Tampilkan postingan dengan label Adinda Iftitah Laras. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Adinda Iftitah Laras. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Januari 2011

POTENSI WISATA BUDAYA RIAU

"Mengawali jejak melayu di Riau"

 

 
      PENDAHULUAN
Riau adalah sebuah provinsi di Indonesia. Provinsi ini terletak di Pulau Sumatra dan beribukotakan Pekanbaru.
      Luas wilayah provinsi Riau adalah 87.023,66 km². Keberadaannya membentang dari lereng Bukit Barisan sampai Selat Malaka, dengan iklim tropis basah dan rata-rata curah hujan berkisar antara 2000-3000 milimeter per tahun yang dipengaruhi oleh musim kemarau serta musim hujan. Rata-rata hujan per tahun sekitar 160 hari.
Sejarah Riau Secara etimologi, asal kata Riau terdapat bermacam pendapat, Rio dalam bahasa Portugis dapat bermaksud sungai, dan tercatat pada tahun 1514, ada sebuah ekspedisi militer Portugis dikirim menelusuri sungai Siak dengan tujuan mencari lokasi dari sebuah kerajaan yang diyakini mereka ada pada kawasan sungai tersebut.  Pada awal kemerdekaan Indonesia, wilayah Riau tergabung dalam provinsi Sumatera yang berpusat di Medan. Kemudian provinsi Sumatera dimekarkan menjadi tiga provinsi, yakni Sumatera Utara, Sumatera Tengah, dan Sumatera Selatan. Selanjutnya pada tahun 1957, berdasarkan Undang-undang darurat nomor 19 tahun 1957, provinsi Sumatera Tengah kembali dimekarkan atas 3 provinsi yaitu Riau, Jambi dan Sumatera Barat. Berdasarkan Kepmendagri nomor Desember 52/I/44-25, pada tanggal 20 Januari 1959, kota Pekanbaru resmi menjadi ibu kota provinsi Riau mengantikan kota Tanjung Pinang. Pada tahun 2002, berdasarkan Undang-undang nomor 25 tahun 2002, provinsi Riau juga dimekarkan lagi atas 2 provinsi yaitu Riau dan Kepulauan Riau. Sehingga wilayah administrasi provinsi Riau selanjutnya adalah dikurangi dengan wilayah provinsi Kepulauan Riau sekarang.

PERBATASAN
Utara berbatasan dengan Kepulauan Riau dan Selat Melaka
Selatan dengan Provinsi Jambi dan Selat Berhala
Timur berbatasan dengan Laut Cina Selatan (Provinsi Kepulauan Riau)
Barat berbatasan dengan Provinsi Sumatera Barat dan Provinsi Sumatera Utara. 

JUMLAH PENDUDUK
Jumlah penduduk provinsi Riau berdasarkan data Badan Pusat Statistik Provinsi Riau tahun 2010 sebesar 5.543.031 jiwa.
Kabupaten/Kota yang memiliki jumlah penduduk terbanyak adalah Kota Pekanbaru dengan jumlah penduduk 903.902 jiwa, sedangkan
Kabupaten/Kota dengan jumlah penduduk terkecil adalah Kabupaten Kepulauan Meranti sebesar 176.371 jiwa.

SUKU
      Adapun etnis-etnis yang terdapat di provinsi Riau antara lain Melayu, Jawa, Minangkabau,
     Tionghoa, Mandailing, Batak, Bugis, Aceh, Sunda, Banjar, dan Flores.
     Selain itu di provinsi inimasih terdapat sekumpulan masyarakat terasing di kawasan pedalaman
      dan bantaran sungai seperti Orang Sakai, Suku Akit, Suku Talang Mamak, dan Suku Laut 
 
     BAHASA
           Bahasa pengantar masyarakat provinsi Riau pada umumnya menggunakan Bahasa Melayu 
           dan Bahasa Indonesia. 
           Penggunaan Bahasa Minang secara luas juga digunakan oleh penduduk di provinsi ini. Selain 
           itu bahasa Hokkien juga masih banyak digunakan di kalangan masyarakat Tionghoa, terutama
           yang bermukim di daerah seperti Selatpanjang, Bengkalis, dan Bagansiapiapi

           AGAMA
           Agama - agama yang dianut penduduk provinsi ini sangat beragam, diantaranya Islam, Kristen
           Protestan, Kristen Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu


