempit, menyerupai bentuk bunga anggrek, hal ini menjadikan pulau ini memiliki garis pantai yang panjang dan merupakan pulau dengan pemandangan lepas pantai dan daratan tinggi yang sangat indah.

Geografi

Provinsi Sulawesi Selatan terletak di 0°12' - 8° Lintang Selatan dan 116°48' - 122°36' Bujur Timur. Luas wilayahnya 62.482,54 km². Provinsi ini berbatasan dengan Sulaweas i selatan dan Sumatra  di utara, Teluk bone dan Sulawesi tenggara di timur, Selat Makasar di barat dan Laut flores di selatan. Sulawesi Selatan secara administratif berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Tengah di sebelah Utara dan sebelah Barat dengan Selat Makassar. Di sebelah Timur berbatas dengan Teluk Bone dan di sebelah Selatan dengan Laut Flores. Ibukotanya Makassar dengan posisi yang strategis di Kawasan Timur Indonesia memungkinkan Sulawesi Selatan dapat berfungsi sebagai pusat pelayanan, baik bagi Kawasan Timur Indonesia maupun untuk skala internasional.
Secara geografis Selat Sulawesi (Makassar) dikenal sebagai daerah batas dari garis Wallace, mengisahkan dua satuan margasatwa yang berbeda, yaitu bagian Timur dan bagian Barat Indonesia. Jenis flora dan fauna dari pulau ini adalah spesifik seperti kayu ebony, babi, rusa dan burung butung maleo yang berwarna-warni dengan telurnya yang besar.
Pemerintahannya terbagi menjadi 18 Kabupaten yaitu Bantaeng, Barru, Bone, Bulukumba, Enrekang, Gowa, Jeneponto, Luwu, Luwu Timur, Luwu Utara, Maros, Pangkep, Pinrang, Polmas, Selayar, Sidrap, Sinjai, Soppeng serta tiga kota masing-masing Makassar, Pare-pare dan Palopo.

SUKU BANGSA

Perempuan dari Suku Toraja dengan pakaian adatnya Bugis, Makassar, Mandar, Toraja, Duri, Pattinjo, Maroangin, Endekan, Pattae dan Kajang/Konjo

BAHASA

Banyak etnis dan bahasa daerah digunakan masyarakat Sulawesi Selatan, namun etnis paling dominan sekaligus bahasa paling umum digunakan adalah Makassar, Bugis dan Toraja. Bahasa yang umum digunakan adalah Makassar, Bugis, Luwu, Toraja, Mandar, Duri, Konjo dan Pattae.

AGAMA

Mayoritas beragama Islam, kecuali di Kabupaten Tana Toraja dan sebagian wilayah lainnya beragama Kristen.

JUMLAH PENDUDUK

Sampai dengan Juni 2006, jumlah penduduk di Sulawesi Selatan terdaftar sebanyak 7.520.204 jiwa dengan pembagian 3.602.000 orang laki-laki dan 3.918.204 orang perempuan.

PEMERINTAHAN

Lima tahun setelah kemerdekaan, pemerintah mengeluarkan UU Nomor 21 Tahun 1950, yang menjadi dasar hukum berdirinya Provinsi Administratif Sulawesi. 10 tahun kemudian, pemerintah mengeluarkan UU Nomor 47 Tahun 1960 yang mengesahkan terbentuknya Sulawesi Selatan dan Tenggara. 4 tahun setelah itu, melalui UU Nomor 13 Tahun 1964 pemerintah memisahkan Sulawesi Tenggara dari Sulawesi Selatan. Terakhir, pemerintah memecah Sulawesi Selatan menjadi dua, berdasarkan UU Nomor 26 Tahun 2004.
Kabupaten Majene, Mamasa, Mamuju, Mamuju Utara dan Polewali Mandar yang tadinya merupakan kabupaten di provinsi Sulawesi Selatan resmi menjadi kabupaten di provinsi Sulawesi Barat seiring dengan berdirinya provinsi tersebut pada tanggal 5 Oktober 2004 berdasarkan UU Nomor 26 Tahun 2004. 
  BAB 2
SITUS-SITUS SEJARAH
A.    SITUS EKSITU
1.      Kandang Macan (Ujung/Parepare)
2.      Bioskop Ratu (Jl Lembeh/Makassar)
3.      Kapitol, lebel rekaman (Jl Sultan Hasanuddin/Parepare)
4.      K E S (Jl Sulawesi/Ujung/Parepare)
5.      Bijenkorf, sarang lebah (Jl Usman Jafar/Makassar)
6.      Museum La Galigo
7.      Musium Balla Lompoa
Musium yang terbuat dari kayu ini merupakan rekonstruksi dari istana tua kerajaan Gowa masa lalu yang dibangun pada tahun 1939
B.    SITUS INSITU
1.      Benteng Batu Terang (Bontomanai/ Bantaeng)
2.      Gedung Bank Pembangunan Sulsel (Jl Nusantara/Makassar)
3.      Benteng Panakkukang (Barombong/Makassar)
4.      Bunker Jepang Sanggalea (Turikale/Maros)
5.      Situs Beba (Galesong Utara/Takalar)
6.      Gedung Merah (Jl Ratulangi/Makassar)
7.      Gua batu ejaya bentaen
8.      Gua pangnganreang tudea bantaeng
9.      Taman purbakala batu pake gonjen sinjai
10. Taman prasejarah leang leang maros
11. Benteng ujungpandang makassar
12. Benteng Somba Opu
C.    KOTA TUA
Soppeng 
 