   SITUS SITUS SEJARAH                                                                                                             

         Candi Muara Tikus adalah salah satu candi peninggalan kebudayaan Hindu.  
        Komplek Candi Muara Takus merupakan satu-satunya peninggalan sejarah yang berbentuk          candi di Riau. Berlokasi di Desa Muara Takus, Kecamatan XIII Koto Kampar, Kabupaten Kampar, jaraknya kurang lebih 135 km dari Kota Pekanbaru. Jarak antara komplek candi ini dengan pusat desa Muara Takus sekitar 2,5 kilometer dan tak jauh dari pinggir sungai Kampar Kanan.   
         Desa Wisata Buluh  Cina dibelah oleh Sungai Kampar yang dikelilingi oleh hutan tropis seluas 100  (seratus) hektare lebih.
Desa Buluh Cina terbagi ke dalam tiga dusun dengan jumlah penduduk sekitar 1500 jiwa atau 300 kepala keluarga (KK). Desa Buluh Cina merupakan desa adat tertua yang mengilhami kelahiran desa-desa yang ada di sekitarnya, seperti Desa Watas Hutan, Desa Pangkalan Baru, Desa Baru, Desa  Pandau Jaya dan Desa Tanah Merah
Di desa ini  kita melihat rumah panggung khas Melayu Kampar, Balai Adat dan museum  dua suku yang berisi peralatan-peralatan yang diwariskan secara turun-temurun  dari para leluhur. Di sepanjang tepian sungai, kita dapat menyaksikan anak-anak  mandi dan wanita mencuci di atas rakit-rakit. Sampan-sampan penduduk yang lalu  lalang mencari ikan atau pergi ke ladang menambah keindahan suasana desa yang sengaja di buat dengan alami, dan kegiatan kegiatan yang di lakukan oleh desa tersebut. Desa Buluh Cina, terletak di  Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Lokasi Desa Wisata  Buluh Cina berjarak sekitar 20 kilometer atau setengah jam perjalanan mengendarai mobil dari Kota Pekanbaru, ibukota Provinsi Riau. Dan berjarak sekitar 90  kilometer dari Bangkinang, ibukota Kabupaten Kampar.

SITUS – SITUS BUDAYA                                                                                         


 Tradisi yang masih berlangsung

     Tradisi yang masih berlangsung di Riau hanya ada di suku pedalaman Riau yang di Talang Mamak. Bagi masyarakat pedalaman Talang Mamak, Riau, setiap momen kehidupan memiliki arti penting. Hampir semuanya selalu “dirayakan” dalam sebuah upacara ritual. Masyarakat pedalaman Talak Mamak memiliki adat istiadat turun temurun yang disebut Langkah Lama. Kegiatan budaya yang digelar dengan permainan dan seni tradisi dikalangan Suku Talang Mamak disebut Begawai. Ritual Begawai ada bermacam-macam, karena itulah ada begawai yang digunakan untuk merayakan atau menyemarakkan upacara-upacara adat perkawinan, upacara bulean (pengobatan).
 
 
 
 
Riau memiliki potensi besar di bidang arsitektur. Sejak zaman dahulu gaya arsitektur bangunan di Riau kuat dipengaruhi oleh corak Hindu-Budha. Belum lagi kerjaan Melayu seperti Siak yang bangunannya dipengaruhi oleh arsitektur Timur Tengah dan Eropa. Gaya arsitektur di Bumi Lancang Kuning ini lebih berwarna lagi dengan adanya kerajaan-kerajaan kecil yang tersebar di seluruh aliran Sungai yang ada di daratan Riau (Sungai Rokan, Siak, Kuantan dan Indragiri). Sesuai dengan perkembangan teknologi kini, bangunan yang ada di Riau pun berkembang. Gaya, arsitektur lama yang sarat dengan nilai-nilai budaya berpadu dengan canggihnya teknologi, salah satu contoh gaya arsitektur dapat dilihat dari Rumah adat Riau identik dengan Melayu. 