Soppeng adalah salah satu kota tercantik di Provinsi Sulawesi Selatan dan merupakan bekas kota raja masa lampau, mempunyai wilayah kekuasaan serta pengaruh yang cukup luas diantara kerajaan-kerajaan lokal lainnya
D.    DESA TRADISIONAL
Desa kate

Desa kate adalah desa tradisional yang mempunyai banyak toko barang antik dan barang kerajinan. Barang kerajinan yang di jual adalah tabung bambu untuk manukskrip, lukisan dari kayu ukiran tangan dalam disain dan warna tradisional serta barang-barang dari kuningan. Patung-patung berukuran dewasa di peruntukan menjaga peti mati yang diletakan disisi bukit belakang desa-desa tersebut.
kebudayaan yang terkenal hingga ke mancanegara adalah budaya dan adat Tana Toraja yang khas dan menarik. Lagu daerah yang kerap dinyanyikan di antaranya lagu Makasar yaitu Ma Rencong-rencong, Pakarena dan Anging Mamiri. Sedangkan lagu Bugis adalah Indo Logo, dan Bulu Alaina Tempe dan untuk Tana Toraja adalah lagu Tondo.
Tana Toraja
Terletak di Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Ibu kota kabupaten ini adalah Makale. Sebelum pemekaran, kabupaten ini memiliki luas wilayah 1.990 km² dan berpenduduk sebanyak 248.607 jiwa (2007).
Suku Toraja yang mendiami daerah pegunungan dan mempertahankan gaya hidup yang khas dan masih menunjukkan gaya hidup Austronesia yang asli dan mirip dengan budaya Nias. Daerah ini merupakan salah satu obyek wisata di Sulawesi Selatan.
Perkenonomian di Tana Toraja digerakkan oleh 6 pasar tradisional dengan sistem perputaran setiap 6 hari. Ke enam pasar yang ada ialah:
1.      Pasar Makale
2.      Pasar Rantepao
3.      Pasar Ge'tengan
4.      Pasar Sangalla'
5.      Pasar Rembon
6.      Pasar Salubarani 
      Obyek wisata diTana Toraja merupakan salah satu daya tarik wisata Indonesia, dihuni oleh Suku Toraja yang mendiami daerah pegunungan dan mempertahankan gaya hidup yang khas dan masih menunjukkan gaya hidup Austronesia yang asli dan mirip dengan budaya Nias. Daerah ini merupakan salah satu obyek wisata di Sulawesi Selatan.
BAB 3  
SITUS-SITUS BUDAYA
A.    TRADISI YANG MASIH BERLANGSUNG
Tana Toraja memiliki kekhasan dan keunikan dalam tradisi upacara pemakaman yang biasa disebut “Rambu Tuka”. Di Tana Toraja mayat tidak di kubur melainkan diletakan di “Tongkanan“ untuk beberapa waktu. Jangka waktu peletakan ini bisa lebih dari 10 tahun sampai keluarganya memiliki cukup uang untuk melaksanakan upacara yang pantas bagi si mayat. Setelah upacara, mayatnya dibawa keperistirahatan terakhir di dalam Goa atau dinding gunung. Tengkorak-tengkorak itu menunjukan pada kita bahwa, mayat itu tidak dikuburkan tapi hanya diletakan di batuan, atau dibawahnya, atau di dalam lubang. Biasanya, musim festival pemakaman dimulai ketika padi terakhir telah dipanen, sekitar akhir Juni atau Juli, paling lambat September. Peti mati yang digunakan dalam pemakaman dipahat menyerupai hewan (Erong). Adat masyarakat Toraja antara lain, menyimpan jenazah pada tebing/liang gua, atau dibuatkan sebuah rumah (Pa'tane). Rante adalah tempat upacara pemakaman secara adat yang dilengkapi dengan 100 buah “batu”, dalam Bahasa Toraja disebut
Simbuang Batu. Sebanyak 102 bilah batu yang berdiri dengan megah terdiri dari 24 buah ukuran besar, 24 buah sedang, dan 54 buah kecil. Ukuran batu ini mempunyai nilai adat yang sama, perbedaan tersebut hanyalah faktor perbedaan situasi dan kondisi pada saat pembuatan/pengambilan batu. Simbuang Batu hanya diadakan bila pemuka masyarakat yang meninggal dunia dan upacaranya diadakan dalam tingkat “Rapasan Sapurandanan” (kerbau yang dipotong sekurangkurangnya