        Balai Salaso Jatuh,  Balai salaso jatuh adalah bangunan seperti rumah adat tapi fungsinya bukan untuk tempat tinggal melainkan untuk musyawarah atau rapat secara adat. Sesuai dengan fungsinya bangunan ini mempunyai macam-macam nama antara lain : Balairung Sari, Balai Penobatan, Balai Kerapatan dan lain-lain. Bangunan tersebut kini tidak ada lagi, didesa-desa tempat musyawarah dilakukan di rumah Penghulu, sedangkan yang menyangklut keagamaan dilakukan di masjid. Begitu pula Balai adat di Kabupaten Kampar yang disebut Balai Gadang kini tidak ada lagi. Balai Salaso Jatuh mempunyai selasar keliling yang lantainya lebih rendah dari ruang tengah, karena itu dikatakan Salaso Jatuh. Semua bangunan baik rumah adat maupun balai adat diberi hiasan terutama berupa ukiran. Di puncak atap selalu ada hiasan kayu yang mencuat keatas bersilangan dan biasanya hiasan ini diberi ukiran yang disebut Salembayung atau Sulobuyung yang mengandung makna pengakuan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. 

Rumah Melayu Atap Lontik
     Rumah lontik yang dapat juga disebut rumah lancang karena rumah ini bentuk atapnya melengkung keatas dan agak runcing sedangkan dindingnya  miring keluar dengan hiasan kaki dinding mirip perahu atau lancang. Hal ini melambangkan penghormatan kepada Tuhan dan terhadap sesama. Rumah lontik diperkirakan dapat pengaruh dari kebudayaan Minangkabau karena kabanyakan terdapat di daerah yang berbatasan dengan Sumatera Barat. Tangga rumah biasanya ganjil, bahkan rumah lontik beranak tangga lima, Hal ini ada kaitannya dengan ajaran islam yakni rukun islam lima.

      SENI PERTUNJUKAN


Riau sangat kaya akan seni pertunjukan teater, tari, musik dan nyanyia. Inilah bentuk bentuk keseniannya :

     Makyong yaitu pertunjukan rakyat di daerah Riau, seperti teater yang pelakunya memakai topeng dan kuku buatan yang panjang, cerita yang diangkat biasanya tidak jauh dari istana, karena perkembangan kesenian ini berawal dari kerajaan. Di zaman dulu, pertunjukan mak yong diadakan orang desa di pematang sawah selesai panen padi. Pertunjukan mak yong dibawakan kelompok penari dan pemusik profesional yang menggabungkan berbagai unsur upacara keagamaan, sandiwara, tari, musik dengan vokal atau instrumental, dan naskah yang sederhana. Tokoh utama pria dan wanita keduanya dibawakan oleh penari wanita. Tokoh-tokoh lain yang muncul dalam cerita misalnya pelawak, dewa, jin, pegawai istana, dan binatang. Pertunjukan mak yong diiringi alat musik seperti rebab, gendang, dan tetawak,

     Budaya kesenian masyarakat Riau, seperti seni tari berkembang secara integral dengan seni teater. Misalnya tari Ladun, tari Jalan Kunon, dan tari Lemak Lamun yang menjadi bagian dari teater Mendu. Atau tari Selendang Awang, tari Timang Welo, tari Berjalan Jauh, dan tari Cik Milik yang merupakan bagian penyusun teater Makyong.

     Seni Sastra berkembang terpisah dari seni teater, walaupun tidak sepenuhnya lepas. Warisan kesusastraan Riau yang paling menonjol adalah Gurindam Dua Belas karya cipta Raja Ali Haji. Namanya sebagai sastrawan, ahli bahasa, penulis sejarah sekaligus ulama, amat disegani di dunia. Jejaknya dijadikan rintisan bagi sastrawan sesudahnya seperti Raja Ali Kelana, Raja Zaleha, Aisyah Sulaiman, dan lain-lain.

    Tari etnik yang berkembang di daerah Riau dilatarbelakangi oleh religi masyarakat kuno (primitif) yang menumbuhkan tari-tarian etnik yang bersifat religius-magis. Tari etnik di Riau dapat dibedakang menjadi tari etnik kerakyatan dan tari etnik kebangsawanan (tari istana), tari kebangsawanan adalah tari yang berkembang dilungkungan istana yang berfungsi untuk seremonial penghormatan raja dan untuk berbagai acara kenegaraan. Pada umumnya tari kebangsawaan bersifat agung, gembira, dan diliputi kemeriahan. Sementara tari etnik kerakyatan adalah menggambarkan ekspresi kehidupan masyarakat pada umumnya, yaitu mengambarkan liku-liku hidup dan kehidupan para petani, nelayan, dan berbagai dinamika lingkungan etnik di pedesaan yang diliputi oleh mitos dan legende se tempat. 