Pallawa
Tongkonan Pallawa adalah salah satu tongkonan atau rumah adat yang sangat menarik dan berada di antara pohon-pohon bambu di puncak bukit. Tongkonan tersebut didekorasi dengan sejumlah tanduk kerbau yang ditancapkan di bagian depan rumah adat. Terletak sekitar 12 km ke arah utara dari Rantepao.
Londa
Londa adalah bebatuan curam di sisi makam khas Tana Toraja. Salah satunya terletak di tempat yang tinggi dari bukit dengan gua yang dalam dimana peti-peti mayat diatur sesuai dengan garis keluarga, di satu sisi bukit lainya dibiarkan terbuka menghadap pemandangan hamparan hijau. Terletak sekitar 5 km ke arah selatan dari Rantepao.
Ke’te Kesu
Obyek yang mempesona di desa ini berupa Tongkonan, lumbung padi dan bangunan megalith di sekitarnya. Sekitar 100 meter di belakang perkampungan ini terdapat situs pekuburan tebing dengan kuburan bergantung dan tau-tau dalam bangunan batu yang diberi pagar. Tau-tau ini memperlihatkan penampilan pemiliknya sehari-hari. Perkampungan ini juga dikenal dengan keahlian seni ukir yang dimiliki oleh penduduknya dan sekaligus sebagai tempat yang bagus untuk berbelanja souvenir. Terletak sekitar 4 km dari tenggara Rantepao.
Batu Tumonga
Di kawasan ini anda dapat menemukan sekitar 56 batu menhir dalam satu lingkaran dengan 4 pohon di bagian tengah. Kebanyakan batu menhir memiliki ketinggian sekitar 2–3 meter. Dari tempat ini anda dapat melihat keindahan Rantepao dan lembah sekitarnya. Terletak di daerah Sesean dengan ketinggian 1300 meter dari permukaan laut.
Lemo
Tempat ini sering disebut sebagai rumah para arwah. Di pemakaman Lemo kita dapat melihat mayat yanng disimpan di udara terbuka, di tengah bebatuan yang curam. Kompleks pemakaman ini merupakan perpaduan antara kematian, seni dan ritual. Pada waktu-waktu tertentu pakaian dari mayat-mayat akan diganti dengan melalui upacara Ma' Nene.
Accera Kalompoang
Inti upacara ini adalah allangiri kalompoang yaitu pembersihan dan penimbangan salokoa (mahkota) yang dibuat pada abad ke-14. Mahkota ini pertama kali dipakai oleh Raja Gowa, I Tumanurunga dan digunakan dalam pelantikan raja-raja Gowa berikutnya.
Sebetulnya bagian menarik dari upacara accera kalompoang adalah saat penimbangan salokoa. Salokoa adalah mahkota emas murni seberat 1.768 gram dengan diameter 30 cm dan berhias 250 butir berlian. Ukurannya tepat sekali. Penimbangan mahkota menjadi acara penting karena menentukan kehidupan masyarakat Gowa di masa yang akan datang.
Mahkota tersebut tidak pernah ditambah atau dikurangi ukuran atau bentuknya. Tetapi saat penimbangan, timbangan mahkota sering berubah-ubah. Kadang berkurang, kadang bertambah. Timbangan kurang menandakan akan terjadinya bencana. Sebaliknya, jika timbangan mahkota bertambah, maka tandanya kemakmuran akan datang.
Kamu tertarik menyaksikan upacara accera kalompoang? Datang saja ke Museum Balla Lompoa di Jl. Sultan Hasanuddin No. 48 Sungguminasa, Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Datanglah usai shalat Idul Adha pada tanggal 10 Zulhijjah. Jangan lupa memakai pakaian adat Makassar. Itu adalah syarat utama kalau ingin menyaksikan accera kalompoang.