Seni Plastis
      Seni rupa khas Riau teraplikasi dalam motif hias seni rupa terapan, di antaranya pada seni bangunan, kerajinan, dan kain adat seperti kain tenun Siak, sutera lintang Siantan, serta sutera petak catur dan kain mastuli Daik Lingga. Motif Riau menghindari gambar binatang dan manusia, dan sebagai gantinya, mengeksplorasi motif geometri dan tumbuh-tumbuhan, serta kaligrafi. Motif yang terkenal misalnya: bunga cengkih, pucuk rebung, awan larat, sayap layang-layang, siku keluang, dan lain-lain.

     Kerajinan Rakyat
     Kerajianan rakyat yang menjadi ciri khas Riau adalah Tenun Songket Bukit Batu . Salah satu budaya rakyat Bukit Batu adalah kerajinan tenun Songket yang menjadi ciri khas kerajaan Siak tempo dulu. Kerajinan tenun Songket traditional asli berasal dari Kecamatan Bukit Batu (dekat desa Bukit Batu)

Legenda / Mitologi
          Legenda yang ada di Riau ini sedikit aneh, tentang ikan patin yang banyak di jumpai di Riau. Menurut masyarakat setempat dulunya ikan ini hanya ada di daerah aliran Sungai Indragiri, Sungai Siak, Sungai Kampar, dan Sungai Rokan. Ikan patin yang asli adalah berasal dari sungai dan memiliki aroma khas. Selain itu, ikan patin yang dari sungai biasanya memiliki ukuran lebih panjang dan lebih berat. Pada era tahun 1970-an hingga 1980-an, masyarakat Riau masih sering menjumpai ikan patin yang panjangnya sampai satu meter lebih. ada sebuah cerita rakyat yang telah melegenda di kalangan masyarakat Riau. Berkaitan dengan ikan patin ada sebuah cerita rakyat tersebut mengisahkan seorang nelayan yang bernama Awang Gading, yang menemukan seorang bayi perempuan di atas batu di tepi sungai saat ia pulang memancing


Wisdom
     Local
      Hanya ada di suku dalam di Riau yaitu talak mamak yang masih menggunakan pepatah untuk mengingatkan para generasinya. Seperti ini, Hutan mereka bagi dalam tiga kawasan: hutan lindung/keramat (tak boleh sembarangan ditebang sekalipun oleh warganya sendiri), pemukiman dan perladangan. Mereka hanya memanfaatkan hutan lindung dengan memanfaatkan akar-akar tumbuhan sebagai obat, juga daun-daun maupun air dari dalam kayu. Kayu-kayu bekas pun mereka kreasikan menjadi aneka kerajinan/perabotan. Salah satunya adalah Tepak, tempat sirih khas Suku Talang Mamak. Pentingnya menghargai hutan dan tanah ulayat diamanatkan nenek moyang Talak Mamak kepada keturunannya, dalam sebuah pepatah, "langit diaku bapak, bumi diaku ibu", sehingga menjual tanah adat adalah durhaka.

 
SEBUAH ANALISIS

     SITUS – SITUS SEJARAH YANG POTENSIAL
     Kebutuhan dan keinginan para wisatawan dalam mempelajari sejarah yang ada di Indonesia sangatlah kurang, Karena dapat kita lihat pelajaran di sekolah, sejarah itu sangat membosankan. Kini bagaimana kita bisa mengangkat bahwa sejarah sangatlah menyenangkan untuk di pelajari. Dengan belajar di luar kelas dan mengunjungi museum yang sekarang juga sudah bisa membuat para wisatawan merasa tidak bosan, karena teknologi yang digunakan membuat para wisatawan belajar lebih interaktif tidak hanya melihat lihat saja.
      Di Riau hanya ada satu peninggalan sejarah yang masih tertinggal yaitu Candi Muara Takus, salah satu candi peninggalan agama Budha yang sekarang kurang menarik bagi wisatawan. Jarak lokasi yang jauh dan menghabiskan waktu 2.5 jam dari  Pekanbaru ini serta kendaraan sebagai akses kesana tidak ada seperti angkot. Kurang promosi dan kurang menariknya para tour guide menjelaskan candi ini juga menjadi kendala dalam pengembangan salah satu situs sejarah ini.
  