B.    ARSITEKTUR TRADISIONAL
Rumah-rumah adat di Bugis, Makassar dan Tator memiliki arsitektur tradisional yang hampir sama bentuknya. Rumah-rumah itu dibangun berdiri di atas tiang-tiang dan karenanya mempunyai kolong. Tinggi kolong disesuaikan tiap tingkatannya dengan status sosial pemilik, misalnya raja, bangsawan, orang berpangkat dan rakyat biasa. Masyarakat di sana percaya bahwa selama ini penghuni pertama zaman prasejarah di Sulawesi Selatan adalah orang Toale. Ini didasarkan atas temuan Fritz dan Paul Sarasin tentang orang Toale, yang berarti orang-orang yang tinggal di hutan, atau lebih tepat dikatakan penghuni hutan. Orang Toale masih satu rumpun keluarga dengan suku bangsa Wedda di Srilangka.


Rumah adat Mamuju (Sulbar) di Kawasan Benteng Somba Opu/Ft:Mahaji Noesa
Arsitektur tana toraja memiliki rumah-rumah tradisional yaitu rumah Tongkonan yang mempunyai kaitan dengan penghuni-penghuninya yang merubah perahu-perahu mereka menjadi rumah-rumah dan membentuk pola dari kehidupan masyarakat yang ada saat ini.
Bangunan-bangunan dalam benteng pada zaman raja Gowa yang ke-10 beberapa di antaranya merupakan contoh-contoh arsitektur yang paling baik yang kemudian di beri nama Fort Rotterdam oleh Belanda. Setelah perjanjian Bunganya di tahun 1667, maka Benteng tersebut menjadi pusat pemerintahan dan perdagangan.

Benteng ujungpandang Makassar Konstruksi dinding terbuat dari batu padas yang disusun, terdapat 15 buah bangunan turutan di dalamnya dengan arsitektur Eropa. Fort Rotterdam memiliki 5 bastion, yakni bastion Bone, bastion Bacan, bastion Amboina, bastion Mandarsyah, dan bastion Buton. Benteng ini pernah dipugar pada tahun 1976 oleh Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Makassar.
C.    SENI PERTUNJUKAN

Tari-tarian Sulawesi selatan banyak dikembangkan, baik yang untuk berfungsi di istana atau untuk upacara keagamaan dimana setiap daerah mempunyai gerakan sendiri dan pakaian tersendiri pula. Tarian tradisional yang terkenal di tanah toraja ialah tari pa’gellu.
Alat music yang sering di gunakan masyarakat Sulawesi selatan adalah suling dan tambur.
D.    SENI PELASTIS

caleng    13 Jun. 2009, 3:59:39
[Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia]
guci antik dari china berusia lebih dari 100 tahun

E.    SENI RUPA DUA DIMENSI
Di tempat Prasejarah Leang-Leang terdapat lukisan-lukisan dinding pada goa-goa di Leang-Leang. Dari gambar-gambar pada dinding goa dan alat-alat yang ditemukan, kita bisa tahu lho seperti apa kehidupan manusia prasejarah.

F.     KERAJINAN TANGAN

Sutra alam yang indah dari Sulawesi selatan terkenal di seluruh Negeri. Kain sutra Tradisional berwarna cerah dalam disain geometris dan tidak terlalu lebar. Tetapi, tekhnik modern telah di terapkan di dalam perindustian kecil kain sutra yang di buat dalam warna-warna yang padat. Kemudian suku toraja mempunyai kain kapas yang di tenun tangan di pakai untuk selendang, sering kali dengan pola gambar kerbau atau rumah. Barang kerajinan tangan lainnya antara lain seperti barang keranjang, tikar, topi, kotak kayu di ukir tangan dan barang hiasan dari bamboo lainnya.
G.   LEGENDA/MITOLOGI
Gunung Bawakaraeng berada di wilayah Kabupaten Gowa, Sulawesi selatan. Di lereng gunung ini terdapat wilayah ketinggian, Malino, tempat wisata terkenal di Sulawesi Selatan.
Mitos
Bawakaraeng bagi masyarakat sekitar memiliki arti sendiri. Bawa artinya Mulut, Karaeng artinya Tuhan. Jadi Gunung Bawakaraeng diartikan sebagai Gunung Mulut Tuhan.Penganut Sinkrestisme di wilayah sekitar gunung ini meyakini Gunung Bawakaraeng sebagai tempat pertemuan para Wali. Para penganut keyakinan ini juga menjalankan ibadah haji di puncak Gunung Bawakaraeng setiap musim haji atau bulan Zulhijjah, bersamaan dengan pelaksanaan ibadah haji di Tanah Suci. Tepat tanggal 10 Zulhijjah, mereka melakukan salat Idul adha di puncak Gunung Bawakaraeng atau di puncak Gunung Lompobatang.
Kabupaten Bulukumba adalah salah satu daerah tingkat II di Provinsi sulawesi selatan, Indonesia. Ibu kota kabupaten ini terletak di Kota Bulukumba. Mitologi penamaan "Bulukumba", konon bersumber dari dua kata dalam bahasa Bugis yaitu "Bulu’ku" dan "Mupa" yang dalam bahasa Indonesia berarti "masih gunung milik saya atau tetap gunung milik saya".
Mitos ini pertama kali muncul pada abad ke–17 masehi ketika terjadi perang saudara antara dua kerajaan besar di Sulawesi yaitu Kerajaan Gowa dan Kerajaan Bone. Di pesisir pantai yang bernama "Tana Kongkong", di situlah utusan Raja Gowa dan Raja Bone bertemu, mereka berunding secara damai dan menetapkan batas wilayah pengaruh kerajaan masing-masing.
Bangkeng Buki' (secara harfiah berarti kaki bukit) yang merupakan barisan lereng bukit dari Gunung Lompobattang diklaim oleh pihak Kerajaan Gowa sebagai batas wilayah kekuasaannya mulai dari Kindang sampai ke wilayah bagian timur. Namun pihak Kerajaan Bone berkeras memertahankan Bangkeng Buki' sebagai wilayah kekuasaannya mulai dari barat sampai ke selatan.
Berawal dari peristiwa tersebut kemudian tercetuslah kalimat dalam bahasa Bugis "Bulu'kumupa" yang kemudian pada tingkatan dialek tertentu mengalami perubahan proses bunyi menjadi "Bulukumba".
Konon sejak itulah nama Bulukumba mulai ada dan hingga saat ini resmi menjadi sebuah kabupaten.
H.    WISATA ZIARAH
1. Makam Puak To Luwu (Wara Timur/Palopo)
2. Makam Andi Tenri Pau (Bua/Luwu)
3. Konstruksi Rumah Adat Toraja (Makale/Tana Toraja)
4. Masjid Tua Takalar (Mappakasunggu/Takalar)
5. Makam sultan hasanudin
            Sultan Hasanuddin (1629 - 1670) adalah Raja Gowa yang mengabdikan seluruh    
hidupnya   untuk melawan belanda
I.       WISDOM
Salah satu upacara adat di Tanah Toraja (Tator) adalah upacara Rambu Solo (upacara berduka/ kematian) yang merupakan upacara besar sebagai ungkapan dukacita. Sedangkan dikalangan masyarakat Bugis terdapat falsafah hidup “Aja Muamelo Ribetta Makkala’ Ricappa’na Letengnge”, yang berarti masyarakat menanti dengan penuh harap pemimpin pemerintahan yang bertindak cekatan dan bereaksi cepat mendahului orang lain dengan penuh keberanian meskipun menghadapi tantangan berat.