PENUTUP
     Demikianlah yang bisa saya jelaskan tentang potensi-potensi wisata sejarah dan wisata budaya yang saya ketahui di Riau, Semoga dokumen penelitian  ini bermanfaat dan anda anda berminat berwisata ke Riau





 
 
 

Senin, 15 November 2010

TUGAS 3# MENGUNGKAP IDE PERILAKU DI MASA ORANGTUAKU

B
erbicara budaya generasi orangtua saya, ada 7 unsur kebudayaan yang sangat erat hubungan. Kali ini saya akan menceritakan 7 unsur kebudayaan pada generasi orang tua saya. Saya .. Adinda Iftitah Laras, anak kedua dari G.Sunaryo dan Nur Fachriah,  keduanya orangtua saya lahir dan besar di lingkungan Jakarta pada Era-60an. Percampuran dua budaya Jawa dan Sunda dari kakek nenek kedua orangtua saya ini, tetapi yang akan saya cerita pada bagian 3 ini lebih ke sistem budaya ayah saya  dan sistem pengetahuan ibu saya yang memang sudah pintar sejak kecil.

A.   BAHASA

          Berbicara bahasa, kakek nenek dari ayah saya adalah keturunan asli Jawa (Kutoarjo), saya biasanya memanggilnya dengan “MBAH KAKUNG” (sebutan untuk kakek), dan “MBAH UTIH” (sebutan untuk nenek) sedangkan kakek dan nenek dari ibu saya juga keturanan asli Sunda (Majalengka) biasanya saya memanggilnya dengan sebutan “AKI” (sebutan untuk kakek), dan “NINI” (sebutan untuk nenek). Dalam bahasa sehari – hari nenek saya masih menggunakan bahasa jawa dalam berbicara, namun tidak kepada kami para cucunya, karena saya sendiri tidak begitu mengerti bahasa jawa, kalau pun bisa berbicara bahasa jawa cuma kata – kata yang gampang saja seperti :
iki opo ? = ini apa
ora opo-opo = tidak apa-apa
matur nuwun =  terima kasih
Ketidakbisaan saya dalam berbahasa Jawa, karena dari sejak kecil sudah lafal berbicara bahasa Indonesia, jadi untuk berlajar bahasa Jawa itu sangat sulit.

B.    SENI

          Seni yang dapat terlihat kelurga besar ayah saya masih pekat adalah nembang (menyanyi). Sedikit sama memang dari seni kebudayaan Jawa, namun nembang (menyanyi)  disini bukan seperti nembang jawa yang halus, tetapi menyanyi yang mempunyai aliran bermacam – macam. Tetapi itulah kesenian yang turun sampai cucunya. Nenek dan kakek saya merantau dari Jawa ke Jakarta hanya untuk bisa membesarkan ke 10 anaknya yang sekarang sudah sukses, memang nenek dan kakek saya tidak mempunyai suara bagus untuk menyanyi, namun anehnya hampir semua PAK DE (sebutan paman dalam bahasa Jawa) bisa menyanyi, apalagi dengan aliran musik keroncong, sampai kaka sepupu saya Mba Rika adalah salah satu penyanyi keroncong top di TVRI dan sudah banyak memenangkan lomba menyanyi keroncong. Rata – rata beberapa cucu dari nenek saya bisa menyanyi dengan suara bagus dengan aliran yang berbeda.

C.   SISTEM RELIGI

          Kelurga saya yang menganut agama islam masih sangat kental dengan adat dan tradisi orang Jawa, maupun dalam islam sendiri itu tidak di ajarkan. Seperti :
·         Setelah ada yang meninggal dalam keluarga kita, pasti ada namanya doa bersama dari 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1000 hari yang harus mengadakan pengajian.

D.  WUJUD ILMU PENGETAHUAN

          Dalam sistem pengetahuan, ibu dan ayah diajarkan dengan cara mendidik yang hampir sama dengan anak jaman sekarang. Namun kalau jaman sekarang sudah banyak sekali les privat / tambahan yang di buka untuk melengkapi pelajaran – pelajaran yang tidak dimengerti di sekolah, sedangkan dahulu kalau tidak mengerti pelajaran disekolah atau ada PR, ibu saya senang mengajarkan teman – temannya karena ibu saya terbilang anak yang pintar di sekolahnya dan kebanyakan temannya selalu minta di ajarin ulang dalam bentuk kelompok. Dalam sistem kependidikan, dari SD, SMP, masih memakai caturwulan dimana dalam setahun di hanya ada masa aktif belajar 4 bulan dan terdapat 3 kali ujian. Dan pada saat ibu saya SMA sudah memakai sistem semester. Sistem kelulusan pada saat SD memakai nilai ijasah. Saat ibu saya SMP sudah ada pelajaran bahasa inggris. Setelah lulus SMA Negeri 1 Jakarta ibu saya melanjutkan kuliah ke Muhamadiyah mengambil Perkantoran dan kemudian S1-nya mengambil program pendidikan di IKIP Rawamangun yang sekarang menjadi kampus saya Univesitas Negeri Jakarta.