J.     PETA








K.    AKSES TRANSPORTASI
Kendaraan yang di gunakan:
·         Bus
·         Pesawat
·         Kapal laut
·         Kereta api
Terdapat fasilitas pemberhentian :
·         Terminal
·         Bandara
·         Pelabuhan
·         Stasiun
Akses
Transportasi Udara
Terdapat 3 bandara di sekitar Sulawesi Tengah yaitu bandara Mutiara (Palu), Bandara Kasiguncu (Poso) dan Bandara Bubung (Luwuk). Bandara Mutiara Palu mempunyai akses langsung ke bandara utama Indonesia seperti bandara Soekarno Hatta (Jakarta), Hasanuddin (Makassar), Juanda (Surabaya), Ngurah Rai (Bali), Pattimura (Ambon), Sam Ratulangie (Manado), dan lain-lain. Hampir semua maskapai nasional bisa melayani rute ke/dari bandara Mutiara seperti Garuda Indonesia, Lion Air, Merpati, Batavia Air, Sriwijaya Air dan sebagainya.
Bandara Kasiguncu, Poso, memulai 2009 dengan pembenahan yang serius. Maskapai yang telah beroperasi di Kasiguncu adalah Merpati Nusantara Airlines. Untuk saat ini rute yang dilayani adalah rute Poso – Palu dan Poso – Gorontalo dengan frekuensi satu kali penerbangan bolak-balik dalam seminggu. Belakangan Merpati menutup jalur Palu – Poso karena jalur ini lebih disukai dengan perjalanan darat.
Transportasi Laut
Daerah Poso dan sekitarnya memiliki puluhan bahkan ratusan pelabuhan, termasuk pelabuhan rakyat/tradisional yang melayani transportasi manusia dan barang melalui laut. Secara administratif terdapat beberapa pelabuhan utama di daerah Poso dan sekitarnya yaitu Pelabuhan Poso, Ampana (Kab. Tojo Una-una), Wakai (Kep. Togean, Kab Tojo Una-una), Kolonedale (Kab. Morowali), Moahino/Bohumbelu (Kab. Morowali), dan lain-lain.

Pelabuhan-pelabuhan utama tersebut dapat melayani kapal-kapal domestik maupun asing, termasuk untuk pelayanan ekspor impor barang. Kedalaman laut di dermaga pelabuhan Poso misalnya, mencapai 7m sehingga bisa dirapati kapal yang cukup besar. Tahun 2010 telah dimulai juga pengembangan dermaga baru khusus cargo, sehingga nantinya dermaga yang ada saat ini dikhususkan untuk pelayanan penumpang.
Transportasi Darat
Posisinya yang strategis menjadikan Poso sebagai simpul utama transportasi darat di pulau Sulawesi. Perlintasan transportasi darat Utara Selatan (Manado – Gorontalo – Palu – Makassar) dan Timur Barat (Palu – Luwuk) melalui kota Poso sehingga tidak berlebihan jika dalam waktu yang tidak terlalu lama Poso akan berkembang menjadi salah satu pusat perdagangan utama di Sulawesi.
Jalan darat trans Sulawesi cukup baik sehingga hampir seluruhnya dapat dilalui bus berukuran 40-an kursi yang dilengkapi AC. Alat transportasi lainnya adalah bus berukuran lebih kecil dengan kapasitas 20-an kursi, biasanya tanpa AC tetapi tarifnya lebih murah. Selain itu, angkutan antar kota di Sulawesi dapat juga menggunakan minibus yang dikelola oleh travel agen. Kebanyakan minibus juga telah dilengkapi AC yang memungkinkan perjalanan menjadi lebih nyaman.