E.    SISTEM TEKNOLOGI

          Dalam perkembangan, teknologi pun semakin berkembang. Dahulu saat ayah dan ibu saya menginjak sekolah dari SD sampai SMA dalam mengajar, seorang guru masih menggunakan papan tulis yang alat tulisnya masih menggunakan kapur. Buku tulis, pulpen dengan 4 warna dan pensil sudah dapat digunakan murid – murid di jaman ayah dan ibu saya sekolah dasar. Sistem teknologi seperti kalkulator juga sudah ada untuk alat menghitung. Saat ayah dan ibu saya memasuki jenjang SMA mulailah ada sebuah komputer yang hanya bisa dipakai mengetik saja.
          Teknologi lainnya adalah televisi yang masih berwarna hitam putih yang kebanyakan belum sebagian orang punya. Dan pada saat itu hanya satu stasiun televise yang aktif melakukan siaran yaitu TVRI. Setelah itu ada pager yang digunakan sebagai alat komunikasi sebelum adanya handphone, caranya dengan menelepon operator pager tersebut menyebutkan nomer tujuan pesan yang ingin dikirim dam pesannya apa, setelah itu si operator akan mengirim pesan tersebut ke nomer tujuan. Sebelum adanya peger, ibu saya jika ingin menelepon bisa dengan kartu telepon yang didalamnya terdapat saldo yang bisa digunakan di telepon umum.

F.     SISTEM SOSIAL

          Nini saya adalah seorang anak perempuan keturunan darah biru (Ningrat), anak dari kakek buyut saya yang bernama Raden Abdul Hadat. Namun sayangnya saya tidak dapat gelar nama Raden, karena Nini Enah (nama penggilan nini saya) seorang anak perempuan yang jika ingin tetap berdarah biru harus menikah dengan pria berdarah biru juga, namun pada kenyataannya tidak. Beda dengan saudara lakinya yang sudah mendapat gelar Raden, jika ia menikah dengan bukan keturunan darah biru, maka gelar tersebut tidak akan hilang.
Namun sayangnya ibu saya tidak terlalu dekat dengan kelurga besarnya, karena kalau saja saya melihat sisilah kelurga dari nenek saya sangatlah yang sangat ribet. Kata ibu saya, hampir setiap saya berkunjung ke Majalengka kalau di Majalengka itu hampir semua orang yang kita kenal pasti masih berhubungan saudara dengan kita, tidak tau sambungannya darimana.
Beda dengan sisilah kelurga besar dari Mbah Utih, dengan punya anak 10 yang sekarang sudah menghasilkan 26 cucu dan 16 cicit.

G.  SISTEM EKONOMI

          Nilai mata uang yang berbeda saat ayah dan ibu saya kecil, dahulu untuk naek angkutan umun hanya Rp. 5- (lima perak) dan uang ongkos ibu saya saat sekolah hanya Rp. 10- (sepuluh perak) bahkan untuk jajan pun tak bisa. Kalaupun mau jajan harus rela jalan dari sekolah sampai rumah yang jaraknya lumayan jauh. Nilai mata uang ini  sangat besar, namun nominalnya yang kecil.
          Mbah utie yang hanya seorang perantau dari Jawa bisa sukses dengan banyak tanah, seorang yang bekerja keras dan mempunyai kepintaran dalam menghitung. Dahulu apa saja yang bisa nenek jual dia kerjakan, dari membantu orang mencarikan sofa, emas sampai berlian. Dan dahulu saya ayah saya kecil masih mengenal sistem barter, jadi jika ada orang yang mencari sofa, nenek saya dengan semangatnya mencarikan orang tersebut sofa dan sistem pambayarannya dengan barter, tau kalian apa yang dibarterkan ? itu adalah tanah yang sebanding dengan harga sofa tersebut. Begitupun saya berbisnis emas dan berlian. Sehingga sampai saat ini nenek saya maupun bukan orang asli Jakarta, tetapi seperti orang Jakarta yang kebanyakan adalah juragan tanah. Tetapi dengan hasil seperti ini, sekarang mbah utih bisa menuntaskan semua anaknya sampai ke perguruan tinggi dan menjadi orang sukses.


Sabtu, 09 Oktober 2010

TUGAS 2 # INDONESIA BAGIAN TERKECIL DALAM HIDUP SAYA

Menelusuri sedikit jejak sejarah di Linggarjati, Kuningan

Bertepatan libur lebaran tahun 2009, seperti biasanya kami sekeluarga pergi berkunjung ke rumah Uwa Euis (Kakak perempuan dari ibu) yang ada di Majalengka, untuk saling meminta maaf dan mengunjungi makam Nini Momoh (Nenek saya) berada di daerah Maja. Menginap sehari disana, keesokan paginya kami pergi ke daerah Kuningan bersama tante saya (adik dari bapak) yang menyusul ke Majalengka. Tujuan awal perjalanan kita adalah Kuningan yang berdekatan dengan kota Cirebon.
Awalnya saya dan keluarga berniat untuk ke Kolam renang Cibulan yang konon disana ada ikan yang dianggap masyarakat sekitar kramat dan ada 7 pancuran air yang menurut mitosnya dapat membuat awet muda dan segala apa yang kita minta dapat dikabulkan. Namun sayangnya saat saya ingin menuju sana sudah menjelang malam, dan akses menuju ke lokasi tersebut gelap tidak ada penerangan. Maka dari itu kami sekeluarga memutuskan untuk mencari penginapan di sekitar daerah Linggarjati. Awalnya saya tidak tahu kalo di daerah inilah sebuah perjanjian yang penting bagi bangsa Indonesia dibuat.
Keesokan paginya, saya dibangunkan oleh papi saya untuk bergegas mandi dan ingin mengajak saya ke Museum Linggarjati yang berada di desa yang tidak jauh dari hotel tempat saya menginap. Desa Linggarjati merupakan sebuah Desa kecil yang berada di salah satu wilayah Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Perjanjian Linggarjati dilaksanakan, pada tanggal 10-13 November 1946. Perjanjian ini dianggap sebagai  perjanjian yang sangat penting, karena berhubungan erat dengan eksistensi Pemerintah Indonesia dimata dunia pada waktu itu, baik secara De Facto dan De Jure dipertaruhkan dan menghasilkan Naskah Linggarjati sehingga gedung ini sering disebut Gedung Perundingan Linggarjati diantaranya isi pokok persetujuan Linggarjati adalah :
  1. Belanda mengakui secara De Facto Republik Indonesia dengan wilayah kekuasaan yang meliputi Sumatra, Jawa, dan Madura
  2. Republik Indonesia dan Belanda akan bekerjasama dalam membentuk negara Indonesia Serikat, yang salah satu negara bagiannya adalah Republik Indonesia.
  3. Republik Indonesia Serikat dan Belanda akan membentuk Uni Indonesia - Belanda dengan Ratu Belanda selaku ketuanya.
*Bagian depan - Pintu Masuk Museum
Peristiwa yang berlangsung 59 tahun silam tersebut, masih dapat kita saksikan melalui peninggalan-peninggalan yang ada di Gedung Linggarjati, sekaligus dijadikan sebagai salah satu bangunan cagar budaya oleh Pemerintah sesuai dengan UU.No.5 tahun 1992. Desa Linggarjati berada di wilayah Blok Wage, Dusun Tiga, Kampung Cipaku, kecamatan Cilimus Kabupaten Kuningan Jawa Barat. Desa berada di ketinggian 400 meter. Untuk mencapai lokasi ini tidaklah terlalu sulit, karena akses jalan aspal yang mulus, sehingga mudah sekali dijangkau dengan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. Dari arah Cirebon kurang lebih 25 km sedangkan dari arah Kuningan kurang lebih 17 km. 
Hawa sejuk dapat saya rasakan saat sampai di Museum ini, sebuah rumah yang sudah 3 kali berubah fungsi, berada di  lahan hijau seluas 2,4 ha, dengan luas bangunan 800 m2. Berawal dari rumah milik  Ibu Jasitem tahun 1918, kemudian pada tahun 1921 oleh seorang bangsa Belanda bernama Tersana dirombak menjadi rumah semi permanen, pada tahun 1930-1935 setelah dibeli keluarga Van Ost Dome (bangsa Belanda)   dirombak menjadi rumah tinggal seperti sekarang, kemudian pada tahun 1935 -1946 dikontrak Heiker (bangsa Belanda) dijadikan Hotel yang bernama Rus "Toord".