BAB 4
SEBUAH ANALISIS
1.     SITUS-SITUS SEJARAH POTENSIAL
Need and want
Pada zaman sekarang banyak wisatawan membutuhkan pengetahuan tentang sejarah masa lampau. Dan di di provinsi Sulawesi selatan memilik banyak sejarah sejak berabad abad lamanya salah satunya Sulawesi selatan tetap bangga terhadap keahlian nenek moyang mereka yang telah mewariskan kepada mereka salah satu armada prahu layar yang terakhir di dunia dan dengan garis-garis sejarah dari raja-raja bekas kerajaan gowa dan bone, menyebabkan peovinsi Sulawesi seltan menyimpan rahasi-rahasia dari kebradaan masa lampu. Hal tersebutlah yang membuat banyak wisatawan yang singgah dan datang ke Sulawesi selatan.
Must to have
Situs-situs sejarah yang berada di kabupaten Sulawesi selatan harus menjadi daya tarik yang tidak dapat di bandingkan dari situs-situs sejarah lainnya yang telah ada. Situs sejarah di kabupaten tersebut sangat unik dan sangat  berbeda dari situs-siyus sjarah yang sudah berada di kepulauan jawa yang hingga kini wisatawan mancangara tetap mencari dan meneliti keberdaan dan perjalanan sejarah di kepulauan jawa. Begitu halnya situs-situs sejarah yang berada di sulawei akn di kembangkan seperti demikian. Hal tersebut harus ada kerjasama antar pihak pemerintah maupun pihak suasta untuk mengembangkan potensi-potensi wisata yang berada di Sulawesi selatan untuk di kembangkan menjadi daya tarik sejarah yang tidak ternilai harganya tanpa harus merusak ekosistem yang berada di sekitar potensi wisata tersebut dan tanpa menghilangkan nilai-nilai ejarah yang sudah ada. Kemudian pihak pengembang harus memperhatikan kadaan penduduk di sekitar potensi objek wisata.
Kunggulan situs sejarah
Taman Prasejarah Leang-Leang Di taman ini ada ratusan goa prasejarah yang tersebar di perbukitan cadas (karst) Maros-Pangkep. Dalam bahasa Makassar, leang artinya goa. Serupa dengan kata liang yang artinya lubang.
Hal yang menarik dari tempat ini adalah adanya lukisan-lukisan dinding pada goa-goa di Leang-Leang. Dari gambar-gambar pada dinding goa dan alat-alat yang ditemukan, kita bisa tahu lho seperti apa kehidupan manusia prasejarah. Di taman ini ada ratusan goa prasejarah yang tersebar di perbukitan cadas (karst) Maros-Pangkep. Dalam bahasa Makassar, leang artinya goa. Serupa dengan kata liang yang artinya lubang.
Gambar-gambar di kedua goa banyak yang berwarna merah. Warna tersebut terbuat dari bahan pewarna alami yang dapat meresap kuat ke dalam pori-pori batu sehingga tidak bisa terhapus dan bertahan ribuan tahun.
Museum LA galigo, terdapat koleksi pakaian pengantin adat dari beberapa suku dan daerah indonesia. Koleksi religius dipenghujung jelajah kita dimuseum La Galigo, kita akan berada dalam suatu ruangan yang yang menyimpan berbagai koleksi yang kental dengan islam, mulai dari potret para tokoh islam, Al-quran, tasbih dari masa permulaan masuknya ajaran islam di Sulawesi Selatan.
Kendala yang di hadapi dalam pengembangan wisata
·         Memerlukan Dana besar yang di perlukan untuk pengembangan pariwisata sejarah
·         Masyarakat setempat tidak mendukung pembangunan pariwisata di sekitar potensi wisata sejarah
·         Perizinan hukum yang rumit dan sangat berbelit-belit membuat penanam modal asing tidak berminat mananam sahamnya di Sulawesi selatan.
2.     SITUS BUDAYA / KHASAH BUDAYA
Need and want
Wisatawan mancanegara maupun wisatawan domestic membutuhkan pariwisata yang mengelola kebudayaan Indonesia tersendiri mereka lebih menyukai wisata budaya yang unik dan menarik seprti di provinsi Sulawesi selatan. Provinsi tersebut menyimpan banyak kebudayaan dan adat istiadat sejak zaman nenek moyang mereka dan hingga kini kebudayaan dan adat istiadat di provinsi Sulawesi selatan masih terus di pertahankan secara turun menurun.
Must to have