            Keadaan ini berlanjut setelah Jepang menduduki Indonesia dan diteruskan setelah kemerdekaan Indonesia. Pada zaman pendudukan Jepang, hotel tersebut berubah namanya menjadi   Hotel Hokay Ryokan. Setelah Proklamasi Kemerdekaan RI tahun 1945 hotel ini diberi nama Hotel Merdeka. Jika diperhatikan, pembagian ruangan dalam Museum Perundingan Linggajati sekarang masih menyerupai pembagian ruangan untuk bangunan hotel.
Pada tahun 1946 di gedung ini berlangsung peristiwa bersejarah yaitu Perundingan antar Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Belanda yang menghasilkan Naskah Linggarjati sehingga gedung ini sering disebut Gedung Perundingan  Linggajati. Sejak aksi militer tentara Belanda ke-2 1948-1950 gedung dijadikan markas Belanda, kemudian pada tahun  1950 - 1975 difungsikan menjadi Sekolah Dasar Negeri Linggajati, selanjutnya pada tahun 1975 Bung Hatta dan Ibu Sjahrir berkunjung dengan membawa pesan bahwa gedung ini akan dipugar oleh Pertamina, tetapi usaha  ini hanya sampai pembuatan bangunan sekolah untuk Sekolah Dasar Negeri Linggajati yang selanjutnya pada tahun 1976 gedung ini oleh diserahkan Kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan untuk dijadikan Museum Memorial.
Saat saya datang ke tempat ini, tidak ada biaya masuk hanya mengisi buku tamu dan membayar seiklasnya untuk perawatan museum ini. Bangunan ini terdiri dari beberapa ruang, yaitu ruang tamu, ruang tengah, kamar tidur, kamar mandi dan ruang belakang. Ruang tamu dipergunakan sebagai ruang untuk melakukan lobi dan meeting informal. Ruang tengah merupakan ruang utama, dimana perjanjian Linggarjati dilaksanakan. Dan posisi kursi yang diduduki oleh para anggota perundingan masih sama seperti dulu waktu perundingan dilangsungkan. diantara para peserta perundingan tersebut adalah, delegasi Indonesia terdiri dari Sutan Sjahrir, Mr.Soesanto Tirtoprodjo, Dr.A.K.Gani, Mr.Muhammad Roem dan delegasi Belanda terdiri dari Prof.Ir. Schermerhorn, Mr.Van Poll , Dr.F.DeBoe, Dr.Van Mook. Dan sebagai notulensi adalah Dr.J.Leimena, Dr.Soedarsono, Mr.Amir Sjarifuddin, Mr.Ali Budiardjo. Kamar-kamar tidur yang bersebelahan dengan ruang perundingan merupakan tempat tidur yang dipergunakan oleh delegasi Indonesia dan Belanda selama mengikuti jalannya perundingan.
 Pada saat saya kesana, tempat ini sangat sepi dikunjungi hanya beberapa orang yang datang untuk melihat sedikit memorial sejarah terpenting bagi bangsa Indonesia, namun kata seorang penjaga disana, pada hari libur sekolah juga banyak anak – anak sekolah yang datang ke tempat ini. Namun museum ini sangat terawat, dan jika anda berkesempatan berkunjung ke tempat ini dapat merasakan kedamaian dan kesejukan yang tidak pernah anda dapatkan di Jakarta.

BOX INFORMASI :
 
Obyek
-          Pendakian gunung ceremai,
-          Kolam renang cibulan
-          Linggarjati Indah
Agenda Wisata

Transportasi
Mobil Pribadi
Kuliner
Tahu gejrot dengan harga 4.000/porsi
Jarak
Untuk menuju ke lokasi ini dapat ditempuh dengan mobil dengan jarak 35 km dari Cirebon dan 17 km dari Kuningan.
Hotel
-          Hotel Ayong
-          Villa Lingarjati Indah
-          Hotel Mata Air