Menjadikan provinsi Sulawesi selatan menjadi cagar kebudayaan yang harus di pertahankan keberadaannya untuk di jadi kan objek wisata yang menarik di kunjungi wisatawan asing mau pun wisatawan domestic seprti di pulau bali yang sampe sekarang sestim kebuyaannya masih tetep terjaga hingga kini, walaupun terkontaminasi dengan budaya asing. Karena provinsi Sulawesi selatan menyimpan banyak budaya dan adat istiadat.
Kunggulan situs budaya
Tanah Toraja, merupakan obyek wisata yang terkenal dengan kekayaan budayanya. Kabupaten yang terletak sekitar 350 km sebelah Utara Makassar ini sangat terkenal dengan bentuk bangunan rumah adatnya. Rumah adat ini bernama TONGKONAN. Atapnya terbuat dari bambu yang dibelah dan disusun bertumpuk, namun saat ini banyak juga yang menggunakan seng. Tongkonan ini juga memiliki strata sesuai derajat kebangsawanan masyarakat seperti strata emas, perunggu, besi dan kuningan.
Tanah Toraja dengan bangunan rumah adatnya ini, sebagai bentuk promosi pariwisata dan untuk menggaet turis Jepang ke daerah ini, maka rumah adat pun dibangun di negeri “matahari terbit” itu.
Tanah Toraja selain upacara adat rambu solo (pemakaman) yang sudah kesohor selama ini. Sebutlah kuburan bayi di atas pohon tarra di Kampung Kambira, Kecamatan Sangalla, sekitar 20 kilometer dari Rantepao, yang disiapkan bagi jenazah bayi berusia 0 - 7 tahun.
Pallawa
Tongkonan Pallawa adalah salah satu tongkonan atau rumah adat yang sangat menarik dan berada di antara pohon-pohon bambu di puncak bukit. Tongkonan tersebut didekorasi dengan sejumlah tanduk kerbau yang ditancapkan di bagian depan rumah adat. Terletak sekitar 12 km ke arah utara dari Rantepao.
Londa
Londa adalah bebatuan curam di sisi makam khas Tana Toraja. Salah satunya terletak di tempat yang tinggi dari bukit dengan gua yang dalam dimana peti-peti mayat diatur sesuai dengan garis keluarga, di satu sisi bukit lainya dibiarkan terbuka menghadap pemandangan hamparan hijau. Terletak sekitar 5 km ke arah selatan dari Rantepao.
Ke’te Kesu
Obyek yang mempesona di desa ini berupa Tongkonan, lumbung padi dan bangunan megalith di sekitarnya. Sekitar 100 meter di belakang perkampungan ini terdapat situs pekuburan tebing dengan kuburan bergantung dan tau-tau dalam bangunan batu yang diberi pagar. Tau-tau ini memperlihatkan penampilan pemiliknya sehari-hari. Perkampungan ini juga dikenal dengan keahlian seni ukir yang dimiliki oleh penduduknya dan sekaligus sebagai tempat yang bagus untuk berbelanja souvenir. Terletak sekitar 4 km dari tenggara Rantepao.
Batu Tumonga
Di kawasan ini anda dapat menemukan sekitar 56 batu menhir dalam satu lingkaran dengan 4 pohon di bagian tengah. Kebanyakan batu menhir memiliki ketinggian sekitar 2–3 meter. Dari tempat ini anda dapat melihat keindahan Rantepao dan lembah sekitarnya. Terletak di daerah Sesean dengan ketinggian 1300 meter dari permukaan laut.
Lemo
Tempat ini sering disebut sebagai rumah para arwah. Di pemakaman Lemo kita dapat melihat mayat yanng disimpan di udara terbuka, di tengah bebatuan yang curam. Kompleks pemakaman ini merupakan perpaduan antara kematian, seni dan ritual. Pada waktu-waktu tertentu pakaian dari mayat-mayat akan diganti dengan melalui upacara Ma' Nene.
Kendala yang di hadapi
·         Perizinan hukum yang rumit dan sangat berbelit-belit membuat penanam modal asing tidak berminat mananam sahamnya di Sulawesi selatan
·         Memerlukan Dana besar yang di perlukan untuk pengembangan pariwisata kebudayaan.
·         Masyarakat setempat kurang menyadari pariwisata yang sedang berkembang saat ini di Indonesia.
·         Sulitnya mempertahankan tradisi masyarakat di Sulawesi selatan.
·         Sulitnya menyiapkan lahan pertunjukan kebudayaan bagi warga setempat untuk turut andil di dalamnya.
BAB 5 
 PENUTUP
Demikian hasil laporan saya dari berbagai sumber yang ada bahwa Sulawesi selatan menyimpan banyak nilai sejarah dan potensi wisata sejarah yang dapat berkembang menjadi pariwisata Indonesia yang eksotis dan tiada duanya dan Sulawesi selatan dapat bersaing keras dalam dunia pariwisata. Demikian apabila ada kesalahan penulisan saya minta maaf.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar